Memaknai Rasa Cinta

Selama ini, aku dikelilingi oleh teman-teman yang beraneka ragam. Dari mereka, aku mengamati. Dan dari mereka pula, aku banyak belajar. Di Indonesia, hal-hal yang dibicarakan komunitas muslim terutama untuk remaja putri adalah dua hal: hijab dan pacaran. Alhamdulillah, saat ini cukup banyak role model remaja untuk remaja yang menggambarkan apa saja kerugian pacaran dan hal-hal yang lebih baik dilakukan selain pacaran.

Namun, ada satu hal yang menggelitik diriku. Bagaimana ketika kata ‘pacaran’ itu mulai menjelma menjadi berbagai bentuk? Sebut sajalah, kakak-adekan, friendzone, ‘sahabat’, dan lain sebagainya. Sebenarnya, ‘pacaran’ sendiri nggak memiliki definisi pasti, sih. Ketika diri ini sudah berkomitmen untuk tidak pacaran, berbagai godaan juga datang untuk menjadi dekat dengan lawan jenis dalam kategori-kategori lain itu. Akhir-akhir ini, frasa ‘mencintai dalam diam karena Allah SWT’ sangat populer. Biasanya, kata-kata itu dipegang teguh oleh para generasi muslim yang telah memiliki kesadaran untuk tidak pacaran tapi (kelihatannya) sedang ‘mencintai’ seseorang. Kata-kata itu tampak sangat cocok; Aku lagi jatuh cinta nih. Eh, tapi nggak boleh menyatakan, ya, dalam Islam? Diam aja deh, sambil mendoakan dia. Diikuti berbagai quotes yang kurang lebih berisi ‘Tiada bentuk mencintai yang lebih indah selain menyebut namanya dalam doa’.

Continue Reading

Advertisements

Olimpiade Sains Nasional SMP 2014 (Part 5: Ternyata Aku Tak Sendiri)

‘Ya Allah how time went so fast.’

Itu pikiran pertama yang terlintas di kepalaku ketika kami sedang berkumpul di kelas biologi, sekitar jam 4 sore, hari Selasa tanggal 13 Mei 2014. Pak Kris duduk di mejanya. Dengan posisi yang telah akrab kuamati dua minggu belakangan ini: badan agak condong ke depan dan jari kedua tangan disatukan, lalu diletakkan di atas meja.

“Ini hari terakhir. Besok kalian packing, lusa berangkat. Siap ya?” beliau menatap mata kami satu persatu.

Aku makin tidak nyaman saja duduk di kursiku. Rasanya ingin meneriakkan ‘SIAAP!’. Tapi tidak seyakin itu juga. Ya Allah materi yang sudah ke review cuma tumbuhan. Belum yang lain. H- berapa ini YA ALLAH. Bisa kurasakan adrenalinku lamat-lamat meningkat.

Setelah menenangkan diri untuk beberapa saat, akhirnya seulas senyum bisa kuukir di wajahku. Diikuti kalimat yang meluncur tenang; “Siap, pak.”

Continue Reading