Tentang Rasa, Asa, dan Cita (Jilid 1: Bagian 2)

Assalamu’alaikum!

Sebelum membaca bagian ini, silakan membaca Bagian 1 terlebih dulu 🙂

Setiap orang memiliki alasan dibalik hal yang dia lakukan. Salah satu tahap menuju pribadi yang lebih dewasa adalah, mencoba untuk melihat hidup dari kacamata orang lain. Supaya tumbuh rasa simpati sekaligus mengurangi keegoisan diri. Semoga teman-teman pembaca mendapat pesan tersebut setelah membaca kisah ini 🙂

Happy reading!

——

“Assalamu’alaikum.” Ari membuka pintu rumahnya perlahan sambil mengucap salam. Ia melepaskan sepatunya dan meletakkannya dengan rapi di atas rak sepatu. Dari dalam rumah, terdengar sayup-sayup suara ibunya membalas salam.

“Ari, makan malam sudah siap, Nak. Ibu masak udang goreng favorit kamu, lho.” Wanita yang telah tidak muda lagi itu datang menghampiri Ari. Ari mengecup punggung tangan ibunya dengan penuh rasa sayang.

“Iya, habis ini Ari makan, Bu. Tapi Ari ingin bertemu Ayah dulu. Apa Ayah sedang tidur?”

“Enggak, kok, baru saja minum obat.” Jawab Ibu Ari.

Ari melangkah menuju kamar ayahnya. Ia masuk ke dalam sambil berusaha tidak membuat keributan. Begitu ia berada di dalam, bau khas obat-obatan merasuki penciumannya. Kamar yang tidak terlalu luas itu telah berubah menjadi miniatur rumah sakit. Ari mengitarkan pandangannya ke sekeliling. Infus, tabung oksigen, segelas air minum yang isinya tinggal setengah, setumpuk kertas hasil pemeriksaan dokter … Di tengah ruangan, terbaring Ayah Ari yang terlihat sangat lemah. Matanya terpejam, tapi Ari tahu ia masih terjaga.

“Assalamu’alaikum, Yah.” Sapa Ari lembut sambil mengambil duduk di sebelah kasur ayahnya.

“Wa’alaikum salam. Wah, Cantikku sudah pulang sekolah,” mata Ayah Ari terbuka perlahan. Mata itu abu-abu dan terlihat sayu. Sorot mata yang menampakkan sakit dan derita. Kalau boleh jujur, Ari memilih untuk memandang mata ayahnya dua tahun yang lalu saja. Saat Ayah Ari masih gagah perkasa dan memancarkan semangat hidup. Saat … Ayah Ari belum terkulai lemas akibat kanker paru-paru yang menggerogoti tubuhnya, seperti saat ini.

“Gimana kabar Ayah? Kalau nggak salah dokter kasih obat baru lagi, ya?”

“Yah … begini.” Ayah Ari menampakkan senyuman tipis. “Iya, obat Ayah ada yang baru lagi. Makin mahal, harganya, Nak. Makanya, Ari, kamu belajar yang rajin, ya. Kalau sudah besar, jadi dokter. Kamu harus mengingatkan sebanyak mungkin orang untuk nggak melakukan kesalahan yang Ayah lakukan.”

Ada perasaan mengganjal di hati Ari. Kebiasaan itu terulang lagi. Setiap Ari menghampir ayahnya dan membahas penyakit yang beliau derita, ia selalu mendapat pesan yang sama; jadilah dokter, jangan biarkan orang lain merasakan apa yang Ayah rasakan.

Rokok. Ari mengetahui hal itu dengan pasti. Di masa mudanya, Ayah Ari adalah perokok berat. Hal itu telah berakhir sejak dua puluh lima tahun yang lalu. Namun, efek buruk dari benda itu baru menampakkan taringnya dua tahun belakangan.

“Siap, Ayah! Nilai Ari selalu bagus, kok, pasti bisa dapat beasiswa untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Jaya Negara,” Ari berkata mantap di hadapan ayahnya. Kata-kata itulah yang selalu ia ulangi untuk menanggapi pesan tersebut. Dan, Ayah Ari akan mengangguk dengan bersemangat melihat kesungguhan Ari, sama juga seperti saat ini.

Malam itu, Ari tidak bisa memejamkan mata. Berbagai posisi tidur telah dicobanya. Tapi, pikirannya selalu kembali ke percakapan dengan Keke sore tadi.

“Hal yang menjadi motivasimu selama ini, tampaknya berubah menjadi beban.”

“Apa aku harus menceritakanmu semua ini, Ke? Penyakit Ayah, keinginannya untuk aku menjadi dokter, Ibu yang pontang-panting menjadi kepala keluarga … bagaimana bisa itu semua tidak menjadi beban untukku?” sebutir air mata keluar dari ujung mata Ari. Tak lama kemudian, ia terisak. Ia menangisi dirinya sendiri. Ia menangisi sikapnya selama ini yang teramat keras kepala untuk mendapat nilai sempurna.

Perlahan, pikiran Ari melayang ke kejadian dua tahun yang lalu. Ari adalah seorang siswi kelas 8 SMP yang ceria dan sangat mensyukuri hidupnya. Di pandangan Ari saat itu, hidupnya betul-betul sempurna. Ia seorang anak tunggal. Di rumah, hanya ada Ibu yang setia menemani, Ayah pun kerap sibuk bekerja. Namun, keluarga Ari selalu punya waktu bersama-sama untuk sekadar berbagi cerita. Jika anak remaja di keluarga lain merasa jengah berada di dekat orang tua mereka yang terkesan otoriter dan tidak pengertian, kedua orangtua Ari sama sekali jauh dari itu. Ari bisa bebas bercerita apapun, layaknya kepada teman sendiri. Ayah dan Ibu, adalah dua orang yang menjadi sahabat terdekat Ari di hidupnya. Ari merasa ia adalah anak paling beruntung sedunia.

Lalu, hari itu datang. Hari dimana Ayah dikabarkan tidak sadarkan diri secara tiba-tiba di kantornya. Ayah mengaku ia hanya kelelahan. Namun, hal itu sudah cukup mengherankan bagi Ari dan Ibunya. Ayah adalah pria yang kuat, tapi kenapa belakangan ini sering tampak lesu dan tak bersemangat? Keadaan makin parah ketika Ayah mulai sulit bernafas dan sering batuk sampai mengeluarkan darah. Berbekal internet, Ari bertekad mengungkap penyakit apa yang kira-kira menyebabkan gejala seperti itu. Ari masih sangat ingat, bulu kuduknya meremang ketika ia mulai mengaitkan gejala yang Ayah derita sekarang dengan fakta bahwa Ayahnya adalah mantan perokok berat.

“Kanker paru-paru … stadium 3, dok?” Ibu Ari ditemani Pakde Toni, kakak laki-laki Ibu, menerima hasil diagnosis dari dokter dengan setengah tidak percaya. Ari sudah mengkhatamkan banyak artikel kesehatan mengenai kanker paru-paru. Tanpa mendengar penjelasan dokter, Ari sudah tahu bagaimana kira-kira keadaan Ayahnya, perlakuan medis yang menjadi opsi, sampai kemungkinan untuk sembuh.

“Dokter Dodi,” Ari mengejar dokter yang menangani Ayahnya selama ini di koridor rumah sakit. Dokter yang sudah cukup berumur itu menoleh. Pembawaannya yang kebapakan langsung membuat Ari nyaman. “Ayah … nggak mungkin sembuh, kan?” Ari memaksakan kata-kata itu keluar dari kerongkongannya yang tercekat setiap kali ia harus membahas topik tersebut.

“Tidak ada yang tidak mungkin, Adik.” Jawab Dokter Dodi dengan suara rendahnya yang khas.

“Tapi, dok … saya sudah banyak baca … Stadium 3 itu bukan sesuatu yang mudah untuk diobati. Sel-sel kanker pada stadium 3, meskipun belum menyebar ke seluruh bagian tubuh, tapi sudah melibatkan organ-organ lain yang dekat dengan paru-paru. Maka dari itu, susah untuk dilakukan operasi. Mungkin bisa kalau sebelumnya dilakukan kemoterapi dan radioterapi, tapi kemungkinan untuk sembuh total tetap sangat kecil …” Ari menghentikan kata-kata yang seakan menyembur tanpa jeda itu. Ia bisa merasakan air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia memandang Dokter Dodi dengan rasa malu. Barusan, ia berbicara hal tentang penyakit kanker yang ia pelajari dari internet di depan dokter ahli yang telah berpengalaman puluhan tahun. Ri, kamu barusan sok tahu banget, rutuk Ari dalam hati.

Namun, Dokter Dodi yang Ari duga menjadi kesal dengan dirinya, malah tersenyum lembut. “Ckck … kamu anak yang pintar. Sini dokter kasih tahu rahasia sesuatu,” Dokter Dodi membuat gestur agar Ari mendekat. Masih sambil berusaha menahan rasa malu, Ari melangkah. “Salah satu yang mendukung perawatan adalah pengetahuan keluarga pasien mengenai penyakit yang diderita pasien tersebut. Yang kamu katakan benar, Ari, saya tidak menyanggah satu pun pernyataan kamu. Justru saya ingin mengatakan; saya bangga padamu. Ayah Ibumu juga pasti bangga. Tetaplah jadi anak yang haus akan ilmu pengetahuan. Dengan begitu, kamu menjadi orang yang sangat membantu keluargamu dalam memutuskan berbagai pilihan perawatan. Satu lagi. Kamu pasti banyak membaca statistik tentang harapan hidup penderita kanker. Saya hanya ingin kamu menanamkan ini. Bahkan ketika pasien memiliki 1% peluang untuk bertahan hidup, yakinlah, Allah selalu bisa mewujudkan apabila pasien tersebut memang menadapat peluang sebesar 1% itu.” Dokter Dodi mengakhiri petuah panjang yang tidak pernah Ari lupakan barang sepatah kata pun.

Sejak saat itu, hidup Ari berubah total. Keluarga Ari harus merelakan mobil beserta barang-barang berharga mereka dijual, demi menutupi biaya pengobatan Ayah Ari. Bersyukur, Ari punya keluarga besar yang sangat peduli. Tentu saja, terkadang Ari merindukan hari-hari saat ia bebas memasukkan berapapun buku ke kantong belanja ketika berjalan-jalan  ke toko buku favoritnya. Tapi, melihat Ibu yang sangat tegar menghadapi semua ini, keinginan Ari untuk sekedar mengeluh pun segera menghilang tak berbekas.

“Hehe, Ayah gundul.” Komentar Ari jenaka melihat keadaan Ayahnya pasca kemoterapi untuk pertama kali.

“Ah, masa? Masa iya gundul? Pantesan tadi Ayah coba nyisir rambut, kok sakit … ternyata sisirnya langsung kena kulit kepala,” balas Ayah Ari tak kalah jenaka. Ari tertawa renyah. Ayahnya memang tidak berubah.

“Ayah tahu nggak … kenapa habis kemoterapi bisa jadi gundul?”

“Kenapa coba? Ayo Bu Guru silakan mulai lagi pelajarannya,” ucap Ayah Ari. Lagi-lagi Ari tertawa. Ia memang sangat sering menguliahi Ayahnya sendiri belakangan ini mengenai kanker dan segala hal tentang perawatan.

“Jadi, kemoterapi itu obat yang ditujukan untuk membunuh sel-sel kanker. Ari udah sering jelasin kan, kalau sel kanker itu sel-sel nakal yang nggak mau berhenti membelah, padahal bukan tempat dan waktunya dia untuk membelah! Nah, obat itu memang ditargetkan ke sel-sel yang aktif membelah. Sayangnya, sel-sel lain bukan kanker yang juga sering membelah, yaitu sel-sel di bakal rambut Ayah, ikut kena imbasnya, deh. Kasian, Yah. Dia kayak kecipratan nggak enaknya gitu …” jelas Ari.

Ayah Ari mangut-mangut. “Udah sana, besok nggak usah masuk ke sekolah ya Ri, langsung ke Fakultas Kedokteran aja. Udah tahu banyak banget gitu, langsung bisa praktek sekalian kali, ya?”

“Ayah, ih …” Kemudian tawa pun pecah.

Ari sempat berpikir, Ayah Ari mungkin orang sakit yang paling menghibur di muka bumi ini.

Ari mengerjapkan mata. Ia sadar pikirannya telah melanglang buana selama beberapa menit terakhir, namun ia pun tidak juga bisa tertidur. Ingatan pahit perseteruannya dengan Keke di sekolah tadi kembali menghantam dirinya.

“Tapi … mau bagaimana lagi …” Ari bersuara parau. Ari tahu betul, dengan keadaan ekonomi keluarganya sekarang, satu-satunya jalan baginya untuk menjadi dokter adalah dengan beasiswa Universitas Jaya Negara. Universitas dengan Fakultas Kedokteran terbaik se-Indonesia itu membuka seleksi beasiswa untuk 10 orang terbaik setiap tahunnya. Ari juga tahu, persaingan untuk mendapatkan 10 kursi itu teramat sulit. Ia masih duduk di kelas 10, tapi ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri. Aku akan mencapai nilai sempurna. Aku akan mendapatkan beasiswa itu. Dan aku akan membuat Ayah bangga, bahkan jika itu hal terakhir yang bisa aku lakukan untuknya.

——

Ari duduk di kursi penonton lapangan basket indoor sekolahnya. Ia merasa tidak nyaman. Ia tidak pernah memasuki lapangan ini diluar jam pelajaran olah raga. Apalagi saat sepulang sekolah, ketika anak-anak basket sedang sibuk berlatih. Tempat yang tidak strategis untuk belajar langsung tercoret dari agendanya.

Ari mendengus sebal. Sudah satu jam ia menunggu. Sudah lima puluh soal Kimia kelas 11 ia selesaikan. Keke tak juga selesai berlatih. Karena bosan, Ari meletakkan buku latihan soalnya dan mulai menaruh perhatian benar-benar ke arah lapangan. Tim basket sekolah Ari memang terkenal dan penuh prestasi. Basket sudah menjadi kebanggaan sekolah. Dari seluruh siswa kelas 10 hingga kelas 12, mungkin hanya Ari yang tidak pernah menonton sekalipun tim basket sekolah bertanding. Menurutnya, menjadi supporter tim sekolah tidak ada manfaatnya; harus berdesak-desakkan, menghabiskan waktu kurang lebih dua jam yang sebenarnya bisa untuk belajar, dan semangat dari penonton pun tidak seberpengaruh itu untuk kemenangan tim.

Ia melihat anak-anak basket sibuk berlari, menghadang gerakan lawan, berebut bola … Ia melihat bola dilempar ke sana kemari, ia melihat seseorang dengan gesit menangkap bola dari kawan satu timnya, kemudian menembakkan bola itu dari tengah lapangan ke arah ring. Masuk!

Secara tidak sadar, Ari tersenyum dan bertepuk tangan. Keke memang hebat!

“Keren, kan, Keke?”

Ari tersentak mendengar suatu suara di dekatnya. “Eh, I … iya,” Ari kebingungan mendapati Tama tiba-tiba berada di sebelahnya.

“Lucu juga, lihat kamu di tempat kayak gini. Sambil bawa buku Kimia, lagi.” Komentar Tama sambil menyunggingkan senyum.

“Lucu darimana?” Ari membalas ketus. Sebenarnya, ia tidak berniat begitu. Hanya saja, Tama adalah orang terakhir yang ingin Ari temui saat ini. Dia kan, sedang dalam misi mengalahkan orang yang ada di hadapannya sekarang.

Anyway, aku memperhatikan. Sejak beberapa hari yang lalu, kamu mengikuti Keke kemana-mana terus, kan? Kelihatan banget, ada sesuatu yang mau kamu bicarakan ke dia, tapi kamu selalu menahannya.” Jelas Tama.

Ari menelan ludah. Ia tidak menyangka Tama memperhatikan hal tersebut. Ari memang ingin bertemu dengan Keke, membujuknya untuk kembali meneruskan kegiatan belajar mereka. Nilai Ari masih menjadi taruhannya. Kali ini, ia sudah siap mengalah untuk mengikuti jadwal Keke. Tapi, ia selalu gagal mengumpulkan keberanian untuk berkata-kata. Apa jangan-jangan Tama juga tahu tujuanku mengalahkan nilainya? Ari menggigit bibir.

“Nah kan, kayaknya kamu memang harus latihan ngomong, deh, Ri. Diam terus daritadi. Ya udah deh, aku pergi dulu. Cuma satu pesanku; coba saja ceritakan yang sebenarnya, dia pasti mengerti.” Tama pun berlalu meninggalkan Ari yang kebingungan setengah mati.

Jangan-jangan … Tama beneran tahu? Cerita yang sebenarnya … cerita apa?

——

Hari Sabtu untuk keluarga Ari bukanlah hari yang menyenangkan. Mereka akan menuju ke rumah sakit untuk kemoterapi Ayah Ari. Namun, hari Sabtu kali ini sedikit berbeda. Ayah Ari dirujuk ke rumah sakit lain.

Rumah sakit yang baru kali pertama Ari datangi itu terlihat lebih besar dari rumah sakit sebelumnya. Ari mendorong kursi roda ayahnya menuju ruang tunggu, sementara Ibu Ari mengurus adminitrasi. Beberapa saat kemudian, Ayah Ari dipanggil masuk ke sebuah ruangan. Ibu ikut masuk untuk mendampingi Ayah, sedangkan Ari tetap di ruang tunggu.

Ari memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit. Baru beberapa langkah menuju pintu yang mengarah ke sebuah taman, Ari menghentikan langkahnya. Ia terpana memandang seseorang yang begitu familiar sedang berjalan sambil mendorong sebuah kursi roda. Di atas kursi roda itu, duduk seorang gadis yang tampak pucat dan lemah, namun kerap tertawa mendengarkan celotehan orang-orang yang mengelilinginya.

“Keke!” Ari sendiri tidak tahu, mengapa ia refleks memanggil nama Keke. Benar saja, Keke mendongakkan kepala ke arahnya. Ia tampak sama terkejutnya melihat keberadaan Ari.

“Hai … Ari. Mm, Ma, kak, aku ijin bentar ya, ada teman dari sekolah.” Kedua perempuan di sampingnya, termasuk gadis di atas kursi roda itu mengangguk sambil tak lupa memberikan senyuman ke arah Ari.

Sekarang, Keke berdiri tepat dihadapan Ari.

“Kamu,” mereka berdua berkata berbarengan. Keke dan Ari saling berpandangan, kemudian tertawa bersama-sama.

“Ngapain, Ke, disini?” Ari berbicara lebih dulu.

“Ngantar kakak … mm, kemoterapi.” Jawab Keke pelan. “Kamu?”

Ari terkejut. “Aku … ngantar Ayah, kemoterapi juga.”

Keheningan menyelimuti mereka berdua untuk beberapa saat. Seakan mengerti pertanyaan yang menggantung di lubuk hati masing-masing, mereka berdua berjalan ke arah taman. Mereka menemukan sebuah bangku dan duduk bersebelahan disana.

“Kanker apa?” tanya Ari akhirnya.

“Darah. Ayah kamu?”

“Paru-paru.”

“Aku nggak nyangka.”

“Aku juga enggak.” Ari tersenyum tipis. Keke membalas senyumnya. “Maksudnya, aku nggak menyangka kalau anggota keluarga kita sama-sama ada yang mengidap kanker.”

“Iya, maksudku juga itu,” Keke tertawa. “Capek, ya, Ri?”

“Iya, capek.” Tanpa meminta penjelasan lebih lanjut, Ari mengerti maksud pertanyaan Keke. Capek ya, mempunyai anggota keluarga yang mengidap kanker? “Capek batin sih, terutama. Kayak … hidup mereka sudah berat, mereka sudah selemah itu, jadi kita harus … terlihat tegar di depan mereka. Padahal kita sama terpukulnya …” Ari menambahkan.

“Tapi tetap nggak bisa berhenti sayang, kan? Nggak pernah bisa berhenti berharap?”

Ari mengangguk. “Nggak bisa nggak sayang. Nggak bisa berhenti berharap.”

Percakapan berikutnya mengalir dengan lancar. Ari seperti menemukan seseorang yang benar-benar mengerti apa yang ia rasakan. Tiba-tiba saja, ia sudah selesai menuturkan kisah dibalik usahanya mendapat nilai sempurna di sekolah. Namun, Ari heran melihat Keke jadi terdiam. Mata Keke menerawang jauh, seperti mengingat-ngingat sesuatu.

“Kisah kita beneran mirip, Ri.” Akhirnya, Keke membuka mulut. “Kak Risa, kakakku itu, sangat-sangat-sangat ingin jadi dokter. Dia sudah mengimpikan itu sejak kecil. Tapi, dengan keadaannya sekarang, dia sadar sudah nggak mungkin lagi mencapai mimpi itu. Dan, tersisa aku …” Keke menarik nafas dengan berat. “Aku yang sangat diharapkan kakak melanjutkan mimpinya. Orangtuaku cukup mampu membiayai pendidikan dokter. Keputusan itu berada di tanganku. Tapi aku …” Keke mengangkat tangannya. “Lihat aku, Ri, apa ada cocoknya jadi dokter?”

Ari tak kuasa menahan tawa. Lagi-lagi, mereka berdua tergelak bersama-sama. Beberapa kali Ari meyakinkan dirinya bahwa ini semua nyata. Kemarin, Ari masih takut berhadapan dengan Keke. Sekarang, entah sudah berapa kali mereka berbagi tawa.

“Jadi, kakakku secara official membenci segala hal yang berhubungan dengan basket. Ia merasa, basket sudah mengalihkan perhatianku dari belajar untuk masuk kedokteran. Maaf ya, Ri, tapi … apa yang biasanya kakakku katakan, persis seperti yang dulu kamu katakan. Semacam; basket nggak penting, nggak bisa menjamin masa depan. Aku … minta maaf. Aku kebawa emosi kemarin.” Lanjut Keke.

Ari menggelengkan kepala kuat-kuat. “Ngomong apa, sih, Ke! Aku yang salah, dan aku yang seharusnya minta maaf.”

“Tapi aku tahu, Ri, kamu begitu karena beralasan. Dan aku… merasa bersalah sudah menilai kamu hanya dari luar,”

“Aku juga menilai kamu dari luar, dan sekarang aku juga menyesal.”

Keke menampakkan senyum jahilnya. “Beneran menyesal? Beneran mau aku maafkan?”

Ari mulai memandang Keke curiga. “Kayaknya aku tahu kemana arah pembicaraan ini …”

“Oke! Kalau mau aku maafkan, traktir tempe goreng kantin seminggu penuh, ya!”

Ari menggelengkan kepala tak habis pikir. “Iya, iya. Itu perut apa karet, sih, muat banyak banget! Tapi … aku juga ada syarat,” gantian Ari menampakkan senyuman penuh makna.

“Kayaknya aku juga tahu kamu mau ngomong apa …”

Please, belajar fisika bareng aku lagi, ya?” Ari memohon.

Air muka Keke kembali menjadi serius. “Ri, tim basket sekolah kita sudah sampai delapan besar Walikota Cup, lho. Aku … bakal sibuk banget. Aku nggak yakin bakal punya waktu untuk belajar,”

“Ke, aku siap kok, mengikuti jadwal kamu! Ke, gini, deh, dengerin aku. Sekarang, permintaanku untuk belajar bareng bukan buat dapat tambahan nilai Fisika. Well, aku masih ingin dapat nilai tambahan. Cuma …” Ari menatap mata Keke penuh perasaan, “Aku lebih ingin kamu bisa menunjukkan ke kakakmu, bahwa hal yang paling kamu sukai sekarang, basket, nggak menganggu kegiatanmu belajar. Aku nggak tahu, apakah kakakmu akhirnya akan berubah pikiran, mengijinkanmu untuk mengejar mimpimu sendiri. Tapi, aku ingin kamu setidaknya berusaha, Ke … kewajiban kita sebagai pelajar, tetap belajar. Memang, belajar itu nggak cuma pelajaran. Aku yakin kamu belajar banyak di basket. Tapi salah satunya, tetap belajar pelajaran, Ke.”

Keke termenung mendengar kata-kata Ari. Ia menunduk, kemudian memainkan jarinya. Ia selalu melakukan itu ketika gugup. Akhirnya, Keke menengadahkan kepala. “Kamu … kamu benar juga, Ri. Mungkin, selama ini aku terlalu egois. Aku pun merasa, terkadang, sebenarnya aku bisa mengerjakan ujian dengan lebih baik, tapi … aku malas saja belajar. Aku malas saja mendapat nilai bagus dan semakin membuat kakakku meninggikan harapannya kepadaku. Tapi …” suara Keke tertahan. Rupanya, ia mulai menangis. Ari merangkul pundak Keke dengan lembut. “Tapi aku juga nggak tahu, kakakku akan bertahan hidup berapa lama lagi, Ri. Sumpah ya, aku jadi merasa aku ini orang paling jahat dan egois sedunia …”

“Sstt … nggak apa-apa Ke, masih banyak waktu untuk berubah. Aku juga … egois, kok. Kelas 10 ini, aku merasa hidup, tapi nggak hidup juga. Aku melewatkan banyak hal, dengan alasan mengejar nilai. Padahal, astaga, mengejar sesuatu tanpa menikmati perjalanan menuju kesana itu, benar-benar … hampa.”

“Bener banget! Kayak yang sering aku bilang ke kamu, kan. Hidup Ari hampa!” Keke tertawa jahil disela-sela tangisnya.

“Ih, apaan, sih!” Ari mendaratkan cubitan pelan di tangan Keke. “Nangis ya nangis aja, nggak usah pakai ketawa!”

“Hidup Ari hampa, hidup Ari hampa!” Keke bersenandung dengan nada berantakan karena ia masih saja menangis.

“Keke!” Ari pun tertawa terbahak-bahak, kemudian turut berdendang bersama Keke. Keke sudah tidak menangis. Mereka menikmati momen terebut dengan berbagi canda, sampai perut keduanya sakit gara-gara terlalu banyak tertawa.

“Jadi, mau kan belajar Fisika lagi, Ke?” Akhirnya, Ari berhasil meredam tawanya meskipun mukanya telah memerah dan matanya berair.

Keke menggeleng mantap. Ari terkejut. “Nggak mau. Nggak mau … cuma Fisika. Yang lain juga ya, Ri?”

“Ya, ampun!” Ari yang sempat syok sesaat menjadi lega, lalu mencubit Keke lagi saking gemasnya.

“Dan, satu lagi, Ri.” Kali ini, Keke yang berubah serius. Ari menyiapkan pendengarannya dengan seksama. “Kayaknya, ya … Sebenernya Tama suka deh, sama kamu.”

“Kekeeeee!”

Entah sudah berapa kali Ari mendaratkan cubitannya ke tangan Keke hari itu.

Ia sangat lega, masalahnya dan Keke telah terselesaikan. Terlebih lagi, ia memiliki tujuan baru. Ari akan membantu Keke belajar, bukan semata-mata untuk mendapat tambahan nilai. Ia mulai bersimpati pada gadis itu dan tulus ingin membantunya. Kelegaan Ari bertahan sampai sesaat kemudian, ia menyadari sesuatu.

Tunggu. Bukannya … ulangan harian Fisika terdekat adalah … minggu depan???

BERSAMBUNG

——

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s