Let’s talk about our feelings

Yes, let’s talk about our feelings, shall we?

Human mind and emotion is very interesting. And I just found out that people can invest almost all of their happiness to a single thing or person.

Honestly … It is such a new concept for me. All this long, I feel like I have tons of reasons to be happy, as much as I have tons of other reasons that make me sad. For me, human emotion is affected by countless variables in life, so the idea of our life being crushed down just because of one particular reason baffles me.

For example, I might be sad if I score badly in tests, heck I might even cry myself to sleep because of it. But even then, I’ll smile again after some time, maybe after a talk with my parents, maybe after joking around with my friends, or simply after browsing cute kitten videos on the internet (you should definitely try this!).

Continue Reading

Advertisements

My Devil and I

Assalamu’alaikum teman-teman semua 🙂

Rasanya aneh … membuka wordpress dan dihadapkan interface penulisan blog post baru seperti ini. Hehe. Betapa lamanya blog ini membeku, post terakhirku lebih dari setahun yang lalu. Aku bahkan sampai kagok merangkai kata-kata 😀 . Tapi … kali ini aku merasa harus. Harus menyatakan sesuatu yang sudah cukup lama menumpuk di hatiku. Sesuatu yang sudah kusimpan sejak dulu, tapi karena beberapa kejadian belakangan, aku memantapkan hati untuk membagi tulisan ini kepada teman-teman semua, dan seluruh dunia.

Rupanya, ada beberapa hal yang baru aku rasakan dan pahami setelah lulus dari SMA. Boleh kubilang, aku menuliskan ini dengan hati berdebar-debar. Aku benar-benar akan mengungkapkan sesuatu yang sudah bersinggah lama di benakku. In a way, I’m going to expose my own fragility and deepest and darkest thoughts. This… is not easy at all. Tapi aku tetap berusaha lanjut menulis karena aku percaya, tulisan ini bisa menjadi titik awal untuk pembahasan yang lebih dalam mengenai permasalahan yang akan aku uraikan, untuk kemudian menjadi bahan introspeksi diri kita masing-masing 🙂

Selamat membaca!

Continue Reading

Mengapa Susah Sekali?

Assalamu’alaikum wr.wb.

Topik tulisan ini sebenarnya sedikit lucu dan kontradiktif. Aku akan menulis tentang ketidakmampuanku  menulis. Sebuah kenyataan yang terpampang nyata jika pembaca mengamati bahwa tulisan terakhirku di blog ini dibuat Juni 2017 lalu. Itu pun berisi rangkuman dari video yang aku unggah ke youtube untuk membantu teman-teman mempersiapkan OSN 2017. Blogpost yang nyata-nyata berisi buah pemikiran yang kususun dengan matang, tampaknya terakhir aku buat bulan Maret lalu.

Padahal, aku mengecap berbagai momen yang luar biasa banyak, unik, dan life-changing selama rentang waktu aku tidak menulis itu. Lalu, apa yang menghalangiku merangkai kata dan membuat beberapa blogpost sederhana?

Jawabannya: kejenuhan. Ya, aku jenuh dengan rutinitas yang aku buat sendiri. Semenjak OSN 2014 yang mana merupakan OSN keduaku, aku sudah menuliskan pengalaman OSNku di blog ini. Pembaca masih sangat bisa membacanya, bahkan sudah kurapikan sehingga navigasi menuju ke tulisan-tulisanku tentang OSN, Pelatnas dan lain sebagainya bisa dengan mudah diraih melalui tab ‘Olimpiade’.

Continue Reading

(Masih) Belajar Menjadi Muslim

Assalamu’alaikum!

Teman-teman sekalian, perkenankanlah aku mengungkapkan suatu kisah yang sudah tersimpan lama di lubuk hati ini. Dan, karena semua hal yang terjadi belakangan, rasanya jari sudah gatal untuk menuliskannya, bahkan dalam keadaan Pelatnas :’D Hehehe. Hitung-hitung menghindari semakin banyak debu menumpuk di blog ini, ya.

Aku sedang dan masih belajar menjadi muslim. Dan, salah satu guruku belajar menjadi muslim yang lebih baik, adalah, percaya atau tidak, teman-temanku yang bukan muslim.

Bagaimana bisa begitu? Mari kuceritakan latar belakangku sejenak.

Aku lahir dari keluarga muslim yang, sangat kusyukuri setiap saatnya, selalu berusaha mendalami Islam lebih baik. Singkat kata; keluarga yang islami. Aku pun dibesarkan di lingkungan dengan mayoritas muslim, masuk ke sekolah dasar Islam, lalu bersekolah di SMP dan SMA umum, namun sekali lagi dengan mayoritas muslim. Bahkan, selama aku bersekolah di SMP dan SMA-ku sekarang, kebetulan sekali angkatanku 100% muslim.

Perkenalanku dengan teman-teman yang menganut agama berbeda dimulai dari keikutsertaanku dalam Olimpiade Sains Nasional saat SD. Berlanjut ke SMP, lalu SMA. Sempat aku merasa kaget, namun cepat juga menjadi terbiasa. Indonesia negara dengan mayoritas muslim. Tapi khusus dalam ajang-ajang olimpiade seperti itu, acapkali muslim menjadi minoritas.

Continue Reading

Hafalan Al-Qur’an, Kampus Impian, atau OSN?

Assalamu’alaikum.

Ada dua pertanyaan besar. Pertanyaan yang mungkin akarnya sedikit berbeda. Satu lebih ke’duniawi’an, satunya lagi lebih ke’akhirat’an (aduh, bahasa apapula itu… hehe).

Mana yang lebih penting? Kampus idaman atau OSN?

Mana yang lebih penting? Hafalan Al-Qur’an atau OSN?

Aku bukan berada di pihak yang dilanda dilema tersebut. Tapi, aku mendengar (atau juga membaca) penuturan dari mereka yang benar-benar merasakan kegalauan membagi fokus. Para kelas 12 yang memandang ke depan; tidak lagi melihat Pelatnas adalah sesuatu yang menjajikan. Para hafidz, hafidzah, maupun calon hafidz dan hafidzah; mempertanyakan harga sekeping medali dibanding hafalan Al-Qur’an yang mati-matian mereka jaga dan tingkatkan.

Continue Reading

Arti Sebuah Medali (OSN 2015: Part 7)

Assalamu’alaikum 🙂

Tanggal 23 Mei 2015. Hari Sabtu. Hari ini menjadi hari istimewa yang telah dinantikan seluruh peserta OSN SMA 2015. Pengumuman? Sesuatu yang pasti akan terjadi. Sesuatu yang selalu berada di penghujung OSN. Betapapun pengumuman itu menjadi sebuah kepastian, segala hal ajaib dan berbagai hal tak terduga bisa terjadi di dalamnya. Sesering apapun seseorang menghadapi pengumuman seperti ini, rasa grogi itu tetap muncul. Setiap pengumuman memiliki cerita tersendiri. Dan, cerita pengumuman kali ini, akan terungkap dalam waktu kurang dari setengah hari.

Meninggalkan makan pagi sudah menjadi kebiasaanku selama dua hari belakangan. Tentu saja aku tidak akan mengambil resiko ketika tes. Namun hari kami berwisata dan pengumuman seperti saat ini, aku cenderung cuek. BINGO Jateng kembali memastikan berada di satu bus bersama. Kali ini, kami akan menuju Hotel Sahid Rich. Akan diadakan sebuah pertemuan dengan Direktorat Pembinaan SMA. Serta … sebuah sesi motivasi? Entahlah. Setelah makan siang, kami dijadwalkan untuk menuju Sportorium UMY, bangunan tempat Penutupan OSN 2015 sekaligus Penganugerahan Medali akan dilaksanakan.

Senangnya, bisa berkumpul dengan seluruh peserta dari sembilan bidang lomba. Aula Hotel Sahid Rich tampak padat oleh manusia-manusia berbusana warna-warni. Memang, terdapat aturan tidak tertulis bahwa setiap acara penutupan, para peserta mengenakan seragam kontingen masing-masing. Anak Jawa Tengah bisa dibedakan dengan batik abu-abu kami. Tidak terlalu mencolok dan sederhana, sih, tapi cukup bagus. Walaupun kalau suruh memilih, aku lebih suka batik kuning terang yang dipakai Jawa Tengah tahun lalu.

Berbicara lebih jauh tentang baju kontingen, aku selalu suka kontingen dari daerah Kalimantan. Mereka menggunakan warna-warna terang yang ceria. Kalau untuk model, aku suka sekali dengan Jawa Timur yang membedakan batik putra dan putri, siswi putri terlihat anggun dengan model batik yang cewek banget. Tapi, baju kontingen paling keren sejauh ini, menurutku, masih dipegang oleh DKI Jakarta 2014. Batik warna oranye yang sangat eye-catching! Namun, yang membuat istimewa adalah fakta bahwa batik itu bukan kemeja, melainkan sebuah jas tidak resmi yang memiliki resleting di bagian depan. Well, mengamati baju kontingen menjadi salah satu kegiatan yang menyenangkan dan telah aku masukkan dalam daftar what-to-do di OSN tahun depan 🙂 Hehe … semoga bisa! Aamiin!

Continue Reading

The Perks of Being An Enterpreneur’s Daughter

The school examination is on Monday until Saturday next week. But, my parents have always said to me with complete understanding, “Your ideas always come up when you are going to have examination.” I can’t bear it to not write down the ideas that are jumping around inside my head. My fingers are forcing themselves to dance on my laptop’s keyboard. And, here it is. Instead of reviewing three years lessons, I spent my weekend to play with words.

As parents, I can say that my Umi and Abi have done a great job! How can I say that? Well, because… I often share stories with my friends. We tell each other about our family. I hear many types of parents who are my friend’s. And at the end, they say; “You’re so lucky. When I am grown up, I want to be a parent just like yours. I don’t want to take care of my future children like my mom and dad did. Definitely no.”

I am grown up in a very small family. There are just my parents and I. Yes, I am the only child in my family. We live in a not-so-big but comfortable house in Malang, East Java. My parents are enterpreneurs. They build their own company since they are married, from zero. They make a special kind of cookies named Cumcum Salsa. It is a cone-like cookies filled with sweet cream and a colourful chocolate chip on the top of it. They make several other pastry too.

Continue Reading