Memaknai Rasa Cinta

Selama ini, aku dikelilingi oleh teman-teman yang beraneka ragam. Dari mereka, aku mengamati. Dan dari mereka pula, aku banyak belajar. Di Indonesia, hal-hal yang dibicarakan komunitas muslim terutama untuk remaja putri adalah dua hal: hijab dan pacaran. Alhamdulillah, saat ini cukup banyak role model remaja untuk remaja yang menggambarkan apa saja kerugian pacaran dan hal-hal yang lebih baik dilakukan selain pacaran.

Namun, ada satu hal yang menggelitik diriku. Bagaimana ketika kata ‘pacaran’ itu mulai menjelma menjadi berbagai bentuk? Sebut sajalah, kakak-adekan, friendzone, ‘sahabat’, dan lain sebagainya. Sebenarnya, ‘pacaran’ sendiri nggak memiliki definisi pasti, sih. Ketika diri ini sudah berkomitmen untuk tidak pacaran, berbagai godaan juga datang untuk menjadi dekat dengan lawan jenis dalam kategori-kategori lain itu. Akhir-akhir ini, frasa ‘mencintai dalam diam karena Allah SWT’ sangat populer. Biasanya, kata-kata itu dipegang teguh oleh para generasi muslim yang telah memiliki kesadaran untuk tidak pacaran tapi (kelihatannya) sedang ‘mencintai’ seseorang. Kata-kata itu tampak sangat cocok; Aku lagi jatuh cinta nih. Eh, tapi nggak boleh menyatakan, ya, dalam Islam? Diam aja deh, sambil mendoakan dia. Diikuti berbagai quotes yang kurang lebih berisi ‘Tiada bentuk mencintai yang lebih indah selain menyebut namanya dalam doa’.

Continue Reading