Palembang dan Reuni Kecil Kami (OSN 2016: Part 5)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Bagiku, tes teori selalu menjadi tantangan tersendiri. Tantangan melawan … kantuk, hehe. Bukannya aku sangat menguasai semua materi hingga menyelesaikan soal jauh sebelum waktu habis, sama sekali bukan. Justru ketika aku memikirkan suatu soal dengan sangat keras, lamat-lamat, kelopak mataku akan terasa berat dan sebelum aku menyadarinya, kepalaku terantuk ke arah meja. Sebenarnya, serangkaian tes dan simulasi dari OSK sampai Pelatda kemarin telah membuktikan bahwa rasa kantuk itu bisa kuatasi. Namun, tetap saja, aku masih khawatir.

Sal, kamu kan sudah tidur 9 jam. In syaa Allah nggak bakal, lah, ngantuk lagi, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.

Sebelum berangkat ke SMAN 3 Palembang, salah seorang teman sekamarku dengan berbaik hati mau meminjamkan jaketnya. Kak Dinda dari Lampung itu mempunyai sebuah jaket berwarna merah tua yang sekilas, lebih mirip winter coat daripada jaket biasa. Nggak setebal winter coat juga sih, tapi jaket itu memberikan kehangatan yang sangat nyaman. Makasih, ya, kak!😉

Selama sekitar satu jam menunggu dimulainya tes teori, beberapa orang mampir menyampaikan komentar mereka tentang aku yang mengenakan jaket cukup tebal di tengah panasanya Kota Palembang, beberapa lagi memuji “Jaketnya bagus, Sal.” Aku hanya bisa nyengir sambil sedikit tersanjung, kok orang-orang perhatian sekali, sih, dengan jaket yang aku kenakan. Haha. Disamping fakta bahwa, well, itu jaket hasil pinjeman😀 .

Tes teori kami terbagi menjadi dua sesi. Tes Teori A di pagi hari, dan Tes Teori B yang diadakan setelah istirahat siang. Kedua tes tersebut terdiri dari 50 soal multiple true false yang dikerjakan dengan Lembar Jawab Komputer selama 180 menit. Seperti biasa, setiap tes memuat beberapa tema; Biologi Sel dan Molekuler, Anatomi Fisiologi Hewan, Anatomi Fisiologi Tumbuhan, Genetika dan Evolusi, Ekologi, Etologi, dan Biosistematika. Ketika mengerjakan Tes Teori A, aku merasa soal genevonya tidak semengerikan yang biasanya dikeluarkan TOBI (Beneran lho, berdasarkan pendapat banyak orang bahkan alumni IBO sendiri, soal genetika TOBI terkadang berkali lipat lebih mematikan daripada soal genetika IBO). Aku menebak, pasti Tes Teori B jauh lebih susah dari A.

Selama istirahat siang, aku menyempatkan untuk tidur sebentar. Yap, aku memang mudah tertidur dimanapun dan dalam kondisi apapun rupanya :’D. Ketika istirahat usai dan kami melangkah menuju kelas masing-masing untuk kembali mengerjakan tes selanjutnya, aku mengamati jendela ruang kelasku berembun. Bukan hanya embun yang tampak samar-samar seperti uap air, tapi berembun sampai banyak  tetes-tetes air mengalir menuruni kaca jendela. Ckck, pantas saja tadi aku serasa mengerjakan di dalam kulkas. Kedua AC yang terpasang di kelas benar-benar menjalankan fungsinya dengan baik. Aku sungguh bersyukur mengenakan jaket.

Sesuai prediksiku, Tes Teori B memang lebih susah. Begitu juri dan ibu guru yang menjaga kelas kami mengumukan bahwa waktu pengerjaan habis, kami semua mulai membereskan alat tulis dan keluar kelas.

“Hufftt…”

“Haaaah … Akhirnyaaa ….”

“Alhamdulillah, beres!”

“Huwaaaaaaa!!!”

Berbagai seruan kelegaan keluar dari mulut setiap peserta. Wajah tegang kami selama dua hari belakangan telah terhapuskan oleh senyuman.

Kami berjalan ke bus untuk kembali ke hotel. Aku melihat ke sekeliling. Tidak jarang aku menyaksikan dua orang melakukan tos, tertawa-tawa, berbagi canda dan  … ehem, ini yang sedikit membuat mood kurang baik; membahas soal. Aku juga termasuk bagian dari mereka yang membahas soal, sih … hehe. Tapi aku lebih mendengarkan diskusi tentang bagaimana kami menganggap suatu soal aneh dan tak terduga, bukannya menyepakati jawaban suatu soal. Toh, kami juga tidak tahu apa jawaban yang benar.

Malam nanti, akan ada Temu Juri dan Siswa. Sebelum itu, tentu saja kami diijikan mengambil gadget yang sudah kami titipkan ke panitia. Wah, senangnya! :’) .


Acara Temu Juri dan Siswa rutin diadakan TOBI setiap rangkaian tes OSN telah berakhir. Kami berkumpul di hall Hotel Daira. Juri-juri mulai membahas keempat tema eksperimen yang telah kami lewati. Mereka juga menyebutkan kesalahan yang paling banyak peserta lakukan, bahkan menunjukkan dokumentasi kesalahan beberapa individu yang memang lucu. Tapi, selucu dan sekonyol apapun suatu kesalahan, tetap saja kesalahan itu memiliki konsekuensi yang buruk untuk nilai peserta. Jadilah kami sering dibuat tertawa selama acara ini. Meskipun dibalik tawa tersebut tersimpan kekhawatiran kami tentang hasil eksperimen sekaligus rasa penyesalan atas kesalahan yang kami sadar telah kami lakukan😦 .

Di acara ini, kami juga dipersilakan untuk bertanya tentang apapun menyangkut semua tes yang diujikan. Beberapa dari kami menanyakan suatu soal karena sedikit ambigu, ada yang berusaha membela jawabannya, ada yang memberi saran tentang jalannya tes. Secara umum, acara ini memang bermanfaat sekali. Terdapat komunikasi dua arah antara juri dan peserta, sehingga kami diyakinkan bahwa TOBI selalu berusaha memperbaiki peforma OSN setiap tahunnya.

Uniknya, pada beberapa kesempatan, juri sempat menanyakan kepada kami, seberapa familiar kami terhadap beberapa alat lab yang digunakan selama eksperimen. Contohnya, mikropipet. Sebuah alat yang teramat sering digunakan di lab Biologi Sel dan Molekuler. Para juri meminta kami jujur, siapa yang sebelum OSN tidak pernah sama sekali menyentuh alat tersebut, atau bahkan baru mendengar nama alat tersebut disini. Ternyata, beberapa anak mengangkat tangan. Melihat kenyataan tersebut, air muka para juri menunjukkan pengertian. Aku jadi tersadar. Rupanya, para juri pun juga tahu bahwa kesempatan seluruh peserta dari Sabang sampai Merauke untuk belajar mempersiapkan OSN tidaklah merata.

Ketika juri memberi kesempatan kami untuk bertanya lagi, aku mengangkat tangan. “Ya, Salsa?” kak Ical menyerahkan mikrofon kepadaku.

“Assalamu’alaikum. Saya Salsabiilaa Roihanah dari Jawa Tengah. Kak, saya ingin menyarankan. Seperti kita tahu, tidak semua sekolah dan tidak semua anak di Indonesia itu punya pengalaman di OSN. Nggak semua punya kakak alumni yang bisa mengajari mereka, dan nggak semua juga punya kesempatan ikut pelatihan berbayar sebelum OSN. Untuk itu, sepertinya bakal jadi ide yang bagus banget, kalau TOBI bisa meng-upload soal-soal OSN yang telah lalu, dari tingkat OSK sampai OSN ke website TOBI. Dengan begitu, siapapun yang bisa mengakses internet bisa mendapat gambaran tentang soal yang akan dihadapi.” Jelasku panjang lebar.

Juri-juri tampak mengangguk-nganggukkan kepala. “Bagus itu, bagus … bisa kami usahakan, ya. Nggak sama kuncinya, kan?” kak Ical tersenyum.

Aku tertawa. “Kalau bisa sekalian kuncinya, kak. Hehe.”

Respon TOBI itu membuatku sangat senang. Aku memikirkan banyak orang yang selama ini menghubungiku lewat sosial media. Mereka menginginkan bantuan untuk mulai belajar olimpiade Biologi. Sepengetahuanku, soal-soal yang beredar di internet, bisa dibilang, sudah kadaluwarsa. Model soal yang terbaru, yaitu soal multiple true false versi OSN belum pernah dipublikasikan. Tapi, semua anak dengan akses terhadap pelatihan olimpiade, apalagi sekolah dengan tradisi OSN setiap tahun, bisa dengan mudah mendapatkannya. Aku harap, langkah yang diambil TOBI bisa menjadi awal dari persiapan yang lebih merata untuk semua peserta sebelum melaju ke OSN.

Jadi teman-teman, tunggu saja ya, soal-soal OSN di website TOBI!😉


Aku duduk di pinggir kasur dengan muka tertekuk dan mood yang sangat buruk. Untuk kesekian kalinya, aku membuka jadwal kegiatan OSN di buku panduan dan memandang lekat-lekat jadwal hari Kamis, 19 Mei 2016. Disana tertulis; 09.00-14.00 Rekreasi, dengan tempat ‘tentatif’.

Seusai Temu Juri dan Siswa tadi, aku mendapat banyak informasi dari berbagai sumber bahwa rekreasi ditiadakan. Aku bahkan menghubungi panitia Biologi dan mendapat jawaban serupa. Aku membutuhkan waktu untuk benar-benar meresapi berita itu dan mempercayainya. Serius nih, nggak ada rekreasi? Aku berpikir, tentatif berarti bersifat sementara. Tapi kepastiannya mengatakan; tidak jadi ada rekreasi untuk besok!

OSN 2016 kali ini juga melahirkan sebuah kehebohan. Sejak hari Senin, 16 Mei lalu, beberapa anak dari bidang Matematika, Fisika dan Ekonomi dikabarkan … keracunan! Saat pertama kali mendengar berita ini, aku sangat syok. Sampai-sampai, masuk berita di tv dan berbagai portal berita rupanya. Separah apa, sih, kasus keracunan tersebut? Well, beberapa anak merasa mual, muntah-muntah, pusing, lemas, hingga dilarikan ke rumah sakit. Yang belum sembuh saat hari lomba bahkan terpaksa mengerjakan tes di sana. Aku kurang tahu dengan pasti jumlah korbannya. Yang jelas, aku turut kasihan dan bersimpati untuk mereka. Ya Allah, OSN tanpa sakit saja sudah menguras tenaga. Bagaimana dengan keadaan fisik mereka yang lemah, ya? Semoga mereka kuat …

Kami para peserta menebak-nebak penyebab tiadanya rekreasi. Apa karena banyak yang sakit, sehingga sebagai bentuk solidaritas rekreasi ditiadakan? Namun, sejauh ini, kabar yang  paling meyakinkan mengatakan bahwa dari awal memang tidak ada rencana rekreasi. Lagi-lagi aku melirik buku panduan dengan pandangan sedih.

Kekecewaanku berbuah sebuah status di facebook. Di akhir status itu, dengan niat bercanda, aku me-mention Bu Retno. Bu Retno adalah anggota tim Direktorat SMP yang mengurusi OSN SMP sejak dulu, termasuk juga mengkoordinasi jalannya TC IJSO dan menemani tim IJSO 2014 ke Argentina. Dengan iseng dan tidak mengharap balasan, aku menulis; “Anak IJSO boleh ikut adik-adik SMP jalan-jalan, ya, Bu? Hehe.

Tidak kusangka, sebuah komentar balasan dari Bu Retno muncul. “Oke, tapi nggak apa-apa ikut di bus adik-adik, ya.

Aku membulatkan mata. Wah, Bu Retno benar-benar merespon! Tiba-tiba, hapeku berbunyi. Aku makin terkejut lagi ketika mengetahui Bu Retno meneleponku.

Halo, Salsa?

“Iya, Bu?”

Benar, besok kalian nggak ada rekreasi?

“Benar bu, tadi sudah konfirmasi ke panitia.”

Oke, kalau kalian boleh jalan-jalan dengan bebas, kalian bisa pakai mobil punya panitia SMP.

Glek. Aku menelan ludah, antara senang sekaligus terkejut mendengar penawaran cuma-cuma ini.

… tapi, kalian harus mau mengisi sesi motivasi sebentar untuk adik-adik OSN SMP. Besok kami ada pentas seni budaya. Kalian bisa mengisi kurang lebih, 15 menitan lah. Setelah makan siang kalian boleh pakai mobil panitia. Nanti ada supirnya juga. Terserah kalian mau jalan-jalan kemana, supirnya tahu Palembang, kok.

Aku meleleh terharu mendengar tawaran Bu Retno. Masya Allah … Allah mendengar permintaanku! Walaupun penawaran tersebut bersyarat, tapi toh syarat tersebut sangat ringan dan malah bermanfaat untuk kami dan adik-adik OSN SMP. Aku tersenyum sendiri membayangkan kesempatan menjelajahi Palembang, gratis, dengan mobil serta supir pribadi dan yang paling penting, bersama anak-anak IJSO!

“Ok, bu! Saya sih, fix, mau. Mau banget malah! Ya Allah bu, makasiiiiih, yaaaa….” Aku tak bisa menyembunyikan keceriaanku. Bu Retno tertawa. “Nanti saya koordinasi sama teman-teman lainnya, bu.”

Sip. Besok kira-kira jam 9 supirnya saya minta jemput kalian. Oh ya, alamat hotel kalian masing-masing jangan lupa.

“Siap, Bu!”

Setelah percakapan tersebut berakhir, aku masih tidak bisa berhenti tersenyum bahagia. Segera aku membuat berisik grup chat IJSO 2014. Saat itu malam sudah lumayan larut. Aku khawatir ada beberapa teman yang sudah tidur. Awalnya, hanya sedikit yang antusias. Aku jadi khawatir sendiri. Kalau cuma aku yang mau berangkat bagaimana …? Aku pun tertidur dengan harap-harap cemas.

Pagi harinya, aku masih menunggu kepastian dari teman-temanku. Mendekati jam 9 pagi, mereka semua menyatakan persetujuan untuk ikut. Alhamdulillah!

Mobil berwarna abu-abu itu menjemputku paling terakhir. Delapan anak plus supir membuat para cowok sedikit berdesak-desakan. Nggak apa-apa lah ya, guys, demi :’)

Ternyata, Kak Rudi selaku koordinator Pelatda Jateng, berinisiatif menyewa mobil untuk tim-tim Jawa Tengah berekreasi juga. Alhasil, aku berpisah sendiri dari ABJAT : (. Tapi, setelah aku pikir-pikir, nggak apa-apa lah ya, melegakan mobil mereka😀.

1464448030699

ABJAT di Gelora Sriwijaya dengan kaos tim!😉

1464448036666

ABJAT in action! #1

1464448044698

ABJAT in action! #2

Reaksi awal kami ketika turun dari mobil dan melangkahkan kaki ke dalam hotel tempat anak OSN SMP menginap adalah … kami terpana. Kami berdecak kagum. Dan kami pun bersedih, meratapi nasib OSN SMA yang mungkin, karena melibatkan sangat lebih banyak bidang dan jumlah peserta, anggaran penyelenggaraan OSN SMA jadi lebih terbagi-bagi, harus dihemat :’D.

Kami segera mencari Bu Retno. Rupanya, Bu Retno dan segenap Juri serta panitia berada di sebuah aula yang tepat bersebelahan dengan aula lebih besar yang sekarang sedang digunakan anak-anak SMP untuk pentas budaya. Melihat sosok Bu Retno, para cewek langsung berlari kecil untuk berpelukan. Bu Retno juga tampak sangat bahagia.

“Ibuuuu … kaangeeen!” seruku diamini oleh teman-teman yang lain.

“Wah, kalian sudah besar-besar, ya!” Bu Retno mengamati kami satu per satu.

“Eh, kak syifaaaa!” Kami menyapa seorang kakak (laki-laki, hehe) yang datang menghampiri kami pula. Kak Syifa ini salah satu pendamping selama TC IJSO di Bandung. Alhasil, reuni kami benar-benar terlaksana. Selama kami berkumpul, bercanda dan bertukar cerita, aku harus berulang kali meyakinkan diriku bahwa ini semua nyata. Baru saja kemarin kami kebingungan menyusun rencana reuni karena hotel tiga bidang yang terpisah jauh. Alhamdulillah, Allah memberi jalan dengan mempertemukan kami seperti ini❤ .

Tentu saja, kami berfoto-foto terlebih dahulu. Bisa dilihat di koleksi foto-foto kami berikutnya, aku selalu menempati posisi tengah. Well, kami sengaja supaya nilai estetika foto-foto kami tinggi, yang berbaju hijau (baju bidang Biologi) sendiri berkesempatan menjadi point of interest. Hehe.

IMG-20160519-WA0006

Motivasi antimainstream untuk adik-adik SMP yang akan mengikuti seleksi IJSO; di IJSO, kalian akan bertemu official super asyik, gaul, dan baik hati kayak Bu Retno, lho! Hehehe.

Namun, haha hihi kami tidak berlangsung lama. Bu Retno meminta kami untuk segera merencanakan sesi motivasi nanti. Jadilah kami langsung mulai berdiskusi, membentuk lingkaran di salah satu pojok aula tersebut. Setelah beberapa menit brainstorming, kami pun sampai pada kesepakatan dan pembagian tugas kami di panggung nantinya.

Tidak terasa, waktu kami maju sudah tiba. Sambil melawan rasa gugup, kami pun melangkah ke atas panggung.

Kalau dibilang sukses … kami nggak merasa sukses, sih, sebenarnya … hehe. Persiapan kami benar-benar ala kadarnya dan kami juga bukan ahli public speaking. Beberapa dari kami merasa, penampilan kami di atas panggung nggak menarik untuk dilihat. Tapi, aku tetap optimis. Aku tetap yakin bahwa, bagaimana pun juga, pasti ada pesan dari kami yang tersampaikan ke audiens. Semoga!

Memangnya, apa sih, yang kami sampaikan selama sesi motivasi tersebut?

Patrick menjelaskan tentang hal-hal yang super nggak enak selama OSN. Bayangkan saja, beberapa peserta OSN sudah berlatih sejak jauh-jauh hari, meninggalkan pelajaran dan sangat mengurangi interaksi dengan teman-teman sekolah, namun hasil latihan itu hanya dilihat selama tes yang berlangsung dua hari. Jadi, kalau dipikir-pikir, OSN itu penting, tapi juga nggak penting. Penting dalam artian, inilah ajang dimana anak-anak Indonesia yang jatuh cinta dengan sains mencurahkan passion-nya, dan sebagai manusia kita memang harus mengerahkan kemampuan terbaik kita dalam menghadapi setiap tantangan yang ada. Tapi juga nggak penting-penting banget, karena esensi dari OSN adalah proses menuju kesana, bukan cuma hasil akhir alias medali.

Dean menjadi bukti nyata kesaktian belajar otodidak. Dean yang berasal dari Pekanbaru, Riau, semasa SD dan SMP memang bukan seseorang yang punya kakak kelas maupun pembimbing spesialis OSN. Dean memang jago banget, sih, dan membandingkan diri dengan orang sekeren dia memang terkadang bikin bergumam sendiri, “Nggak mungkin lah, bisa jadi se’dewa’ Dean …” TAPI harus diingat bahwa, semua orang pernah memulai, kok. Dan menjadi patah arang bahkan sebelum memulai, sama sekali nggak menunjukkan mental juara : ) . Dengan usaha ekstra keras seperti Dean, nggak berlaku lagi anggapan bahwa anak Jawa itu selalu superior dalam segala aspek dari anak pulau lain. Come on, guys, Indonesia needs its youngster from every corner of this country to shine!😉

Andrew mengingatkan bahwa selama OSN berlangsung, jangan lupa untuk menikmati setiap momennya. Peserta OSN datang memang untuk bertanding. Tapi, bukan cuma itu, kita juga berkesempatan menjalin pertemanan dari Sabang sampai Merauke! Andrew sangat menjiwai prinsip ini sepertinya. Kami pun sering usil dengan menyerahkan semua urusan untuk berkenalan dengan orang baru selama kegiatan kami bersama ke Andrew, dengan alasan; “Koneksi, Ndrew… koneksi.” Dan dia mau-mau aja, sih. Hoho.

Itu beberapa yang kami sampaikan. Bisa ditebak, jatah 15 menit jadi molor sampai 25 menit, lho😀 . Oh ya, terimakasih juga untuk tiga orang yang sudah bertanya!

IMG-20160519-WA0024

Bersama tiga penanya dari adik-adik OSN SMp 2016. Maaf ya, kalau jawaban kami tidak memuaskan😦 (kami memang sangat nggak pede atas penampilan kami mengisi sisi motivasi itu … huhuhu)

Setelah sesi motivasi itu, Patrick pamit lebih dulu karena akan jalan-jalan bersama orang tuanya. Jadilah kami tinggal bertujuh. Bu Retno mengucapkan terimakasih atas kesediaan kami maju, walaupun kami malah meminta maaf karena ketidakbecusan kami menjadi pengisi acara😥 . Hiks.

Kami pun menyantap makan siang yang sudah disiapkan. Aku membuka nasi kotak dan terbelalak senang melihat menu yang tersaji. Nasi Padang! My all time favorite Indonesian food! Makan bersama teman-teman IJSO, aku jadi terhibur sendiri.

“Siapa yang nggak suka daun singkong? Eli mauuu!” Kemudian, kotak makan Eli langsung dipenuhi sumbangan daun singkong dari banyak orang.

“Muti nggak suka rendang, kan, Mut? Kita barter aja, kamu bisa makan omeletku,” ujarku kepada Muti yang menyambut gembira tawaran barterku.

“Aku mau timun, lho, ada yang nggak mau? Eh … nggak usah banyak-banyak!” Dean jadi heboh sendiri gara-gara hampir kami semua nggak suka timun, dan kotak makannya langsung penuh dengan benda kehijauan itu dalam sekejap😀. Haha.

Betapa kami sudah benar-benar menjadi layaknya ‘teman’, bukan cuma sekumpulan anak SMP yang bersaing mendapat kursi ke IJSO dulu :’) .

Selesai makan, kami berpamitan ke Bu Retno dan memulai perjalanan kami mengelilingi Kota Palembang. So … this is our one-day trip!

Jembatan Ampera

Sebagai tujuan pertama, kami memilih Jembatan Ampera yang sudah sangat terkenal sebagai landmark Kota Palembang ini. Mas Okta, driver sekaligus guide kami, membawa kami ke pinggir sungai Musi untuk mendapatkan view Jembatan Ampera dari jauh. Yang namanya jembatan, panorama yang keren memang didapat kalau melihatnya dari jauh. Ketika berkendara di atas jembatan tersebut … well, sama aja sih, kayak jembatan kebanyakan. Hehe.

IMG-20160519-WA0010

Jembatan Ampera, Landmark Kota Palembang yang membentang di atas Sungai Musi. Dokumentasi Andrew Wijaya (Thaks, Ndrew! Hihi)

IMG-20160519-WA0008

Belum puas kalau belum mengabadikan foto diri dengan Jembatan Ampera. Meskipun backlight menyerang. Huft. Ya sudah lah. Tolong abaikan tempat sampahnya, ya :’

Gelora Sriwijaya

Gelanggang olahraga ini adalah salah satu venue SEA GAMES 2011. Tempatnya memang luas, keren, bersih, dan megah. Kami sampai disana ketika matahari lagi terik-teriknya. Jadi … yah, kebanyakan foto kami bermata sipit semua😀 .

IMG-20160519-WA0022

Photo of the Day😀

IMG-20160519-WA0027

Siilaaaauuuu meeeeen :”

IMG-20160519-WA0015

Maunya pose kayak nak-nak gawl gitu, deh. Tapi epic fail😦 . Yha. Memang nggak gaul sih, kami -_-

Martabak HAR

Beberapa saran tujuan dikemukakan Mas Okta. Tapi, kami susah mencapai kesepakatan karena selalu saja ada sebagian yang merasa nggak tertarik menuju tempat tersebut. Akhirnya, Eli menyarankan wisata kuliner sebagai agenda kami selanjutnya. Yap, kami semua langsung setuju! Haha.

Tujuan kami adalah Martabak HAR. Martabak ini unik karena pembuatannya lebih sederhana, hanya berupa kulit martabak dan telur di dalamnya, kemudian disajikan dengan kuah kare kentang dan cuka yang dibubuhi irisan cabe hijau.

IMG-20160519-WA0028

Martabak HAR

Ada kejadian lucu selama kami menyantap martabak ini di tokonya. Tepat di sebelah meja kami, ada sekumpulan ibu-ibu yang tampaknya sedang menunggu pesanan martabak mereka. Tiba-tiba, salah seorang ibu berinisiatif membayar untuk kawan-kawannya. Sontak saja, ‘keributan’ terjadi. Tahulah, teman-teman, bagaimana ibu-ibu itu kalau acara bersama seperti itu, suka ngotot banget ingin mentraktir.

“Aku aja, nggak papa!”

“Eh, eh, eh! Nggak usah! Nggak usah!”

“Udah, mbak, udah! Ini aku udah ngeluarin uangnya!”

Aku sampai ketakutan sendiri ketika melihat salah seorang ibu benar-benar menarik tangan ibu lain yang ingin membayar dan melanjutkan berteriak. “Heh! Beneran, lho, nggak usah!” Dengan intonasi super serius dan nada sangat tegas.

Eli berbisik di sebelahku, “Bu … bu … kalau nggak mau dibayarin, sini lho, bayarin kita aja …”

Hahaha, astaga😀 …

Pempek Palembang

Hari sudah semakin sore. Kami menyempatkan untuk berhenti ke sebuah outlet yang menjual kaos-kaos khas Palembang. Karena harganya cukup mahal, banyak dari kami yang urung membeli sesuatu (Pengiritan ceritanya :D). Untuk menutup perjalanan kami hari ini, kami berencana mencicipi makanan yang pastinya, sudah sangat terkenal ke seantero Indonesia sebagai khas Palembang.

“Selamat ya, lolos OSN! Titip pempek, lho!” begitu kira-kira ucapan selamat yang diterima hampir semua peserta OSN 2016 menjelang keberangkatan kami ke Palembang.

Hanya beberapa langkah dari hotel anak Kimia, Kebumian, dan Geografi, terdapat gerai pempek yang terkenal enak dengan merk ‘VICO’. Kami sepakat menuju kesana sebagai tempat pemberhentian terakhir kami. Mas Okta sudah mendapat panggilan dari Bu Retno karena mobil pinjaman tersebut akan digunakan panitia.

Gerai tersebut sangat ramai begitu kami tiba disana. Kami sempat menunggu beberapa menit sebelum akhirnya berhasil menempati satu meja. Berhubung masih kenyang, kami tidak memesan pempek yang berukuran besar, hanya beberapa butir pempek kecil beraneka jenis. Itu saja sudah sangat mengenyangkan, lho, beneran, deh. Hehe.

Bagaimana rasa pempek yang di tanah kelahirannya? Well … enak, sih, jelas … malah mungkin, rasa ikannya nggak menyengat dan menimbulkan bau amis seperti beberapa pempek yang pernah kucicipi di Jawa. Lebih ringan di lidah, pokoknya enak, deh! Oh ya, satu lagi andalan Palembang adalah Es Kacang Merah! Seriusan ini… enak banget! Tumpukan es serut, potongan daging buah alpukat dan susu kental manis dibagian atas, dilanjutkan dengan sekumpulan kacang merah di bagian bawah, benar-benar kombinasi penghilang dahaga yang mantap! Hmmm …

IMG-20160519-WA0029

Pempek dan Es Kacang Merah Original❤

IMG-20160519-WA0030

Akhirnya, Mas Okta pun harus balik. Makasih banyaaaak, ya, Mas! Maafkan kami yang tujuannya nggak jelas dan bikin muter-muter. Hehe. (Gara-gara nggak ada yang bisa ngefotoin, cermin pun jadi😀 )

Begitulah, jalan-jalan kami hari ini telah berakhir. Selama tiga jam, kami mengunjungi tidak terlalu banyak tempat, ya. Sepertinya, banyak waktu kami habiskan di jalan, deh … Hehehe. Tapi, nggak apa-apa, hari ini sungguh sangat menyenangkan sekali bagiku! (Maafkan penggunaaan kalimat yang sangat tidak efektif ini. I just want to stress how happy I was that day : ) )

Sekali lagi, terimakasih Bu Retno sayang❤

 

BERSAMBUNG

 

2 thoughts on “Palembang dan Reuni Kecil Kami (OSN 2016: Part 5)

  1. salsa nga suka timun? :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s