Unexpected Things (OSN 2015: Part 2)

Assalamu’alaikum 🙂

Olimpiade Sains Provinsi semakin dekat. Alhamdulillah, dua puluh tujuh orang dari SMP-SMA Semesta mendapat kesempatan mengikuti OSP. 9 dari 27 orang itu perempuan, sisanya laki-laki. Uniknya lagi, ke-9 orang ini benar-benar berasal dari 9 bidang OSN! Intinya, nggak ada satu orang pun yang bisa belajar bareng. Agak sedih, sih. Padahal memanfaatkan jumlah siswa yang lolos lebih dari satu orang per bidang, harusnya bisa belajar bareng dan berdiskusi, ya? Tapi keadaan memang nggak memungkinkan 😦

Aku dan Alzana, Alhamdulillah kami berdua Allah beri kesempatan melanjutkan ke OSP. OSP tidak dilaksanakan bersamaan untuk seluruh bidang. Jawa Tengah melaksanakan OSP selama tiga hari berturut-turut. Setiap hari, ada 3 bidang yang berlomba. Kala itu, Fisika, Kimia, dan Matematika menempati hari pertama. Biologi, Astronomi dan Komputer hari kedua. Sedangkan sisanya hari terakhir. Aku dan Alzana sangat sadar diri, bahwa OSP dilaksankan di minggu yang sama dengan Ujian Praktek!

….. Kurang gaul apa coba, seorang siswa kelas 9 yang sedang berjuang untuk lulus dari SMP melaksanakan susulan ujian, bahkan bukan tertulis tapi PRAKTEK, demi mengikuti OSP. Alhamdulillah, sekolah sangat men-support. Tapi… tetap saja. Teman-temanku banyak yang bercanda, “Aku bingung sama kamu, di sekolah aja sebentar, kenapa? Keluar lagi, keluar lagi …” Komentar mereka yang melihat kesibukanku. Aku hanya bisa tertawa sambil meringis. Tentu saja, mereka selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik buatku. Kalau jadi mereka pun, aku juga heran dengan diriku sendiri (?). Bahkan tiga bulan saat IJSO, kasurku di asrama disewa seorang temanku. Ya sudahlah, batinku. Daripada kosong dan tak terurus?

Akhirnya, hari itu pun tiba. Hari Selasa tanggal 17 Maret 2015, aku beserta perwakilan Semesta berangkat menuju tempat perlombaan. Kami menginap semalam di sebuah gedung bernama LPMP, karena lomba baru dimulai esok hari. Aku sekamar dengan Kak Yuni (Astronomi) dan Kak Margaret (Komputer). Sepanjang kegiatan kami disana, kami kebanyakan menggalau. Saat makan malam, contohnya. Kami membahas desas-desus pengurangan kuota peserta OSN di setiap bidang.

Continue Reading

Advertisements

Sekeping Logam, Sejuta Cerita (OSN 2015: Part I)

Assalamu’alaikum 🙂

Hai kawan pembaca blog Salsa! Pernahkah kalian mendengar tentang Olimpiade Sains Nasional? Sebuah kegiatan akbar tahunan yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Bidang yang diperlombakan meliputi berbagai bidang keilmuan, mulai dari IPA dan Matematika untuk jenjang SD, sampai semakin menjurus dan spesifik untuk jenjang SMA. Bahkan, kau bisa menemui bidang seperti Astronomi dan Kebumian! Mungkin banyak dari kita membayangkan ilmu-ilmu itu sebagai tontonan di channel National Geoghraphic semata. Nyatanya, para ilmuwan yang mempelajari itu sungguhan ada. Bahkan, setingkat siswa SMA pun bisa mendalaminya.

Nasib membawaku untuk ‘bergaul’ dengan OSN (singkatannya, populer disebut seperti itu) sejak kelas 5 SD. Dimulai dari tahap kota, provinsi, lalu nasional. Alhamdulillah, di setiap jenjang pendidikan, Allah telah memberiku kesempatan untuk menjadi bagian dari OSN tingkat nasional. Tahun 2011, di Manado, Sulawesi Utara. Seorang siswa SD yang benar-benar baru di dunia per-oliman (sebut saja begitu), dipanggil ke atas sebuah panggung besar, lalu seorang bapak-bapak yang tampak penting dan berwibawa mengalungkan sebuah benda. Warnanya cerah, kemilau, dengan cahaya yang menyilaukan bila sekeping logam itu diarahkan ke sumber cahaya. Ya, anak itu berhasil membawa pulang sebuah Medali Perak bidang IPA.

Siapa sangka, OSN berubah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup si anak. Ia memasuki sebuah sekolah yang menaruh perhatian besar kepada kompetisi itu. Saat SMP, ia merasa bahwa Biologi adalah passion-nya. Dengan semangat, ia mengikut berbagai pelatihan yang mempertemukan ia dengan banyak sekali teman baru. Dan, well, saingan baru. Waktu terus berjalan, hingga akhirnya ia sadar bahwa OSN tak hanya menjadi penting bagi dirinya; OSN adalah penting untuk banyak orang. Berdiri di podium sambil menggenggam medali emas telah menjadi impian ratusan bahkan ribuan siswa di seluruh pelosok Indonesia. Dengan rahmat Allah, ia berhasil menginjakkan kaki di Padang, Sumatera Barat. Menjadi salah satu dari sekian siswa yang terpilih mengikuti OSN SMP 2014. Ia bahagia, namun juga tertekan. Tampaknya, beban medali terlalu menghantui diri si anak, sampai ia lupa menikmati masa-masa belajar bidang favoritnya. Sepulang dari tanah Minang, mukanya terlihat sumringah. Sekeping medali ada di tangannya, dan nampaknya cukup berbeda dari yang tersimpan di rumah. Medali itu, emas.

Continue Reading