Hafalan Al-Qur’an, Kampus Impian, atau OSN?

Assalamu’alaikum.

Ada dua pertanyaan besar. Pertanyaan yang mungkin akarnya sedikit berbeda. Satu lebih ke’duniawi’an, satunya lagi lebih ke’akhirat’an (aduh, bahasa apapula itu… hehe).

Mana yang lebih penting? Kampus idaman atau OSN?

Mana yang lebih penting? Hafalan Al-Qur’an atau OSN?

Aku bukan berada di pihak yang dilanda dilema tersebut. Tapi, aku mendengar (atau juga membaca) penuturan dari mereka yang benar-benar merasakan kegalauan membagi fokus. Para kelas 12 yang memandang ke depan; tidak lagi melihat Pelatnas adalah sesuatu yang menjajikan. Para hafidz, hafidzah, maupun calon hafidz dan hafidzah; mempertanyakan harga sekeping medali dibanding hafalan Al-Qur’an yang mati-matian mereka jaga dan tingkatkan.

Mari kita tengok pertanyaan pertama terlebih dahulu. Memang, OSN itu menyita waktu. Dan memang, piagam OSN tidak seberharga itu untuk mengantar pemiliknya menuju perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. Kalaupun ada yang langsung menerima, pasti mensyaratkan kesesuaian mata pelajaran yang tertera di piagam OSN dengan jurusan yang akan diambil. Sayangnya, lebih banyak anak OSN yang ingin masuk kedokteran dan teknik. Sedangkan, Biologi tidak dihitung ‘sesuai’ dengan jurusan kedokteran, pun Kimia tidak ‘sesuai’ dengan Teknik Kimia.

Jika mempertanyakan kebijakan tersebut ke perguruan tinggi di seluruh Indonesia, tentu pertimbangannya banyak. Rasanya riskan untuk menuntut lebih dari pihak-pihak luar. Akhirnya, anak OSN harus menyelesaikan masalah tersebut sendiri. Terutama mereka yang sudah memasuki tahun terakhir di SMA. Apa yang telah mereka dalami selama beberapa tahun terakhir di SMA, harus mereka lepas dan berganti fokus menjadi apa-apa yang akan meningkatkan nilai di rapor untuk SNMPTN ataupun diujikan di SBMPTN.

Nah, hal ini semakin terasa menyusahkan di Pelatnas. Untuk para kelas 12, mendapat medali internasional pun tidak akan berpengaruh untuk aplikasi masuk perguruan tinggi. Karena … well, jadwal olimpiade internasional adalah pertengahan tahun. Sudah terlewat berbulan-bulan dari tenggat aplikasi SNMPTN, bahkan pengumumannya, termasuk ujian-ujian masuk universitas yang lain, sudah keluar! Singkatnya, pertengahan tahun, seharusnya para kelas 12 sudah menggenggam kepastian tempat mereka melanjutkan pendidikan.

Jadilah, Pelatnas menjadi prioritas kesekian untuk para kelas 12. Beberapa malah menolak undangan Pelatnas sejak awal.

Lalu … bagaimana menurutku?

Aku … entahlah. Aku belum berada di posisi mereka, dan kalaupun aku sudah kelas 12, kelihatannya jurusan tujuanku sesuai dengan bidang OSN yang kuambil. Namun, aku bisa mengerti dan memaklumi mereka. Nggak semua orang yang terlihat senang belajar batuan ketika SMA, memang akan jadi geolog. Malah mereka mengincar tempat di Fakultas Kedokteran. Bisa saja ada seseorang yang sibuk dengan kurva-kurva permintaan dan penawaran semasa SMA, nyatanya lebih ingin berkutat dengan komputer untuk masa-masa kuliahnya.

Kesimpulannya …

The shifting of focus. (Istilah yang kuramu sendiri, hehe) Memang sebuah keniscayaan.

Dan, tidak. Bukan berarti semua ilmu yang mereka dapat dalam jungkir-balik usaha selama belajar OSN akan terbuang sia-sia. Aku yakin, generasi-generasi ‘mantan OSN suatu bidang’ yang menyelam ke dalam bidang-bidang lain, akan melahirkan pribadi-pribadi unik dengan pengetahuan ‘campuran’ yang sangat menarik. Tadi, si mantan-calon-geolog-akhirnya-dokter, bisa saja menjadi yang paling ahli mengambil keputusan saat ia menjadi bagian dari tim penyelamat yang diturunkan di daerah bencana tsunami dengan ancaman gempa susulan yang masih menghantui. Tadi, si mantan-calon-ekonom-akhirnya-computer engineer, bisa saja menjadi creator suatu software penelaah peristiwa-peristiwa ekonomi yang mutakhir.

Because I believe, I really do. No knowledge will be wasted. Tidak ada pengetahuan yang akan terbuang percuma 🙂 .

Baiklah, konsekuensi-konsekuensi lain tentu saja menyertai. Pengunduran diri medalis OSN dari Pelatnas memang sedikit mengecewakan beberapa pihak. Tapi, aku mendukung apapun keputusan orang lain yang telah mereka pikirkan matang-matang. Tentunya mereka telah mempertimbangkan segala konsekuensi dibalik keputusan tersebut.

Namun, lain halnya ketika aku mendengar kekhawatiran tidak mendapat jurusan maupun universitas yang diidamkan, gara-gara OSN, dari mulut para kelas 9. Sem. Bi. Lan. Es. Em. Pe.

“Kak, denger-denger medali OSN itu nggak begitu berguna ya untuk kuliah?” tanya seorang anak kelas 9 padaku. Saat itu, kami sedang menikmati makan malam. Esoknya, kami akan menerima penghargaan dari Provinsi Jawa Tengah karena telah meraih medali di ajang OSN. Jadilah aku bertemu banyak adik-adik medalis yang sudah kukenal sejak sebelum OSN.

“Iya, memang. Jangankan OSN, medali internasioal aja, ketika dapatnya pas kelas 12 akhir, kan kehitungnya udah lulus tuh. Jadi ya, nggak guna. Kecuali kalau mau gap year, nunggu tahun depan untuk apply ke universitas, baru berguna.” Aku memaparkan fakta.

“Oh … gitu. Jadi baiknya SMA fokus buat kuliah aja ya kak?” ucapnya lagi.

“Iya, ya. Mending ngejar undangan,” yang lain menambahkan.

Deg. Entah kenapa, hatiku langsung terusik. Fokus kuliah aja? Mau mengejar undangan?

Aku mendengar penuturan itu dari anak-anak kelas 9 yang, notabenenya, masih memiliki tiga tahun untuk memikirkan kuliah. Wah, mereka sangat visioner sekali, ya!

“Tapi ya, nggak usah dipukul rata gitu juga, sih. Memang ada, beberapa kasus yang … yaah, bukan ‘sulit’ cari kuliah sih, cuma mungkin sedikit ‘menantang’. Tapi banyak juga yang relatif mulus-mulus aja. Pada akhirnya, tujuan OSN kan bukan cuma buat dapat medali.” Jelasku sambil menyertakan cengiran lebar di akhir.

“Iya sih, kak. Pengalamanya juga ya …” mereka menggangguk-nganggukkan kepala.

“Nah, itu dia. Pengalaman! Ilmu! Teman! Tiga hal itu berharga banget.” Ujarku sumringah.

Percakapan itu membuatku berpikir keras.

Aku tahu, manusia secara fitrah memiliki ketakutan untuk apa yang tidak mereka mengerti. Dan, salah satu misteri terbesar dari kehidupan manusia adalah: masa depan. Wajar bagi manusia untuk ingin mencari rasa aman, dengan menyusun rencana seterperinci mungkin, dengan memilih jalan paling tidak beresiko, dengan mengikuti arus yang kebanyakan orang lain ambil. Rasa aman itu, entah bagaimana caranya, teramat ingin kita raih.

Namun, aku ingin kita sama-sama tidak lupa. Ada tempat mencari rasa aman yang paling paripurna. Jika kita takut akan masa depan, maka berpeganglah lebih erat kepada yang menciptakan masa depan itu sendiri; Allah.

Tiga tahun masa SMA, mungkin akan berlalu sekejap saja. Namun, dalam waktu yang singkat itu, bisa saja Allah telah berkali-kali membukakan pintu kesempatan menuju pengalaman-pengalaman berharga. Jalan yang terlihat terbaik untuk kita, bisa jadi sebenarnya membelokkan kita dari jalan lain yang lebih Allah berkahi. Aku ingin kita sama-sama tidak membatasi rahmat Allah. Ikut OSN, bisa kok masuk PTN.

Namun, bukan itu intinya. Menjadi manusia bermanfaat, itu intinya. Dan OSN, adalah satu dari sekian banyak cara memanfaatkan titipan Allah berupa otak dan akal untuk berpikir. Tidak masalah untuk tidak mengikuti OSN saat SMA. Asalkan, banyak hal-hal bermanfaat lain yang kita lakukan. Tidak masalah untuk fokus mengejar PTN impian. Asalkan, kita tidak menutup diri dari berluas-luas kemungkinan lain yang Allah tebarkan di muka bumi ini.

Percayalah, kemungkinan tersebut lebih luas dari sekedar mengejar nilai bagus di sekolah dan masuk PTN lewat undangan. Percayalah, untuk masuk PTN nggak cuma lewat undangan, pun PTN bukan satu-satunya universitas yang ada, pun kuliah bukan satu-satunya pilihan #loh. Hehe.

10-universitas-terbaik-di-indonesia

Karena banyak jalan menuju Roma. Dan … hei, selain Roma pun juga banyak!

Selanjutnya, mari kita bahas tentang; apa yang kita cari di hidup ini?

Lewat pertanyaan kedua, aku dibuat lebih berpikir keras. Belum lama yang lalu, aku mendapat sebuah surel dari kawan yang ‘pernah menghafal 30 juz’ dan ‘bersumpah dengan nama Allah untuk mempertahankan hafalan’. Kawan ini mengutarakan kekhawatirannya melanggar sumpah tersebut apabila membagi fokus untuk belajar OSN.

… menghafal Qur’an memang sunnah, tapi menjaga yang pernah dihafal adalah wajib.  Dan sifat hafalan Qur’an itu … Subhanallah, mudah sekali lepasnya, seakan cemburu kalo kita pindah fokus :”). Begitu Disya, kawanku itu, mengawali penuturannya.

Bukankah OSN tidak wajib? Dan dengan meninggalkannya aku bisa lebih maksimal dalam menghafal? Sungguh aku tahu sumpahku bukan main main. Aku takut, Sal :”). Pernah aku coba mengutarakan niat melepas OSN ke orangtua, memang mereka tidak memaksa, tapi ekspresi kecewanya jelas sekali terlihat di muka mereka. Nggak kuat aku lihatnya, Sal. :”)

Ditambah, Disya telah mendapat dukungan dari kawan-kawannya sesama pejuang OSN untuk tidak melepas OSN. “Ini kesempatan terakhirmu, Dis! Dan kamu udah tiga kali lolos OSP, lho!”

Tapi, Sal, aku bener-bener udah nggak bisa melihat betapa berharganya medali OSN, jika memang untuk mendapatkannya aku melanggar sumpahku. Toh apa artinya sih sekeping logam yang dikalungkan itu, kelak di akhirat? Apakah ia akan bisa membantuku, ataukah ia hanyalah perhiasan dunia? Tapi sekali lagi, sakit sekali rasanya, ketika mengingat ekspresi kekecewaan dari orang tuaku, kalau aku berhenti memperjuangkan OSN. Maka aku mencoba, Sal, untuk memaksimalkan ketiganya; akademis, hafalan, dan OSN.

Sayangnya, jadwal yang Disya buat untuk memaksimalkan ketiga hal tersebut berujung pada fisiknya yang tidak mampu, energinya terkuras.

Lalu aku harus gimana … untuk bisa tetep memperhatikan akademik, untuk bekal SBMPTN yang jelas tidak mudah, tanpa melanggar sumpahku untuk maksimal dalam menghafal Qur’an, tanpa mengecewakan orangtua dan teman-teman dan guru-guru dan sekolahku dengan menjadi peraih medali OSN …

Membaca penuturan Disya itu, aku begitu tersentuh. Aku begitu iri. Aku begitu malu. Rasanya, seperti ada yang berteriak keras-keras ke hadapan mukaku; lihat, Sal, begitu banyak remaja yang sibuk menghafal Al-Qur’an. Lalu, apa yang kamu lakukan?

membaca-alquran

Aku bisa melihat Disya adalah seorang gadis berhati baik yang tidak ingin mengecewakan siapapun. Tidak mengecewakan Allah, orangtua, guru, teman, sekolah …

Dengan sedikit (banyak, sebenarnya) perasaan minder untuk menjawab, aku utarakan apa yang menurutku harus aku sampaikan kepada Disya, kawanku yang berhati lembut itu.

Wa’alaikum salam Disya …

Disya yang dirahmati Allah, hafalan Al-Qur’an itu suatu titipan dari Allah yang benar-benar berharga. Tentu kamu sudah khatam dengan segala keutamaan menghafal Al-Qur’an dong, yaa. Nyatanya, aku, yang notabene masih cetek banget hafalan Al-Qur’annya, selalu menyimpan rasa iri yang mendalam kepada orang-orang seperti kamu. That being said, aku ingin mengutarakan ini padamu; utamakanlah Al-Qur’an, in syaa Allah apapun yang di dunia (dan di akhirat juga) akan mengikuti 🙂

Nah, meng’utamakan’ disini maksudku, adalah menyusun prioritas; Al-Qur’an pertama, kemudian baru OSN dan akademis sekolah, dengan urutan yang hanya kamu yang bisa menentukan. Yap, tidak perlu melepas OSN 100%. Aku percaya, OSN itu adalah salah satu jalan untuk menuntut ilmu, dan dari menuntut ilmu itu kita bisa semakin mengungkap kebesaran Allah. Menghafal Al-Qur’an dan mempelajari tentang alam semesta adalah kombinasi terbaik untuk belajar Al-Qur’an itu sendiri, Disya. Bayangkan, kamu bisa mempelajari ayat-ayat qauliyah sekaligus kauniyah!

Memang benar, medali bukan tujuan utama. Medali bukan alasan. Melainkan, medali adalah target. Mari kita tunjukkan pada dunia bahwa muslim juga bisa! Dengan prestasi, kesempatan kita untuk menginspirasi banyak orang menjadi semakin terbuka. Memanfaatkan medali sebagai jalan dakwah, in syaa Allah, akan membuat medali itu tidak sekedar menjadi perhiasan dunia.  

Kamu hanya perlu membatasi dirimu untuk nggak ‘ngoyo’ belajar untuk OSN. Tetap ikuti OSK, dan kalau (Aamiin) lolos, ikutilah OSP, dan kalau Allah berikan kesempatan lanjut, tetap ikuti sesuai alurnya. Aku yakin kamu pasti ada perasaan ‘aneh’ karena kamu mengikuti kompetisi yang waktumu tidak ditujukan 100% untuk menyiapkannya. Tapi, itu merupakan jalan tengah terbaik.

Lewat Al-Qur’an, Allah memberikan rahmat, dan rahmat itu bisa saja dalam bentuk yang tidak terduga. Boleh jadi Allah akan memudahkanmu hingga meraih medali, boleh jadi Allah memberikan rahmat dalam hal lain yang samasekali tidak terbayangkan sebelumnya. Kenyataannya adalah, pun jika kamu nggak sedang dalam keadaan mempertahankan hafalan, nggak ada yang menjamin belajar mati-matian dengan fokus 10000% untuk OSN akan berbuah medali. Aku sudah menyaksikan sendiri banyak orang yang secara pemikiran manusia dia seharusnya sangat eligible untuk mendapat medali, tapi ternyata menjadi peserta OSN saja tidak tercapai.

Intinya, belajar OSN sambil menghafal Al-Qur’an, belajar OSN sambil mengejar akademis sekolah, belajar OSN sambil sibuk berorganisasi, belajar OSN sambil membantu orangtua, bahkan HANYA belajar OSN saja, tidak ada yang menjamin medali di tangan, kok. Semua kembali kepada Allah; apa yang menurut-Nya terbaik untuk kita, hamba-hamba-Nya.

Sungguh, tujuanku untuk mengikuti OSN adalah, aku ingin menjadi orang-orang berilmu yang Allah tinggikan derajatnya. Ada perasaan ketakutan dihatiku, bahwa segala tulisanku di blog, akan membawa orang untuk terpacu mengikuti OSN, ‘biar dapet medali kayak Salsa’. Padahal, yang ingin aku bagi ke semua pembacaku adalah; manfaatkan titipan Allah sebaik mungkin. Titipan otak, untuk belajar ilmu bermanfaat. Maka dari itu, OSN adalah ajang penyaluran yang baik. Selain OSN? Banyak!

Malah, kalau dipikir-pikir, benar juga katamu. Medali OSN mah apa atuh dibandingkan mahkota bersinar untuk orangtua di syurga kelak ^__^ Iya nggak? Hehe.

Percayalah, ketika kamu letakkan Al-Qur’an dihatimu, dan kamu mengikuti segala seleksi OSN dengan menyerahkan diri sepenuhnya ke Allah; you really have nothing to lose. Apapun hasilnya, kamu nggak akan rugi apa-apa, Disya ^__^

Semoga Allah memberi hati Disya ketenangan ya. Semoga Allah memudahkan jalanmu. Sesungguhnya Allah adalah yang Maha Membolak-balikkan Hati, maka aku berdoa semoga orang tua, guru-guru, teman-teman, sekolah Disya, dan seluruh makhluk Allah di langit dan bumi turut berbangga melihat usaha Disya mengutamakan Al-Qur’an dan mengiringinya dengan menuntut ilmu lewat OSN. Aamiin ya robbal ‘alamiin.

Semangat terus ya, Sayaang. Sekali lagi, aku iri deh sama kamu 😉

Love ❤                                                

Wassalamu’alaikum

Kembali ke pertanyaan sebelumnya; apa yang kita cari di hidup ini?

Ayo, kita bersama-sama mencari ridho Allah. Dengan menjadi orang yang bertakwa; menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ayo, kita maksimalkan potensi yang kita punya untuk menegakkan risalah Islam di bumi Allah ini. Ayo, kita manfaatkan segala titipan Allah untuk kemaslahatan umat. Ayo, kita menuntut ilmu; agar menjadi lebih tinggi derajat kita di mata Allah.

Sesungguhnya aku pun masih terus belajar. Maka,

Ayo, kita selalu saling mengingatkan!

Aku mencintai kalian karena Allah, wahai saudara-saudaraku, Muslimin dan Muslimat. Semoga sekelumit tulisan ini bisa mengobati rasa galau beberapa pembaca, ya! Hehe. Eh, koreksi. Semoga sekelumit tulisan ini bisa menjadi perantara obat kegalauan dari Allah untuk pembaca, ya! Karena, sesungguhnya, Allah lah yang Maha Membolak-balikkan Hati, dan dengan mengingatkan Allah lah hati kita menjadi tenang 🙂

Wassalamu’alaikum

Advertisements

12 thoughts on “Hafalan Al-Qur’an, Kampus Impian, atau OSN?

  1. Sal bedanya belajar OSN sambil ngafal Qur’an.. Sama ngafal qur’an sambil belajar OSN apa ??

    • Hm, kelihatannya kalau yang diucapkan pertama kali lebih diutamakan, yang diucapkan kedua hanya ‘menyela’ yang pertama. Tapi, kalau dilihat dalam konteks tulisanku, dua-duanya sama saja kok. Belajar OSN sekaligus menghafal Al-Qur’an …

  2. bagaimana anda sebagai seorang ilmuwan biologi, mempercayai al quran dan evolusi

    • Maaf sebelumnya, tapi perlu saya perjelas lagi bahwa disini saya masih berstatus siswa; kelas 2 SMA, berumur 17 tahun, yang mempelajari Biologi dari textbook, jurnal, serta sumber-sumber lain. Sedangkan predikat ‘ilmuwan’ seperti yang Anda bilang, masih terlalu jauh untuk disematkan kepada saya. ‘Ilmuwan’ adalah mereka yang aktif meneliti dalam bidang keilmuwan tertentu. Tentunya mereka sudah melewati pendidikan yang cukup mendalam akan bidang yang menjadi bahan risetnya. Saya sama sekali bukan ‘ilmuwan biologi’.

      Mengenai Al-Qur’an dan evolusi, saya pun tidak bisa berbicara banyak. Dalam artian, saya akan mengatakan Al-Qur’an memiliki kebenaran 100%, tapi saya tidak akan berbicara lebih untuk evolusi, karena saya menyadari saya belumlah memiliki ilmu yang cukup untuk memaparkan ‘kesalahan’ dalam teori evolusi.

      Saya juga berharap kita saling mendoakan, supaya segala usaha kita menuntut ilmu akan berujung pada meningkatnya iman kita. Sekaligus saya juga memohon doa Anda serta saudara Muslim sekalian, supaya saya (dan Anda, kita semua) selalu ditunjukkan jalan yang lurus.

      Saya memang menggunakan sumber belajar yang berasal dari para evolusionist. Tapi percayalah, untuk meng-counter suatu pernyataan, kita juga harus sudah membawa bekal yang banyak. Namun, in syaa Allah, iman dihati selalu berusaha saya perkuat.

      Semoga Allah mengampuni semua kelalaian kita, Aamiin YRA.

  3. Masyaallah dek, kamu luar biasa.

  4. MasyaAllah dek.. inspiring banget, semoga sukses selalu ya, banyak belajar dari tulisan tulisan kamu😊

  5. luarbiasa kak!,

  6. luarbiasa kak!,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s