Janji Anak Bangsa (OSN 2015: Part 5)

Assalamu’alaikum 🙂

“Udah sampai Yogya? Ya Allah, busnya bisa dimundurin lagi, nggak? Mundur aja, yuk …” gumamku sambil memandangi pemandangan di luar jendela bus.

Kak Fatin yang duduk di sebelahku tertawa. “Perasaannya campur aduk, ya? Kayak ingin semua ini cepat beres dan selesai, tapi juga grogi karena udah deket banget …” komentar Kak Fatin.

“Ampun, yang udah tiga kali ikut OSN …” candaku.

“Jangan gitu! Tahun depan aku udah nggak bisa ikut OSN lagi ini, lho…” sahut Kak Fatin. Aku tertawa. Iya sih… Setelah sekian lama berkecimpung di dunia OSN, pasti rasanya aneh sekali ketika sudah kelas 12. Sudah selesai semua masa-masa ‘anak OSN’ itu.

Bus yang kami tumpangi berisikan anak-anak dari lima bidang: Biologi, Matematika, Fisika, Geografi, Kimia. Bus ini akan berhenti di dua hotel; Hotel Cavinton dan Merapi Merbabu. Biologi dan Matematika menjadi dua bidang yang menginap di Hotel Merapi Merbabu, sisanya di Cavinton. Bidang-bidang yang lain sudah menumpangi bus sendiri, mereka akan menuju Hotel Sahid Rich. Dengar-dengar sih, Hotel Sahid Rich adalah hotel yang paling ramai.

“Sal, yakin medali emas nggak?” sebuah suara tiba-tiba memanggilku. Oh, ternyata Otto. Anak matematika sesama kelas 9 yang sudah melanglang buana selama SMP.

“Hah? Apa? Emas? Perunggu aja nggak yakin dapet …” jawabku jujur.

“Iya, sama.”

“Yang kemarin juara pas OSP siapa yaa?”

“Enggak, tetep nggak yakin. Matematika SMA beda sama SMP.”

“Sama, Biologi SMA juga beda banget.”

Yah, inti dari percakapan itu adalah, kami menyadari posisi kami sebagai kelas sembilan bukan posisi paling memungkinkan untuk mendulang sebuah medali. Tapi, dalam lubuk hati terdalam, siapa sih yang nggak berambisi untuk menjadi salah satu yang namanya dipanggil saat acara penganugerahan nanti?

Continue Reading

Advertisements

Sekeping Logam, Sejuta Cerita (OSN 2015: Part I)

Assalamu’alaikum 🙂

Hai kawan pembaca blog Salsa! Pernahkah kalian mendengar tentang Olimpiade Sains Nasional? Sebuah kegiatan akbar tahunan yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Bidang yang diperlombakan meliputi berbagai bidang keilmuan, mulai dari IPA dan Matematika untuk jenjang SD, sampai semakin menjurus dan spesifik untuk jenjang SMA. Bahkan, kau bisa menemui bidang seperti Astronomi dan Kebumian! Mungkin banyak dari kita membayangkan ilmu-ilmu itu sebagai tontonan di channel National Geoghraphic semata. Nyatanya, para ilmuwan yang mempelajari itu sungguhan ada. Bahkan, setingkat siswa SMA pun bisa mendalaminya.

Nasib membawaku untuk ‘bergaul’ dengan OSN (singkatannya, populer disebut seperti itu) sejak kelas 5 SD. Dimulai dari tahap kota, provinsi, lalu nasional. Alhamdulillah, di setiap jenjang pendidikan, Allah telah memberiku kesempatan untuk menjadi bagian dari OSN tingkat nasional. Tahun 2011, di Manado, Sulawesi Utara. Seorang siswa SD yang benar-benar baru di dunia per-oliman (sebut saja begitu), dipanggil ke atas sebuah panggung besar, lalu seorang bapak-bapak yang tampak penting dan berwibawa mengalungkan sebuah benda. Warnanya cerah, kemilau, dengan cahaya yang menyilaukan bila sekeping logam itu diarahkan ke sumber cahaya. Ya, anak itu berhasil membawa pulang sebuah Medali Perak bidang IPA.

Siapa sangka, OSN berubah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup si anak. Ia memasuki sebuah sekolah yang menaruh perhatian besar kepada kompetisi itu. Saat SMP, ia merasa bahwa Biologi adalah passion-nya. Dengan semangat, ia mengikut berbagai pelatihan yang mempertemukan ia dengan banyak sekali teman baru. Dan, well, saingan baru. Waktu terus berjalan, hingga akhirnya ia sadar bahwa OSN tak hanya menjadi penting bagi dirinya; OSN adalah penting untuk banyak orang. Berdiri di podium sambil menggenggam medali emas telah menjadi impian ratusan bahkan ribuan siswa di seluruh pelosok Indonesia. Dengan rahmat Allah, ia berhasil menginjakkan kaki di Padang, Sumatera Barat. Menjadi salah satu dari sekian siswa yang terpilih mengikuti OSN SMP 2014. Ia bahagia, namun juga tertekan. Tampaknya, beban medali terlalu menghantui diri si anak, sampai ia lupa menikmati masa-masa belajar bidang favoritnya. Sepulang dari tanah Minang, mukanya terlihat sumringah. Sekeping medali ada di tangannya, dan nampaknya cukup berbeda dari yang tersimpan di rumah. Medali itu, emas.

Continue Reading