Tentang Rasa, Asa, dan Cita (Jilid 1: Bagian 2)

Assalamu’alaikum!

Sebelum membaca bagian ini, silakan membaca Bagian 1 terlebih dulu 🙂

Setiap orang memiliki alasan dibalik hal yang dia lakukan. Salah satu tahap menuju pribadi yang lebih dewasa adalah, mencoba untuk melihat hidup dari kacamata orang lain. Supaya tumbuh rasa simpati sekaligus mengurangi keegoisan diri. Semoga teman-teman pembaca mendapat pesan tersebut setelah membaca kisah ini 🙂

Happy reading!

Continue Reading

Tentang Rasa, Asa, dan Cita (Jilid 1: Bagian 1)

Assalamu’alaikum!

Sesuatu yang selalu menjadi bagian dari diriku adalah menulis. Mungkin banyak pembaca blog ini yang sudah tidak asing lagi dengan puluhan entri yang isinya tidak jauh-jauh dari; kaleidoskop pengalamanku mengikuti berbagai even olimpiade diselingi oleh beberapa tulisan yang berupa pemikiranku tentang suatu hal.

Yah, semua itu memang masuk kategori sebuah tulisan, sih. Namun, salah satu sisi ‘menulis’ yang belakangan sempat tidak tersentuh olehku adalah … menulis prosa.

Aku dibesarkan dengan membaca berbagai novel. Perkenalanku dengan dunia perbukuan pun berawal dari sebuah novelku yang diterbitkan saat aku berusia sepuluh tahun. Well, sudah enam tahun berlalu semenjak hari penuh kenangan aku menerima paket pos berisi bukuku. Hm, hal yang sama mungkin akan terjadi tidak dalam waktu dekat ini .. hehe. Untuk mengobati rasa rinduku terhadap penulisan prosa, aku akan berbagi sebuah novelet yang sudah kuselesaikan sekitar tiga bulan yang lalu, namun mandeg tak tersentuh apapun selain menjadi bacaan untuk kedua orangtuaku.

Aku sangat menyadari bahwa kemampuan menulisku masih penuh kekurangan sana-sini, pun pemilihan diksi yang kugunakan mungkin terkesan monoton. Maka dari itu, feedback dari pembaca sekalian teramat sangat aku nantikan 🙂 .

Novelet ini berkisah tentang  petualangan seorang gadis di tahun pertamanya menjadi seorang anak SMA. Nah, kenapa novelet? Karena, aku merasa kisah ini terlalu pendek untuk disebut novel, tapi terlalu panjang juga untuk digolongkan sebagai cerpen. Jadilah novelet. Tapi, aku berpikir untuk melanjutkan petualangan tokoh utama pada tahun kedua dan ketiganya di SMA. Itulah alasan kenapa bagian ini termasuk ‘Jilid 1’. Jika memungkinkan, akan ada jilid-jilid selanjutnya. Dan ketika itu terwujud, mungkin saat itu tulisan ini sudah layak disebut ‘novel’. Hehe.

Tentang Rasa, Asa, dan Cita. Judul tersebut sudah merangkum apa yang akan pembaca temukan disini. (Ups, persis seperti entri sebelumnya tentang seri OSN 2017 yang terakhir ya? Hehehe)

Happy reading! 🙂

Continue Reading