Tentang Rasa, Asa, dan Cita (OSN 2016: Part 6-TAMAT)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Aku merenungi bulan-bulan yang sudah berlalu semenjak OSN 2016 berakhir. Mei, Juni, Juli, Agustus, September … Nyaris empat bulan pagelaran OSN 2016 usai, tapi serial OSN 2016 di blog ini malah belum ditutup dengan apik😀 . Rencananya sih, aku akan membuat satu post lagi, post pamungkas yang akan mengakhiri serial OSN 2016 ini. Tapi, kok … banyak halangan menghadang. Mulai dari aku yang belum bisa membagi waktu karena rupanya, kelas 11 memang sesibuk itu, baik dari sisi akademis maupun non-akademisnya. Ditambah lagi hobiku menulis di tempat lain sedang minta diperhatikan belakangan ini. Jadilah jadwal sekolah lima hari yang selama ini berlaku di sekolahku tidak begitu membantuku menyisakan waktu untuk menulis blog. Oh, lebih-lebih ketika sesuatu yang lain datang … Eh, itu nanti saja, deh, ya. Hehe.

Intinya, aku berterimakasih untuk semua orang yang sudah menyempatkan diri membaca blog-ku! Baik yang membaca dengan scanning, skimming atau sampai titik komanya pun diperhatikan, terimakasih! Aku selalu berharap bahwa tulisanku nggak cuma berakhir jadi diary seorang anak labil, tapi ada sesuatu pelajaran yang bisa dipetik dari sana. Sekali lagi, terimakasih, semua! Dan terimakasih juga untuk pertanyaan ‘kapan lanjutan blog-nya?’ yang mampir ke ask.fm-ku beberapa kali. I really, really appreciate it🙂 .


Sejujurnya, tenggat waktu empat bulan semenjak OSN membuatku lupa akan detail-detail jalannya acara penutupan. Namun, tetap saja. Ada kesan-kesan tertentu yang masih membekas di hati. Ada perasaan yang membuncah ketika aku mereka ulang memori tertentu.

Salah satu perasaan itu, perasaan berdebar.

Saat itu, Palembang Sport and Convention Center dipenuhi oleh manusia-manusia berbusana daerah masing-masing. Aku menjumpai teman-teman IJSO 2014 dan berfoto bersama. Dalam hati, aku berdoa untuk nasib kami semua hari ini. Semoga yang terbaik.

img-20160520-wa0002

Para cewek yang berkebaya dan para cowok yang … simpel banget:/

Sayangnya, acara penutupan diwarnai masalah teknis. Pak Anies Baswedan tidak bisa hadir saat itu. Beliau direncanakan untuk menyampaikan pidato melalui teleconference. Namun … apalah daya, sinyal teleconference tersebut sangat jelek. Kami yang berada di Palembang tak kunjung tersambung dengan Pak Anies di Jakarta. Terkadang gambar Pak Anies telah sampai ke layar kami, namun tersendat-sendat atau bahkan suaranya ketinggalan. Gara-gara hal itu, mungkin acara penutupan jadi molor 20 menit sendiri:/ .

Di saat yang sama, aku sedang sibuk dengan hapeku. Jadi, ceritanya, anak-anak olimpiade sekolah PASIAD (urgh, entahlah, terserah mau menyebut gabungan sekolah sejenis Semesta dan kawan-kawan dengan apa, aku sendiri pusing memikirkan sebutan yang pas setelah semua yang terjadi belakangan ini … hehe) telah saling mengenal satu sama lain lewat olympiad camp, lomba, maupun sosial media. Ada satu grup line yang memuat anak olim PASIAD yang kebanyakan sudah lebih senior dariku. Mereka meminta live report pengumuman OSN. Aku dan beberapa orang menyanggupinya, sambil berharap-harap cemas akan sinyal internet yang jelek di dalam ruangan. Rasa-rasanya, mereka tampak lebih tidak sabar menunggu pengumuman daripada para peserta OSN 2016 sendiri😀 . Well, it shows how deeply they care about their juniors. Terimakasih, kakak-kakak!

Sampai akhirnya …

Pengumuman.

Pengumuman kali ini … tentu saja, diwarnai banyak spoiler. Peraih medali disebutkan dari perunggu, kemudian perak, lalu terakhir emas. Beberapa orang peraih medali perunggu yang telah mengurus sertifikat dan hadiah berupa tabungan sempat mengintip daftar peraih medali secara keseluruhan. Akhirnya, banyak orang yang telah mengetahui nasibnya bahkan sebelum peraih medali tersebut resmi diumumkan ….

Termasuk aku.

“Salsa, selamat ya,” Kak Iffah, seorang kakak kelas dari SMA Kesatuan Bangsa itu memberiku ucapan selamat. Kak Iffah telah mengantongi medali perunggu. Aku langsung berpikir cepat; pasti kakaknya sudah melihat daftar penerima medali!

“Eh … kenapa, kak?”

“Perak!” Kak Iffah tersenyum sumringah. Batinku yang dari tadi tercekat menjadi lega.

“Ah … Alhamdulillah, makasih, kak! Perak ke berapa, kakak lihat nggak?”

“Dari semuanya urutan ke dua belas kalau nggak salah,” jawab Kak Iffah.

“Oh … Oke, makasih, kak.” Aku menarik nafas panjang sambil tak henti mengucapkan hamdallah.

Well …

Anti klimaks banget, ya :”””)

Begitulah, aku mengetahui bahwa setelah medali perak urutan keenam dipanggil, saat itulah namaku akan disebutkan. Pengumuman memang menjadi kurang khidmat, tapi nggak masalah. Aku sudah sangat penasaran, aku nggak mempedulikan lagi soal keseruan pengumuman. Hehe.

Akhirnya, namaku disebutkan oleh pembawa acara. Aku melangkahkan kaki menuju ke atas panggung. Unik sekali. Di panggung, hampir semua wajah sudah familiar dimataku. Mereka pula lah orang-orang yang akan menemani perjalanan Pelatnasku pasca OSN ini. Ada Agnes, kawanku saat TC 1 IJSO 2014 dulu. Kak Syifa, Kak Jason, Kak Rio, dan banyak lagi.

Setelah turun dari panggung, kami langsung di arahkan menuju ruangan untuk mengurus administrasi. Begitu beres, aku langsung kembali ke kursi peserta untuk menyaksikan pengumuman peraih medali emas sebentar lagi.

Lagi-lagi, sebenarnya, kami sudah tahu dari Kak Iffah juga, bahwa Syailendra mendapat emas, beserta satu lagi anak Jawa Tengah yang Kak Iffah lupa siapa namanya. Malah Kak Iffah berkata, Syailendra menempati peringkat pucuk, menjadi Absolute Winner OSN 2016!

1463755357402

Peraih Medali Emas OSN Biologi 2016. Trivia: Semuanya adalah anggota TOBI 2016 ._.

Mendengar hal tersebut, aku senang sekali. Sungguh, perasaan senangku mungkin lebih besar daripada ketika aku mendengar namaku sebagai peraih medali perak. Setelah semua drama dan kejadian unik yang mewarnai seleksi OSN 2016 di tingkat provinsi, aku langsung berpikir; di OSN, setidaknya salah satu dari aku atau Syailendra harus mendapat emas! Supaya tidak ada dua orang yang masih melanjutkan OSN untuk 2017 mendatang. Bayangkan saja … semisal dari kami tidak ada yang mendapat emas namun sama-sama mendapat wild card untuk OSN tahun depan, otomatis tidak ada satu pun siswa dari SMA Semesta yang bisa menembus OSN dari seleksi tingkat kota dan provinsi! Benar-benar mimpi buruk. Aku saja ngeri sendiri membayangkannya. Apalagi mengingat perjuangan teman di sekolah yang sangat pantang menyerah, aku … aku ingin setidaknya satu orang mendapatkan kesempatan. Hilangnya satu kursi saja sudah sangat menyedihkan, kalau dua … tidak terpikirkan, deh.

Peraturan memang bisa berubah dari tahun ke tahun. Namun, berbekal satu emas ini, aku sudah bisa menyingkirkan kemungkinan terburuk wild card untuk dua orang. Fiuh … betapa lama-kelamaan OSN menjadi ajang adu strategi, ya.

fb_img_1463802943434

Syailendra Karuna Sugito, Emas Biologi. Salsabiilaa Roihanah, Perak Biologi.

Akhirnya, pengumuman telah usai. Kesembilan bidang OSN SMA dan ketiga bidang OSN SMP telah mengumumkan juara-juaranya. Aku berkali-kali mengucap rasa syukur. Pada OSN 2016 ini, SMA Semesta Semarang berhasil membawa pulang 3 Emas, 4 Perak, dan 3 Perunggu. Sedangkan SMP Semesta meraih 1 Emas.

fb_img_1465731983357

Atika Nur Rochmah, Perak Kimia. Wahyuda Nuzul Fahmi, Emas Kimia. Mutiara Aulya Firdauys, Perak Kimia.

fb_img_1465731991126

Azka Dzaki Arrazaq, Perunggu Astronomi. Suwaibatul Annisa, Perak Kebumian.

fb_img_1465731975720

Nafis Salman Brahmantino, Emas Fisika. Azka. Yuda. Naqita Ramadhani, Perunggu Fisika. Andreas Alfonsus Sahat Angelo S , Perunggu Ekonomi. Syailendra.

osn-medali-semesta

Peraih MEdali OSN SMA 2016 SMA Semesta Semarang. Jangan tanya kenapa Salsa nggak ada … aku juga nggak tahu, kenapa waktu itu bisa nggak ikut foto, dan masih menyesal sampai sekarang😦

Begitu juga dengan kawan-kawan IJSO-ku. Timku saat eksperimen dulu, Dean dan Andrew telah menjelma menjadi dewa Kimia dan Fisika. Masing-masing dari mereka mendapat emas. Dean sebagai Absolute Winner, posisi nomer satu, dan Andrew menempati peringkat kedua. Entahlah, mereka memang kompakan meninggalkanku ke OSN 2017 sendirian, rupanya. But honestly … I am so proud of you, guys! Kalian semua absen dari OSN 2015, begitu comeback langsung emas, peringkat tinggi pula. Ckck. Your hard work must be that hard😉 .

img-20160520-wa0010

Patrick, Muti, dan aku mendapat Perak, kami bertiga dalam tiga bidang yang berbeda. Sedangkan Eli, Olym, dan Aria, mendapat Perunggu. Great job, guys! See you on Pelatnas!

img-20160520-wa0012

Memiliki teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia sekaligus ragam latar belakang budaya, bahasa, suku, maupun agama yang berbeda-beda itu memang mengasyikkan. Kami bisa saling bertukar cerita dan pandangan mengenai banyak hal. Sekaligus melatih toleransi dan pengertian. Seperti contohnya, ketika aku dan teman-teman IJSO berkumpul semua saling mengucapkan selamat. Patrick mengulurkan tangannya ke arahku untuk bersalaman. Aku hanya tersenyum sambil membalas, “Yap, sama-sama, Pat. Kamu juga selamat!”

Wajah Patrick penuh kebingungan. Dia benar-benar nggak tahu kenapa aku nggak mau bersalaman dengannya. Eli yang melihat kejadian itu menahan tawa, kemudian memanggil Patrick untuk mendekat.

“Pet, lu gimana, sih! Salsa itu nggak bisa salaman sama cowok!!”

“Lah, kok gitu … gue salah apa? Gue nggak mau ngapa-ngapain …”

“Siapa bilang lu mau ngapa-ngapain, Pet. Tapi emang nggak boleh!! Duh …” Eli tampak frustasi. Akhirnya, mereka berdua kembali mendekatiku. Kali ini Patrick membawa sebuah botol minum.

“Selamat, Sal.” katanya, sekali lagi menyodorkan tangannya, tapi diperantai oleh sebuah botol Aqua. Aku tertawa terbahak-bahak sambil meraih ujung botol tersebut.

“Selamat juga, Pet.”

Hahaha😀 . Thanks, El, Pet. You’re such a good and understanding friend! Lucky to know you all😉

Kesimpulannya adalah, di OSN 2016 ini, ada tiga orang teman yang seangkatan denganku (masih kelas 10 saat mengikuti OSN) telah meraih Absolute Winner alias emas pertama. Syailendra, Dean, dan satu lagi seorang anak Jateng; Jingga dalam bidang Kebumian. Selamat, ya, kalian semua! Keren baaangeeeet!!

Lalu, apa kabar Biologi Jateng? Alhamdulillah, Kak Bagus dan Syailendra meraih Emas, aku dan Kak Rio Perak, dan kak Icha Perunggu.

Di OSN kali ini, ada satu lagi hal yang teramat spesial. Dulu, sewaktu aku mengikuti Pelatnas 1 IBO 2016, seorang reporter Majalah Kemendikbud bertajuk ‘Potensi’ sempat memaparkan bahwa Majalah Potensi menerima kiriman artikel. Tertarik, aku pun mengirimkan sebuah artikel. Namun, entah sudah berapa bulan, kabar tentang artikelku tidak kunjung datang. Aku hampir putus asa, jangan-jangan memang tidak dimuat. Ya sudah, lah.

Sampai kemudian, seorang kakak kelas peserta OSN Geografi dari Jakarta, Kak Rofian, memberitahuku.Saat OSN, ia mendapat sebuah Majalah Potensi edisi bulan lalu. “Ada artikelmu di Majalah Potensi, lho.” Wah, aku jadi penasaran sendiri. Ketika aku mendapat majalah tersebut, itu memang tulisanku. Alhamdulillah, senangnya!

artikel-potensi

Hari semakin sore. Para peserta mulai kembali ke bus masing-masing untuk perjalanan menuju ke hotel. Esok pagi, rombongan Jateng akan check out dan kembali ke Semarang.

Malam hari, aku berburu oleh-oleh bersama Kak Icha untuk kawan-kawan di rumah. Koper yang semula begitu kosong, ternyata terisi sangat penuh untuk perjalanan pulang. Aku juga menyempatkan diri mengambil kotak medali di kamar panitia di lantai paling atas hotel. Ketika aku sedang menunggu lift untuk kembali ke lantai tempat kamarku berada, lift di depanku terbuka. Keluar beberapa orang yang tampak sedang bercakap-cakap dengan heboh. Aku mengenali wajah salah seorang dari mereka.

“Loh, kamu … Salsabiilaa, kan?” tanya kakak itu.

“Iya, kak.” Aku sekarang mengingatnya, kakak reporter Majalah Potensi! Rupanya, mereka memang rutin meliput OSN setiap tahun. Kami sempat ngobrol sebentar. Aku menyampaikan keterkejutanku ketika melihat artikelku dimuat di Majalah Potensi.

“Habisnya, kamu nggak mencantumkan nomer telepon yang bisa dihubungi di biodata. Kami jadi bingung mau menghubungi lewat mana. Memang sengaja baru kami masukkan di edisi kemarin, karena waktunya pas saat OSN akan dilaksanakan,” kakak itu menjelaskan.

“Oh iya, ya …” aku cengengesan sendiri.

Beberapa saat kemudian, aku berpamitan dengan kakak-kakak reporter yang sangat baik dan ramah itu.

“Ditunggu lagi, ya, tulisannya!” pesan mereka yang membuatku tersenyum sumringah. Terimakasih kakak-kakak!


Rombongan Jawa Tengah meninggalkan Palembang dengan membawa trofi Juara Umum. Tentu saja para official sangat gembira. Meskipun kali ini tim OSN SMA Jawa Tengah tidak mendapat hasil yang begitu gemilang, tim OSN SMP Jateng berhasil menggondol banyak medali emas. Oh ya, yang SD juga. Termasuk Dika! Dia mendapat Medali Emas Bidang IPA, lho. Aaaah, bangganya! Selamat dan terimakasih ya, Adik-adik yang sudah menyelematkan Jawa Tengah! Hehehe.

Pesawat yang kami tumpangi sampai di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Rombongan kontingen OSN Jateng akan mendapat jamuan makan di sebuah restoran sebelum dipersilakan pulang ke rumah masing-masing ( … atau sekolah, untuk kasusku dan teman-teman SMA Semesta. Hehe). Selama jamuan makan, aku jadi terharu. Pelatda dan OSN telah menyatukan satu kontingen Jateng. Kami nggak hanya kenal dengan kawan satu tim. Paling tidak, beberapa orang dari setiap mapel pasti ada yang kami kenal. Grup Line Jateng juga belakangan jadi ramai. Apalagi setelah ketua angkatan kami, Kak Bagus, mendapat medali emas. Ada saja tingkah anggota grup yang mengundang tawa.

Pertemuan para peserta OSN dengan keluarganya selalu membuatku terenyuh. Aku dan anak-anak Semesta yang tidak berasal dari Jawa Tengah, hanya bisa mendengarkan suara keluarga terkasih lewat telepon genggam. Tapi, nggak papa. Kami semua sudah biasa. Hehe. Terkadang, karena sama-sama bersekolah jauh dari rumah inilah, ikatan persaudaraan antar anak olim di sekolahku erat sekali.

Kami mengangkut semua barang-barang kami ke kendaraan abadi sekolah; angkot. Setelah bertukar ucapan selamat tinggal dengan teman-teman seperjuangan selama sebulan belakangan, kami menaiki angkot dan memulai perjalanan membelah malam, menuju sekolah kami tercinta.


OSN kali ini … memang seberwarna itu.

Mulai dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional. Ada saja kejadian yang buatku menggelengkan kepala heran. Alhamdulillah, sampai sekarang, OSN 2016 adalah OSN keempatku. Meskipun sudah empat kali mengikuti OSN, pengalaman yang aku dapat selalu beraneka ragam dan berharga. Sama seperti hidup, kalau dipikir-pikir. Seberapapun kita merasa siap dan sudah bisa memprediksi semuanya, ada saja kejutan-kejutan unik yang menanti di sepanjang perjalanan.

Terimakasih, ya Allah, sudah mengijinkanku mengecap pengalaman ini.

Terimakasih, Abi dan Umi, yang nggak pernah lelah menjadi tempat sampah semua cerita dan curhatanku. Kalian membuatku kuat. Tanpa kalian, untuk melangkahkan kaki kali pertama saja, rasanya pasti akan beraaaat sekali.

Terimakasih, kawan-kawan seperjuanganku di sekolah; adik, kakak kelas, dan teman-teman Semesta Olympiad Squad. Dari kalian, aku belajar banyak. Suatu kali, aku pernah mendengar tangisan seorang kawan yang bahkan nggak bisa mencicipi OSK. Rasanya … hati ini ikut tertohok. Namun, kebangkitannya pasca kekecewaan itu sangat mengagumkan. Pun juga untuk kakak kelas yang tidak pernah bisa menapaki panggung OSN, namun setiap sekali seminggu masih semangat membagi ilmu untuk adik-adik kelas dan berburu lomba-lomba universitas. Kebangkitan mereka setelah impian awal tidak tercapai, itu luar biasa.

Kak Ica dan Kak Tika, yang sudah jadi kakak kelasku selama kurang lebih lima tahun. Kalian bukan cuma kakak kelas, tapi sudah seperti kakakku sendiri. Indah memang … menemukan keluarga baru yang bukan terikat oleh darah, melainkan hati.

Muti, kawanku yang sudah kukenal dari tahun 2014 akhir lalu. Setelah Argentina, Alhamdulillah kami menyapa Palembang bersama-sama, kemudian in syaa Allah, lagi-lagi Bandung untuk Pelatnas nanti. Mungkin saja Muti akan ke Thailand, sedangkan aku ke Inggris. Tapi … entahlah, tidak ada yang tahu akan seperti apa masa depan nanti. Namun, satu yang pasti; bertemu orang yang senantiasa haus akan ilmu pengetahuan seperti Muti, benar-benar nikmat yang selalu kusyukuri🙂 . Untuk Puput, arek Suroboyo yang super unik dan cekatan dalam segala hal … we’re missing you, really, wahai ibu-ibu laundry anak Pelatda Jateng😀 . Semoga ketemu di Pekanbaru, ya! I believe wherever you are, you’re gonna shine brightly🙂 .

salsa-muti-edit-1

Salsa dan Muti. Sama-sama terus menuntut ilmu ya, Mut!😉

berempat-edit

Cewek-cewek peraih Medali Perak. Entah kenapa bisa kompakan begitu😀

Cewek-cewek peraih Medali Perak. Entah kenapa bisa kompakan begitu😀

Syailendra yang sebenarnya seangkatan denganku, tapi rasa-rasanya sudah sering banget menjadi tutor. Hehe. Terimakasih ya, sudah sangat mau berbagi ilmu! Allah sendiri berjanji, sesuatu yang dibagikan ke orang lain itu nggak akan hilang, malah bertambah untuk diri kita sendiri, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Dan itu terbukti deh, kayaknya🙂 .

Dhani Abi, Nafis Abi, Yuda Abi, Azka Abi, dan Andre Abi, SOS putra yang ikut dalam rombongan OSN 2016 kali ini. Meskipun aku tidak pernah mengenal kalian sebelumnya (Semesta, gitu loh. Hehe), tapi terimakasih atas kerjasamanya, doa-doa baiknya, motivasinya, tingkah-tingkah absurd dan lucunya. Kalian kakak (atau abi, terserah deh, hehe) kelas yang keren banget😀.

semesta-boys-medalist

Cowok-cowok para peraih Medali Emas dan Perunggu. Lagi-lagi kompakan😀

Serombongan senior yang selalu menyemangati, bahkan ada yang menyempatkan datang ke hotel Pelatda; Kaka Abi dan Ali Abi. Kaka Abi dengan berjurus-jurus nasehatnya, dan Ali Abi dengan kata-katanya yang langsung jadi tagline anak SOS; “OSN itu susah. Tapi Pelatnas lebih susah.” (Meskipun keabsahan kata-kata tersebut diragukan karena yang bersangkutan adalah peraih Perak OSN, Perak IOAA, hampir akan berangkat ke APhO namun memilih untuk sekali lagi menjadi timnas IOAA tahun ini -_-).

Untuk supporter terbaik selama OSN ini; segenap anggota TOBI 2016, terimakasih ya! Aku dan Syailendra menjadi dua orang termuda secara kelas di TOBI 2016. Namun justru karena itu, aku belajar banyak dari kalian. Melihat kakak-kakak kelas 12 yang sedang sibuk mencari kuliah, berharap-harap cemas, mengganti plan dengan mendadak karena sesuatu yang sudah diharapkan ternyata nggak terwujud, dan lain sebagainya. Cara kalian menghadapi itu semua, benar-benar jadi pelajaran berharga buatku.

Kalian kebanyakan akan menjadi dokter, ya :’). Dan aku bisa bilang, Indonesia beruntung punya calon-calon dokter super seperti kalian. Super dalam artian, tidak hanya mampu dalam pelajaran yang kalian geluti, namun juga mampu bekerja sama dan peduli dengan orang lain. Kalian termasuk orang-orang paling tidak egois yang pernah kutemui. Bahkan saat Pelatnas yang seharusnya jadi ajang ‘saling membunuh’ untuk mendapatkan kursi IBO, aku melihat kita saling berbagi ilmu dengan entengnya.

Tetap jaga tali silaturahim kita ya, kakak-kakak! I am so blessed to know you, all.

1465700279756

Pelatnas 3 IBO 2016. Kak Fatin mentarktir nasi goreng sebagai syukuran Jateng Juara Umum. (Hehe, anggap saja begitu :P) (Sumber: sang master selfie, Robin Chandra)

Tidak ketinggalan, empat pahlawan Indonesia (ceilaaah wkwk); Kak Wilson, Kak Fatin, Kak Robin, dan Kak Andrea. Timnas Indonesia untuk IBO 2016 di Hanoi, Vietnam. Satu emas, dua perak dan satu perunggu yang kalian bawa pulang itu bukan hanya penghargaan untuk diri kalian sendiri, lho. Prestasi yang kalian raih sudah mampu menginspirasi banyak orang, termasuk aku.

Kak Wilson yang sok-sok nggak bisa, tahu-tahu emas, ya, nyebelin:/ . Hehe. Melihat foto-foto kalian selama disana, aku jadi senang sendiri. Sepertinya, kalian benar-benar menuruti pesan banyak orang, termasuk aku, untuk nggak jadi antisosial dan memperbanyak kenalan. Well, siapa tahu, kalian adalah teman dari Indonesia pertama untuk seseorang diluar sana. Dan aku bangga Indonesia mempunyai kalian untuk merepresentasikan negara ini di mata dunia🙂 .

PS: Aku menyimpan banyak foto kalian selama disana loh, karena … well, you look so happy there, and I am happy for you too ^_^

1

4

kirim

Sepulang dari IBO, Kak Wilson membuat sebuah blog, wilsongomarga.com, yang berisi panduan mengenai OSN Biologi. Melihat itu, aku sempat mengontak Kak Wilson untuk mengapresiasi kerjanya. Keren banget! “Ini kayak yang kamu bilang, supaya orang-orang di Papua dan seluruh Indonesia bisa mempunyai fasilitas yang sama. Nanti kalau sudah kuliah, kamu yang nerusin, ya.” Ujar Kak Wilson. Wah … aku terharu mendengarnya. Apa yang Kak Wilson dan kawan-kawan lakukan (karena rupanya, konten blog itu juga bisa diisi oleh alumni-alumni TOBI yang lain), benar-benar implementasi dari kata-kata;

Jangan tanya apa yang sudah Indonesia berikan untukmu. Tanyakan kepada dirimu sendiri, apa yang sudah kamu berikan untuk Indonesia?

Ternyata, sumbangsih untuk negeri ini bisa diberikan oleh anak-anak muda seusai kita, lho!

Teruntuk teman-temanku yang bermimpi untuk menggenggam medali OSN namun belum Allah berikan, baik yang masih memiliki kesempatan tahun depan, di jenjang berikutnya, maupun yang kesempatannya sudah kandas …

Tersenyumlah, kawan🙂 . Aku percaya, usaha kita untuk menempuh seleksi-seleksi OSN tetap akan terbayar, apapun bentuknya. Mulai sekarang, ayo kita lihat OSN sebagai salah satu ajang menorehkan prestasi. Salah satu, dan bukan satu-satunya. Untukku, OSN adalah mimpi. Karena dari sana, aku bisa menyalurkan passionku, sekaligus memanfaatkan otak pemberian Allah ini untuk hal-hal baik. Apakah OSN untuk mencari kebanggaan di mata manusia? Aku pun berkali-kali harus me-recharge niat. Bukan, bukan itu tujuan OSN untukku.

Enjoy the ride, friends. Nikmati perjalannya. Nikmati prosesnya, gagalnya, jatuhnya, namun juga manisnya, senyumnya, dan cerianya. Yuk, kita manfaatkan masa muda ini sebaik mungkin; mengeksplor diri sendiri dan mengukir asa setinggi langit!

Berkaca dari pengalaman OSN kali ini, aku tersadar, aku masih sangat banyak melakukan kesalahan. Baik kepada Allah dengan tidak menaati perintah-Nya dan malah mendekati larangan-Nya, maupun kepada sesama manusia yang secara sadar maupun tidak pernah kusakiti perasaannya.

Aku termenung. Aku mencoba menarik nafas satu dua tiga kali. Aku menggerakkan tanganku dan mengerjapkan mata. Aku merasakan debaran jantungku yang terus berdetak. Alhamdulillah, Allah masih memberikan hidup sampai saat ini.

Tentunya … kita semua harus berusaha menjadi lebih baik dari diri kita di masa lampau, kan?

Selamat tinggal, OSN 2016 dan segala kenangannya. Selamat datang, masa depan yang tak pernah tertebak oleh manusia. Bismillah, mari melangkah maju!

 

TAMAT

4 thoughts on “Tentang Rasa, Asa, dan Cita (OSN 2016: Part 6-TAMAT)

  1. Baper baca yang bagian IBO TwT. Sering-sering bikin aku baper dong, kak! Hehe :3.

  2. Assalamualaikum wr wb..
    Salam kenal salsa🙂
    Sungguh bangga ada anak indonesia seperti kamu. Tulisan mu begitu membangkitkan semangat anak bangsa untuk selalu menggapai prestasi dengan keseimbangan antara IPTEK dan IMTAK.
    Sukses selalu..
    Semoga kamu tetap menjadi Mutiara yang menjadi aset Indonesia
    Salam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s