Berani Bermimpi, Berani Gagal, Belajar Ridho

Assalamu’alaikum 🙂

Aku nggak pernah meragukan kekuatan mimpi. Bagiku, mimpi adalah hal yang membuat kita semangat untuk bangkit dari kasur setiap pagi setelah membuka mata. Mimpi adalah hal yang membuat kita berani untuk keluar dari zona nyaman, menghadapi semua tantangan di depan demi membuatnya terwujud. Mimpilah yang membuat hidup jadi bergairah. Tanpa mimpi, hidup akan berubah jadi rutinitas semata yang sama sekali nggak menuntut kita untuk berkembang.

Maka dari itu, aku senang bermimpi. Alhamdulillah, aku dibesarkan oleh keluarga yang sangat mendukungku untuk bermimpi. Dalam bentuk apapun. Entah sengaja atau tidak, kedua orangtuaku telah menanamkan hal tersebut semenjak aku kecil.

Sebenarnya, yang mereka lakukan cukup sederhana. Mereka ‘hanya’ membiarkanku mengeksplor dunia. Tidak terhitung berapa meter dinding rumah yang penuh coretan masa kecilku. Mereka nggak marah melihat rumahnya jadi artistik begitu. Pun tidak terhitung berapa kilogram tepung yang sudah aku hambur-hamburkan, aku campur air, aku jadikan pengganti plastisin, yang seharusnya adalah bahan kue dagangan mereka.

Selain itu, mereka juga menambah luas wawasanku tentang dunia. Ketika anak-anak lain anteng di depan TV menonton Shincan, orangtuaku membelikanku satu set CD Harun Yahya yang langsung menjadi tontonan kegemaranku. Aku masih ingat sekali bagaimana aku hampir menangis gara-gara membayangkan menjadi ikan salmon—betapa jauh jarak yang mereka tempuh dan betapa besar perjuangan mereka supaya dapat kembali ke tempat mereka dilahirkan (okay, this term is not scientifically correct, but you know what I mean) dan bertelur di sana! Aku juga menjadi penggemar berat berang-berang. Menurutku, mereka keren banget. Benar-benar arsitek alam sejati! Mungkin aku sudah ditakdirkan untuk suatu saat menjadi bagian dari sebuah universitas yang maskotnya berang-berang, meskipun bukan untuk undergraduate study. Hehe.

Dari situ, aku jadi haus akan pengetahuan, haus akan berbagai macam informasi yang tersebar di seluruh dunia, haus akan tempat-tempat baru dan cerita-cerita menarik yang tersimpan di sana. Mungkin juga karena media yang pertama kali tertancap di benakku berhubungan dengan sains, ke sana pula akhirnya aku memiliki kecondongan ketertarikan yang besar.

Untuk mencapai mimpi-mimpiku, aku membayangkan langkah-langkah apa saja yang harus aku tapaki. Menurutku, mimpi yang telah disertai dengan cara-cara untuk mewujudkannya adalah target. The ultimate target adalah tentu saja mimpi terbesarku. Sedangkan target-target yang lebih kecil adalah setapak demi setapak tangga yang (menurutku) akan mengantarku ke mimpi besar tersebut.

Salah satu mimpi terbesarku adalah; menapakkan kaki ke Inggris. Kenapa? Well, aku sudah pernah membuat satu blogpost tentang itu, di sini. Intinya, for me, United Kingdom is simply mesmerizing. Its culture, rich history, buildings, accent, and everything else always fascinate me. Kegemaranku akan Inggris sepertinya bersumber dari bacaan dan tontonan masa kecilku, Malory Towers dan Harry Potter.

Sekitar tahun 2015, komite International Biology Olympiad sudah merilis tempat penyelenggaraan untuk empat tahun ke depan. Mataku terbelalak melihat tempat diadakannya IBO 2017; United Kingdom! Perasaanku saat itu begitu bahagia. Aku seperti bisa menyatukan dua mimpiku. Mimpi untuk mendapat medali di kancah internasional lewat bidang yang aku gemari, Biologi, sekaligus berkunjung ke Inggris Raya.

Berusaha meraih mimpi besarku dengan cara yang aku sukai, olimpiade, memang menggairahkan. It’s a perfect match. Tahun 2015, aku telah memproyeksikan apa saja yang harus aku raih supaya bisa menjadi perwakilan Indonesia untuk International Biology Olympiad 2017 di Inggris. Aku pun mengikuti OSN 2015 dan berhasil membawa pulang medali perunggu. Sayangnya, langkahku terhenti di Pelatnas 1. Aku kehilangan kesempatan untuk menjadi Timnas IBO 2016. Tidak apa-apa, pikirku waktu itu. Saatnya menyiapkan amunisi untuk tahun depan.

OSN 2016 aku hadapi dengan persiapan jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Aku berhasil menjadi juara 1 OSK Semarang, juara 1 OSP Jawa Tengah sekaligus peringkat 2 nasional. Besar harapanku untuk bisa membawa pulang medali emas dari Palembang, tempat OSN tahun itu. Ditambah lagi, sebagian kecil dari otakku, my superstitious mind, mulai membangun suatu kesimpulan dan harapan sendiri. Aku mengenal seorang anak olimpiade yang seangkatan di atasku. Dia memiliki track record sama persis denganku selama OSN 2015. Tidak lolos ke Pelatnas 2 di tahun pertamanya mengikuti OSN SMA, kemudian Juara 1 OSK dan Juara 1 OSP tahun berikutnya. Saat OSN 2015, dia mendapat medali emas! Wah, udah cocok nih, aku mengikuti jejaknya.

It was a stupid way of thinking, really. Kini, aku sadar. Kita boleh saja terinspirasi oleh pencapaian seseorang. Tapi, kita tak bisa lantas memasrahkan nasib kita begitu saja tanpa mengerahkan usaha yang maksimal. The truth is, I came back from OSN 2016, dengan ‘hanya’ medali perak. Sebenarnya, aku nggak masalah dengan medali perak. Yang aku permasalahkan adalah, betapa cukup jauh peringkatku dari 5 besar. Aku menempati peringkat 12. Banyak anak-anak lain yang belum pernah mengecap pengalaman Pelatnas menempati peringkat yang lebih tinggi dariku.

Aku mendapat satu lagi pelajaran berharga. Jangan pernah meremehkan apapun dan siapapun. Kakak kelas yang aku sebut tadi, pasti juga berusaha luar biasa keras hingga bisa meraih medali emas. Sedangkan aku … yah, aku berjanji untuk memperbaiki peformaku selama Pelatnas.

Pelatnas cukup berbeda dengan OSN. Ibaratnya, OSN adalah tekanan jangka pendek, sedangkan Pelatnas adalah tekanan jangka panjang. Tugas dan tes bergiliran datang, menguras otak dan mental kami. Dari Pelatnas pula, aku belajar untuk selalu humble. Rendah hati. Aku di kelilingi oleh teman-teman yang begitu jenius. Kami saling belajar dari satu sama lain. Pelatnas tahap 1, aku finish di posisi 8. Artinya, aku bisa melanjutkan ke tahap 2. Alhamdulillah.

Setelah berkali-kali mengikuti tes Pelatnas, aku sudah mulai memiliki gambaran, hasil apa yang aku dapat berdasarkan mampu atau tidaknya aku mengerjakan soal. Aku keluar dari ruangan tes akhir Pelatnas 2 dengan keyakinan bahwa nilai akhirku pasti sangat jelek. Aku baru saja mengerjakan praktikum dimana aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Mungkin Pelatnas 2 ini akhir dari impianku menjadi Timnas IBO 2017

Tibalah hari pengumuman. Aku terkejut, namaku menjadi salah satu yang masuk ke Pelatnas 3. Setelah pengumuman, salah satu kakak dari TOBI mendekatiku.

“Salsa, nanti di rumah belajar ya,” ucapnya. Aku bertanya-tanya, kenapa pula kakaknya berkata seperti itu?

“Oh, jelas kak,” jawabku kemudian. Lalu, si kakak menunjukkan satu lembar kertas. Kertas yang memuat nilai akhir Pelatnas 2.

Aku peringkat 9. Peringkat terakhir dari semua yang lolos ke Pelatnas 3. Lebih menakjubkannya lagi, peserta Pelatnas 3 bisa saja hanya 8 orang. Tapi, TOBI membuat keputusan untuk memasukkan namaku juga karena margin nilai yang cukup sempit.

Aku terhenyak. It was so close.

Sepanjang interval dari Pelatnas 2 ke Pelatnas 3 yang tidak terlalu panjang, aku berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Aku nyaris tidak lolos. Kesempatan mengikuti Pelatnas 3 ini menjadi pelecut bagiku untuk membuktikan diri. Namun kali ini, targetku tidak muluk-muluk. Tentu saja aku masih ingin menjadi Timnas. Tapi, aku sudah cukup senang apabila peringkatku saat akhir Pelatnas 3 nanti lebih tinggi dari 9. Saatnya aku berlomba dengan diri sendiri sebelum berlomba dengan orang lain. Aku ingin mengalahkan pencapaianku di masa lalu.

Selain itu, aku juga bermimpi untuk melengkapi koleksi medali OSN SMAku. Perunggu dan perak sudah kuraih. Aku ingin pada tahun terakhir OSNku, OSN 2017, aku berhasil membawa pulang medali emas. OSN 2017 juga jadi momen yang aku tunggu-tunggu karena tahun tersebut adalah tahun dimana teman-teman seangkatanku sebagian besar akan berlaga setelah mungkin tahun sebelumnya belum bisa melewati kakak kelas. Di sekolahku SMA Semesta, pertemanan dan rivalitas sehat antar anak olimpiade begitu kuat. Aku tidak sabar menghabiskan waktu outing, Pelatda, dan menjelajahi Pekanbaru bersama mereka.

Upload FB

Teman seperjuangan!

Biasanya, TOBI memberikan tiket untuk langsung mengikuti OSN bagi para kelas 11 yang lolos Pelatnas 2. Harapanku untuk mendapat wild card pun sangat tinggi. Terang saja; aku lolos ke Pelatnas 3, belum pernah mendapat medali emas dan masih kelas 11.

Akhirnya, guidebook yang memuat peraturan OSN 2017 terbit. Aku membaca peraturan untuk bidang Biologi. Aku nyaris tidak percaya dengan yang kulihat. Ini… serius?

“Serius kak, aku nggak bisa ikut OSN 2017 lagi?” saat Pelatnas 3 sudah dimulai dan aku bisa bertatap muka dengan kakak-kakak TOBI, aku berusaha mengonfirmasi peraturan tersebut.

“Iyalah, ngapain sih, Salsa ikut lagi. Udah, kamu usaha aja biar lolos jadi Timnas.”

“Kak, tapi …” sesering apapun aku merajuk, peraturan itu tetap tidak bisa berubah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada peraturan ‘setiap peserta dapat mengikuti OSN Biologi SMA maksimal dua kali’. Aku adalah alumni OSN 2015 dan 2016. Jatahku sudah habis. Aku tidak bisa mengikuti OSN 2017.

Saat itu, aku benar-benar merasa tak berdaya. Kegagalanku untuk mengikuti OSN 2017 hanya karena sebuah peraturan baru yang tiba-tiba muncul di tahun terakhirku! Uniknya lagi, alumni OSN 2015 dan 2016 yang mendapat medali di kedua tahun itu hanya aku dan Syailendra. Syailendra sendiri sudah mendapat emas. I can’t help but thinking; peraturan ini benar-benar dibuat spesial untukku …

Aku berada di posisi yang cukup mustahil untuk mencapai 4 besar. Maka dari itu, aku menganggap kakak-kakak TOBI yang menyuruhku untuk fokus meraih posisi Timnas sedikit tidak realistis.

Di tengah kegalauan seperti itu, aku bersyukur aku selalu mendapat nasihat terbaik dari orang tua.

“Sudah, percaya saja Allah selalu kasih Adik yang terbaik. Ridho sama semua keputusan Allah ya, Dik.” Tutur Umi padaku.

Baiklah … aku mencoba. Aku mencoba untuk berhenti bersedih dan move on. Aku belajar untuk ridho. Ridho adalah menerima dengan lapang dada semua ketentuan Allah dengan keyakinan bahwa itu adalah yang terbaik untuk kita. Ridho dan sabar. Aku juga mencoba untuk sabar. Aku percaya akan muncul hikmah dari semua yang telah terjadi. Aku hanya perlu sabar sampai hikmah tersebut perlahan terungkap.

Aku mungkin memang tidak akan bisa berada di tengah-tengah teman-temanku yang sedang berjuang untuk OSN 2017. Tapi, bukan berarti aku tidak bisa menyemangati dan mendukung mereka, bukan? Setiap malam sebelum OSK, OSP, dan momen-momen penting lainnya, aku akan menge-chat temanku satu per satu. Aku mengetik setiap pesan dengan sepenuh hati, bukan macam broadcast yang copy paste begitu. Tentu saja aku juga menyebut nama mereka dalam setiap doaku. Bagaimapun, doa adalah senjata pamungkas milik setiap muslim.

Tes-tes di Pelatnas kembali berdatangan. Aku telah menganalisis semua kesalahan yang aku lakukan saat tes praktikum Pelatnas 2 lalu. Menghadapi tes ini, aku telah berjanji untuk memperbaiki semua kesalahan itu. I’ve learnt my lesson. I would do my best.

Yang spesial dari Pelatnas 3 adalah, kami sudah sangat dekat satu sama lain. Aku mengenal kedelapan peserta Pelatnas 3 lain dengan cukup baik. Saat hari pengumuman tiba, aku berada di titik keridhoan tertinggi. Aku ridho siapapun 4 besar nanti. Kedelapan teman-temanku telah menunjukkan usaha yang luar biasa. Jika saja peringkatku bukan peringkat 9, aku sudah sangat senang.

Pelatnas 2

Pelatnas 3

Pengumuman Timnas Biologi cukup teatrikal. Ah … susah untuk merangkum momen itu. Ternyata, seorang kakak sempat merekam pengumuman tersebut dan bahkan kini bisa dilihat di youtube. Tapi sudah lah ya, link nya tidak usah dicantumkan disini. Hehe.

Tiga dari empat anggota timnas sudah terungkap. Mereka adalah Agnes, Lendra, dan Kak Ikhsan. Tidak ada yang meragukan terpilihnya tiga orang tersebut. Mereka memang penghuni tetap 3 besar sejak Pelatnas 1 ketika peringkat ke-4 masih bervariasi.

Surprisingly, aku dan satu orang lain menjadi yang terakhir belum mengetahui nasib kami. Artinya, kami menempati peringkat 4 dan 5. Dua peringkat yang hanya selisih satu, namun mengubah segalanya. Aku sudah sangat senang. Hei, seandainya aku peringkat 5 pun, 9 ke 5 adalah pencapaian besar! Good job, Salsa! Aku menyelamati diriku sendiri dalam hati.

Lalu kemudian …

“Yak, yang akan berangkat ke Inggris tahun ini, ada dua cewek dan dua cowok.”

Oh.

Otakku tiba-tiba lambat memproses informasi tersebut. Agnes sudah berdiri di depan. Lendra dan Kak Ikhsan berarti dua cowok yang dimaksud. Sedangkan, peserta Pelatnas 3 yang cewek hanya Agnes dan … aku.

Aku?

Otakku berhasil menarik kesimpulan.

“Alhamdulillah …” tidak ada kata yang bisa kuucapkan selain syukur. Aku mengetik chat di handphone ke Umi dan Abi dengan tangan bergetar.

hasil pelatnas

Alhamdulillah mi, bi, aku ke Inggris.

294618

Timnas Indonesia untuk IBO 2017: Muhammad Ikhsan, Salsabiilaa Roihanah, Agnes Natasya, Syailendra Karuna Sugito


Bermimpi tinggi memang butuh keberanian yang luar biasa. Ketika mimpi kita tinggi, maka kita harus pula siap menerima kenyataan pahit selama perjalanan kita menjemput mimpi tersebut. Tidak semuanya akan berjalan mulus. Tidak semuanya akan berakhir indah. Bahkan bisa jadi, belum tentu mimpi itu bisa kita raih.

Tapi, naik-turun selama perjalanan justru yang membuat bermimpi menjadi spesial. Kegagalan itu yang membuat kita semakin dewasa. Pun jika aku benar-benar menempati peringkat 5 dan bukan 4, aku telah belajar banyak. Salah satu pelajaran terpenting yang kini benar-benar terpatri di sanubariku adalah: ridho. Ridho kepada setiap keputusan Allah adalah cara terbaik untuk menjadi berani. Karena kita yakin apapun yang kita terima dalam hidup sudah di-‘approve’ oleh Allah sebagai yang terbaik untuk kita, maka kita tidak takut lagi jika harus bersusah-susah dalam perjalanan meraih mimpi.

Pagi hari sebelum pengumuman Pelatnas 2, aku dan teman-teman cewek menyempatkan diri untuk bertamasya ke Farm House di Lembang, Bandung. Disana, aku menemukan tempelan kulkas berbentuk ikon khas Inggris. Walaupun pasca tes akhir Pelatnas 2 aku pesimis dapat lolos ke Pelatnas 3, the moment I held that small piece of red telephone box, my dream was as intact as ever.

Kalau pun tidak lewat IBO 2017, suatu saat aku harus pergi ke Inggris Raya.
Tekadku saat itu.

Reach your dream

Ternyata, jalan Allah untukku menginjakkan kaki ke Inggris memang lewat International Biology Olympiad 2017.

Itulah kekuatan sebuah mimpi, kawan.

1

Wassalamu’alaikum!

 

 

Advertisements

14 thoughts on “Berani Bermimpi, Berani Gagal, Belajar Ridho

  1. So inspired. Tulisannya keren 🙂

  2. Inspiring>< makasih salsa sudah berbagi pengalamannya :)) ikut senang baca pengalaman salsa.
    percaya pada Allah, bahwa apa pun yang terjadi kita harus rida, karena itu yang terbaik buat kita.
    -dari pembaca kkpkmu di zaman dulu, hihi

  3. Sylvianita widyawati

    Keren, Sa tulisannya. Serasa aku dibawa ke situasimu. Tetap bersahaja..

  4. MasyaAllah! Sampai terharu aku bacanya dek! Sooo Inspiring! Memang “Allah memeluk mimpi-mimpi kita” ya. 🙂 Barakallah!

  5. […] via Berani Bermimpi, Berani Gagal, Belajar Ridho — Hati Bicara […]

  6. Inspirieren! Banyak banget pelajaran yg bisa diambil dr kisahmu ukhtii.
    Memang, kalo hidup itu sudah di tata sama Allah, semuanya terasa indah. Tinggal kewajiban kita sebagai hamba untuk banyak bersyukur. Barakallah!

  7. Yustika Sari

    Terimakasih😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s