OSN: Antara Urgensi, Ambisi, dan Arogansi

Assalamu’alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuh.

Kilas balik tahun 2018. Pertengahan tahun 2018 adalah bulan-bulan paling tidak produktif yang pernah aku lalui. Aku merasa, aku yang ketika itu telah terpisah jarak oleh teman-teman SMA-ku gagal menjadi support system bagi sebagian dari mereka yang masih berjuang menghadapi tes demi tes masuk universitas. I simply didn’t bother to call or check up on them. Setelah setahun berlalu dan aku mendengar sendiri kisah perjuangan teman-temanku saat itu, I feel like I failed to be their friends. Aku juga sama sekali nggak peduli dengan jalannya OSN. Setelah 3 tahun berturut-turut menjadi peserta (2014, 2015, 2016) dan 2017 mengamati jalannya kompetisi dari dekat karena sedang persiapan IBO ke Inggris, 2018 sangat… Berbeda. Aku sudah pulang ke kampung halaman, aku bahkan nggak yakin bahwa aku masih sesuka itu dengan Biologi setelah setahun tidak berkompetisi, dan aku… Sengaja menghindar, mungkin? Entahlah.


Cinta Lama yang Bersemi Kembali

Tapi nyatanya, tidak lama setelah aku menjadi mahasiswa ITB angkatan 2018, tawaran demi tawaran menjadi tutor olimpiade kerap berdatangan. Saat itu aku merasa, aku tidak memiliki kesibukan lain yang membuatku harus menolak tawaran-tawaran itu. Hingga akhirnya, aku kembali lagi menjadi bagian dari kehidupan yang aku kira, telah berakhir 2017 lalu.

Tapi… Aku menyimpan sebuah rahasia kecil. Sebenarnya, aku merasa… ‘malu’ dengan keterlibatanku terhadap OSN. Hehehe… Aneh ya kedengarannya. Tapi setelah aku merenungkan kata apa yang tepat menggambarkan perasaanku, kata ‘malu’ memang yang paling pas. Aku malu, karena aku merasa, bukankah kuliah itu lembaran baru dalam kehidupan seseorang? Aku sendiri sudah memilih jurusan yang hampir tidak ada hubungannya dengan bidang olimpiadeku saat SMA dulu. Kesannya… Aku nggak bisa move on. Harusnya aku berkembang dong? Kenapa aku stuck di olimpiade terus? Tidak cukup kah delapan tahun berkecimpung di sana?

‘Banting setir’ bagi anak olimpiade adalah hal yang lumrah, sebenarnya. Banyak sekali orang yang aku saksikan sendiri, memilih jurusan tertentu dan nggak pernah lagi menoleh ke belakang. Mereka sudah menutup rapat-rapat buku cerita masa SMA mereka dan menatap masa depan sebagai gantinya. Sebagian hati kecilku sempat merasa ragu dengan jalan yang aku lalui sekarang dan bertanya-tanya… Apakah aku lebih baik menjadi seperti mereka?

Jawabannya… Tidak, aku tidak bisa. Sebesar apapun kekagumanku terhadap teknologi yang benar-benar bisa mengubah cara hidup manusia, suatu keajaiban yang menggantikan brute force dengan segala program dan aplikasi unggulan dan aku benar-benar ingin menjadi bagian dari bidang yang berkembang sangat pesat ini, keilmuan alam masih mendapat tempat spesial di hatiku. Ilmu-ilmu yang membuat manusia yang mempelajarinya menjadi sumringah ketika di alam menemui fenomena yang persis dengan yang tertera di textbook. Seperti teman olimpiade Kebumianku yang menebak-nebak jenis awan dari jendela kereta saat aku berpergian bersamanya. Seperti aku yang ketika menemui bunga-bunga di pinggir jalan, langsung celingak-celinguk memastikan bunga itu bunga liar dan mulai melakukan inspeksi mendadak. Mengamati sepal, petal, stamen, karpel, bunga tersebut. Menebak jenis polinatornya dari bau, warna, orientasi bunga, kemudian mulai membuat skenario evolusi di kepalaku tentang apa saja keuntungan yang dimiliki tanaman tersebut dengan memiliki bentuk seperti sekarang. Semua itu terasa natural untukku. Aku menyimpulkan, cinta karena biasa memang nggak pernah bisa bohong.

Akhirnya, tawaran untuk mengajar Biologi dan tekadku menyibukkan diri selama libur musim panas (hehe, anggap saja begitu) 2019 supaya tidak berlalu tanpa manfaat seperti 2018, mengantarkanku kembali menyelami gemerlap OSN.

And what a ride it is!

Menjadi peserta dan pengajar itu ternyata berbeda. Pengajar, lebih terekspos dengan hal-hal di “belakang layar”. Saat menjadi peserta, jika ingin memilih untuk hanya mengkhawatirkan diri sendiri, tentu sangat bisa. Cukup dengan menyetel diri ke dalam mode paling ambis, and that’s it. Sedangkan pengajar harus mengevaluasi setiap dari siswa yang diajar, berusaha memenuhi ‘target’ yang secara tersirat maupun tersurat telah ditetapkan, mengurusi masalah pendanaan, copyright, jadwal, dan lain-lain.

Dan saat mereka bertanding, pengajar benar-benar tidak bisa membantu apapun lagi kecuali dengan doa.

Jujur, hasil OSN 2019 membuatku meragukan diriku sendiri sebagai pengajar. Aku merasa secara materi, aku sudah memberikan yang terbaik yang aku bisa. Tapi apakah materi saja cukup? Bagaimana dengan peranku sebagai seorang ‘pendamping’? Apakah harapanku terhadap mereka yang aku ajar berubah menjadi beban? Apakah aku belum menjadi seseorang yang bisa diajak bercerita, sehingga banyak unek-unek yang masih mereka pendam? Apakah aku terlalu fokus menyuruh mereka belajar hingga lupa untuk mengingatkan mereka beribadah?

Lebih dari raihan medali anak-anakku, sesungguhnya kekhawatiran itulah yang terlintas di benakku.

Berawal dari Sebuah Pertanyaan

Kemudian, pesan yang masuk dari seorang temanku di instagram benar-benar membuatku berpikir.

Temanku ini mempertanyakan tentang urgensi OSN. Dia merasa, OSN belum memberi dampak secara nyata terhadap kemajuan Indonesia dan malah menjadi ajang pemuas hawa nafsu intelektual. Bayangkan aku yang sedang galau-galaunya setelah hasil OSN, ditambah di dalam sanubariku masih terkubur perasaan bahwa sesungguhnya aku sudah tidak pantas berkecimpung di dunia ini, membaca pesan tersebut. Tentu saja aku menggernyit dan; “HAAAAH ngomong apa, sih??”

Tapi seseorang yang mengatakan ini termasuk teman baikku, dan aku tahu dia tidak bermaksud jahat. Jadi, aku mulai berdiskusi dengannya untuk menanyakan maksudnya. Apa, sih, hawa nafsu intelektual yang dia maksudkan?

Dia berucap; memang apa sebenarnya signifikansi medali yang diraih seseorang? Semua berlomba-lomba menjadi yang terbaik, tapi kalau sudah, selanjutnya apa? Sekolah yang dapat banyak medali, provinsi yang dapat banyak medali, selanjutnya jadi makin berbangga diri, kan? Lalu bagaimana dengan anak-anak di penjuru-penjuru nusantara yang bahkan belum bisa membaca? Bukankah OSN semakin memperparah anggapan bahwa anak pintar adalah mereka dengan nilai bagus dan yang tidak berarti bodoh? Sedangkan tujuan pendidikan untuk “memanusiakan manusia” menjadi terabaikan?

I was… speechless.

Well, aku merasa temanku ini salah mengerti untuk beberapa hal, tapi dia mengatakan beberapa hal yang sepatutnya dapat menjadi bahan pemikiran praktisi di bidang olimpiade ini juga.

Akhirnya, aku pun membagi pertanyaan temanku ini ke netizen di instagram. Tidak berselang lama, beberapa temanku merespons. Aku ingin merangkum jawaban-jawaban dari mereka yang telah mewakili isi hatiku juga, so here it goes.

Apa sih, urgensi OSN?

“Menurutku tujuan osn itu bukan buat mencetak elite intelektual, medalis ini itu dan gengsi taraf internasional cuma bonus.

Tujuan utama osn (bagiku) adalah menciptakan atmosfer keambisan (wkkwkw) nasional, dimana puluhan ribu anak2 diseluruh indonesia (bahkan sejak sd) diajak untuk belajar dan berpikir lebih jauh.

Toh engga masalah katakan ada anak engga lolos sampai osn, tapi cara belajar ambis, kritis, dll. itu engga bakal ilang. Dan gaya belajar tersebut pasti terbawa sampai pendidikan berikutnya.

Bagiku even osn berhasil memercikkan semangat belajar dari sabang sampai merauke. Terlepas dari sebaran medali yang tidak merata, karena sekali lagi, medali itu cuma bonus, bukan tujuan akhir.” (Agil Wijaya Faradis)

“Tujuan Olimpiade memang bukan pemerataan pendidikan. Pemerataan pendidikan itu tugas sekolah dan negara. Olimpiade itu untuk mendorong kemampuan siswa hingga batas tertingginya, bukan pelit ya. Tapi gimana anak sekolah bisa jago sejago-jagonya.” (Nurul Muizah)

“Kan pendidikan two parts kan, mempertajam puncak sambil meningkatkan yang bawah. Kalau cuma meningkatkan yang bawah tanpa mempertajam puncak (sosialisme style), yang puncak akan merasa bosan dan malah tidak berkembang, sehingga menjatuhkan overall ability and spirit juga.

Pengalaman pribadi: sebelum tau namanya osn (aku sd n smp sekolah di kota kecil yang gatau apa”), aku beneran malas sekali belajar. Kayak pacenya sangat lambat sampe aku beneran di rumah gapernah belajar (kecuali h-1 ulangan) sama kerjain pr (pr nya biasa selesai di sekolah pas habis didikteinn), kerjaannya cuma main tiap hari.

So for me, olim itu beneran menambah semangat belajar. Pas sma aku bisa kayak belajar tiap hari pagi sampe malem (dulu aku != belajar). And I believe banyak orang terubahkan berkat olim. Ada orang dulunya tukang tidur di kelas karena tau olim jadi medal apho ipho, ada orang suka bolos sekolah ke warnet terus jadi medalis emas osn. Itu semua karena ada “target” yang menantang dan mereka jadi bekerja keras mencapainya.

Tanpa olim, most people yang di “puncak” akan malah bosan dan malas, dan tidak jarang malah ikut mempengaruhi yang lain untuk malas (pengaruh buruk lebih mudah menjamur), sehingga malah melemahkan semangat overall.” (Samuel Kurniawan)

Ambisi dan Arogansi 

Ada beberapa hal yang disampaikan temanku menyentil hatiku dan membuatku bermuhasabah diri. Apakah aku sebagai peraih medali OSN, berasal dari suatu sekolah spesifik dan suatu provinsi spesifik, telah membuatku merasa lebih baik daripada orang lain? Sayangnya, tak peduli seberapa besar atau kecil perasaan itu, aku mengakui; ya, aku pernah merasa arogan.

Ketahuilah, sebenarnya aku sudah sangat berusaha menyingkirkan rasa arogan ini. Dan benar saja, seiring waktu berlalu, seiring aku mengenal orang-orang hebat dari the most unlikely places mengalahkan jagoan-jagoan, seiring aku mengajar mereka yang bukan dari sekolah dan provinsi asalku, aku merasa bahwa arogansi itu benar-benar sesuatu yang bodoh. Meskipun tetap saja, aku tidak bisa mengingkari bahwa aku pernah terjebak di dalamnya.

Uniknya adalah hal-hal yang membuatku sempat merasa arogan ini lah yang menjadi sumber semangatku juga. Jika ditarik garis ke belakang, raihan prestasiku sangat terpengaruhi oleh sekolah dan provinsi yang aku wakili. Aku adalah seseorang yang menyukai sejarah. Saat masih aktif sebagai peserta, aku menghafal track record sekolah dan provinsiku setidaknya sampai 2 tahun ke belakang. Saat aku kelas tujuh di SMP Semesta tahun 2012, kakak-kakak SMA baru saja bertanding di OSN 2012. Spanduk yang berisi para medalis terpampang, membuatku merasakan gejolak di hati, bahwa aku ingin berada di posisi itu suatu saat nanti. Bukan karena aku ingin dilihat sebagai Salsa, tapi untuk menjaga warisan mereka. Diriku merasa terhormat bisa diharapkan mempertahankan nama baik sekolah dan provinsiku. Dulu, meneruskan tradisi medali di Semesta dan mendulang Juara Umum untuk Jawa Tengah sama sekali bukan beban, itu adalah salah satu motivasi terbesar.

Aku pun bertanya pada Umi, salahkan aku memiliki motivasi seperti itu? Jawabnya, aku tetap harus meniatkan segalanya karena Allah. Jika itu sudah kupegang, maka aku bebas menggunakan apapun sebagai sumber semangat pendukung.

Intinya, pupuklah ambisimu dengan apapun itu, selama hal tersebut tidak membuatmu merasa di atas angin. Ambisi boleh, arogansi jangan 😉.

Tentang Berdampak ‘Nyata’ 

Nah, ini pula yang membuatku sedikit tergelitik. Apa yang temanku rasakan tentang OSN kurang lebih mirip dengan ‘kemarahan’-ku saat berita tentang black hole berhasil terfoto muncul. Loh loh, ngapain Salsa marah-marah sama gambar?

Hehe… Entahlah. Saat itu mungkin aku sedang sedikit mengalami korsleting. Tapi, aku benar-benar kesal ketika membaca perjuangan secara waktu, materi dan tenaga yang dikerahkan demi mendapat jepretan tersebut. Di bumi yang penuh masalah yang butuh diselesaikan, beberapa orang malah memutuskan untuk berusaha mati-matian memfoto luar angkasa???

Yes, someones as exposed to science as I am, dubbed a large-scale scientific project as freaking useless. 

… Tapi tidak untuk waktu yang lama. Aku berkonsultasi dengan beberapa orang, dan pandanganku mulai terbuka. Riset memang seperti investasi jangka suuupeeer panjang yang manfaatnya mungkin baru akan terlihat 50 tahun lagi. Perdebatan mengenai kepentingan sains murni dan terapan memang sudah berlangsung sejak dulu, tapi satu yang pasti; jika aku merasa suatu penemuan sains tidak berguna, bukankah aku sangat-teramat arogan, merasa lebih tahu dari begitu banyak orang yang telah mendalami bidang tersebut sedalam itu?

FIRSTIMAGEOFABLACKHOLE

Maafkan aku yang pernah kesal dengan kamu, black hole 😦

Pun dengan OSN. Kak Gerry (Rhogerry Deshycka) sempat turut menyumbang suara;

“OSN opened a door for me to pursue education at world’s top university. The early exposure in research and doing experiments galvanized my passion in science and motivated me to pursue PhD. In national scale, the effect of OSN might be hard to assess, but at individual levels, OSN has transformed many Indonesian students’ lives especially nurturing their passion in science and by opening tons of opportunities. I confidently can say that I’m one of the ‘dampak nyata OSN’.”

Intinya adalah, OSN membuat siswa percaya ia bisa berkembang lebih dari ia sekarang. Ia akan menantang dirinya lebih lagi, berkarya di perguruan tinggi, melakukan riset dan bekerja. Entah berapa tahun yang akan datang, bisa saja suatu obat-obatan yang menyelamatkan hidupmu memiliki andil anak OSN dalam pembuatannya.

Apakah semua anak OSN akan menjadi aktif di bidang riset? Tentu saja tidak, tapi seperti kata Agil, kemampuan untuk berpikir kritis dan cara belajar yang sudah cocok untuk seseorang akan terus bermanfaat dalam apapun bidang yang akan ia geluti.

Aku harap kita semua mulai meninggalkan anggapan bahwa ‘berdampak nyata’ ekivalen dengan terjun langsung ke masyarakat saat ini juga. Kontribusi setiap orang itu bermacam-macam bentuknya, dan merasa satu adalah dampak nyata dan satu bukan, terkadang, hati-hati, adalah suatu bentuk arogansi.

Lalu, sekarang apa?

Well, terima kasih banyak untuk temanku yang telah menanyakan sebuah pertanyaan yang aku tidak menyangka, ternyata aku butuhkan. Aku yakin setiap dari kita memiliki pandangan hidup hasil bentukan segala pengalaman yang telah kita lalui. Daripada bersikap defensif terhadap argumentasi masing-masing, untuk berdiskusi dengan pikiran terbuka sering kali menimbulkan manfaat yang jauh lebih banyak. Kalau aku boleh berpendapat, temanku itu adalah salah satu orang dengan idealisme kuat, bagaikan kanvas putih yang benar-benar murni. Untuk mempunyai seseorang di hidup yang seperti itu cukup penting. When I am out there chasing for wordly things, we have friends to remind us to our root. And I am forever grateful for that.

Sekarang, aku ingin berhenti untuk memikirkan apa yang kira-kira orang lain pikir aku seharusnya lakukan, dan berfokus kepada apa yang membuatku bahagia. Aku nggak akan malu lagi (masih) menjadi bagian dari kompetisi anak SMA. Kuakui OSN bisa menjadi sekedar ajang yang menyulut arogansi dan meninggalkan tujuan pendidikan yang utama yaitu “memanusiakan manusia”. Tapi, daripada mempermasalahlan keberadaan kompetisinya, aku memilih untuk mulai mengubah keberjalanan OSN dari diriku sendiri.

Jika Allah masih memberikan aku kesempatan untuk berbagi sedikit ilmu yang aku punya, aku akan memanfaatkan momen bersama siswa yang aku ajar untuk menularkan asa dan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Aku akan membuat mereka meyakini bahwa mereka belum tentu akan medapatkan medali di OSN, tapi mereka sudah pasti mendapat ganjaran yang berlipat jika kembali membagi ilmu yang mereka punya ke orang lain. Aku ingin mereka beranggapan bahwa OSN adalah salah satu dari banyak jalan memanfaatkan kemampuan berupa inteligensi yang telah dititipkan Allah pada kita. Aku tidak akan mengajarkan “either you win or learn“, tetapi “whether you win or lose, you’ll learn something“. Aku ingin mereka memahami bahwa yang tabu bukanlah kekalahan, yang tabu adalah menjadi pribadi yang menutup mata dan telinga dari sekitar dan tidak menghormati guru. Aku ingin menyaksikan persahabatan bersemi di antara siswa-siswa yang aku ajar. Banyak dari mereka yang selama ini hidup dalam lingkungan homogen baik dari segi suku, agama, maupun ras, dan OSN adalah kesempatan besar bagi mereka untuk berbaur dengan keberagaman.

Aku nggak akan lagi menyangkal bahwa OSN, sekolah dan provinsi asalku adalah bagian besar dari hidupku. Ikatan historis itu nyata, senyata kerinduan Rosulullah yang menggebu-gebu terhadap Kota Mekkah bahkan setelah beliau memiliki segalanya di Madinah. Aku sadar tidak semua orang memiliki kenangan tentang OSN semanis milikku. Temanku Dean mengingatkan bahwa aku dengan segala privilege (yang aku sadari juga) bagaimanapun termasuk pencilan. Tapi aku sangat sangat percaya bahwa jalan cerita setiap orang memang unik dan tidak pernah sama, maka yang seharusnya menjadi ukuran keberhasilan seseorang adalah jika ia sudah menjadi versi yang lebih baik daripada dirinya sebelumnya.

Baru saja salah satu tokoh yang aku kagumi, Bapak Sutopo Purwo Nugroho, berpulang ke rahmatullah. Beliau adalah seseorang yang menurutku, melibatkan hati dalam pekerjaannya. Bayangkan bekerja sebagai Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana; apakah bencana hanya akan terjadi di jam kerja? Ini adalah pertanyaan retoris yang aku yakin kita semua tahu jawabannya. Sebagian besar hidup Bapak Sutopo benar-benar telah ia abdikan untuk memastikan rakyat Indonesia mendapat informasi paling akurat tentang berbagai kejadian alam dan tak henti-hentinya melawan hoaks. Ketulusan Bapak Sutopo begitu terlihat. Tak heran banyak orang merasakan kehilangan yang sangat, termasuk aku.

pak sutopo
Jika memang Allah membukakan jalanku untuk menjadi tutor olimpiade, mungkin sudah saatnya aku menanamkan hati dalam pekerjaan itu. Sebagai pendidik, sebagai seseorang yang turut berusaha memanusiakan manusia.

Jadi,

OSN 2020 di Bangka Belitung, kan?

Hehe.

Selamat terus mencari versi terbaik dari dirimu, kawan! 😉

Salsa

 

Wassalamu’alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuh.

Sumber featured image: instagram @osn_kemdikbud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s