Tentang Rasa, Asa, dan Cita (Jilid 1: Bagian 1)

Assalamu’alaikum!

Sesuatu yang selalu menjadi bagian dari diriku adalah menulis. Mungkin banyak pembaca blog ini yang sudah tidak asing lagi dengan puluhan entri yang isinya tidak jauh-jauh dari; kaleidoskop pengalamanku mengikuti berbagai even olimpiade diselingi oleh beberapa tulisan yang berupa pemikiranku tentang suatu hal.

Yah, semua itu memang masuk kategori sebuah tulisan, sih. Namun, salah satu sisi ‘menulis’ yang belakangan sempat tidak tersentuh olehku adalah … menulis prosa.

Aku dibesarkan dengan membaca berbagai novel. Perkenalanku dengan dunia perbukuan pun berawal dari sebuah novelku yang diterbitkan saat aku berusia sepuluh tahun. Well, sudah enam tahun berlalu semenjak hari penuh kenangan aku menerima paket pos berisi bukuku. Hm, hal yang sama mungkin akan terjadi tidak dalam waktu dekat ini .. hehe. Untuk mengobati rasa rinduku terhadap penulisan prosa, aku akan berbagi sebuah novelet yang sudah kuselesaikan sekitar tiga bulan yang lalu, namun mandeg tak tersentuh apapun selain menjadi bacaan untuk kedua orangtuaku.

Aku sangat menyadari bahwa kemampuan menulisku masih penuh kekurangan sana-sini, pun pemilihan diksi yang kugunakan mungkin terkesan monoton. Maka dari itu, feedback dari pembaca sekalian teramat sangat aku nantikan 🙂 .

Novelet ini berkisah tentang  petualangan seorang gadis di tahun pertamanya menjadi seorang anak SMA. Nah, kenapa novelet? Karena, aku merasa kisah ini terlalu pendek untuk disebut novel, tapi terlalu panjang juga untuk digolongkan sebagai cerpen. Jadilah novelet. Tapi, aku berpikir untuk melanjutkan petualangan tokoh utama pada tahun kedua dan ketiganya di SMA. Itulah alasan kenapa bagian ini termasuk ‘Jilid 1’. Jika memungkinkan, akan ada jilid-jilid selanjutnya. Dan ketika itu terwujud, mungkin saat itu tulisan ini sudah layak disebut ‘novel’. Hehe.

Tentang Rasa, Asa, dan Cita. Judul tersebut sudah merangkum apa yang akan pembaca temukan disini. (Ups, persis seperti entri sebelumnya tentang seri OSN 2017 yang terakhir ya? Hehehe)

Happy reading! 🙂

 

——

Nama gadis itu Adrianzka Maheswari. Panggilannya Ari. Sedikit membuat bingung orang yang hanya pernah mendengar namanya. ‘Ari itu cowok atau cewek?’ Tapi, semua yang sudah bertemu Ari langsung sepakat; Ari itu cewek banget. Ia terlihat sangat feminim, mengenakan kerudung, dan tidak ada tingkah lakunya yang urakan sama sekali.

Pagi ini, Ari menatap bayangannya sendiri di cermin untuk terakhir kalinya. Sejurus kemudian, ia menyambar tas ransel warna hijau tosca yang tergeletak di kursi meja belajarnya dan melenggang pergi keluar kamar.

“Assalamu’alaikum, Bu! Ari berangkat dulu,” Ari menghampiri Ibunya yang sedang sibuk di dapur. Ibu Ari tersenyum menyambut putrinya. Ari mengecup tangan beliau, lalu menengok ke arah teras rumah. Ayah Ari yang berada di atas kursi roda sedang memandangi taman kecil mereka. Kebiasaan Ayah setiap pagi, Ari menyunggingkan senyum. Ari menghampiri ayahnya dan berpamitan, “Assalamu’alaikum, Yah! Ari mau berangkat sekolah,”

Ayah Ari menyentuh ubun-ubun anak gadisnya itu sambil membaca doa. Itulah kebiasaan Ayah Ari setiap Ari akan pergi kemanapun. Setelah bercakap-cakap sebentar, Ari melambaikan tangan dan memulai perjalanannya menuju sekolah.

——

Angkutan kota yang Ari tumpangi menurunkan penumpangnya di perempatan yang mengarah ke sekolah Ari. Itu artinya, ia masih harus berjalan beberapa meter lagi. Ia tidak sendirian. Jalan menuju SMA Garda Bangsa dipenuhi oleh manusia-manusia berseragam putih abu-abu. Ari bertukar sapa dengan beberapa orang yang ia kenal sepanjang jalan.

“Hei!” seseorang melingkarkan tangannya di bahu Ari.

“Eh, hai, San! Bikin kaget aja,” Ari tersenyum ketika menyadari kehadiran Chrysan, teman sebangkunya. Mereka berdua bercakap-cakap sampai memasuki gerbang sekolah.

SMA Garda Bangsa adalah SMA swasta favorit yang memiliki lahan luas dan bangunan megah. Garba, nama populer SMA tersebut, telah menjadi sekolah Ari selama sembilan bulan terakhir. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah pembagian rapor tengah semester genap. Sampai di kelas, pembicaraan yang paling hangat adalah tentang nilai-nilai di rapor masing-masing.

“Parah banget! Nilai sejarah aku 85, coba! Guru baru yang itu pelit baaangeeet ngasih nilai!”

“Oh, bapak-bapak yang kalau ngasih soal esai jawaban kita kurang ‘Karena …’ aja dikurangin 3 poin itu ya?”

“Nah, bener itu!”

“Eh, tahu nggak, nilai Kimiaku untuk pertama kali dalam hidup di atas sembilan, lho!”

“Hoki doang, kali itu …”

“Enak aja! Aku beneran mati-matian belajar!”

Ari mengikuti percakapan teman-teman sekelasnya. Ia masih ingat betul semua nilainya di rapor kemarin. Rata-ratanya sembilan puluh lima. Sudah sangat bagus dan berpotensi menjadi rata-rata tertinggi di kelas, bahkan seangkatan. Tapi sayang, ia hanya menempati peringkat nomer dua di kelas, dan juga di angkatan. Si peringkat satu pararel itu juga sekelas dengan Ari!

“Selamat ya, Tam!” Ari berseru ke arah seorang laki-laki yang baru saja memasuki kelas dan meletakkan tas ranselnya di bangku.

“Oh? Oh, itu. Yoi, kamu juga selamat, Ri.” Jawab Tama sambil mengacungkan jempol.

Ari mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya, kalau boleh jujur, keadaan hati Ari sedang tidak karuan. Semester lalu, titel peringkat satu pararel ada di tangannya. Kali ini, nilainya dikalahkan oleh teman sekelasnya, Tama, dengan selisih dua poin! Rapor tengah semester memang belum final … Namun, Ari tidak bisa menyingkirkan rasa khawatir posisi nomer satunya akan terancam saat kenaikan kelas nanti.

“Eh, Tam, masih inget nilai rapor kamu, kan? Nilai fisikamu di rapor berapa?” Ari beranjak dari bangkunya ke dekat bangku Tama.

Tama menggernyitkan dahi. Ia tampak terkejut melihat Ari menanyakan nilai rapornya dengan langsung dan tanpa basa-basi seperti ini. Setelah beberapa detik menimbang-nimbang, akhirnya Tama bersuara, “Sembilan puluh tujuh.”

Tuh kan, benar! Ari berseru dalam hati. Ia sudah berpikir keras sejak rapor dibagikan. Dua poin yang si peringkat satu lebih unggul darinya dari pelajaran apa, ya? Ternyata, benar dugaannya. Ari memang tidak lemah di Fisika. Tapi, Tama itu jago banget! Guru Fisika mereka, Bu Naning, adalah seorang guru yang sering menggelar eksperimen di kelas. Setelah eksperimen usai, Bu Naning mempersilakan muridnya untuk berdiskusi tentang eksperimen yang baru saja mereka lakukan. Tama selalu bisa menjadi orang yang paling menonjol dalam memberi penjelasan untuk berbagai eksperimen fisika. Pantas saja nilainya tinggi. Meskipun nilai ulangan Ari dan Tama selalu sama-sama sempurna, Ari cenderung tidak bisa bicara banyak selama diskusi.

“Wah, keren. Makasih,” Ari berlalu kembali ke mejanya. Dari ujung matanya, Ari bisa menangkap ekspresi keheranan Tama. Tama menggelengkan kepala dan menarik nafas panjang. Sempat muncul perasaan tidak enak di hati Ari karena sikapnya sendiri, namun Ari buru-buru menghilangkannya. Biarin aja. Sekarang kan, aku punya misi yang lebih penting; minta tugas tambahan ke Bu Naning untuk tambahan nilai! Ari menyusun rencana.

——

Gadis berkacamata itu masih sibuk menekuni buku Fisika meskipun bel tanda istirahat telah berdering sejak lima menit yang lalu. Sedari tadi, ia membalas ajakan teman-temannya untuk pergi ke kantin dengan gelengan kepala. Ari sudah membulatkan tekad untuk mendapat nilai Fisika yang lebih tinggi dari pesaing abadinya di kelas, Tama, sekaligus mengamankan posisi nomer satu di peringkat angkatan untuk semester ini. Gorengan sih, bisa menunggu.

Dug dug dug dug!

Ari terlonjak kaget mendengar suara berisik dan merasakan lantai kelas bergetar tiba-tiba. Ia mendengus kesal begitu melihat Keke berdiri tepat di sebelah mejanya sambil men-dribble bola basket keras-keras ke lantai.

“Habisnya, hidupmu hampa banget, Ri. Sekolah  memberi siswanya istirahat itu untuk dimanfaatkan … ya, istirahat. Bukan malah jam belajar tambahan!” Keke, salah satu teman sekelas Ari yang paling tomboy, berusaha membela diri menghadapi pandangan Ari yang penuh rasa jengah.

Congrats, Ke. Kamu bikin aku malas belajar … di kelas. See ya!” Ari membereskan buku-bukunya dan buru-buru berlari kecil menuju perpustakaan sekolah. Keke menelan ludah sambil menggaruk kepala bingung.

“Benar-benar nggak bisa diajak bercanda …” gumamnya heran.

——

“Saya janji, Bu. Saya akan lakukan apapun, yang tentunya masih dalam koridor moral dan agama, untuk mendapatkan nilai Fisika yang lebih bagus dari nilai saya saat Ulangan Tengah Semester kemarin. Ibu cukup memberikan saya tugas … apapun, Bu, apapun. Dan saya akan lakukan dengan sebaik mungkin, hingga layak bagi saya untuk mendapat tambahan nilai.”

Bu Naning adalah seorang guru senior yang sudah cukup berumur. Ia termasuk guru favorit para siswa karena cara mengajarnya yang asyik serta pembawaannya yang keibuan dan mengayomi. Namun, dari berpuluh tahun pengalaman Bu Naning mengajar, baru kali ini ia bertemu seorang siswa yang teramat ambisius seperti Ari. Baru saja Ari meminta ijin untuk bertemu dengannya. Membahas sesuatu yang penting, katanya. Ternyata, sesuatu itu adalah permintaan tugas untuk menambah nilai.

“Nak, tentunya kamu sudah tahu kan, nilai Fisikamu saat UTS kemarin baik-baik saja?” Bu Naning menatap mata Ari lekat-lekat.

“Baik itu relatif, Bu. Karena masih lebih rendah dari nilai Tama, maka saya anggap itu belum baik.” Jawab Ari dengan penuh keyakinan.

Oh, Tama. Bu Naning mengangguk-ngangguk sendiri. Ia mulai mengerti. Ari memang siswa yang cerdas, rajin, dan selalu menjaga perilaku. Singkatnya, Ari murid teladan. Namun, Ari tidak pernah bisa berlapang dada menerima kekalahan. Nilai Tama dan Ari hanya selisih dua poin, batin Bu Naning tak habis pikir.

“Baiklah,” Bu Naning menarik nafas, tampak akan memberikan keputusannya. Mata Ari berbinar penuh harap. Ia sudah siap untuk melakukan tugas apapun, asalkan nilainya akan menjadi lebih tinggi dari Tama. Cepat, Bu, katakan! Sesusah dan serumit apapun tugas dari ibu pasti bisa saya kerjakan! Rasa percaya diri yang begitu besar melingkupi Ari.

“Nilaimu akan menjadi lebih tinggi dari Tama, asalkan …” kembali Bu Naning berhenti berkata untuk menarik nafas. Ari makin tak sabar dibuatnya. “Kamu mau menjadi tutor pribadi Keke sampai nilai fisikanya di atas KKM.”

Deg. Wajah Ari sontak berubah pias. “Mm … maksud ibu, tugas saya adalah mengajari Keke?” Ari mulai meragukan pendengarannya sendiri. Kenapa tugas yang diberi Bu Naning benar-benar nggak masuk akal …? Terlintas di pikirannya; Keke yang atletis, susah diam, sering tidur selama pelajaran tapi langsung berenergi tinggi setiap sore saat sedang berlatih basket. Ia tidak bisa membayangkan Keke mengerti satu pun kata-kata dari guru yang mengajar mata pelajaran sains, apalagi dari dirinya.

“Benar sekali, kamu tidak salah dengar.” Bu Naning memberikan senyuman khasnya. Di lain waktu, Ari akan merasa tenang mendapat senyum penuh kasih dari guru tersebut. Namun sekarang, ia hanya merasa gusar.

“Ibu, ibu tahu sendiri bahwa Keke bukan anak IPA yang … pantas! Saya juga nggak tahu kenapa ia memilih jurusan IPA. Dengan kapasitas otak segitu, dia memang lebih cocok jadi atlet basket aja, nggak pakai mikir, kan! Kalau dia nggak mau berubah, nggak ada yang bisa merubahnya …”

“Cukup, Ari!” raut muka Bu Naning berubah tegas. Ia mulai merasa Ari kelewatan. “Kata-katamu sudah tidak pantas. Nilai kamu sudah saya kurangi, dan satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah melaksanakan tugas yang saya berikan. Jelas?”

Ari terkesiap. Ia tak mampu berkata-kata lagi. Mendapat pengurangan nilai tidak pernah masuk dalam kamus hidupnya. Ia hanya mengangguk lemah, lalu pamit undur diri.

Bu Naning menghela nafas panjang. Sayang sekali … gadis itu berhati baik, kalau saja ia mau menyadari bahwa tak selamanya ia lebih unggul dari orang lain …

——

“Muka kamu kusut banget, Ri.” Chrysan berkomentar di tengah-tengah kegiatan mereka mengerjakan soal latihan matematika.

“Yah, gitu, deh.”

“Gitu gimana? Cerita aja,” Chrysan meletakkan pensilnya dan menenggokkan kepala ke arah Ari. Ari melakukan hal yang sama.

“Bu Naning aneh, San. Aku minta tugas untuk tambahan nilai tadi. Tapi tugas yang beliau kasih … aneh banget. Nggak ngerti lagi aku,” Ari melengos.

“Tambahan nilai? Nilaimu pasti bagus lah, Ri. Ngapain minta tambahan nilai?”

Ari mendesas. Ia sudah menduga. Chrysan adalah teman sebangkunya sejak awal masuk kelas sepuluh. Namun, Chrysan belum juga mengerti arti penting peringkat satu di mata Ari. Ari menyukai Chrysan dan mereka cukup akrab. Tapi, mereka tidak benar-benar bersahabat. Chrysan memiliki sahabat dari kecil yang sudah seperti kembar siam, sayangnya mereka tidak sekelas. Jadilah Ari sebagai sahabat Chrysan di kelas, tapi hanya teman dekat ketika bel tanda sekolah usai berbunyi.

“Nggak apa-apa, aku ingin aja dapat tambahan nilai. Anyway, tugas yang beliau kasih adalah …” Ari berbisik di telinga Chrysan. Chrysan membulatkan mata.

“Keke temen kita itu kan, Ri?” Chrysan mengarahkan kepalanya ke Keke yang berada di bangku paling belakang. Ari menoleh ke arah Keke. Ia bisa melihat Keke dan beberapa anak cowok di sekitar bangkunya sedang berjoget-joget nggak jelas di bangku masing-masing. Suara tawa yang tertahan beberapa kali terdengar.

“Begitulah. Kelakuannya sehari-hari kalau nggak kayak gitu, ya tidur.” Ari mengangkat bahu pasrah. Chrysan tersenyum kecut. Ia menepuk pundak Ari penuh simpati, lalu kembali melanjutkan latihan soalnya.

——

Cetak cetek cetak cetek cetak cetek

“Ke!” Ari menghempaskan buku Fisika yang sedang dipegangnya ke meja. “Nggak usah kayak anak kecil, deh, mainin ujung bolpoin! Udah selesai belum soal yang aku kasih?”

Keke yang berada di hadapan Ari hanya menampakkan cengiran tak bersalah. “Hehe … gini, deh, Ri. Otakku,” Keke membuat gestur di atas kepalanya, “isinya lagi banyak tentang bola basket, Walikota Cup sebulan lagi, sama … tempe goreng kantin,”

Ari berusaha menyembunyikan seulas senyum yang mulai muncul gara-gara melihat tingkah Keke.

“Agak susah kayaknya nemu tempat buat cermin cembung, cekung, ceper, apalah itu …”

Ari menggulum senyum sambil memutar bola matanya. Pertemuan pertama Ari dan Keke untuk belajar bersama berjalan sesuai dugaan Ari. Saat Ari menjelaskan materi, Keke hanya mengangguk-nganggukkan kepala dan tampak mengerti. Namun, saat ia meminta Keke mengerjakan soal, tidak ada satu pun yang terselesaikan. Setidaknya, Keke tidak tertidur selama belajar bersamanya. Ari menghibur dirinya dengan fakta itu.

“Nggak ada yang namanya cermin ceper, Keke. Lagian, kamu ngerti nggak, sih, Ke, apa yang dimaksud sama soalnya?” Ari berusaha meredam rasa tidak sabar yang sudah sejak tadi membuncah. Keke memang bodoh soal pelajaran. Tapi, ia teman yang menyenangkan dan menghibur. Ari menjadi luluh juga dibuatnya.

Keke mengangkat bahu. “Enggak. Soal yang kamu kasih nggak kayak soal sekolah, Ri.”

“Soal-soal itu memang butuh penguasaan konsep buat mengerjakannya. Kalau kamu belum faham benar-benar materi pelajaran, kamu memang nggak bakal bisa menyelesaikan. Hm, sini, deh.” Ari menuliskan dua baris soal pada secarik kertas, kemudian menyerahkannya ke Keke. “Itu soal yang tinggal pakai rumus. Coba dikerjakan.”

Tidak berselang lama, Ari menerima kertas itu kembali. Ia mengamati hasil kerja Keke. “Aha!” Ari menjentikkan jari dengan antusias. Tampaknya ia mulai mengerti masalah apa yang dihadapi Keke setiap mengerjakan soal fisika. “Kayaknya ya, Ke, kamu kurang mengerti konsep-konsep fisika. Dan begitu kamu dapat soal yang sangat sederhana, tinggal memasukkan rumus, kamu salah menghitung hasil akhir jawabannya!”

Keke hanya mengangkat alis. “Terus?”

“Terus, aku akan bikin silabus kegiatan belajar kita dengan seksama. Aku bakal bikin pembelajaran konsep dan latihan matematika dasar. Asalkan kamu selalu hadir untuk belajar seperti ini tiga kali seminggu, sebulan ke depan pasti nilaimu jauh membaik!” Ari tersenyum sumringah. Ia membayangkan nilai fisikanya akan menjadi lebih tinggi dari Tama, sebentar lagi.

“Tunggu, tunggu … Ri, tiga kali seminggu itu .. rrgh, apa nggak kebanyakan? Hari ini aku bisa hadir karena basket memang lagi nggak ada latihan. Selain hari ini, aku nggak yakin aku punya waktu.” Keke berbicara dengan berhati-hati. Ia bisa mengamati perubahan di raut wajah Ari.

“Ayolah, Ke … jangan egois! Kamu pikir aku nggak sibuk apa? Nyatanya, aku bisa meluangkan waktu untuk belajar sama kamu. Jadi, kamu harus melakukan hal yang sama! Apa sih, pentingnya basket yang selalu kamu utamakan itu?” kata Ari dengan nada bicara yang mulai meninggi.

Keke menggernyitkan dahi. Ia benar-benar tidak suka ketika orang lain menghakimi pilihannya. Basket adalah pilihannya. Ari harus tahu itu. “Hal yang sama? Sama seperti yang kamu lakukan? Cih, nggak! Terimakasih! Kalaupun aku jadi kamu, aku akan membantu temanku belajar karena aku memang ingin, bukan memanfaatkannya untuk dapat tambahan nilai! Kamu pikir aku nggak tahu?” Sekarang, amarah Keke ikut tersulut juga.

“Oh, sekarang itu jadi masalah buat kamu? Aku yang ingin dapat tambahan nilai, itu buruk di matamu? Dengarkan kataku baik-baik; kita berstatus sebagai pelajar, tugas kita mengutamakan pelajaran di atas segalanya! Maaf sebelumnya, tapi kamu harus tahu pendapatku; basket yang selama ini kamu perjuangkan mati-matian, nggak bakal berguna untuk masa depan!” teriak Ari dengan frustasi.

“Oke, Ari … terimakasih sudah menyampaikan isi hatimu yang terdalam. Dari dulu, aku berusaha sebisa mungkin menganggapmu baik. Kamu yang selalu sibuk belajar dan mendapat nilai sempurna, kupikir kamu melakukannya karena … well, memang aku akui, itu yang dilakukan pelajar yang baik. Tapi respect-ku padamu sudah hilang tak bersisa sekarang, Ri … kamu harus tahu, nggak semua orang punya prioritas hidup yang sama denganmu. Dan nggak semua orang memilih untuk melakukan segala cara demi mendapatkan yang dia inginkan!” Keke mengatakan semua itu dengan tajam. Jantungnya berdegup sangat keras.

Ari terpaku diam di tempatnya. Ia kesulitan mencerna kata-kata Keke. Ia tidak pernah menduga … Keke bisa mengeluarkan kata-kata penuh makna seperti itu.

“Aku balik dulu, ya, kalau gitu. Entahlah … aku nggak yakin kita bisa melanjutkan belajar bareng ini.” Keke mulai memasukkan buku-buku ke dalam tasnya. “Jujur, Ri. Aku kasihan sama kamu. Hal yang menjadi motivasimu selama ini, tampaknya berubah menjadi beban.”

Ari masih juga tak berkutik. Keke berlalu meninggalkan Ari yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

BERSAMBUNG

——

Advertisements

5 thoughts on “Tentang Rasa, Asa, dan Cita (Jilid 1: Bagian 1)

  1. Setia Ningsih

    Wow.. Part 1 yg keren. Ku nantikan yang selanjutnya de salsa 😉

  2. […] membaca bagian ini, silakan membaca Bagian 1 terlebih […]

  3. Muhammad Alfatih

    Kak, kok nama tokoh utamanya kayak medalis osn math 2016 yang dari jakarta kemarin ya, namanya adrianzka ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s