Tentang Rasa, Asa, dan Cita (OSN 2016: Part 6-TAMAT)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Aku merenungi bulan-bulan yang sudah berlalu semenjak OSN 2016 berakhir. Mei, Juni, Juli, Agustus, September … Nyaris empat bulan pagelaran OSN 2016 usai, tapi serial OSN 2016 di blog ini malah belum ditutup dengan apik 😀 . Rencananya sih, aku akan membuat satu post lagi, post pamungkas yang akan mengakhiri serial OSN 2016 ini. Tapi, kok … banyak halangan menghadang. Mulai dari aku yang belum bisa membagi waktu karena rupanya, kelas 11 memang sesibuk itu, baik dari sisi akademis maupun non-akademisnya. Ditambah lagi hobiku menulis di tempat lain sedang minta diperhatikan belakangan ini. Jadilah jadwal sekolah lima hari yang selama ini berlaku di sekolahku tidak begitu membantuku menyisakan waktu untuk menulis blog. Oh, lebih-lebih ketika sesuatu yang lain datang … Eh, itu nanti saja, deh, ya. Hehe.

Intinya, aku berterimakasih untuk semua orang yang sudah menyempatkan diri membaca blog-ku! Baik yang membaca dengan scanning, skimming atau sampai titik komanya pun diperhatikan, terimakasih! Aku selalu berharap bahwa tulisanku nggak cuma berakhir jadi diary seorang anak labil, tapi ada sesuatu pelajaran yang bisa dipetik dari sana. Sekali lagi, terimakasih, semua! Dan terimakasih juga untuk pertanyaan ‘kapan lanjutan blog-nya?’ yang mampir ke ask.fm-ku beberapa kali. I really, really appreciate it 🙂 .

Continue Reading

Advertisements

Gemerlap OSN yang Penuh Kejutan (OSN 2016: Part 4)

Assalamu’alaikum wr.wb

Pagi itu, 15 Mei 2016.

Aku mengusap mukaku beberapa kali sambil mengedip-ngedipkan mata, berusaha mengusir kantuk yang masih tersisa. Harusnya aku nggak sepede ini untuk tidur nyaris jam satu dini hari, sesalku dalam hati.

Kali ini, lorong hotel Citra Dream pada pukul lima kurang seperempat pagi sangat lebih ramai dari biasanya. Suara obrolan, canda tawa dan gerak gerik banyak orang terdengar dari ruang makan. Aku mendekati arah sumber suara tersebut, mengambil duduk di salah satu kursi ruang makan, lalu mulai menyantap sarapan yang boleh dibilang sangat terlalu pagi. Well, mencoba untuk menyantap sarapan, lebih tepatnya, karena aku belum menemukan appetite jam-jam segini.

Tidak lama berselang, seorang kakak dari bagian travel agent memberi aba-aba kepada kami, “Ayo adik-adik, busnya sudah siap!”

Aku menutup kotak makanku yang bahkan tidak habis setengah. Setelah memastikan barang-barang yang akan aku bawa ke kabin pesawat nanti lengkap dan aman, aku melangkah bersama rombongan keluar hotel. Kami tidak perlu mengkhawatirkan koper kami. Mobil lain sudah mengangkut koper-koper tersebut ke bandara sejak sebelum Subuh tadi.

Perjalanan itu teramat singkat. Belum apa-apa, kami sudah tiba di Bandara Ahmad Yani. Kakak travel agent meminta ketua kelas berkumpul sebentar untuk mengambil satu bendel tiket, satu untuk setiap tim. Begitu ketua kelas telah membagikan tiket ke setiap anak, kami saling melempar pertanyaan ke satu sama lain, “Kamu seat nomer berapa?”

Ternyata, satu deret seat yang aku tempati berisi orang-orang yang cukup aku kenal. Eh, sangat aku kenal bahkan, mengingat kursi di kursi sebelahku ada Kak Tika dan di deretan seberang ada Dhani Abi. Sepertinya, kebanyakan anak memanfaatkan kesempatan terbang dengan pesawat Garuda sebaik mungkin. Banyak yang langsung memasang headset lalu memusatkan perhatian ke layar kaca yang terpasang di hadapan. Termasuk aku, sih … hehehe.

Kami mendarat di Soekarno Hatta sekitar pukul tujuh. Penerbangan selanjutnya menuju Palembang baru 10.30 nanti. Wah, kami mendapat cukup banyak waktu luang di bandara. Waktu luang itu diisi anak-anak dengan berbagai macam kegiatan. Beberapa menyempatkan ke musholla, menengok toko-toko di dalam Bandara yang menjual berbagai makanan, sampai akhirnya kami bosan dan bingung sendiri, lalu berkumpul di satu tempat untuk sekedar duduk-duduk.

Aku mengajak Kak Tika, Eli dan Chrysan untuk berkumpul sebentar. Kami sudah berencana untuk befoto sejak dari dulu, tapi belum juga terlaksana. Separuh terakhir Pelatda, aku menempati satu kamar dengan ketiga orang itu. Suatu kebetulan yang mengasyikkan, karena ternyata kami berempat adalah alumni IJSO. Kak Tika dan Chrysan alumni IJSO 2013, sedangkan aku dan Eli alumni IJSO 2014.

“Aku bingung, masa begitu ada yang tanya aku sekamar sama siapa, respon mereka kebanyakan ‘Woooaaa, bisa ya kalian sekamar? Ngeri, ngeri.’ Memang kalau kita sekamar kenapa …” Eli berbagi cerita. Kami tertawa bersama.

Continue Reading

Tradisi Kebanggaan Kami (OSN 2016: Part 3)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Setelah pengumuman OSN keluar, aku dan teman-teman bolak-balik mengamati lembar demi lembar daftar peserta tersebut. Kami mengamati siapa saja kenalan kami yang lolos, sekaligus nama-nama siswa yang menjadi bagian tim Jawa Tengah pada bidang masing-masing. Teman-temanku berusaha mengontak teman setim mereka untuk berkenalan terlebih dahulu. Sedangkan aku, aku mengamati Biologi Jateng dan …

Eeh… yang benar saja? Aku membelalakkan mata sambil meringis lebar. Berikut adalah daftar tim Jawa Tengah untuk OSN 2016.

Daftar Bio Jateng 1

Daftar Bio Jateng 2

Dari delapan orang teman setimku itu, yang belum kukenal hanya dua orang :’))) Lima orang adalah alumni OSN tahun lalu, bahkan empat dari mereka (Syailendra, Kak Rio, Kak Handika, Kak Bagus) juga anak Pelatnas. Sedangkan Anggit adalah bagian dari tim Biologi Jateng untuk OSN 2014. Aku hanya harus berkenalan dengan adik kelas Kak Fatin dari SMAN 1 Kendal dan seorang anak kelas 8 dari Salatiga. Ini sih, kurang lebih reuni … hehe.

Kali ini, semua bidang OSN membuka kesempatan untuk setiap provinsi mengirimkan maksimal sembilan orang. Jelas saja, Biologi Jawa Tengah nggak bisa membawa sekampung lagi seperti tahun lalu 😀 . Semenjak setiap sekolah diberi batasan untuk mengirimkan maksimal dua siswa per bidang, seingatku mulai tahun 2010, jarang sekali sebuah tim bisa berisi anggota yang jumlahnya dua digit. Eh, nggak tanggung-tanggung, tim Biologi Jateng tahun lalu itu sampai 15 orang! Heran sih, tapi bangga juga. Hehe. Sekaligus agak kesal karena sepanjang Pelatda hingga OSN berakhir, Bio Jateng 2015 nggak pernah mempunyai foto tim yang lengkap. Nyaris lengkap, namun selalu saja ada yang tiba-tiba menghilang : ( . Paling mendekati lengkap adalah ber-14! Ckck.

Setelah penantian sekitar satu minggu, akhirnya kami mendapat kepastian tentang tanggal pelaksanaan Pelatda Jateng. Setiap tahun, Jawa Tengah selalu menfasilitasi siswa yang lolos ke OSN dengan pelatihan selama kurang lebih satu bulan. Well, khusus tahun ini kurang dari sebulan, tepatnya tiga minggu. Pelatda akan dimulai pada 26 April dan akan berlanjut sampai keberangkatan ke Palembang tanggal 15 Mei 2016.

“Eh, kita semua satu hotel lho, di Hotel Citra Dream!”

Kabar menyenangkan itu membuat kami bersemangat. Pasalnya, pada Pelatda 2015, sembilan bidang OSN terpisah di tiga hotel yang berbeda. Kalau bersatu semua kan, pasti asyik! Alhamdulillah.

Mungkin, durasi Pelatda yang cukup panjang setiap tahunnya membuat Pelatda Jateng memiliki tradisi yang telah turun-temurun terpelihara. Apa saja tradisi tersebut?

  1. Bu Titin, seorang official Jateng yang sudah mengurusi OSN dari jaman duluuuuu sekali, selalu menunjuk ketua kelas dan ketua angkatan untuk mempermudah koordinasi.
  2. Lahirnya istilah ‘kambing’. Kambing adalah kependekan dari kakak pembimbing. Sebutan ini populer dikalangan anak Jawa Tengah untuk menyebut kakak alumni yang kembali mengajar.
  3. Setiap bidang OSN di Jateng membuat nama tim yang berlaku untuk tim bidang OSN tahun tersebut.
  4. Setiap tim membuat jaket/sweater/kaos yang kompak dan biasanya bertuliskan nama tim masing-masing.

Kalau bertemu dengan alumni OSN dari kontingen Jawa Tengah, pasti pernah merasakan setidaknya dua dari tradisi di atas. Beneran, deh, tradisi ini membuat Pelatda makin seru 😉 .

Continue Reading

Karena Hidup Sering Tak Terduga (OSN 2016: Part 2)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Hai, Pembaca! Kali ini, aku mau berbagi sebuah rahasiaku. Ini serius, kok, karena memang nggak banyak orang yang mengetahui hal ini sebelum aku memutuskan untuk menuliskannya di blog.

Apakah itu???

JENG JENG JENG ….

Salsa kecil adalah seorang yang cengeng. Banget. Salsa kecil akan meminta Umi untuk menampakkan bagian tubuhnya di jendela kelas TK, supaya aku tahu Umi masih ada diluar, menemaniku yang sedang belajar (atau bermain, aku nggak tahu mana yang lebih tepat untuk seorang anak TK). Ketika Umi meninggalkanku, atau aku berpikir Umi meninggalkanku padahal masih ada, aku akan menangis sejadi-jadinya.

Hm, mungkin nggak terlalu unik, ya? Namanya juga anak kecil, bukankah hal seperti itu wajar? Well, seiring waktu berlalu, aku memang semakin nyaman dengan TKku dan nggak melulu minta Umi menemani setiap saat.

Eits, tapi … masih ada yang lebih unik lagi.

Continue Reading

Arti Sebuah Medali (OSN 2015: Part 7)

Assalamu’alaikum 🙂

Tanggal 23 Mei 2015. Hari Sabtu. Hari ini menjadi hari istimewa yang telah dinantikan seluruh peserta OSN SMA 2015. Pengumuman? Sesuatu yang pasti akan terjadi. Sesuatu yang selalu berada di penghujung OSN. Betapapun pengumuman itu menjadi sebuah kepastian, segala hal ajaib dan berbagai hal tak terduga bisa terjadi di dalamnya. Sesering apapun seseorang menghadapi pengumuman seperti ini, rasa grogi itu tetap muncul. Setiap pengumuman memiliki cerita tersendiri. Dan, cerita pengumuman kali ini, akan terungkap dalam waktu kurang dari setengah hari.

Meninggalkan makan pagi sudah menjadi kebiasaanku selama dua hari belakangan. Tentu saja aku tidak akan mengambil resiko ketika tes. Namun hari kami berwisata dan pengumuman seperti saat ini, aku cenderung cuek. BINGO Jateng kembali memastikan berada di satu bus bersama. Kali ini, kami akan menuju Hotel Sahid Rich. Akan diadakan sebuah pertemuan dengan Direktorat Pembinaan SMA. Serta … sebuah sesi motivasi? Entahlah. Setelah makan siang, kami dijadwalkan untuk menuju Sportorium UMY, bangunan tempat Penutupan OSN 2015 sekaligus Penganugerahan Medali akan dilaksanakan.

Senangnya, bisa berkumpul dengan seluruh peserta dari sembilan bidang lomba. Aula Hotel Sahid Rich tampak padat oleh manusia-manusia berbusana warna-warni. Memang, terdapat aturan tidak tertulis bahwa setiap acara penutupan, para peserta mengenakan seragam kontingen masing-masing. Anak Jawa Tengah bisa dibedakan dengan batik abu-abu kami. Tidak terlalu mencolok dan sederhana, sih, tapi cukup bagus. Walaupun kalau suruh memilih, aku lebih suka batik kuning terang yang dipakai Jawa Tengah tahun lalu.

Berbicara lebih jauh tentang baju kontingen, aku selalu suka kontingen dari daerah Kalimantan. Mereka menggunakan warna-warna terang yang ceria. Kalau untuk model, aku suka sekali dengan Jawa Timur yang membedakan batik putra dan putri, siswi putri terlihat anggun dengan model batik yang cewek banget. Tapi, baju kontingen paling keren sejauh ini, menurutku, masih dipegang oleh DKI Jakarta 2014. Batik warna oranye yang sangat eye-catching! Namun, yang membuat istimewa adalah fakta bahwa batik itu bukan kemeja, melainkan sebuah jas tidak resmi yang memiliki resleting di bagian depan. Well, mengamati baju kontingen menjadi salah satu kegiatan yang menyenangkan dan telah aku masukkan dalam daftar what-to-do di OSN tahun depan 🙂 Hehe … semoga bisa! Aamiin!

Continue Reading

Janji Anak Bangsa (OSN 2015: Part 5)

Assalamu’alaikum 🙂

“Udah sampai Yogya? Ya Allah, busnya bisa dimundurin lagi, nggak? Mundur aja, yuk …” gumamku sambil memandangi pemandangan di luar jendela bus.

Kak Fatin yang duduk di sebelahku tertawa. “Perasaannya campur aduk, ya? Kayak ingin semua ini cepat beres dan selesai, tapi juga grogi karena udah deket banget …” komentar Kak Fatin.

“Ampun, yang udah tiga kali ikut OSN …” candaku.

“Jangan gitu! Tahun depan aku udah nggak bisa ikut OSN lagi ini, lho…” sahut Kak Fatin. Aku tertawa. Iya sih… Setelah sekian lama berkecimpung di dunia OSN, pasti rasanya aneh sekali ketika sudah kelas 12. Sudah selesai semua masa-masa ‘anak OSN’ itu.

Bus yang kami tumpangi berisikan anak-anak dari lima bidang: Biologi, Matematika, Fisika, Geografi, Kimia. Bus ini akan berhenti di dua hotel; Hotel Cavinton dan Merapi Merbabu. Biologi dan Matematika menjadi dua bidang yang menginap di Hotel Merapi Merbabu, sisanya di Cavinton. Bidang-bidang yang lain sudah menumpangi bus sendiri, mereka akan menuju Hotel Sahid Rich. Dengar-dengar sih, Hotel Sahid Rich adalah hotel yang paling ramai.

“Sal, yakin medali emas nggak?” sebuah suara tiba-tiba memanggilku. Oh, ternyata Otto. Anak matematika sesama kelas 9 yang sudah melanglang buana selama SMP.

“Hah? Apa? Emas? Perunggu aja nggak yakin dapet …” jawabku jujur.

“Iya, sama.”

“Yang kemarin juara pas OSP siapa yaa?”

“Enggak, tetep nggak yakin. Matematika SMA beda sama SMP.”

“Sama, Biologi SMA juga beda banget.”

Yah, inti dari percakapan itu adalah, kami menyadari posisi kami sebagai kelas sembilan bukan posisi paling memungkinkan untuk mendulang sebuah medali. Tapi, dalam lubuk hati terdalam, siapa sih yang nggak berambisi untuk menjadi salah satu yang namanya dipanggil saat acara penganugerahan nanti?

Continue Reading

Serpihan Mimpi yang Menjadi Satu (OSN 2015: Part 4)

Assalamu’alaikum 🙂

Pernahkah kalian menemukan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama, sehingga pembicaraan kalian selalu terhubung? Pernahkah kalian menghabiskan banyak waktu bersama orang-orang yang sama, membuat kalian semakin akrab? Walaupun terpaut usia, kalian seperti menemukan saudara yang tidak sedarah.

Entah kenapa, awal aku menjadi siswi kelas 7 di SMP Semesta, aku tidak sekamar dengan teman sekelasku. Malahan, aku dan Alzana yang juga mendapat beasiswa itu, menempati satu kamar dengan kakak-kakak kelas 8. Mereka kebanyakan anak olimpiade. Hanya satu bulan, tak lebih. Kemudian aku berpindah ke kamar dengan anggota kelas 7 semua. Namun, waktu sebulan itu sudah cukup untuk mengenalkanku dengan kakak-kakak inspiratif yang luar biasa bersemangat dalam bidang mereka masing-masing.

Anak olimpiade SMP angkatan tepat sebelumku itu memang unik. Dalam satu angkatan, terdapat 8 anak beasiswa! Padahal, OSN setiap tahunnya hanya bisa diikuti satu orang setiap mata pelajaran. Bahkan dengan nilai yang mumpuni, satu atau lebih siswa bisa didiskualifikasi di tingkat kota karena ada siswa dari sekolah yang sama menempati peringkat lebih tinggi. Dua anak biologi, tiga anak fisika, dan tiga anak matematika. Mereka harus berjuang untuk mendapatkan satu tempat di masing-masing bidang.

Jujur, aku tidak (atau belum) tahu bagaimana rasanya bersaing di tingkat sekolah. Angkatanku tidak memiliki anak olimpiade biologi lain, hanya aku seorang. Namun, terutama di sekolah seperti sekolahku sekarang, aku menyaksikan sendiri bagaimana persaingan itu sangat, sangat berat. Bersaing dengan teman satu sekolah, berarti bersaing dengan orang yang bersama-sama dengan kita dari awal sekali. Kita sama-sama berjuang sejak kelas 7 atau 10, kita sama-sama menghadiri kelas olimpiade pada sore hari selama beberapa kali seminggu, kita sama-sama mengikuti perlombaan di universitas, bahkan menempuh perjalanan keluar kota bersama. Dan, mimpi salah seorang atau bahkan lebih di antara kita harus kandas. Menghadapi kenyataan bahwa nilai kita memang kalah dari banyak orang saat seleksi, mungkin lebih melegakan dibanding mengetahui kita sebenarnya lolos namun terhadang kuota sekolah.

Continue Reading