Mengapa Susah Sekali?

Assalamu’alaikum wr.wb.

Topik tulisan ini sebenarnya sedikit lucu dan kontradiktif. Aku akan menulis tentang ketidakmampuanku  menulis. Sebuah kenyataan yang terpampang nyata jika pembaca mengamati bahwa tulisan terakhirku di blog ini dibuat Juni 2017 lalu. Itu pun berisi rangkuman dari video yang aku unggah ke youtube untuk membantu teman-teman mempersiapkan OSN 2017. Blogpost yang nyata-nyata berisi buah pemikiran yang kususun dengan matang, tampaknya terakhir aku buat bulan Maret lalu.

Padahal, aku mengecap berbagai momen yang luar biasa banyak, unik, dan life-changing selama rentang waktu aku tidak menulis itu. Lalu, apa yang menghalangiku merangkai kata dan membuat beberapa blogpost sederhana?

Jawabannya: kejenuhan. Ya, aku jenuh dengan rutinitas yang aku buat sendiri. Semenjak OSN 2014 yang mana merupakan OSN keduaku, aku sudah menuliskan pengalaman OSNku di blog ini. Pembaca masih sangat bisa membacanya, bahkan sudah kurapikan sehingga navigasi menuju ke tulisan-tulisanku tentang OSN, Pelatnas dan lain sebagainya bisa dengan mudah diraih melalui tab ‘Olimpiade’.

Setelah OSN 2014, aku mengecap dua OSN lagi dalam rentang waktu tiga tahun, OSN 2015 dan 2016. Aku juga menunaikan ‘janji’-ku pada diriku sendiri dengan membuat serial mengenai OSN setiap tahunnya, malahan berlanjut sampai Pelatnas.

Tapi, ijinkanlah aku mengungkapkan sesuatu. Untukku supaya bisa menulis dengan lancar, aku membutuhkan suatu dorongan. Aku membutuhkan otakku untuk berkali-kali mengulang suatu ide atau opini hingga aku tidak tahan lagi untuk buru-buru menyuarakan isi pikiranku dalam bentuk tulisan. Artinya, otakku harus menjadi ‘berisik’ dahulu. Beberapa kejadian yang aku temui selama aku hidup memiliki impact yang begitu besar sampai-sampai aku akan meninggalkan semua pekerjaan (bahkan kewajibanku) dan memilih untuk sibuk di depan laptop, membiarkan semua kata mengalir dengan derasnya. Kejadian-kejadian ini, setelah aku pelajari di Biologi juga, adalah kejadian-kejadian yang merangsang otakku mengeluarkan beberapa zat kimiawi yang akhirnya menimbulkan perasaan ‘excited’. I am charged and ready to tell the whole world what I am currently thinking and feeling!!! Begitulah kira-kira keadaan pikiranku saat sedang berada di puncak excitement.  

Dan, sama dengan setiap hal yang kita lakukan berulang, kita akan mencapai titik jenuh. Bosan. Ya, aku bosan dengan rutinitas olimpiadeku. Sesuatu sesimpel memasuki hotel yang akan ditinggali peserta OSN selama seminggu ke depan pada OSN pertamaku adalah momen berharga yang setiap detailnya tersimpan di memori. Narasi tentang momen itu pun tak lepas aku tuturkan. Kesimpulannya, momen itu memicu cukup ‘keberisikan’. Namun, OSN kedua, ketiga, hingga keempat, momen itu mulai terasa … yah, biasa saja.

Aku mencoba membandingkan serial OSN 2014, 2015, dan 2016. Aku mengamati suatu pola yang unik. Lama-kelamaan, jumlah blogpost dalam satu serial menjadi semakin sedikit. Pun cara menulisku lebih cenderung ‘merangkum’ daripada narasi bersambung dari bangun pagi hingga tidur lagi di malam hari. Tengok saja serial OSN 2014-ku. Hei, aku bahkan mendedikasikan satu blogpost untuk setiap hari selama kurang lebih seminggu berlaga di OSN!

Aku rasa, semua itu adalah hal yang normal. Wajar. Aku juga belajar di Biologi bahwa sistem saraf kita, sebagai sistem yang bertugas untuk menerima, memproses, dan merespons rangsang, memiliki mekanisme untuk membuat stimulus yang sama yang kita terima terus-menerus tidak direspons sekuat pada mulanya. Tanpa mekanisme ini, nggak mungkin kita pernah nyaman memakai baju. Ujung saraf yang menerima respons tekanan di kulit kita hanya merespons pertama kali ketika kain dari baju menyentuh kulit kita dan kedua kali ketika kain tersebut diangkat hingga tidak lagi menyentuh kulit kita. Informasi dimulainya rangsang dan berakhirnya rangsang menjadi lebih penting ketika kita memakai baju daripada informasi setiap saat ketika kain sedang menempel di kulit kita.

Meskipun otak bekerja dengan cara yang sedikit berbeda dari contoh yang aku paparkan di atas, hasilnya kurang lebih sama; hal yang berulang tidak membuat kita se-excited bertemu dengan hal baru. Dalam konteks kepenulisanku, momen olimpiade yang berulang membuatnya hanya menjadi bisikan semata di otak. Tidak cukup berisik untuk menghentakku menulis.

Namun di sisi lain, aku terlanjur berjanji dengan diriku sendiri untuk harus menambahkan tab cerita seputar olimpiade setiap selepas aku mengikuti OSN atau Pelatnas; like it always has been this whole time. Tentu saja aku ingin menuliskan beberapa momen unik yang hanya muncul dalam Pelatnas TOBI 2017, contohnya. Tapi, aku kesusahan untuk menemukan konteks penceritaan momen-momen tersebut tanpa menjelaskan lebih dulu latar belakang momen tersebut bisa terjadi. Yap, latar belakang tersebutlah yang tidak lagi berkesan buatku. Konsekuensiya, momen yang worth to write menurutku tidak kunjung pula aku tulis.

Lalu, mau sampai kapan aku seperti ini? Mau sampai kapan pikiranku dibayang-bayangi oleh pertanyaan ‘mengapa susah sekali, sih, menulis?’?

Sepanjang hiatusku menulis dari kira-kira bulan Juli sampai November, ada beberapa kejadian yang akhirnya membuatku memperbarui perjanjian dengan diriku sendiri: aku harus tetap menulis. Tapi aku juga boleh menulis dalam bentuk lain selain yang selama ini menjadi rutinitasku.

Kejadian pertama adalah awal kelas 12 ketika aku dan segenap tim olimpiade putri SMA Semesta mengadakan acara makan-makan dan kumpul bersama. OSN 2017 baru saja usai. Setiap dari kami membawa cerita kami masing-masing. Para kelas 12 akhirnya secara bergiliran menuturkan kisah-kisah tersebut. Aku mendengarkan cerita teman-temanku dengan antusias. Aku kagum. Banyak cerita yang tidak pertama kali aku mendengarnya, namun beberapa juga ada yang baru kudengar. Either way, ketika diceritakan dalam konteks seperti itu, semua cerita tersebut begitu inspiratif.

Ketika tiba giliranku bercerita, surprisingly aku bisa bercerita dengan padat dan tidak bertele-tele, namun poin yang ingin aku sampaikan tetap bisa tersampaikan dengan baik. Sebagian dari diriku mulai mengerti. Hei, bukankah bisa saja semua yang sudah aku katakan barusan dengan mudah aku transfer ke dalam bentuk tulisan? Lalu … voila, aku sudah kembali menulis!

Kejadian berikutnya adalah pada Kamis, 9 November 2017 lalu. Dimulai dengan pemanggilan tidak terduga oleh seorang guru, aku dan temanku Dina akhirnya ditunjuk untuk menjadi host suatu acara di sekolahku yang dilaksanakan … pada malam itu juga! Kelabakan, kami buru-buru bersiap. Alhamdulillah, acara bisa berjalan dengan lancar. Kami yang notabenenya minim persiapan juga bisa mengawal jalannya acara tanpa ada kendala apapun. Malah, bisa dibilang acara tersebut berjalan dengan heboh dan sukses.

DSCF8589

First time hosting an event that caliber. It was great!

Yang mengetuk hatiku adalah substansi dari acara itu. Aku dan Dina meng-host Pemutaran Film Mata Jiwa. Sebuah film karya anak muda jebolan Omah Dongeng Marwah yang sedang melakukan tur pemutaran film ke beberapa kota, termasuk salah satunya Semarang. Film tersebut diangkat dari cerpen salah satu adik kelasku di SMP Semesta, Tsaqiva Kinasih Gusti namanya. Ia juga berperan sebagai penulis skenario dan berkontribusi banyak dalam setiap detail pembuatan film.

Ketika aku bilang film tersebut karya anak muda, yang aku maksud adalah benar-benar muda. Keseluruhan kru film terdiri dari anak usia SD hingga SMA. But the quality of the film was … superb. The cinematic vibe of the film is no joke. Pengambilan gambar, akting pemain, penataan suara, semuanya nggak memberi clue kalau itu adalah buatan anak-anak seumuranku. Tentu saja ada beberapa hal yang bisa diperbaiki terutama dalam skenario dan jalan cerita film secara keseluruhan. Namun, overall, eksekusi film tersebut begitu apik.

DSCF8690

Bersama sebagian kru Film Mata Jiwa. You really can not distinguish the crews from the rest of my friends and I 🙂

Aku dan Dina menutup acara dengan menyampaikan konklusi ke penonton.

“Dari film ini, semoga mata kita terbuka, menjadi sadar bahwa usia muda bukan halangan untuk berkarya. Apa kita nggak capek untuk terus-terusan jadi konsumen? Pergi ke bioskop untuk menonton karya orang lain memang menyenangkan dan tidak salah. Namun, sudah saatnya pula kita berpikir ke depan. Sudah saatnya kita menjadi creator.”

Apa yang aku sampaikan ke penonton rasanya berbalik untuk menohok diriku sendiri.

Kapan mulai berkarya lagi, Sal?

Puncaknya adalah malam sebelum hari berikutnya aku menulis blogpost ini. Aku membaca buku karya kak Gita Savitri Devi. Seorang youtuber, blogger, dan influencer. Buku Kak Gita, berjudul ‘Rentang Kisah’, bercerita tentang perjalanan hidupnya. Aku sangat menyukai cara Kak Gita merangkum beberapa potongan kejadian di hidupnya dalam buku yang tidak terlalu panjang, tapi mengena.

Dari buku tersebut, aku membuat keputusan. Aku tidak perlu lagi membuat serial blogpost yang terbagi berdasarkan timeline, yaitu seperti serial-serial yang selama ini telah aku buat. Aku memang membaginya berdasarkan waktu. Contohnya, OSN 2014 khusus menceritakan momen-momen yang aku alami saat OSN tahun tersebut. Untuk OSN berikutnya, kisahnya terdapat pada serial lain. Sekarang, aku akan mengidentifikasi momen penting yang men-trigger excitement untukku dan mengemasnya dalam suatu blogpost yang tematik membahas momen tersebut. Aku juga tidak membatasi blogpost itu hanya akan bergumul dengan satu momen khusus. Aku bebas mengintegrasikan berbagai insight dan mungkin juga pengalamanku yang lain. That’s precisely what I’ve done dalam blogpost yang (sejauh ini) menjadi tulisan terfavoritku: (Masih) Belajar Menjadi Muslim.

Jadi … inilah blog Salsa yang baru. Yang mungkin tidak akan lagi menambah tab di kategori Olimpiade dengan tab khusus untuk satu periode per-olim-an. Tapi, sebagai bagian dari perjanjian baru pada diriku sendiri juga, aku nggak akan membatasi diriku jika di kemudian hari aku mengalami satu rangkaian kejadian yang sangat ‘berisik’ hingga aku membuat satu serial dengan beberapa blogpost mendetail tentang setiap momennya.

Kesimpulannya adalah … I will write. No matter what happen. Because this is one of the very reason of my life worth living. Apabila ada dari pembaca yang memiliki pengalaman kesulitan menulis sepertiku, atau an entirely different story about the struggle of writing, I will be very happy to hear about it on the comment section, my email, or everywhere else you can contact me.

Nah, kan, ternyata satu lagi poin aku dapat: coba saja mulai dulu. Ketika aku mulai menulis tentang ketidakmampuanku untuk menulis ini, otakku sudah mulai terangsang untuk berisik. Momen-momen yang beberapa sudah terkubur cukup dalam mulai merangsak naik ke permukaan. Otakku yang tadinya sunyi senyap sudah mulai hingar bingar. This is precisely the excitement I’ve been waiting for. Whoops, the truth is I should have not been waiting for it. I should have been actively searching and triggering it.

Yap, many lessons learned. Now, let’s unleash all the noise inside my head.

Wassalamu’alaikum!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s