My Devil and I

Assalamu’alaikum teman-teman semua 🙂

Rasanya aneh … membuka wordpress dan dihadapkan interface penulisan blog post baru seperti ini. Hehe. Betapa lamanya blog ini membeku, post terakhirku lebih dari setahun yang lalu. Aku bahkan sampai kagok merangkai kata-kata 😀 . Tapi … kali ini aku merasa harus. Harus menyatakan sesuatu yang sudah cukup lama menumpuk di hatiku. Sesuatu yang sudah kusimpan sejak dulu, tapi karena beberapa kejadian belakangan, aku memantapkan hati untuk membagi tulisan ini kepada teman-teman semua, dan seluruh dunia.

Rupanya, ada beberapa hal yang baru aku rasakan dan pahami setelah lulus dari SMA. Boleh kubilang, aku menuliskan ini dengan hati berdebar-debar. Aku benar-benar akan mengungkapkan sesuatu yang sudah bersinggah lama di benakku. In a way, I’m going to expose my own fragility and deepest and darkest thoughts. This… is not easy at all. Tapi aku tetap berusaha lanjut menulis karena aku percaya, tulisan ini bisa menjadi titik awal untuk pembahasan yang lebih dalam mengenai permasalahan yang akan aku uraikan, untuk kemudian menjadi bahan introspeksi diri kita masing-masing 🙂

Selamat membaca!

Setelah SMA, lalu apa?

Bukankah jawaban dari pertanyaan di atas cukup sederhana? Dengan template umum khas mob mentality, bukankah setelah SMA, ya kuliah?

Ternyata, jawaban pertanyaan tersebut nggak sesimpel itu. Berbicara sebagai seseorang yang sudah melewati masa kelas 12 SMA, planning our future education is one hell of a ride.

Tapi, setidaknya buatku, aku harus menghadapi satu masalah lagi; my own pride. Iya, aku harus melawan perasaan ‘bangga’ yang selama ini melekat di diriku. Sebenarnya, aku malu mengakui ini, tapi … aku juga pernah merasa sangat bangga pada diriku sendiri. Bermula dari suatu pujian untuk diri dalam rangka mengapresiasi usahaku meraih suatu prestasi seperti, “Hey, Salsa, you did a good job! You got Silver in OSN!” sampai sesuatu yang bernada sedikit … sombong? Seperti, “Whoa, I really was a part of IBO! I really was??! And I did it with successfully finishing my high school too, academic-wise and non academic-wise? Wow I think I kinda nailed my high school years! Pretty cool, isn’t it?”

Dan … bagian terburuk? Aku ternyata menikmati perhatian yang orang-orang berikan ke blog-ku, ke sosial mediaku, dan ke diriku secara umum. I feel like… I have an image I have to maintain. Di sekolahku selama enam tahun dulu, bisa dibilang, I‘m everybody’s darling. Kalau ada istilah teacher’s pet, aku mungkin sejenis… school’s pet? Pujian yang konstan diberikan guru-guru dan teman-teman melambungkan rasa ‘bangga’-ku lebih lagi. Aku nggak se-good looking itu, setidaknya dibandingkan teman-teman SMA-ku, tapi aku berkali-kali menghiasi brosur, kalender, dan video marketing sekolah. Aku mengenal sekolahku seperti mengenal telapak tanganku sendiri, and the best part? They treated me so well. Dengan segala kenyataan itu, sekolahku menjadi surga bagiku.

Tapi surga itu harus terenggut dariku. Waktu terus berjalan, dan aku bukan lagi anak SMA. Aku harus menghadapi dunia baru bernama perkuliahan. Kampus Ganesha Institut Teknologi Bandung, sebuah rumah baruku.

Yap, aku harus memulai semuanya dari nol. Apakah berarti aku harus menanggalkan semua kebanggaan yang aku miliki? Oh, I wish I could. Kenyataannya, ITB bagaikan OSN abadi, dilihat dari seberapa ngeh mahasiswanya tentang keberadaan OSN. Nggak heran, sebagian besar dari mereka pernah paling tidak menjadi bagian dari tim olimpiade saat SMA. Nyatanya adalah, aku nggak masalah aku menjadi seseorang yang tidak dikenal. Sayangnya, embel-embel anak IBO itu masih melekat pada diriku… dan aku merasa, (meskipun tidak ada yang benar-benar mengatakan ini ke hadapanku) mata orang-orang melihat gerak-gerikku dan berekspektasi; mana prestasinya?

Aneh, kan? Aku juga nggak tahu darimana pikiran itu berasal. Orang tuaku? Mereka sungguhan tidak pernah menuntut apapun dariku. Bagi mereka, aku akan selalu menjadi anugerah terbaik, tanpa syarat. Walau begitu, tetap saja, tiba-tiba aku menaruh standar sangat tinggi untuk diriku. Pernah aku berusaha berbicara dengan batinku sendiri. “Kenapa takut banget gagal, Sal? Siapa yang akan peduli?” Tapi hati kecilku akan terus menjawab, “Ada… mungkin saja ada. Pasti ada. Entah siapa.” Dan ketakutan ini terus mengakar, tidak kunjung pergi.

Belum lagi ketika scroll feed instagram dan melihat teman-teman seangkatan sudah melanglang buana ke seluruh penjuru dunia untuk menempuh pendidikan S1-nya, dan mereka terlihat … keren? I can’t help but constantly comparing myself to others.

Ditambah lagi, aku merasa aku seorang yang hypocrite. Aku banyak memberi pesan ke orang-orang bahwa kita harus memiliki mimpi dan menyusun target untuk meraih mimpi itu. Tapi… apa yang aku lakukan sekarang? Kenapa aku masih gini-gini aja? Seperti ada yang menuntut aku (entah siapa, tapi alam bawah sadarku berkata seperti itu) untuk tidak boleh jadi mahasiswa biasa saja, harus jadi luar biasa! Tapi… aku tidak mampu. Atau mungkin belum, tapi pokoknya pada saat ini, detik ini, aku mahasiswa yang tidak spesial, tidak berprestasi, tidak pintar banget. ‘Salsa’ dan ‘biasa’, dua kata yang selama aku bersekolah dua belas tahun tidak ada di satu kalimat yang sama.

Itu membuat aku berhenti merespon email, direct message instagram, atau apapun yang bernada meminta motivasi. Karena aku merasa, aku bahkan kekurangan motivasi, bagaimana bisa memotivasi orang lain? Aku nggak layak, benar-benar nggak layak untuk memberi saran apapun terkait mimpi. Aku nggak sesempurna itu. Aku JAUH dari sempurna. Bahkan, aku sempat hampir menangis di depan seorang temanku. Aku merasa dia sangat layak dan mampu menjadi mahasiswa ITB, posisiku sekarang ini, tapi takdir berkata lain. “Kamu jauh lebih layak mendapatkan spot ini daripadaku…” ucapku saat itu.

Aku juga kehilangan satu hal yang dulunya aku miliki di sekolah lama dengan mudahnya; teman. Hidup di sekolah berasrama selama enam tahun, pada tahun terakhir, bisa dibilang aku bisa memasuki kamar teman seangkatanku secara random dan aku akan selalu memiliki topik pembicaraan dengan penghuni kamar tersebut. Di kampus baruku? Hhh…

Lulus SMA, aku melewati fase dimana aku terus-terusan mempertanyakan my self-worth, dan terus-terusan pula merasa tidak pantas.

Ada beberapa teman yang aku kenal lewat ajang olimpiade harus gap year untuk berbagai alasan. Aku tidak ada di posisi mereka, jadi aku hanya menduga-duga. Mungkin mirip, mungkin juga tidak, tapi aku berpikir, bukankah dorongan untuk membandingkan diri dengan orang lain akan lebih besar lagi jika kita bahkan tidak sedang berkuliah? Seseorang dengan sederet prestasi saat dua belas tahun bersekolah, tapi sekarang malah masa depan melanjutkan studi ke mana belum jelas?

Whoa, teman-teman yang memutuskan untuk gap year dan berhasil keluar dari lingkaran pemikiran seperti itu, aku benar-benar mengagumi kalian.

 

Setelah SMA, lalu? Ternyata, aku masih harus banyak, banyak belajar

Fiuh… rasa berdebar itu masih ada. Selama menuliskan ini aku harus istirahat beberapa kali. Sesusah itu untuk mengatakan yang tidak pernah terucap sebelumnya. Butuh keberanian luar biasa untuk mengungkapkan bahwa; I am not as okay as I pretend to be.

Tujuanku menuliskan ini adalah … kalau kalau ada di antara pembaca tulisan ini yang merasa sama sepertiku; merasa belum bertemu dengan mimpi yang benar-benar menggairahkan, belum senyaman itu dengan lingkungan baru, serta terus-menerus merasa payah dan takut akan menjadi seseorang yang mengecewakan, aku ingin berkata; Hey, I got you! You are NOT alone.

Terkadang kita sibuk berandai-andai melihat beberapa foto atau cerita yang orang lain alami, sampai kita terlupa bahwa itu hanya sebagian hal menyenangkan yang mereka lalui. Banyak lagi unspoken stories and memories, hal-hal yang memang mencerminkan pahitnya kehidupan tapi tidak mereka tunjukkan ke khalayak ramai. Intinya; semua orang punya cerita masing-masing.

Dan juga, semua orang punya sesuatu untuk dilawan; everybody has their own devil. Dalam kasusku, ‘devil‘-ku adalah suara di benak ini yang terus-terusan berkata bahwa aku tidak cukup baik. This, is something I am not yet able to overcome. Tapi aku berusaha. Aku memulai dengan mengingat-ngingat hal yang tidak bisa aku lakukan kemarin, namun hari ini aku mulai bisa melakukannya. Aku berusaha mengalahkan diriku di masa lalu dan membuat kemajuan kecil-kecilan dalam segala aspek di hidup ini.

Hei, kemarin aku nggak bisa melipat baju ini dengan rapi, sekarang sudah lumayan.

Hei, kemarin aku sedang bete lalu bermuka masam ke abang gojek, tapi hari ini aku bisa tersenyum.

Hei, kemarin aku berhasil mengerjakan tugas ini sendiri, padahal sebelumnya aku selalu minta bantuan teman sebelum benar-benar berusaha.

Tampak seperti hal yang trivial bukan? But it works. It really does. Menurutku, ini adalah definisi ‘syukur’ yang sering terlewat. Bahwa nafas kita di dunia adalah suatu kesempatan yang Allah beri untuk kita kembali improve diri dalam berbagai sisi. Bahwa setiap hari kita mampu membuka mata setelah tidur malam adalah lembaran baru untuk mulai menuliskan suatu perkembangan diri.

Sedikit demi sedikit, aku bisa mengubah bisikan ‘I am not good enough‘ menjadi ‘I am making a progress!

Dari ‘Aku tidak pernah cukup baik’ menjadi ‘Hei, aku membuat suatu kemajuan!’

Aku pernah merenung dan menghitung teman-temanku di kampus saat ini. Sebenarnya, aku terpikirkan paling tidak empat lingkaran pertemanan yang kesemuanya bisa aku jadikan ‘nine-one-one‘-ku. Sudah lebih dari cukup, bukan? Memangnya aku mau yang seperti apa sih? Menapaki gerbang ITB dan seluruh penghuni kampus harus mengenal diriku? Wkwkwk…. Ternyata, hari demi hari pun, aku terus bertemu orang-orang baru. Beberapa sekedar kenal, beberapa mungkin calon sahabat selamanya. Aku… aku sadar aku masih punya banyak waktu untuk mengenal lebih banyak orang lagi. I shouldn’t have been too hard on myself.

Perlahan, aku mengumpulkan kepercayaan diriku kembali.

Aku memang masih dalam tahap pencarian mimpi berikutnya. Aku belum berhasil menemukan mimpi yang membuatku bergairah seperti dulu ketika “bisa pergi ke Inggris” adalah mimpiku. Fun fact, dulu aku merasa mimpi itu akan susah sekali tercapai. Tapi kini, yang ada malah “Wah, mimpiku itu kurang besar rupanya…” Hehe.

Tapi mungkin, aku tidak perlu mimpi muluk-muluk dahulu. Aku coba untuk mulai merasa ‘cukup’. Mulai menanamkan ke lubuk hati bahwa ‘biasa’ tidak equivalen dengan ‘buruk’. Tidak menyusun standar untuk diriku hasil buatanku sendiri, tapi memakai standar dari Alah; kalau Allah suka hamba-Nya melakukan ini, maka aku lakukan. Kalau tidak, aku jauhi. Sembari berdoa supaya aku dihindarkan dari keinginan untuk berbangga diri dan bahwa semua hal luar biasa yang bisa aku raih, tidak lain hanya terwujud atas seijin-Nya.

Ini memberikan waktu untuk diriku bangkit. Seperti halnya anak panah yang harus ditarik ke belakang dahulu, untuk kemudian melesat, nanti.

Untuk teman-temanku… apapun ‘devil‘ kalian, apapun bisikan-bisikan yang menghantui kalian, aku minta, jangan mau kalah ya, dengan mereka? Kita punya Allah. Kita punya teman, keluarga. Atau kalau merasa teman dan keluarga jauh, ada banyak orang yang hidupnya juga tidak sempurna, misalnya aku, and we’re on this together!

 

 

Dari seseorang yang masih terus berjuang,

 

Salam semangat!

Wassalamu’alaikum 🙂

Advertisements

13 thoughts on “My Devil and I

  1. Permisi Kak, kalo aku, ada dua kata Ablaku yg kupegang Kak (Barusan kemaren bahas ini sama Ablaku)
    Pertama, penilaian orang itu ga ada habisnya
    Kedua, Jangan pernah berusaha menjadi yg terbaik, tp berusaha memberikan yg terbaik
    Buatku, itu dua kata Ablaku yg memotivasiku disaat aku merasa lebih rendah dibanding orang lain. Maaf kalo ada salah kata, ini aku cuma cerita ajaa hehe

    • Waaa makasih sarannya ☺. Aku setuju banget untuk poin kedua, tapi buat poin pertama, sebenernya memang enggak ada yang bener-bener menilai aku? Tapi suara-suara itu muncul sendiri di kepalaku. Kalau aku baca-baca secara psikologis sih, memang ada kasus tekanan ittu diberikan sendiri oleh alam bawah sadar kita. Nggak peduli sebanyak apapun orang meyakinkan “Enggak kok, nggak ada yang nge-judge kamu.” Tetep aja alam bawah sadarku punya ketakutan itu. Hohoho memang unik sekali ya mentalitas manusia. Tapi I am definitely getting better fighting my own devil so don’t worry 😄

      • Assalamu’alaikum kak. Kak saya bersyukur dan senang bisa mengenal kakak, walau cuma dari nama ajah. Dulu saya juga bermimpi bisa ke Teheran, tapi semuanya kandas di osk, baru di awal. Padahal itu adalah kesempatan terakhir bisa dibilang kak. Dan alhamdulillah saya baca baca tulisan kakak yang lain, alhamdulillah saya jadi merasa bersyukur walau kalah. Saya merasa memang itulah yang terbaik, mungkin ada jalan yang disiapkanNya untuk saya bisa pergi ke penjuru dunia lain. Dan saya juga “suka memaksa diri” kak, tapi setelah ngebaca tulisan yang ini kak saya jadi merasa tertampar dan ngerasa saya udah berlebihan pada diri saya sendiri. Makasih kak untuk pengalaman menginspirasi nya. assalamu’alaikum

      • Wa’alaikum salam. Senang bisa berbagi. Semangat terus ya, kita sama-sama cari mimpi baru lagi! 🙂

  2. Wa alaikumussalam kak salsa:)
    Anyway, thanks for sharing this, kak! aku pun dulu sering merasa perfeksionis dan sangat takut gagal. (ya sekarang masih juga sih kadang kadang :”). kalau kata guruku dulu, kita memang gak bisa terus terusan melangkah dengan kaki kanan. Kita pun butuh kaki kiri untuk terus berjalan maju ke depan:). it’s okay to take a break dan menikmati proses, karena terkadang di dalam proses itu ada hal hal yang tak pernah kita duga.
    take your time, and enjoy your college life, kak! 🙂

  3. terimakasih kak, untuk mau melanjutkan blog ini. sudah saya tunggu – tunggu sejak lama lo 🙂 doakan saya masuk itb ya kak, motivasi yang saya dapat dari kakak yang saya pegang sampai sekarang. entah saya dapat di tulisan kakak yang mana. namun saya terus mengingatnya. yaitu carilah keberkahan. semua tentang mencari keberkahan, niat yang lurus, usaha yang terbaik, dan doa yang terbaik. dan sebagai muslim kita adalah ambasador maka apapun yang orang lain lihat di kita, mereka akan menilai bahwa ini islam. maka dari itu kita harus menunjukan yang terbaik. prestasi adalah media dakwah maka ketika kita melakukan yang terbaik, maka kita telah berdakwa dengan baik.

    • Sama-sama Fitrah. Yang barusan kamu omongin, meskipun itu dari aku, ternyata itu jadi remainder lagi buat aku. Makasih sudah kembali mengingatkan 🙂 Semangat ya, ITB menunggu!

  4. Atikah Az Zahidah

    Aku rasa pasti ada turbulensi setiap kita mulai stage baru dalam hidup sal, entah jadi maba atau waktu seperti aku mahasiswa tua yang mulai mempersiapkan dunia pasca kampus. Dan memang salah satu treatment segala kegundah gulanaan itu dgn menulis. Se-healing itu haha. Bahkan kadang jawaban dan semangatnya muncul sendiri di akhir tulisan, aku rasa salsa pun udah menemukannya. Mungkin karena kita dipaksa untuk mengurai segalanya dan melakukan refleksi ya.
    Tetap semangat salsa. Glad to see you coming back 🙂

    • Iya bangeeet. Dan ternyata emang ketika kita menulis kayak gini, banyak sekali respons orang-orang yang been there, done that, atau masih bener-bener struggling. Rasanya tahu kita enggak sendiri itu, sangat uplifting. Kakak juga yah, semoga dalam setiap tahap kehidupan kita selalu teriring berkah dari-Nya ☺

  5. Terima kasih, Salsa.
    Tulisanmu, lagi-lagi berhasil menyadarkanku. Kurang lebih apa yang dirasakan sama, dan aku sering minder sama pencapaian-pencapaian orang lain.
    “Kalau saja aku mulai dari dulu, kalau saja aku gak gitu, kalau saja aku dulu lebih semangat…” dan kalau saja-kalau saja lainnya yang seharusnya tidak aku ucapkan, hanya karena mungkin saja aku yang berhasil mencapai apa yang mereka capai saat ini.
    Ternyata, semuanya balik lagi ke diri sendiri, dan pastinya lebih yakin sama Allah, yang menakdirkan semuanya terjadi.
    Sekali lagi, terima kasih sudah berbagi ❣

  6. […] Tapi mungkin, aku tidak perlu mimpi muluk-muluk dahulu. Aku coba untuk mulai merasa ‘cukup’. Mulai menanamkan ke lubuk hati bahwa ‘biasa’ tidak equivalen dengan ‘buruk’. Tidak menyusun standar untuk diriku hasil buatanku sendiri, tapi memakai standar dari Alah; kalau Allah suka hamba-Nya melakukan ini, maka aku lakukan. Kalau tidak, aku jauhi. Sembari berdoa supaya aku dihindarkan dari keinginan untuk berbangga diri dan bahwa semua hal luar biasa yang bisa aku raih, tidak lain hanya terwujud atas seijin-Nya. -Salsa […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s