The Closing ( IJSO: Part 12 )

Assalamu’alaikum!

Beberapa hari belakangan, aku kembali teringat tentang IJSO series yang aku tulis di blog sejak Desember 2014. Karena aku cerewet, terlalu banyak yang ingin diceritakan, dari mulai hal yang sangat penting sampai detail tak bermakna, akhirnya ….. waktu satu bulan selama liburan kenaikan semester nggak cukup untuk menyelesaikan cerita IJSO -_- Aneh memang, IJSO-nya tiga bulan, dan untuk menuliskan ceritanya molor sampai lebih dari tiga bulan. Beberapa orang memintaku untuk melanjutkannya. Kurang satu lagi kisah terakhir! Alhamdulillah, berkat dukungan teman-teman semua, aku pun memutuskan untuk menggunakan akhir minggu ini menuliskan cerita terakhir dari IJSO series 🙂

Kebanyakan orang menjadikan pencapaian medali sebagai ukuran sebuah keberhasilan. Namun, untuk diriku, sedikit berbeda. Aku merasa diriku benar-benar berhasil, ketika aku mampu bersikap dewasa menghadapi segala persoalan. OSN yang lalu? Alhamdulillah, aku berhasil membawa pulang medali emas. Namun, tidak sebegitu membanggakan buatku. Karena sepanjang perjalanan menuju kesana, aku masih terlalu cengeng. Menangis itu perlu. Luapan air mata sangat bisa meringankan beban yang telah menumpuk. Tapi, tidak terlalu sering. Seharusnya, olimpiade menjadi ajang dimana kita bisa menjadi diri sendiri, belajar apa yang benar-benar menarik untuk diri kita. Bukan malah terbebani dengan target pribadi atau mati-matian mengejar gengsi di mata orang lain.

IJSO adalah kompetisi terakhir dalam karier olimpaide SMP-ku. Sebagai sebuah penutup, aku ingin mempersembahkan yang terbaik. Alhamdulillah, pencapain besar buatku. Setelah tes teori dan eksperimen berakhir, aku bisa berjalan keluar ruangan dengan tegap. Hatiku mantap. Aku menyadari, aku telah melakukan yang terbaik yang aku bisa. Aku mendengar sendiri pembahasan beberapa soal Multiple Choice Question, dan aku tahu aku telah membuat kesalahan yang luar biasa sepele, namun fatal. Justru di bidangku sendiri, aku merasa gagal total.

Continue Reading

Advertisements