Dear Plaza Widya, Menemukan Jawaban Ternyata Tidak Mudah

Sebagai seorang mahasiswa tingkat dua, aku menemukan banyak sekali pertama kali sepanjang semester tiga bergulir kemarin. Pertama kali jadi bagian dari himpunan, pertama kali punya adik tingkat, pertama kali masuk jurusan… dan banyak lagi pertama kali lainnya. Aku juga sudah terbiasa untuk menjalani kelas-kelas sebatas di satu gedung saja, gedung Labtek V. Tapi nggak apa-apa, aku senang. Labtek V adalah salah satu dari empat labtek yang menyusun arguably tempat paling iconic di ITB. Empat labtek dengan bangunan identik hingga dijuluki labtek kembar yang mengapit suatu spot foto legendaris di ITB, Plaza Widya Nusantara.

Plaza_Widya_Nusantara

Namun sebenarnya, lebih dari sekedar spot foto, Plaza Widya Nusantara memang seunik dan sebernilai itu. Kalau ditanya di mana letak jantung atau pusat dari Kampus ITB Ganesha, pasti yang terpikir adalah Plaza Widya Nusantara atau biasa disingkat Plawid. Bagiku sendiri, sebuah monumen yang berada di tengah-tengah Plawid juga tidak kalah menarik perhatian. Monumen yang di atasnya terukir nama Plawid itu sendiri, serta tegores pula beberapa untai kalimat harapan seorang rektor ITB yang meresmikan monumen itu, lebih dari dua dekade yang lalu. Harapan itu, seiring waktu, menjelma menjadi potret ideal ITB.

plaza-widya

Dari empat kalimat harapan tersebut, aku menganggap harapan kedua adalah yang paling utopis dan sedikit absurd. Aku tahu, semua harapan pasti menyatakan bentuk paling ideal, tapi ide dasar dari harapan kedua cukup membuatku bergeming.

supaya kampus ini menjadi tempat bertanya, dan harus ada jawabnya

Selama perjalanan kembali ke ITB setelah libur semester, diiringi ayunan bus yang membelah jalanan bebas hambatan, aku merenung, meresapi harapan kedua itu. Aku masih nggak habis pikir bahwa kampusku mengharapkan dirinya memantik berbagai pertanyaan, tapi nggak cukup sampai di situ, harus ada jawabnya pula! Aku yakin, maksud harapan itu adalah, ITB harus menjadi tempat dimana rasa keingintahuan dipupuk dan intelektualitas ditantang, hingga muncul pertanyaan-pertanyaan yang bisa menggerakkan. Bukan macam terima jadi dan “oh, ya udah.” Kami, mahasiswa, harus kritis.

Tapi, aku tetap tergelitik dengan pemilihan kata harus ada jawabannya. Pertanyaan itu… bermacam-macam, bukan? Lintas jurusan, peminatan, bahkan lintas keilmuan apapun yang secara akademik dipelajari di ITB. Bagaimana mungkin aku bisa menemukan jawaban dari segala pertanyaan di kampus ini?

Pemikiran itu bersumber dari perasaan bahwa setahun pertama di ITB, aku masih berada di dalam sebuah ruangan berdinding tinggi. Riuh rendah sorak ramai kehidupan ITB yang sebenarnya belum kujangkau. Namun, menginjak tingkat dua… wow. Dunia baru seakan-akan terbentang untukku begitu aku sudah bukan anak TPB lagi. Dan dunia baru itu, memang mengundang banyak tanya.

 

Pertanyaan pertama

Di semester ini, aku memberanikan diri untuk keluar dari zona nyamanku beberapa kali, mengemban amanah dan mencicipi momen-momen yang nggak pernah terpikir akan aku lakukan sebelumnya. Ada pengalaman yang akhirnya membuat aku makin semangat bahkan berani memproklamirkan “Hei, aku beneran enjoy di sini! Aku menemukan passion-ku!” Namun, ada juga pengalaman yang membuat aku bertemu dengan sisi-sisi tergelap yang selama ini aku kira, aku aman dari sana.

Pertanyaan pertamaku adalah, “Bagaimana sih, cara menghadapi sisi tergelap diri?”

Aku sering membaca tentang kesehatan mental, tentang kisah-kisah para survivor berbagai mental illness, karena aku merasa aku selalu mendapat banyak pelajaran dari sana. Awalnya, aku kira aku melakulan itu hanya supaya aku bisa membantu orang-orang di sekitarku. Tidak disangka, aku akhirnya pernah pula merasakan sesuatu yang mirip dengan deskripsi-deskripsi itu. Bukan, aku bukan melakukan self-diagnosis, tapi sepertinya aku kini memahami dengan sepenuh hati definisi dari “rasa sedih yang teramat sangat”.

Perasaan sedih itu… nggak seperti rasa sedih yang biasanya kalau aku dapat nilai jelek atau mengalami cidera fisik. Perasaan sedih itu diikuti perasaan seperti ada bayangan besar, hitam, yang membuat aku merasa nggak nyaman melakukan apapun dan seperti diawasi terus-menerus. Bayangan itu seperti ingin menerkam aku kalau aku berbuat salah, meskipun aku juga nggak tahu ‘salah’ seperti apa yang akan membuat bayangan ini marah. Aku jadi khawatir dan was-was berlebihan. Aku malas untuk ngapa-ngapain. Makan, mandi, belajar, berinteraksi dengan orang, berada di keramaian, semuanya bikin jantung aku berdebar keras dan perut aku sakit seperti ingin berhajat ke kamar kecil, padahal ya enggak, wong makan aja sehari sekali, kalau ingat. Jadwal kuliahku yang hampir selalu jam satu siang juga sangat tidak membantu. Sepanjang pagi hari aku hanya akan tidur-tiduran, berteman selimut dan hape.

Fase itu terjadi sekitar satu minggu. And it was… one hell of a week. Tapi perasaan itu akhirnya hilang, nggak membekas, aku kembali lagi jadi Salsa yang biasa. Ternyata? Aku baru menjalani pre-menstruation syndrome paling parah yang pernah aku alami sepanjang sejarah. The chemicals inside my brain decided that they were going to act VERY funny during those seven days sampai-sampai sakitnya beneran ke fisik. Aku merasakan migrain hebat, kepalaku super sakit kalau digerakkan sedikit saja, badan pegal-pegal semua dan gejala masuk angin berlangsung sampai berhari-hari. Sampai-sampai aku minta tolong diantar temanku ke klinik untuk periksa. Guess what? The doctor said there was nothing wrong with me.

Sekarang, setelah semuanya usai, aku jadi seram sendiri. During that whole week, I actually enjoyed being sick. Aku jadi semacam punya legitimasi untuk nggak masuk kuliah, nggak bertemu orang-orang, mangkir dari amanah. Produktivitasku nol besar padahal minggu itu adalah salah satu minggu paling hectic di jurusanku. Aku benar-benar seperti orang kehabisan nafas, megap-megap, jika harus membuka line dan melihat grup-grup tugas besarku sedang aktif berkoordinasi, while I wasn’t in the right headspace to code anything at all. Padahal, menghindar dari teman-temanku nggak membantu sama sekali, otakku malah dipenuhi sejuta pikiran negatif kalau sekarang teman-teman setimku pasti membenci aku. Banget.

Uniknya lagi, karena satu dan lain hal, aku tergabung ke dalam timses salah satu calon Presiden KM ITB. Sebelum seminggu bagai neraka itu, aku semangat sekali menghadiri setiap pertemuan dan satu dua kali urun memberikan ide dan opini. Aku sebenarnya bukan tipikal orang yang memberikan ‘dukungan’-ku begitu saja. Tapi, kajian dan pembahasan mengenai KM ITB khususnya dan kemahasiswaan pada umumnya benar-benar membuat rasa ingin tahuku memuncak. Aku berkesempatan mengenal kakak-kakak tingkat yang sudah mengenal ITB lebih dalam daripada aku. Aku senang sekali, aku banyak belajar dari mereka. Namun, di minggu yang sama aku tersandung ke dalam lubang hitam di kepalaku sendiri, adalah minggu hearing calon Presiden KM ITB dimulai. Hearing adalah rangkaian dari kampanye Pemilu Raya KM ITB, kesempatan massa KM ITB mengenal semua calon lebih jauh, mendengar paparan visi, misi dan program kerja, serta dapat mengajukan pertanyaan ke calon-calon itu juga.

Anehnya, aku memproyeksikan semua kekhawatiran dan rasa was-wasku ke calon yang aku dukung, Kak Sultan. Aku takut banget, ketika hearing nanti tanggapan massa KM ITB nggak akan bagus. Aku takut akan ada massa yang mengajukan pertanyaan yang memojokkan, Kak Sultan nggak akan bisa menjawab, kemudian merasa dipermalukan. Aku takut… aku takut… sampai-sampai, aku nggak berani hadir hearing. Temanku sesama timses menghubungi aku bolak-balik, bertanya aku dimana, dan aku sekenanya menjawab, aku sedang menyelesaikan tugas besar, nanti aku akan menyusul. Padahal, aku ada di depan bangunan tempat hearing dilaksanakan. Tapi … aku masih sibuk mengumpulkan keberanian untuk melangkah ke dalam. Aku mendengarkan sayup-sayup suara orang berbicara, orang bertepuk tangan. Aku menghabiskan satu setengah jam menenangkan diri sendiri sebelum akhirnya berani masuk dan bergabung dengan teman-teman timses yang lain. And I smiled at them. Hiding the pain inside my chest and the twisting of my stomach.

Mungkin akan muncul pertanyaan, mengapa aku nggak mencari bantuan? Oh, I did ask for help. Aku nggak pernah lepas berhubungan dengan orang tuaku. Mereka tahu pasti apa yang sedang aku alami. And Oh Allah, how lucky I am to have a very understanding parents like them. Tapi, mereka jauh. Mereka hanya bisa memberi saran. Mulutku selalu terkatup, susah untuk berbicara ke orang-orang yang fisiknya di Bandung, padahal mereka lah yang paling bisa membantu aku. Aku punya teman. Sungguh, aku punya teman-teman terbaik. Tapi khusus di minggu itu aku merasa… tidak yakin aku bahkan benar-benar sakit secara mental. Aku hanya meminta bantuan mereka untuk sakit fisik. Semua ketakutanku aku pendam dan aku bungkus dengan kata-kata “This is all just in my head, this too shall pass.

Kesimpulannya, that was a mistake. A very big mistake. Memendam sesuatu seperti itu telah sangat menurunkan produktivitasku dan aku menyakiti serta mengecewakan banyak orang. I should have asked for help. Minta tolong kepada orang-orang yang bisa merengkuh fisikku. Namun, tetap saja. Aku bersyukur Allah membuatku mencicipi rasanya berkubang dalam kesedihan tidak berujung selama kurang lebih seminggu. Kini aku bisa lebih mengerti, lebih relate jika mendengar cerita-cerita serupa dari orang sekelilingku. Aku jadi sangat, sangat simpati dengan orang-orang yang telah clinically diagnosed dengan berbagai macam penyakit mental, depresi khususnya. I’ve been through something kinda like that for a whole week and it’s already bad enough. Like, really really bad. Apalagi mereka yang sudah berbulan-bulan… bertahun-tahun? I sincerely wish nobody ever needs to feel those kinds of emotions.

Aku juga bersyukur, aku bisa berhasil mengungkap bahwa there exists the darkest place in my mind. A place that I should avoid at all costs. Aku sadar aku butuh pencegahan. Dan aku juga sadar kegiatan beribadahku turut spiralling downward seiring kesehatan mentalku bermasalah. Aku berjanji pada diriku untuk berpegang teguh kepada amalan-amalan harian yang nggak boleh aku lepaskan apapun yang terjadi, for the sake of my own sanity. Aku juga menulis mental notes tentang apa saja yang sekiranya triggering buatku, karena aku tahu meskipun the depressed episode only lasted for a week, the triggering events might have started far ealier than that. Aku juga penasaran, apakah benar karena akan menstruasi bisa menyebabkan depresi? Well, I did find many articles about that, like this one and a scientific article too. Rasanya aneh ketika aku membaca artikel tersebut dan merasa, gila ya ini benar-benar aku selama seminggu itu. Aku jadi lebih perhatian dengan siklus menstruasiku dan berjanji pada diriku sendiri jika ini benar-benar terulang lagi dengan gejala yang mirip, I will seek medical help.

Jadi, apakah aku sudah menemukan cara untuk mengatasi sisi tergelap diri? Mungkin.

Kini, aku mengerti bahwa our feelings are valid. Mental, seperti layaknya fisik juga, bisa sakit and that’s completely okay. Daripada berkubang di pemikiran “aku lemah banget, nggak seharusnya aku seperti ini”, lebih baik berpikit “mental aku lagi butuh perhatian lebih, what treatments are there?”. Aku juga belajar bahwa while our feelings are always valid, some of our fears are but some are not. Contohnya, Kak Sultan baik-baik saja saat hearing. Nggak ada tuh, aksi melempari dengan tomat atau insults yang secara terang-terangan massa tunjukkan. Kebanyakan orang cukup dewasa ketika memberi tanggapan dari jawaban seluruh kandidat Presiden KM ITB, malah menyisipkan kritik yang membangun. Namun, aku memang membuat kesal teman-temanku dan akhirnya nilaiku pun terpengaruh. Itu adalah sebuah konsekuensi, ketakutan yang menjadi nyata, yang aku berusaha terima. Mungkin aku telah membuat orang lain kapok satu kelompok denganku, but that’s fine. Aku tahu aku tidak dalam performa terbaikku saat itu. Selain meminta maaf kepada orang-orang yang aku kecewakan, aku berjanji akan menjadi lebih baik untuk tugas-tugas kelompok di masa mendatang.

Fiuh, ternyata mencari jawaban itu nggak mudah …

 

Pertanyaan kedua

“Kapan sih, kita layak untuk memberikan kontribusi?”

Pertanyaan itu merangkum keherananku yang berlarut-larut tentang peran, posisi dan potensi mahasiswa yang sedikit terpaksa merasuki pemikiranku gara-gara, well, aku turut mempersiapkan konten Kak Sultan di Pemira kali ini. Hal uniknya adalah … Kak Sultan itu orang baik. Banget. Salah satu orang dengan empati paling tinggi yang pernah aku temui. Aku pernah janjian untuk bertemu dengan Kak Zuls–panggilan akrabnya, di selasar Teh Salman. Aku yang melangkah dari arah tempat masuk wanita nggak sengaja melihat Kak Zuls bercengkerama dengan anak-anak kecil penjual tisu yang memang sudah langganan mengitari Masjid Salman. Ini mungkin terdengar klise kayak suatu scene sinetron yang ingin membuat pemerannya kelihatan punya hati baik, tapi… ini nyata. Aku benar-benar merasa Kak Zuls ada di dunianya. He was in his element, his nature. Berbagi, mendengarkan, dan mengabdi. Sayangnya, aku… aku nggak kayak gitu.

Bergaul sama orang kayak Kak Sultan, aku merasa seperti orang jahat dan egois. Lebay sih, tapi beneran deh, karena aku seperti berkaca ke orang yang hidupnya selalu memikirkan orang lain. Kak Sultan dan orang-orang sepertinya, dengan haqqul yaqin dan gagahnya bernarasi bahwa mahasiswa harus berdampak, dan dampaknya harus sebesar mungkin. Mungkin Kak Sultan lama-lama menganggap aku orang aneh sih, karena aku pernah bertanya, “Kenapa sih harus berdampak, kak?”

“Karena berdampak itu berarti berbuat baik, dan itu adalah hakikat hidup ini.”

Hmmmmmmm??? Aku masih belum puas dengan jawaban itu. “Tapi kak, aku tuh kadang suka ngerasa nih ya, aku masih punya banyak urusan sendiri yang belum selesai gitu. Ibaratnya urusan dapur sendiri belum beres, jadi ngapain ngurusin dapur orang lain?”

Ya gitu deh. Jahat, ya, aku.

Aku juga pernah mengkritisi kegiatan KM ITB yang terkesan di luar ranah akademiknya. Contoh, kegiatan sosial politik. Yak, yang tahun lalu sempat ngehits, ada aksi demo mahasiswa yang sangat masif, dan yang terlihat sebagai juru bicara ratusan ribu mahasiswa Indonesia itu salah satunya adalah Presiden KM ITB. Aku bertanya-tanya, ketika Presiden KM ITB yang notabenenya nggak mengenyam pendidikan tentang hukum, dia sebenarnya punya legitimasi nggak sih untuk berbicara tentang RKUHP? Gimana kalau yang dianggap benar dan diperjuangkan itu ternyata… salah?

Lagi-lagi aku merasa aku orang jahat, karena dari aku kecil, kedua orang tuaku selalu menekankan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Atas dasar itu pula, aku mulai menulis di blog dan di media sosial lain. Aku menulis sesuatu yang aku rasa orang lain bisa ambil hikmah dari sana. Maka dari itu, pantangan untuk aku menulis cerita galau yang nggak ada solusi pamungkasnya, karena seakan-akan aku cuma mengajak pembaca bergalau-galau ria aja tanpa ada ujungnya. Bayangkan aku dididik seperti itu, tapi masih sering muncul pemikiran bahwa “Aku lelah berbuat untuk orang lain ketika diriku sendiri sedang nggak baik-baik saja.” Rasanya, aku seperti anak durhaka 😦

Pada suatu kesempatan, aku mendengarkan pemaparan Kak Nadya Myrilla, alumni ITB yang punya concern di bidang mental health. Satu ucapan Kak Nadya terngiang-ngiang di kepalaku, “Kakak ketika sedih, coba membahagiakan orang lain, ke panti asuhan gitu misalnya. Itu bisa membahagiakan kakak banget.”

Aku tertegun. Berpikir keras. Kalau sedih… malah ingin membahagiakan orang lain? Teori macam apa itu? Perasaan ‘sedih’ bagiku adalah alarm untuk mundur sejenak sampai siap lagi menginvestasikan emosi untuk membahagiakan orang lain.

Saat itu, aku sadar bahwa masalahku bukan aku tidak mau bermanfaat atau berdampak untuk orang lain, tapi aku sering merasa tidak memiliki kapasitas dan tidak layak untuk memberikan sesuatu ke orang lain. Jika sedang krisis kepercayaan diri, aku paling nggak suka melihat halaman instagramku. Kenapa? Well, aku pernah mengunggah dua video yang isinya kurang lebih penyemangat, satu tentang olimpiade dan satu lagi tentang pengumuman SBMPTN. Ada suara-suara di kepalaku yang mengatakan, aku sendiri se-pathetic ini, bisa-bisanya pernah kepikiran untuk menyemangati orang lain? Di titik itu, aku lupa aku pernah dapat banyak pesan terima kasih dari orang-orang yang merasa terbantu dengan isi videoku. Yang ada di pikiranku cuma; aku harusnya sempurna dulu, baru aku bisa bantu orang lain.

Tapi, pemikiran itu perlahan sirna melihat Kak Sultan dan kakak-kakak yang lain dengan semangat membara mereka. Kak Sultan nggak sempurna. Itu jelas. Tapi kalau menunggu ada orang yang merasa sempurna, orang seperti Kak Sultan pasti nggak akan maju menjadi calon Presiden KM ITB. Hanya orang semacam Fir’aun yang teramat angkuh yang akan maju jadi calon. Kan ngeri.

Aku sadar bahwa kita bisa penuh kekurangan, kita bisa penuh dengan retakan di dalam diri dan merasa tidak cukup baik, tapi dari sedikit apa yang kita punya, bisa jadi itu mampu menambal keretakan dalam diri orang lain dan membuat mereka merasa sedikit lebih baik. Suatu pijar lilin, meskipun redup dan kecil, kalau digunakan memantik lilin-lilin yang lain, lama-lama bisa menerangi dunia. Bukankah konsep sedekah mengajarkan bahwa yang menjadi harta kita sesungguhnya justru yang diberikan? Bayangkan berapa banyak proyek crowdfunding yang tidak akan berjalan kalau para kontributornya merasa mereka belum cukup kaya untuk menyumbang? Bisa-bisa Jeff Bezos pun enggan melakukan charity kalau punya mindset seperti itu.

Dan yang terpenting, mau belajar. Ya, aku bisa bilang aku bangga mendukung Kak Sultan karena aku benar-benar melihat itu di dirinya. Kak Sultan sadar dirinya banyak kekurangan, jadi ia selalu mau mendengarkan insight dari orang lain dan meresapinya dalam-dalam. Damn, aku aja kadang-kadang suka masih sedikiiiit tersinggung kalau ada orang yang membetulkan grammar dari tulisan Bahasa Inggrisku, misal. Bayangkan Kak Sultan yang malah meminta untuk diper”plonco” semua orang dalam segala aspeknya dirinya, dari sisi konten yang dia bawa, cara bicara sampai cara jalan (!!), baik dari orang yang memberikan masukan dengan cara yang halus sampai ngeselin (bagi aku, tapi menakjubkannya Kak Sultan menerima semuanya dengan lapang dada). Tapi, di saat yang bersamaan Kak Sultan tahu saran apa yang harus didengarkan mana yang tidak. Ketika dia merasa “ini bukan gue banget”, Kak Sultan tetap bakal stay true to himself. I admire him for that.

Memang, akhirnya, kemauan belajar adalah segalanya. Mungkin anak ITB memang nggak pernah belajar hukum dan politik di bangku kuliah, tapi mereka tergerak untuk nggak diam saja melihat negara Indonesia bergejolak sampai mendalami sendiri buku-buku dan bekerja sama menggelar kajian. Mungkin gerakan kemahasiswaan itu terkesan reckless dan “Alah tahu apa sih anak kecil”, tapi kapan lagi seseorang punya kesempatan untuk membawa nama dirinya sendiri dan mahasiswa tanpa embel-embel keluarga atau tanggung jawab lebih besar lain, untuk mengamplifikasi dan memagnifikasi suatu narasi tulus tanpa tedeng aling-aling? Lagipula, masa sih, aksi mahasiswa itu reckless ketika mereka pun sebelumnya mengkaji banyak hal terlebih dahulu? Mahasiswa can be dead wrong about some issues because of lack of knowledge but at least they make noises, loud enough to make people in charge realize that they are being watched.

Jadi, kapan sih aku, kamu, kita, layak berkontribusi?

Jawabannya, sekarang. Karena selama itu pula kita layak untuk berbuat salah dan belajar dari kesalahan itu.

Apakah aku masih akan menganggap video dan tulisan-tulisan motivasiku cringe dan “sok banget sih”? Mungkin, di momen-momen khusus aku kehilangan kepercayaan diri. Tapi sedikit demi sedikit aku berusaha mengubah pemikiran kalau  “aku hipokrit karena belum bisa mengurusi diri sendiri saja sudah coba menyemangati orang lain” menjadi, well, aku juga butuh diingatkan, bahkan oleh diriku sendiri di masa lampau!

 

Jadi, gini, Wid… (ceritanya ngomong sama Plawid)

Sebenarnya di kepalaku masih bergantungan banyak pertanyaan, baik yang sudah terjawab maupun belum. Tapi aku memutuskan untuk menyimpan pertanyaan itu di sanubari, sembari menyantap apa saja yang hidup hidangkan.

Ohya, bukankah jawaban dari sebuah pertanyaan bisa “tidak tahu”? Atau “sekarang jawabannya ini, mungkin besok bisa berubah”?

Karena bukankah sejatinya perjalanan mencari jawaban itu masih sangat bisa dilanjutkan selepas lulus dari ITB, mengarungi bahtera hidup yang masih berlanjut?

Baiklah, aku sudah tidak menganggap harapan nomor dua itu seaneh itu lagi.

Hidup memang tempat bertanya, dan harus dicari jawabnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s