Palembang dan Reuni Kecil Kami (OSN 2016: Part 5)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Bagiku, tes teori selalu menjadi tantangan tersendiri. Tantangan melawan … kantuk, hehe. Bukannya aku sangat menguasai semua materi hingga menyelesaikan soal jauh sebelum waktu habis, sama sekali bukan. Justru ketika aku memikirkan suatu soal dengan sangat keras, lamat-lamat, kelopak mataku akan terasa berat dan sebelum aku menyadarinya, kepalaku terantuk ke arah meja. Sebenarnya, serangkaian tes dan simulasi dari OSK sampai Pelatda kemarin telah membuktikan bahwa rasa kantuk itu bisa kuatasi. Namun, tetap saja, aku masih khawatir.

Sal, kamu kan sudah tidur 9 jam. In syaa Allah nggak bakal, lah, ngantuk lagi, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.

Sebelum berangkat ke SMAN 3 Palembang, salah seorang teman sekamarku dengan berbaik hati mau meminjamkan jaketnya. Kak Dinda dari Lampung itu mempunyai sebuah jaket berwarna merah tua yang sekilas, lebih mirip winter coat daripada jaket biasa. Nggak setebal winter coat juga sih, tapi jaket itu memberikan kehangatan yang sangat nyaman. Makasih, ya, kak! 😉

Selama sekitar satu jam menunggu dimulainya tes teori, beberapa orang mampir menyampaikan komentar mereka tentang aku yang mengenakan jaket cukup tebal di tengah panasanya Kota Palembang, beberapa lagi memuji “Jaketnya bagus, Sal.” Aku hanya bisa nyengir sambil sedikit tersanjung, kok orang-orang perhatian sekali, sih, dengan jaket yang aku kenakan. Haha. Disamping fakta bahwa, well, itu jaket hasil pinjeman 😀 .

Tes teori kami terbagi menjadi dua sesi. Tes Teori A di pagi hari, dan Tes Teori B yang diadakan setelah istirahat siang. Kedua tes tersebut terdiri dari 50 soal multiple true false yang dikerjakan dengan Lembar Jawab Komputer selama 180 menit. Seperti biasa, setiap tes memuat beberapa tema; Biologi Sel dan Molekuler, Anatomi Fisiologi Hewan, Anatomi Fisiologi Tumbuhan, Genetika dan Evolusi, Ekologi, Etologi, dan Biosistematika. Ketika mengerjakan Tes Teori A, aku merasa soal genevonya tidak semengerikan yang biasanya dikeluarkan TOBI (Beneran lho, berdasarkan pendapat banyak orang bahkan alumni IBO sendiri, soal genetika TOBI terkadang berkali lipat lebih mematikan daripada soal genetika IBO). Aku menebak, pasti Tes Teori B jauh lebih susah dari A.

Selama istirahat siang, aku menyempatkan untuk tidur sebentar. Yap, aku memang mudah tertidur dimanapun dan dalam kondisi apapun rupanya :’D. Ketika istirahat usai dan kami melangkah menuju kelas masing-masing untuk kembali mengerjakan tes selanjutnya, aku mengamati jendela ruang kelasku berembun. Bukan hanya embun yang tampak samar-samar seperti uap air, tapi berembun sampai banyak  tetes-tetes air mengalir menuruni kaca jendela. Ckck, pantas saja tadi aku serasa mengerjakan di dalam kulkas. Kedua AC yang terpasang di kelas benar-benar menjalankan fungsinya dengan baik. Aku sungguh bersyukur mengenakan jaket.

Sesuai prediksiku, Tes Teori B memang lebih susah. Begitu juri dan ibu guru yang menjaga kelas kami mengumukan bahwa waktu pengerjaan habis, kami semua mulai membereskan alat tulis dan keluar kelas.

Continue Reading

Advertisements

The Closing ( IJSO: Part 12 )

Assalamu’alaikum!

Beberapa hari belakangan, aku kembali teringat tentang IJSO series yang aku tulis di blog sejak Desember 2014. Karena aku cerewet, terlalu banyak yang ingin diceritakan, dari mulai hal yang sangat penting sampai detail tak bermakna, akhirnya ….. waktu satu bulan selama liburan kenaikan semester nggak cukup untuk menyelesaikan cerita IJSO -_- Aneh memang, IJSO-nya tiga bulan, dan untuk menuliskan ceritanya molor sampai lebih dari tiga bulan. Beberapa orang memintaku untuk melanjutkannya. Kurang satu lagi kisah terakhir! Alhamdulillah, berkat dukungan teman-teman semua, aku pun memutuskan untuk menggunakan akhir minggu ini menuliskan cerita terakhir dari IJSO series 🙂

Kebanyakan orang menjadikan pencapaian medali sebagai ukuran sebuah keberhasilan. Namun, untuk diriku, sedikit berbeda. Aku merasa diriku benar-benar berhasil, ketika aku mampu bersikap dewasa menghadapi segala persoalan. OSN yang lalu? Alhamdulillah, aku berhasil membawa pulang medali emas. Namun, tidak sebegitu membanggakan buatku. Karena sepanjang perjalanan menuju kesana, aku masih terlalu cengeng. Menangis itu perlu. Luapan air mata sangat bisa meringankan beban yang telah menumpuk. Tapi, tidak terlalu sering. Seharusnya, olimpiade menjadi ajang dimana kita bisa menjadi diri sendiri, belajar apa yang benar-benar menarik untuk diri kita. Bukan malah terbebani dengan target pribadi atau mati-matian mengejar gengsi di mata orang lain.

IJSO adalah kompetisi terakhir dalam karier olimpaide SMP-ku. Sebagai sebuah penutup, aku ingin mempersembahkan yang terbaik. Alhamdulillah, pencapain besar buatku. Setelah tes teori dan eksperimen berakhir, aku bisa berjalan keluar ruangan dengan tegap. Hatiku mantap. Aku menyadari, aku telah melakukan yang terbaik yang aku bisa. Aku mendengar sendiri pembahasan beberapa soal Multiple Choice Question, dan aku tahu aku telah membuat kesalahan yang luar biasa sepele, namun fatal. Justru di bidangku sendiri, aku merasa gagal total.

Continue Reading

Kumpulan Kisah dari Negri yang Jauh ( IJSO: Part 11)

Assalamu’alaikum.

Disela-sela kesibukan tes, kami mendapat kesempatan untuk menyegarkan pikiran lewat serangkaian kegiatan wisata. Kami selalu menggunakan bus besar, bertingkat dua, yang memuat cukup banyak peserta setiap busnya. Kami dibawa mengelilingi berbagai sudut Mendoza dan berhenti di beberapa tempat.

Tim Indonesia, dengan Inez dan Nacho sebagai pemandu kami, selalu menempati satu bus bersama. Sekali saja para cewek dan cowok terpisah di dua bus, Inez mengusahakan kami harus berpergian bersama-sama. Sampai akhirnya, tiga cewek Indonesia beserta Inez menjadi satu-satunya wanita di dalam bus (dengan usaha mengusir beberapa orang terlebih dahulu). Selama perjalanan, aku senang sekali mengamati berbagai kenampakan alam di balik jendela bus. Mendoza adalah nama provinsi, dengan Kota Mendoza sebagai ibukotanya. Nah, perjalanan wisata kami tidak terbatas di suatu kota, benar-benar mengitari Provinsi Mendoza.

Mendoza terletak tepat bersebelahan dengan negara tetangga, Chili. Dibatasi dengan pegunungan besar yang terangkai sepanjang Amerika Selatan; Pegunungan Andes. Gunung Aconcagua, sebagai gunung tertinggi di benua Amerika Selatan terletak di provinsi ini. Dataran tinggi yang kering dan gersang; itulah Mendoza. Di perjalanan pun, aku banyak mendengarkan kisah tentang sejarah Argentina dan Mendoza dari Inez. Aku beruntung, karena Inez sendiri adalah seorang mahasiswi jurusan Bahasa Inggris, sehingga ia bisa berbicara dengan sangat lancar.

Continue Reading

Work Hard and Be Yourself ( IJSO: Part 10 )

Assalamu’alaikum.

Kami akan melaksanakan tes dalam tiga hari berbeda. Setelah setiap tes, akan ada satu hari untuk wisata dan jalan-jalan. Seru, sih, kami bisa refreshing dan menikmati keindahan Argentina. Namun di sisi lain, kami harus waspada untuk tidak kelelahan jika esoknya masih ada tes lain.

Tes Pilihan Ganda atau Multiple Choice Question (kami biasa menyebutnya MCQ) diadakan di gedung yang sama seperti upacara pembukaan. Karena waktu itu para cewek masih tinggal di hotel yang berbeda, kami harus datang menggunakan bus. Sampai di depan gedung, para cowok sudah menunggu. Eh, tapi kok ada yang kurang, ya …

Selidik punya selidik, ternyata baru saja terjadi sebuah insiden! Jo dan Gian sedang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Nah, lho … apa yang terjadi? Rupanya, Jo dan Gian sedang sangat tidak beruntung. Tadi, mereka berdiri di bawah pohon. Tiba-tiba, beberapa burung datang, terbang di atas pohon tersebut. Ada burung yang membuang kotoran, tepat mengenai Gian dan Jo! Entah bagaimana bisa tepat sasaran seperti itu. Jo cukup beruntung, ia sedang mengenakan jaket. Tapi Gian …

Well, kejadian ini banyak mengundang tawa. Gara-gara Inez, sejak saat itu Gian dijuluki ‘Bird Poop’. Aduh, kasihan sekali… untung Gian nggak merasa tersinggung dipanggil seperti itu. Kami menghibur Gian dan Jo. Bisa jadi kejatuhan ‘sesuatu’ dari atas langit adalah pertanda rejeki untuk mereka! Semoga saja :D.

Continue Reading

Diversity, It Exists ( IJSO: Part 9 )

Assalamu’alaikum.

Peserta dan Team Leaders memang menempati hotel yang berbeda. Hotel para dosen dan official adalah Hyatt Hotel yang berada di kota. Lebih ke pinggir kota, adalah hotel kami; Savoia Hotel. Team leaders dan official turun terlebih dahulu di hotel mereka. Kami melanjutkan perjalanan ke hotel kami. Begitu tiba di hotel, suasana sudah ramai. Para peserta berkumpul untuk menerima tas, kaos, dan beberapa perlengkapan lain. Aku duduk di sofa lobby sambil memperhatikan sekitar. Diriku bertanya-tanya dalam hati. Kami anak Indonesia kenapa terlihat paling kecil di antara mereka… batinku sambil mengamati para peserta berkulit putih pucat. Kebanyakan datang dari daratan Eropa. Namun, jangan salah. Orang-orang Amerika Selatan pun banyak yang berkulit putih.

Seketika, aku teringat perkataan Pak Budhy. ‘Jangan sampai kalian merasa terintimidasi melihat peserta dari negara lain yang badannya gede-gede. Pengalaman IJSO terdahulu, ada kakak kelas kalian yang merasa minder seperti itu.’ Ketika di Depok, kami tertawa mendengar ketakutan senior kami itu. Apa coba yang harus dikhawatirkan dari badan kami yang lebih kecil? Ternyata, ketika sampai disini, aku menyadari bahwa ketakutan itu memang nyata. Wajar untuk merasa minder melihat kami yang berbeda. Tentu saja banyak anak Asia lain, rata-rata berukuran tubuh seperti kami. Walaupun nggak semua, sih. Anak Hongkong dan Vietnam tinggi-tinggi. Tapi memang, anak-anak Eropa, Australia dan Amerika Selatan memang heboh-heboh dan gampang mencuri perhatian.

Continue Reading

A Long Way Up ( IJSO: Part 8 )

Assalamu’alaikum.

Sebelum berangkat, bapak-bapak dosen banyak mengingatkan kami untuk rajin-rajin mencari tahu tentang Argentina lewat internet. Paling tidak, kami memiliki gambaran lingkungan yang akan kami tinggali untuk seminggu lebih itu seperti apa. Lebih jauh lagi, soal yang diujikan memang dibuat oleh negara penyelenggara. Sangat mungkin, negara akan menonjolkan ciri khasnya dalam soal yang mereka buat. Mendoza, daerah di Argentina yang akan menyelenggarakan rangkaian acara IJSO 2014 terkenal akan produksi wine-nya. Gunung Aconcagua juga berada di wilayah tersebut. Karena itu, selama simulasi Biologi, kami sering sekali mendapatkan soal tentang fermentasi glukosa dan adaptasi tubuh untuk suhu rendah. Yang masih tidak tertebak adalah Fisikanya. IJSO 2013 di India menjadi jebakan besar bagi tim Indonesia, mengingat soal uraian yang diujikan tidak ada Biologinya! Fisika sangat mendominasi, padahal tim Indonesia tidak hanya fokus ke Fisika selama TC. Kami berharap, semoga di Argentina nanti tidak ada satu bidang yang terlalu menonjol.

Cuaca juga menjadi hal yang sangat diperhatikan. Karena Argentina seharusnya tropis, maka kami tidak perlu membawa baju hangat. “Namun bersiap saja baju panjang paling tidak sebuah,” mereka mengingatkan kami.

Continue Reading

Behind the Scene ( IJSO: Part 7 )

Assalamu’alaikum.

Training Center IJSO tahun ini cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, baru di tahun ini saja melibatkan tiga universitas berbeda. Kami pun menjalani TC di dua kota, Bandung dan Depok. Nah, satu lagi hal yang sangat menonjol selama TC. Kami ditemani oleh kakak-kakak pendamping berjumlah empat orang di masing-masing kota.

Lalu… apa tugas pendamping itu? Kalau anak PASIAD pasti tahu. Mereka semacam belletmen, abla dan abi bagi kami. Mereka mengurusi administrasi kami selama TC, berperan sebagai teman curhat juga, atau alarm yang berisik mengingatkan dan menyuruh kami ini itu demi kebaikan kami sendiri. Di setiap kota, ada seorang kakak yang berbasic bimbingan konseling atau psikologi untuk … well, memantau sisi psikologis kami? Kakak-kakak ini sudah serasa kakak kandung kami sendiri.

KAKAK-KAKAK BANDUNG

Di Bandung, kami telah mengenal tiga kakak saat TC 1: Kak Nadia, Kak Lulu dan Kak Syifa. Di TC 2, kami kedatangan satu kakak lagi, namanya Kak Adit. Kakak-kakak di Bandung benar-benar merasakan, kami yang masih jaim dan malu-malu di awal TC, lama-lama mulai terlihat sifat aslinya. Rusuh, ribut, dan kacau. Kadang-kadang aku membayangkan, jadi mereka harus ekstra sabaaaaar hehe. Apalagi awal dulu, ketika suasana di antara kedua belas anak itu belum begitu kekeluargaan. Mereka memiliki peran besar untuk mulai ‘menyatukan’ kami.

Continue Reading