defeating our(arrogant)selves

I feel like the most archaic form of evil feelings human has is arrogance. Its existence can be traced back to the time when humans hadn’t even set their foot on the earth yet. It’s a feeling so primal and so old but also so familiar because we still breathe it in and out, in and out.

Arrogance is not our neighbor nor our acquaintance. It’s inside us. It resides there on the deepest pit of your, and my, heart. To be fair, even though I said ‘deepest’, most of the time it’s not important. As long as we still live with a constantly overflowing arrogance, not even burying the feeling underground could prevent that rotten thing from spilling out to the outside world.

Continue Reading

Advertisements

OSN: Antara Urgensi, Ambisi, dan Arogansi

Assalamu’alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuh.

Kilas balik tahun 2018. Pertengahan tahun 2018 adalah bulan-bulan paling tidak produktif yang pernah aku lalui. Aku merasa, aku yang ketika itu telah terpisah jarak oleh teman-teman SMA-ku gagal menjadi support system bagi sebagian dari mereka yang masih berjuang menghadapi tes demi tes masuk universitas. I simply didn’t bother to call or check up on them. Setelah setahun berlalu dan aku mendengar sendiri kisah perjuangan teman-temanku saat itu, I feel like I failed to be their friends. Aku juga sama sekali nggak peduli dengan jalannya OSN. Setelah 3 tahun berturut-turut menjadi peserta (2014, 2015, 2016) dan 2017 mengamati jalannya kompetisi dari dekat karena sedang persiapan IBO ke Inggris, 2018 sangat… Berbeda. Aku sudah pulang ke kampung halaman, aku bahkan nggak yakin bahwa aku masih sesuka itu dengan Biologi setelah setahun tidak berkompetisi, dan aku… Sengaja menghindar, mungkin? Entahlah.

Continue Reading

Let’s talk about our feelings

Yes, let’s talk about our feelings, shall we?

Human mind and emotion is very interesting. And I just found out that people can invest almost all of their happiness to a single thing or person.

Honestly … It is such a new concept for me. All this long, I feel like I have tons of reasons to be happy, as much as I have tons of other reasons that make me sad. For me, human emotion is affected by countless variables in life, so the idea of our life being crushed down just because of one particular reason baffles me.

For example, I might be sad if I score badly in tests, heck I might even cry myself to sleep because of it. But even then, I’ll smile again after some time, maybe after a talk with my parents, maybe after joking around with my friends, or simply after browsing cute kitten videos on the internet (you should definitely try this!).

Continue Reading

My Devil and I

Assalamu’alaikum teman-teman semua 🙂

Rasanya aneh … membuka wordpress dan dihadapkan interface penulisan blog post baru seperti ini. Hehe. Betapa lamanya blog ini membeku, post terakhirku lebih dari setahun yang lalu. Aku bahkan sampai kagok merangkai kata-kata 😀 . Tapi … kali ini aku merasa harus. Harus menyatakan sesuatu yang sudah cukup lama menumpuk di hatiku. Sesuatu yang sudah kusimpan sejak dulu, tapi karena beberapa kejadian belakangan, aku memantapkan hati untuk membagi tulisan ini kepada teman-teman semua, dan seluruh dunia.

Rupanya, ada beberapa hal yang baru aku rasakan dan pahami setelah lulus dari SMA. Boleh kubilang, aku menuliskan ini dengan hati berdebar-debar. Aku benar-benar akan mengungkapkan sesuatu yang sudah bersinggah lama di benakku. In a way, I’m going to expose my own fragility and deepest and darkest thoughts. This… is not easy at all. Tapi aku tetap berusaha lanjut menulis karena aku percaya, tulisan ini bisa menjadi titik awal untuk pembahasan yang lebih dalam mengenai permasalahan yang akan aku uraikan, untuk kemudian menjadi bahan introspeksi diri kita masing-masing 🙂

Selamat membaca!

Continue Reading

Mengapa Susah Sekali?

Assalamu’alaikum wr.wb.

Topik tulisan ini sebenarnya sedikit lucu dan kontradiktif. Aku akan menulis tentang ketidakmampuanku  menulis. Sebuah kenyataan yang terpampang nyata jika pembaca mengamati bahwa tulisan terakhirku di blog ini dibuat Juni 2017 lalu. Itu pun berisi rangkuman dari video yang aku unggah ke youtube untuk membantu teman-teman mempersiapkan OSN 2017. Blogpost yang nyata-nyata berisi buah pemikiran yang kususun dengan matang, tampaknya terakhir aku buat bulan Maret lalu.

Padahal, aku mengecap berbagai momen yang luar biasa banyak, unik, dan life-changing selama rentang waktu aku tidak menulis itu. Lalu, apa yang menghalangiku merangkai kata dan membuat beberapa blogpost sederhana?

Jawabannya: kejenuhan. Ya, aku jenuh dengan rutinitas yang aku buat sendiri. Semenjak OSN 2014 yang mana merupakan OSN keduaku, aku sudah menuliskan pengalaman OSNku di blog ini. Pembaca masih sangat bisa membacanya, bahkan sudah kurapikan sehingga navigasi menuju ke tulisan-tulisanku tentang OSN, Pelatnas dan lain sebagainya bisa dengan mudah diraih melalui tab ‘Olimpiade’.

Continue Reading

(Masih) Belajar Menjadi Muslim

Assalamu’alaikum!

Teman-teman sekalian, perkenankanlah aku mengungkapkan suatu kisah yang sudah tersimpan lama di lubuk hati ini. Dan, karena semua hal yang terjadi belakangan, rasanya jari sudah gatal untuk menuliskannya, bahkan dalam keadaan Pelatnas :’D Hehehe. Hitung-hitung menghindari semakin banyak debu menumpuk di blog ini, ya.

Aku sedang dan masih belajar menjadi muslim. Dan, salah satu guruku belajar menjadi muslim yang lebih baik, adalah, percaya atau tidak, teman-temanku yang bukan muslim.

Bagaimana bisa begitu? Mari kuceritakan latar belakangku sejenak.

Aku lahir dari keluarga muslim yang, sangat kusyukuri setiap saatnya, selalu berusaha mendalami Islam lebih baik. Singkat kata; keluarga yang islami. Aku pun dibesarkan di lingkungan dengan mayoritas muslim, masuk ke sekolah dasar Islam, lalu bersekolah di SMP dan SMA umum, namun sekali lagi dengan mayoritas muslim. Bahkan, selama aku bersekolah di SMP dan SMA-ku sekarang, kebetulan sekali angkatanku 100% muslim.

Perkenalanku dengan teman-teman yang menganut agama berbeda dimulai dari keikutsertaanku dalam Olimpiade Sains Nasional saat SD. Berlanjut ke SMP, lalu SMA. Sempat aku merasa kaget, namun cepat juga menjadi terbiasa. Indonesia negara dengan mayoritas muslim. Tapi khusus dalam ajang-ajang olimpiade seperti itu, acapkali muslim menjadi minoritas.

Continue Reading

Hafalan Al-Qur’an, Kampus Impian, atau OSN?

Assalamu’alaikum.

Ada dua pertanyaan besar. Pertanyaan yang mungkin akarnya sedikit berbeda. Satu lebih ke’duniawi’an, satunya lagi lebih ke’akhirat’an (aduh, bahasa apapula itu… hehe).

Mana yang lebih penting? Kampus idaman atau OSN?

Mana yang lebih penting? Hafalan Al-Qur’an atau OSN?

Aku bukan berada di pihak yang dilanda dilema tersebut. Tapi, aku mendengar (atau juga membaca) penuturan dari mereka yang benar-benar merasakan kegalauan membagi fokus. Para kelas 12 yang memandang ke depan; tidak lagi melihat Pelatnas adalah sesuatu yang menjajikan. Para hafidz, hafidzah, maupun calon hafidz dan hafidzah; mempertanyakan harga sekeping medali dibanding hafalan Al-Qur’an yang mati-matian mereka jaga dan tingkatkan.

Continue Reading