(Masih) Belajar Menjadi Muslim

Assalamu’alaikum!

Teman-teman sekalian, perkenankanlah aku mengungkapkan suatu kisah yang sudah tersimpan lama di lubuk hati ini. Dan, karena semua hal yang terjadi belakangan, rasanya jari sudah gatal untuk menuliskannya, bahkan dalam keadaan Pelatnas :’D Hehehe. Hitung-hitung menghindari semakin banyak debu menumpuk di blog ini, ya.

Aku sedang dan masih belajar menjadi muslim. Dan, salah satu guruku belajar menjadi muslim yang lebih baik, adalah, percaya atau tidak, teman-temanku yang bukan muslim.

Bagaimana bisa begitu? Mari kuceritakan latar belakangku sejenak.

Aku lahir dari keluarga muslim yang, sangat kusyukuri setiap saatnya, selalu berusaha mendalami Islam lebih baik. Singkat kata; keluarga yang islami. Aku pun dibesarkan di lingkungan dengan mayoritas muslim, masuk ke sekolah dasar Islam, lalu bersekolah di SMP dan SMA umum, namun sekali lagi dengan mayoritas muslim. Bahkan, selama aku bersekolah di SMP dan SMA-ku sekarang, kebetulan sekali angkatanku 100% muslim.

Perkenalanku dengan teman-teman yang menganut agama berbeda dimulai dari keikutsertaanku dalam Olimpiade Sains Nasional saat SD. Berlanjut ke SMP, lalu SMA. Sempat aku merasa kaget, namun cepat juga menjadi terbiasa. Indonesia negara dengan mayoritas muslim. Tapi khusus dalam ajang-ajang olimpiade seperti itu, acapkali muslim menjadi minoritas.

Continue Reading

Advertisements

Memaknai Rasa Cinta

Selama ini, aku dikelilingi oleh teman-teman yang beraneka ragam. Dari mereka, aku mengamati. Dan dari mereka pula, aku banyak belajar. Di Indonesia, hal-hal yang dibicarakan komunitas muslim terutama untuk remaja putri adalah dua hal: hijab dan pacaran. Alhamdulillah, saat ini cukup banyak role model remaja untuk remaja yang menggambarkan apa saja kerugian pacaran dan hal-hal yang lebih baik dilakukan selain pacaran.

Namun, ada satu hal yang menggelitik diriku. Bagaimana ketika kata ‘pacaran’ itu mulai menjelma menjadi berbagai bentuk? Sebut sajalah, kakak-adekan, friendzone, ‘sahabat’, dan lain sebagainya. Sebenarnya, ‘pacaran’ sendiri nggak memiliki definisi pasti, sih. Ketika diri ini sudah berkomitmen untuk tidak pacaran, berbagai godaan juga datang untuk menjadi dekat dengan lawan jenis dalam kategori-kategori lain itu. Akhir-akhir ini, frasa ‘mencintai dalam diam karena Allah SWT’ sangat populer. Biasanya, kata-kata itu dipegang teguh oleh para generasi muslim yang telah memiliki kesadaran untuk tidak pacaran tapi (kelihatannya) sedang ‘mencintai’ seseorang. Kata-kata itu tampak sangat cocok; Aku lagi jatuh cinta nih. Eh, tapi nggak boleh menyatakan, ya, dalam Islam? Diam aja deh, sambil mendoakan dia. Diikuti berbagai quotes yang kurang lebih berisi ‘Tiada bentuk mencintai yang lebih indah selain menyebut namanya dalam doa’.

Continue Reading