Arti Sebuah Medali (OSN 2015: Part 7)

Assalamu’alaikum 🙂

Tanggal 23 Mei 2015. Hari Sabtu. Hari ini menjadi hari istimewa yang telah dinantikan seluruh peserta OSN SMA 2015. Pengumuman? Sesuatu yang pasti akan terjadi. Sesuatu yang selalu berada di penghujung OSN. Betapapun pengumuman itu menjadi sebuah kepastian, segala hal ajaib dan berbagai hal tak terduga bisa terjadi di dalamnya. Sesering apapun seseorang menghadapi pengumuman seperti ini, rasa grogi itu tetap muncul. Setiap pengumuman memiliki cerita tersendiri. Dan, cerita pengumuman kali ini, akan terungkap dalam waktu kurang dari setengah hari.

Meninggalkan makan pagi sudah menjadi kebiasaanku selama dua hari belakangan. Tentu saja aku tidak akan mengambil resiko ketika tes. Namun hari kami berwisata dan pengumuman seperti saat ini, aku cenderung cuek. BINGO Jateng kembali memastikan berada di satu bus bersama. Kali ini, kami akan menuju Hotel Sahid Rich. Akan diadakan sebuah pertemuan dengan Direktorat Pembinaan SMA. Serta … sebuah sesi motivasi? Entahlah. Setelah makan siang, kami dijadwalkan untuk menuju Sportorium UMY, bangunan tempat Penutupan OSN 2015 sekaligus Penganugerahan Medali akan dilaksanakan.

Senangnya, bisa berkumpul dengan seluruh peserta dari sembilan bidang lomba. Aula Hotel Sahid Rich tampak padat oleh manusia-manusia berbusana warna-warni. Memang, terdapat aturan tidak tertulis bahwa setiap acara penutupan, para peserta mengenakan seragam kontingen masing-masing. Anak Jawa Tengah bisa dibedakan dengan batik abu-abu kami. Tidak terlalu mencolok dan sederhana, sih, tapi cukup bagus. Walaupun kalau suruh memilih, aku lebih suka batik kuning terang yang dipakai Jawa Tengah tahun lalu.

Berbicara lebih jauh tentang baju kontingen, aku selalu suka kontingen dari daerah Kalimantan. Mereka menggunakan warna-warna terang yang ceria. Kalau untuk model, aku suka sekali dengan Jawa Timur yang membedakan batik putra dan putri, siswi putri terlihat anggun dengan model batik yang cewek banget. Tapi, baju kontingen paling keren sejauh ini, menurutku, masih dipegang oleh DKI Jakarta 2014. Batik warna oranye yang sangat eye-catching! Namun, yang membuat istimewa adalah fakta bahwa batik itu bukan kemeja, melainkan sebuah jas tidak resmi yang memiliki resleting di bagian depan. Well, mengamati baju kontingen menjadi salah satu kegiatan yang menyenangkan dan telah aku masukkan dalam daftar what-to-do di OSN tahun depan 🙂 Hehe … semoga bisa! Aamiin!

Continue Reading

Advertisements

Menguras Otak, Menikmati Jogja (OSN 2015: Part 6)

Assalamu’alaikum 🙂

Aku bangun pagi hari itu dengan satu ingatan di pikiranku; Tes Praktikum! Kami akan berangkat ke SMAN 3 Yogyakarta, tempat tes Biologi dan Matematika. Seluruh peserta biologi dibagi menjadi empat kelompok. Ada kelompok merah, kuning, biru dan hijau. Kelompok tersebut akan memulai di lab yang berbeda untuk kemudian bergiliran pindah ke lab lain sampai semua orang melaksanakan keempat eksperimen. Kami telah mendapat sebuah jas lab berwarna putih dan sebuah band yang diikatkan di lengan tangan. Setiap band menyesuaikan warna tim. Katanya sih, untuk identitas dan kewaspadaan pengawas supaya tidak ada peserta dari tim berbeda saling bertemu.

Halaman tengah SMAN 3 Yogyakrta yang tampak asri.

Tema eksperimen saat OSN selalu disesuaikan dengan tema eksperimen IBO tahun berikutnya. Selalu terdiri dari empat tema. Tahun ini menyesuaikan dengan IBO Vietnam 2016, yaitu; Mikrobiologi dan Biologi Molekuler, Biokimia dan Biosel, Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan, Anatomi Sistematika Evolusi Hewan. Salah satu kebiasaan anak biologi adalah menyingkat tema-tema praktikum tersebut agar lebih praktis saat mengucapkannya. Aku mendapat band biru, yaitu kelompok yang memulai Tes Mikrobiomol (mudah ditebak kan, kepanjangannya?) terlebih dahulu. BINGO di kelompokku adalah aku, Kak Jasmine, Kak Royyan, Kak Dika dan Kak Bagus. Eh, tampaknya kurang satu orang lagi …. Kak Niko 😀

Eksperimen biologi selalu memiliki prosedur pengerjaan. Pesan semua orang, kami harus memperhatikan petunjuk dengan baik. Tentu saja, aku berasumsi bahwa setiap langkah secara detail telah tertera disana. Aku jadi lumayan tenang…. Toh, tinggal melakukan sesuai perintah.

…. Ternyata, tidak sesimpel itu. Ada beberapa teknik yang mau tidak mau harus kita kuasai dengan sering berlatih. Terutama di mikrobiomol, aku merasa gagal segagal-gagalnya! Dari tiga sub bab praktikum, aku terlalu fokus di sub bab pertama yang benar-benar praktek melibatkan bakteri. Tapi, hasilku sama sekali tidak bagus! Aku menyesal menghabiskan terlalu banyak waktu disana, sedangkan sub bab selanjutnya yang lebih mungkin untuk dikerjakan karena hanya berupa teori tidak sempat kuselesaikan. Kami diberi waktu 90 menit di setiap lab. Dalam keadaan repot mengerjakan prosedur dan tertekan mengisi lembar jawaban, 90 menit itu berlalu sekejap saja.

Continue Reading

Janji Anak Bangsa (OSN 2015: Part 5)

Assalamu’alaikum 🙂

“Udah sampai Yogya? Ya Allah, busnya bisa dimundurin lagi, nggak? Mundur aja, yuk …” gumamku sambil memandangi pemandangan di luar jendela bus.

Kak Fatin yang duduk di sebelahku tertawa. “Perasaannya campur aduk, ya? Kayak ingin semua ini cepat beres dan selesai, tapi juga grogi karena udah deket banget …” komentar Kak Fatin.

“Ampun, yang udah tiga kali ikut OSN …” candaku.

“Jangan gitu! Tahun depan aku udah nggak bisa ikut OSN lagi ini, lho…” sahut Kak Fatin. Aku tertawa. Iya sih… Setelah sekian lama berkecimpung di dunia OSN, pasti rasanya aneh sekali ketika sudah kelas 12. Sudah selesai semua masa-masa ‘anak OSN’ itu.

Bus yang kami tumpangi berisikan anak-anak dari lima bidang: Biologi, Matematika, Fisika, Geografi, Kimia. Bus ini akan berhenti di dua hotel; Hotel Cavinton dan Merapi Merbabu. Biologi dan Matematika menjadi dua bidang yang menginap di Hotel Merapi Merbabu, sisanya di Cavinton. Bidang-bidang yang lain sudah menumpangi bus sendiri, mereka akan menuju Hotel Sahid Rich. Dengar-dengar sih, Hotel Sahid Rich adalah hotel yang paling ramai.

“Sal, yakin medali emas nggak?” sebuah suara tiba-tiba memanggilku. Oh, ternyata Otto. Anak matematika sesama kelas 9 yang sudah melanglang buana selama SMP.

“Hah? Apa? Emas? Perunggu aja nggak yakin dapet …” jawabku jujur.

“Iya, sama.”

“Yang kemarin juara pas OSP siapa yaa?”

“Enggak, tetep nggak yakin. Matematika SMA beda sama SMP.”

“Sama, Biologi SMA juga beda banget.”

Yah, inti dari percakapan itu adalah, kami menyadari posisi kami sebagai kelas sembilan bukan posisi paling memungkinkan untuk mendulang sebuah medali. Tapi, dalam lubuk hati terdalam, siapa sih yang nggak berambisi untuk menjadi salah satu yang namanya dipanggil saat acara penganugerahan nanti?

Continue Reading

Serpihan Mimpi yang Menjadi Satu (OSN 2015: Part 4)

Assalamu’alaikum 🙂

Pernahkah kalian menemukan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama, sehingga pembicaraan kalian selalu terhubung? Pernahkah kalian menghabiskan banyak waktu bersama orang-orang yang sama, membuat kalian semakin akrab? Walaupun terpaut usia, kalian seperti menemukan saudara yang tidak sedarah.

Entah kenapa, awal aku menjadi siswi kelas 7 di SMP Semesta, aku tidak sekamar dengan teman sekelasku. Malahan, aku dan Alzana yang juga mendapat beasiswa itu, menempati satu kamar dengan kakak-kakak kelas 8. Mereka kebanyakan anak olimpiade. Hanya satu bulan, tak lebih. Kemudian aku berpindah ke kamar dengan anggota kelas 7 semua. Namun, waktu sebulan itu sudah cukup untuk mengenalkanku dengan kakak-kakak inspiratif yang luar biasa bersemangat dalam bidang mereka masing-masing.

Anak olimpiade SMP angkatan tepat sebelumku itu memang unik. Dalam satu angkatan, terdapat 8 anak beasiswa! Padahal, OSN setiap tahunnya hanya bisa diikuti satu orang setiap mata pelajaran. Bahkan dengan nilai yang mumpuni, satu atau lebih siswa bisa didiskualifikasi di tingkat kota karena ada siswa dari sekolah yang sama menempati peringkat lebih tinggi. Dua anak biologi, tiga anak fisika, dan tiga anak matematika. Mereka harus berjuang untuk mendapatkan satu tempat di masing-masing bidang.

Jujur, aku tidak (atau belum) tahu bagaimana rasanya bersaing di tingkat sekolah. Angkatanku tidak memiliki anak olimpiade biologi lain, hanya aku seorang. Namun, terutama di sekolah seperti sekolahku sekarang, aku menyaksikan sendiri bagaimana persaingan itu sangat, sangat berat. Bersaing dengan teman satu sekolah, berarti bersaing dengan orang yang bersama-sama dengan kita dari awal sekali. Kita sama-sama berjuang sejak kelas 7 atau 10, kita sama-sama menghadiri kelas olimpiade pada sore hari selama beberapa kali seminggu, kita sama-sama mengikuti perlombaan di universitas, bahkan menempuh perjalanan keluar kota bersama. Dan, mimpi salah seorang atau bahkan lebih di antara kita harus kandas. Menghadapi kenyataan bahwa nilai kita memang kalah dari banyak orang saat seleksi, mungkin lebih melegakan dibanding mengetahui kita sebenarnya lolos namun terhadang kuota sekolah.

Continue Reading

Di Balik Lelah Itu, Ada Kawan dan Usaha (OSN 2015: Part 3)

Assalamu’alaikum 🙂

Alhamdulillah … Kalau mengingat masa-masa SMP yang jomblo banget, sibuk Pelatda OSN sebagai satu-satunya perwakilan dari sekolah, berkecimpung di OSN SMA ini membuatku merasa nggak jomblo lagi 🙂 Eh, maksudnya tetep jomblo, tapi banyak jomblo yang mengumpul jadi solidaritasnya tinggi (?) (Oke, aku nggak serius).

Intinya… Seneng banget, bisa punya teman-teman (atau kakak-kakak?) seperjuangan dari SMA Semesta. Pengumuman OSN kemarin mengungkapkan, ada delapan kakak dan abi yang akan mengikuti OSN 2015. Siapa saja mereka? Tadaaaa…

1. Atika Nur Rochmah: Kimia

2. Ihyar Kurnia: Kimia

3. Margaret Tanjung C: Komputer

4. Abdan Malaka: Kebumian

5. Suwaibatul Annisa: Kebumian

6. Muhammad Salman Alfarizy: Geografi

7. Yunianti Khotimah: Astronomi

8. Noor Rizky Firdhausy: Ekonomi

Sayang seribu sayang, Pelatda Jateng nggak dilaksanakan di tempat yang sama untuk seluruh bidang. Biologi bersama Matematika, Kimia, Kebumian dan Ekonomi, satu penginapan dan melakukan kegiatan belajar mengajar di Universitas Diponegoro. Fisika, Komputer dan Geografi bergabung di tempat menginap dan universitas yang berbeda. Yah, kesembilan bidang itu … Eh, tunggu. Ada yang terlewat? Oh iyaa, Astronomi. Mereka … satu-satunya bidang yang menjalani pembinaan diluar kota Semarang, Salatiga. Hiks, kita LDR ya Kak Yun 😥

Ketakutan kami memang terjadi. Kuota peserta OSN yang biasanya berkisar 90 orang, berkurang menjadi 75 orang per bidang. Uniknya, Biologi menjadi bidang dengan kuota paling besar, 80 orang! Pantas saja sih, karena sistem Pelatnas Biologi agak ribet. Para kelas 10 dan 11 yang mengikuti Pelatnas hasil seleksi OSN tahun lalu diperbolehkan mengikuti OSN, asalkan saat mengerjakan OSP, nilainya memenuhi standar tertentu. Lolosnya anak-anak Pelatnas ini tentu saja menambah ketat persaingan di OSN sendiri.

Continue Reading