Gemerlap OSN yang Penuh Kejutan (OSN 2016: Part 4)

Assalamu’alaikum wr.wb

Pagi itu, 15 Mei 2016.

Aku mengusap mukaku beberapa kali sambil mengedip-ngedipkan mata, berusaha mengusir kantuk yang masih tersisa. Harusnya aku nggak sepede ini untuk tidur nyaris jam satu dini hari, sesalku dalam hati.

Kali ini, lorong hotel Citra Dream pada pukul lima kurang seperempat pagi sangat lebih ramai dari biasanya. Suara obrolan, canda tawa dan gerak gerik banyak orang terdengar dari ruang makan. Aku mendekati arah sumber suara tersebut, mengambil duduk di salah satu kursi ruang makan, lalu mulai menyantap sarapan yang boleh dibilang sangat terlalu pagi. Well, mencoba untuk menyantap sarapan, lebih tepatnya, karena aku belum menemukan appetite jam-jam segini.

Tidak lama berselang, seorang kakak dari bagian travel agent memberi aba-aba kepada kami, “Ayo adik-adik, busnya sudah siap!”

Aku menutup kotak makanku yang bahkan tidak habis setengah. Setelah memastikan barang-barang yang akan aku bawa ke kabin pesawat nanti lengkap dan aman, aku melangkah bersama rombongan keluar hotel. Kami tidak perlu mengkhawatirkan koper kami. Mobil lain sudah mengangkut koper-koper tersebut ke bandara sejak sebelum Subuh tadi.

Perjalanan itu teramat singkat. Belum apa-apa, kami sudah tiba di Bandara Ahmad Yani. Kakak travel agent meminta ketua kelas berkumpul sebentar untuk mengambil satu bendel tiket, satu untuk setiap tim. Begitu ketua kelas telah membagikan tiket ke setiap anak, kami saling melempar pertanyaan ke satu sama lain, “Kamu seat nomer berapa?”

Ternyata, satu deret seat yang aku tempati berisi orang-orang yang cukup aku kenal. Eh, sangat aku kenal bahkan, mengingat kursi di kursi sebelahku ada Kak Tika dan di deretan seberang ada Dhani Abi. Sepertinya, kebanyakan anak memanfaatkan kesempatan terbang dengan pesawat Garuda sebaik mungkin. Banyak yang langsung memasang headset lalu memusatkan perhatian ke layar kaca yang terpasang di hadapan. Termasuk aku, sih … hehehe.

Kami mendarat di Soekarno Hatta sekitar pukul tujuh. Penerbangan selanjutnya menuju Palembang baru 10.30 nanti. Wah, kami mendapat cukup banyak waktu luang di bandara. Waktu luang itu diisi anak-anak dengan berbagai macam kegiatan. Beberapa menyempatkan ke musholla, menengok toko-toko di dalam Bandara yang menjual berbagai makanan, sampai akhirnya kami bosan dan bingung sendiri, lalu berkumpul di satu tempat untuk sekedar duduk-duduk.

Aku mengajak Kak Tika, Eli dan Chrysan untuk berkumpul sebentar. Kami sudah berencana untuk befoto sejak dari dulu, tapi belum juga terlaksana. Separuh terakhir Pelatda, aku menempati satu kamar dengan ketiga orang itu. Suatu kebetulan yang mengasyikkan, karena ternyata kami berempat adalah alumni IJSO. Kak Tika dan Chrysan alumni IJSO 2013, sedangkan aku dan Eli alumni IJSO 2014.

“Aku bingung, masa begitu ada yang tanya aku sekamar sama siapa, respon mereka kebanyakan ‘Woooaaa, bisa ya kalian sekamar? Ngeri, ngeri.’ Memang kalau kita sekamar kenapa …” Eli berbagi cerita. Kami tertawa bersama.

IMG-20160622-WA0001

Kak Tika, Salsa, Eli, Chrysan dan Muti. Sekumpulan generasi muda (Salsa, Eli, Muti), generasi tua (Kak Tika), dan generasi nyasar😛 (Chrysan, karena dia satu angkatan denganku tapi ikut generasi tua😀 )

20160515_083848

Ckck, sepertinya tim Jateng masih sangat ke-tim-an ya😀

Akhirnya, penantian tersebut berujung juga. Setengah jam sebelum keberangkatan, kami sudah mulai memasuki pesawat. Rupanya, orang-orang yang menempati satu deret seat tetap sama, hanya susunannya berubah.

Penerbangan kali ini seharusnya lebih lama dari sebelumnya. Namun, entah kenapa, aku merasa waktu cepat sekali berlalu. Mengintip keluar jendela, pesawat mulai menurunkan ketinggiannya. Aku melihat rumah-rumah penduduk di kejauhan. Sedangkan tanah lapang yang kerap mengelilingi sebuah bandara, berada lebih dekat dengan pesawat yang semakin merendah ini.

Satu, dua, tiga … roda yang bersentuhan dengan aspal landasan mengirim getaran ke sepanjang body pesawat. Begitu pesawat telah benar-benar berhenti, hampir semua penumpang berdiri dari tempat duduk dan mengambil barang-barang bawaan mereka.

Aku menoleh keluar jendela. Aku sudah tiba di Palembang.

 


 

Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin rupanya, cukup besar dan megah. Membuatku semakin bertanya-tanya, kapan bandara mungil di Semarang benar-benar akan diperbaharui … hehe. Koper-koper kami telah diangkut keluar terminal kedatangan. Namun, sebelum kami semua keluar, ketua kontingen mengumpulkan kami untuk briefing bersama terakhir kalinya.

FB_IMG_1465789116998

Di luar, panitia OSN telah menunggu kami beserta bus yang akan membawa kami menuju hotel masing-masing. Bidang Biologi, Geografi dan Komputer akan menempati Hotel Daira. Kami segera masuk ke dalam bus dan menikmati perjalanan menuju ke hotel.

Hotel Daira belum terlalu ramai ketika bus kami tiba. Diluar hotel, berjejer karangan-karangan bunga yang warna-warni. Aku sempat mengira, mungkin itu ucapan selamat datang dari berbagai instansi dan sekolah untuk peserta OSN. Namun, ketika aku semakin mendekati papan karangan bunga itu, aku membaca ucapan selamat pernikahan. Rombongan ibu-ibu berbaju kondangan yang baru saja keluar dari pintu masuk mengkonfirmasi tulisan tersebut. Hihihi, aku jadi geli sendiri.

Kami segera menuju meja registrasi untuk daftar ulang. Aku menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri, mencari muka-muka familiar yang sekiranya sudah aku  kenal. Tak lama kemudian, aku melihat Kak Ikhsan menghampiri rombongan Jawa Tengah. Well, setidaknya lima dari kami sudah mengenal Kak Ikhsan lewat Pelatnas.

“Sal, ada kejutan, lho.” Ujar Kak Ikhsan tiba-tiba. Aku menggernyitkan dahi. Tidak jarang Kak Ikhsan bersikap misterius dengan berbicara pakai ‘kode’ seperti itu. Tapi, kali ini aku benar-benar nggak tahu kejutan macam apa itu kira-kira. “Nanti kamu lihat sendiri, lah.” Kak Ikhsan tetap berkeras tidak ingin memberi tahu.

Tiba-tiba, aku melihat tiga orang datang mendekati kami. Aku membelalakkan mata sedikit tak percaya.

“Ng-ngapain …?” aku memandangi ketiga orang itu sambil tidak habis pikir.

Kak Robin, Kak Wilson dan Kak Aby, tiga anak DKI Jakarta yang sudah kelas 12 itu berdiri di hadapan kami. Mereka mengenakan batik kontingen DKI tahun 2014 yang ternyata, mirip sekali dengan batik kontingen tahun ini. Tidak ketinggalan sebuah ID Card peserta terkalung di leher mereka. Aku jelas heran, dua dari mereka sudah mendapat emas pada OSN 2015 lalu. Terlepas dari apapun medali yang dulu mereka raih, mereka juga sudah kelas 12, malah sudah lulus!

“Itu kejutannya!” seru Kak Ikhsan.

Setelah berbincang-bincang dengan mereka, kami mendapatkan penjelasan. Entah bagaimana, ketiga kakak kelas yang kukenal semasa Pelatnas kemarin itu jadi kesayangan Pemprov DKI😀 . Mereka mendapat kesempatan untuk menemani anak-anak DKI ke OSN 2016. Menemani dalam artian, benar-benar mengikuti segala kegiatan peserta.

Kami segera menuju ke kamar masing-masing. Kamarku akan dihuni oleh tiga orang, dan aku orang pertama yang sampai. Aku membuka isi tas OSN. Terdapat alat tulis, kaos, dan sebuah buku panduan OSN 2016. Aku membukan halaman yang membuat jadwal kegiatan di buku panduan. Besok, 16 Mei 2016, pembukaan akan digelar.


Semenjak tiba di Palembang, grup chat IJSO 2014 tidak pernah sepi. Di OSN kali ini, delapan orang berhasil menjadi peserta. Muti, Aria, dan Dean di Kimia. Eli, Patrick, Andrew, dan Olym di Fisika. Sedangkan, hm, yah … bisa disimpulkan sendiri siapa yang tersisa di Biologi :’ .

Uniknya, ketiga bidang tersebut menempati tiga hotel yang berbeda! Pembukaan dan penutupan pun menjadi satu-satunya kesempatanku untuk bisa bertemu mereka, peserta dari bidang lain yang tidak sehotel. Lagipula, walaupun hotel kami masih dalam lingkup Kota Palembang, jaraknya terpisah lumayan jauh😦 .

Sudah dua tahun, mulai dari OSN 2014, pembukaan selalu menampilkan sebuah film pendek mengenai alumni OSN yang sangaaaaaat inspiratif! Aku menyaksikan sendiri diputarnya film pendek saat pembukaan OSN 2015. Kisah yang ditampilkan saat itu begitu mengetuk hati, mengubah atmosfer pembukaan menjadi lebih khidmat. Karena itu, aku sangat menanti acara pembukaan.

Palembang Sport and Convention Center (PSCC), gedung tempat dilaksanakannya pembukaan, sudah cukup ramai begitu kami tiba disana. Kebanyakan peserta mengenakan batik kontingen masing-masing. Peserta diarahkan menuju ke tribun yang terletak di atas. Aku sempat heran. Kalau kami duduk di atas dan panggungnya di bawah, apa kelihatan, ya? Di tribun atas juga nggak ada layar yang menampilkan video dari atas panggung. Ah, sudahlah. Mungkin panitia sudah memikirkan hal itu, batinku.

PSCC mempunyai keunikan yang membuat hape sulit mendapatkan sinyal. Uh, padahal aku sedang mengontak teman-teman IJSOku untuk berkumpul. Setelah keluar tribun sebentar, barulah aku mendapat pesan dari mereka.

Salsa ayo kumpul! Kita udah ngumpul di dekat tangga. Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Senangnya … Beberapa saat lagi aku akan bertemu mereka yang pasca IJSO, sebagian besar, cuma bisa bertukar kabar lewat sosial media. Aku berlari kecil ke arah tempat teman-temanku menunggu, sambil berangan-angan kira-kira bagaimana ya, rupa teman-teman setelah lama tidak bisa bertemu?

Aku tersenyum senang saat menghampiri sekumpulan anak yang, well, berbaju kontingen berbeda-beda😀 . Kami saling menyapa dan langsung bertukar komentar, apa saja yang berubah dari kami masing-masing.

“Pat, kok lu tambah tinggi, sih!”

“Eli kurusan, tauuu …” Kalau ini Eli sendiri yang teriak-teriak, sih. Nggak ada yang mau mengakui juga. Hehe.

“Andrew yang kurusan, El.”

“Yak, gue lebih tinggi daripada lu, yak.” Yang ini, Dean berbangga diri😀 .

“Kok yang cewek bajunya sama semua ih, kontingen Jateng semua … Haha.”

“Eh, itu ada tulisan OSN. Bagus tuh, buat foto.”

“Nanti dulu deh, masih penuh. Selfie dulu aja, yuk.”

“Iya, ya. Pat lu yang megang hapenya.”

“Daridulu gua tugasnya gini, ya.”

Dan akhirnya, jadilah foto ini :’)

Bareng

Kemudian, berkat kebaikan hati seseorang yang mau memfoto kami, jadilah foto ini :’)

IMG-20160516-WA0003

Duh, kok aku jadi paling pendek gini :’ Tolong diingat ya pemirsa, di foto ini kakiku sedikit nekuk gitu, deh :” #maksa #tapibeneran

Kami teringat salah satu tutor Biologi kami saat Training Center di Bandung dulu. Namanya Kak Zamzam. Beliau dosen di Universitas Pendidikan Indonesia yang kebetulan menjadi salah satu pendamping kontingen SD Jawa Barat ke OSN kali ini. Ingin melepas rindu, kami menuju tribun tempat anak SD berada. Disana, kami bertemu Kak Zamzam dan bercakap-cakap sebentar.

Setelah menunggu cukup lama, pukul 9 pagi, acara pembukaan dimulai. Aku harus berpisah dengan ketujuh kawan IJSO karena tribun anak-anak bidang Biologi berada di sisi barat, sedangkan Kimia dan Fisika di sisi timur. Duduk bersama anak-anak ABJAT, aku menyadari bahwa kekhawatiranku benar. Coba bayangkan, penampakan tempat pembukaan yang kami hadiri itu seperti gambar dibawah ini.

Suasana Pembukaan

Semua peserta menempati tribun atas dan pendamping di bawah😥

Perhatikan bahwa tribun yang paling ujung, bahkan mengarah sejajar dengan panggung! Itu artinya, praktis, banyak dari peserta yang tidak bisa melihat apa-apa dari panggung. Ditambah lagi, tribun bagian barat yang ditempati anak Biologi dan beberapa bidang lain adalah tempat anak SD berkumpul juga. Hm, yah seperti kita bersama ketahui, kalau anak SD lomba, pendamping yang mengikuti biasanya sejumlah peserta atau malah lebih banyak😀 . Tribun yang seharusnya diperuntukkan untuk kami sudah ditempati anak-anak SD (dan pendamping mereka). Kami pun bergeser semakin ke ujung, semakin tidak bisa melihat apapun yang terjadi di panggung.

Singkat cerita, aku bosan. Aku memutuskan untuk mencoba berjalan-jalan ke tribun seberang, tribun timur tempat anak Fisika dan Kimia berada. Di lorong yang mengarah ke pintu tribun timur, aku menemui anak-anak kebumian Jateng sedang duduk-duduk.

“Loh, kalian ngapain?” tanyaku heran. Mataku memperhatikan beberapa anak yang tampak lemas dan sedang merebahkan badan dengan tas sebagai alas kepala mereka.

“Ini, pada masuk angin terus hampir aja muntah-muntah. Tadi kita duduk di tribun yang sejajar dengan panggung. Disana AC-nya berangin banget, dingin lagi,” jelas Kak Ica.

“Ya ampun, kasian banget …” aku berkomentar. Akhirnya, anak kebumian dan aku memutuskan untuk memasuki tribun timur dan mencari tempat duduk disana. Benar saja, tribun yang ini jauh lebih tidak padat dibanding tribun kami tadi.

Jujur saja, sepanjang pembukaan, aku sibuk bercerita dengan Kak Ica. Bahkan, aku tidak terlalu menaruh perhatian saat beberapa orang penting, termasuk Pak Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberi pidato sambutan … hehe. Seingatku, akhirnya, muncul penari-penari  di atas panggung yang menyajikan penampilan cukup memukau. Kemudian, Pak Anies berfoto di atas panggung. Beberapa pendamping yang mendapat tempat duduk tepat di hadapan panggung pun mencoba untuk berfoto dengan Pak Anies, beberapa yang lain mulai keluar meninggalkan ruangan. Kami yang berada di atas jadi bingung sendiri. Ini acaranya udah selesai?

Pembukaan

Sajian tari yang sayangnya, tidak mungkin bisa disaksikan para peserta dari angle seperti di foto ini😦

“Ini acaranya udah selesai?” aku menyuarakan pertanyaan di pikiranku itu. Melihat semua orang bangkit dari tempat duduk masing-masing, aku mengangkat bahu dan mengikuti arus manusia ke arah pintu keluar. Dalam hati, aku kecewa. Heran ya, kenapa Salsa kecewa, coba? Kenyataannya adalah, aku sudah mengharapkan sekali akan ada film insiprasi alumni OSN lagi tahun ini … Kalau teman-teman pernah melihat kedua film tersebut, pasti kalian tahu bahwa film itu digarap dengan serius. Dan efeknya semengena itu untuk memberi semangat.

Oke, ini acaranya memang udah selesai, Sal. Aku meyakinkan diriku sendiri sambil berusaha melupakan sedikit rasa kecewa yang masih menggantung di sanubari.

Biologi memiliki jadwal technical meeting tepat setelah pembukaan usai. Kami menaiki bus yang akan membawa kami ke SMAN 3 Palembang, tempat diadakannya tes bidang Biologi selama dua hari ke depan.

Bus yang aku tumpangi masih berada di parkiran. Aku memilih duduk dekat jendela supaya bisa mengamati panorama Kota Palembang dengan leluasa. Aku menyenderkan kepala ke kaca jendela sambil menunggu bus bergerak. Tiba-tiba, satu bus lain berhenti di samping bus kami. Aku menengok untuk mengamati penumpang bus itu. Anak-anak kecil, masih imut, pasti bukan anak SMP …

“Kak Ica, lihat deh, anak-anak SD lucu, yaa …” ujarku ke Kak Ica (yang ini kak Ica Biologi, hehe) yang duduk di sebelahku.

Aku melambaikan tangan ke dua anak SD yang duduk sejajar denganku. Tak disangka, mereka menengok ke arahku juga sambil membalas lambaian tanganku. Baru kuamati lekat-lekat, itu kan, anak-anak Jateng! Mereka mengenakan batik kontingen. Bahkan, salah satunya adalah anak bernama  Dika. Dika berasal dari Semarang. Ia pernah menjuari lompa IPA yang diadakan tim olimpiade Semesta saat ulang tahun sekolah kami. Waktu pengukuhan kontingen OSN Jateng kemarin, kami menjumpai Dika juga. Ia memang memiliki pembawaan ramah, murah senyum dan gampang bergaul. Singkatnya, anak-anak olimpiade dari Semesta yang sempat jadi panitia lomba tersebut dan sudah pernah bertemu dengan Dika pun menjadi fans-nya secara unofficial. Hihi😀 .

Ternyata, Dika seperti mengajakku berbicara. Aku memperhatikan gerakan mulutnya, karena suara apapun tidak akan sampai ke telingaku dari dalam bus ini. “Semangat ya, kak!” ujarnya sambil memamerkan senyuman lebar. Satu tangannya meninju ke atas seperti layaknya seseorang yang menggelorakan semangat. Aku membalas dengan sedikit berteriak.

“Iya, Dika! Kalian juga, semangat yaaa!” Bahkan setelah bus mereka pergi terlebih dahulu, aku masih senyum-senyum sendiri. Setelah aku pikir-pikir, sedikit memalukan juga aku berteriak begitu. Seperti berbicara sendiri, sih, apalagi saat itu bus kami sepi, jarang ada yang berbicara. Hehe. Tapi biarlah. Mood-ku yang sempat sedikit buruk karena pembukaan yang berjalan tidak sesuai ekspektasi, jadi terangkat gara-gara ucapan selamat dari idola. Hehehe. Aiiih, dik, kalau dapat medali daftar beasiswa ke SMP Semesta, ya! Hahahaha😛 .

Technical meeting memberi kesempatan kepada kami untuk mengenal alat-alat lab yang kemungkinan besar akan digunakan saat tes eksperimen esok hari. Kami juga bertemu dengan juri-juri yang mengurusi OSN kali ini. Aku mengingat buku panduan OSN 2016. Tampaknya TOBI membawa jumlah juri yang paling banyak di antara bidang-bidang lainnya.  Besok, 17 Mei 2016 adalah tes eksperimen. Hari selanjutnya, 18 Mei 2016 dilaksanakan tes teori. Malam nanti, seluruh peserta Biologi harus mengumpulkan segala macam gadget. Katanya sih, IBO juga menerapkan peraturan seperti ini dan TOBI tidak ingin para peserta belajar hingga kelelahan melalui smartphone, laptop, tab, dan gadget lainnya.

Aku langsung menghubungi kedua orangtuaku begitu sampai ke hotel. Aku meminta doa mereka. Ini adalah kesempatan terakhirku menghubungi mereka sampai setelah tes nanti.

Besok, pertarungan dimulai.


Tes eksperimen yang terdiri dari empat tema mengharuskan seluruh peserta dibagi menjadi empat kelompok juga. Setiap kelompok akan memulai di salah satu lab dan berputar bergantian ke lab-lab berikutnya sampai semua kelompok telah menjajal keempat lab.

Jika ada satu hal yang paling memorable selama tes, maka aku akan menjawab; panasnya! Ruangan tes kami  selalu ber-AC dan cukup dingin. Namun, ruang tunggu kami biasanya hanya mengandalkan satu buah kipas angin. Semakin siang, aku merasa semakin lelah. Aku takut ini salah satu tanda dehidrasi.

Sepulang dari tes eksperimen, kasur di kamar langsung menempati prioritasku nomer satu. Sedihnya, aku curiga bahwa aku sudah terjangkit flu ringan. Aku merebahkan badan dan merenungi jalannya eksperimen hari ini.

Pertama, tes Anatomi dan Sistematika Tumbuhan. Ruangannya super dingin! Karena tes teori besok dilaksanakan di lab yang pertama kali setiap kelompok tempati, I made a mental note to bring a jacket. Masalahnya adalah, aku nggak bawa jaket. Good job, Sal -_-. Aku cukup puas dengan peformaku di tema ini. Selanjutnya, Mikrobiologi. Soal yang dikeluarkan membuatku mendesas kecewa. Sama sekali tidak sesuai prediksi, meskipun sebenarnya pernah dijadikan salah satu tes praktikum saat Pelatnas 1 kemarin. Tapi … tetap saja, aku merasa aku sangat tidak maksimal.

Ketiga, Biologi Sel dan Molekuler. Entahlah, waktu berjalan begitu cepat dibagian ini. Soal praktiknya tidak rumit. Yang membutuhkan perhatian lebih, tentu saja, soal teorinya yang seabrek dan sangat mengandalkan logika. Ugh, aku nggak suka😦 . Di beberapa kesempatan, secara tidak sadar aku menggunakan tangan kiriku untuk mengetik di kalkulator dan tangan kananku untuk menuliskan hasilnya! Wah, multitasking sekali, ya … hehe. Begitu juri memberi tanda bahwa waktu telah habis, aku masih tidak bisa move on dari sebuah soal hitungan. Sesampainya di ruang tunggu, aku masih mencorat-coret kertas dan menghitung di kalkulator. Semenit kemudian, akhirnya aku menemukan jawaban dari sebuah soal yang menempati nomer-nomer terakhir. Setelah aku mewawancari teman-teman yang lain, jawabanku itu benar. Ouch, what a precious one minute!

Terakhir, Anatomi dan Fisiologi Hewan. Bisa dibilang, tema ini yang benar-benar sesuai prediksi selama Pelatda. Sayangnya, entah bagaimana, aku membuat sebuah kesalahan fatal yang pastinya akan merenggut banyak poin dariku. Ya sudah, lah…

Di olimpiade Biologi, persentase nilai tes eksperimen dan teori adalah sama, 50 : 50. Berdasarkan pengamatanku dan teman-teman juga pengajar yang telah berkecimpung cukup lama, eksperimen yang bagus lebih menunjang pencapaian medali yang tinggi. Loh, kok bisa?

Penilaian OSN Biologi mengikuti penilai IBO. Penilaian tersebut cukup unik, menggunakan t-score. Pada dasarnya, t-score melihat persebaran nilai pada suatu populasi (Duh, kok jadi statistik gini bahasanya, hehe). Simpelnya, rata-rata nilai seluruh peserta menjadi patokan. Nilai setiap peserta di-convert ke t-score dan menghasilkan; nilai 0 menandakan nilai yang sama persis dengan rata-rata. Nilai yang berangka positif berarti diatas rata-rata, dan angka negatif berarti di bawah rata-rata. Nanti, nilai dari eksperimen tersebut dijumlahkan dengan angka 50 dan nilai teori juga dijumlahkan dengan 50. Maka dari itu, nggak heran kalau nilai peserta OSN Biologi kelihatannya nggak berbeda jauh. Padahal, nilai itu menggambarkan perbedaan nilai asli yang cukup jauh, hanya skalanya lebih kecil. Bingung, ya? Ya pokoknya gitu, deh. Hehe. Intinya, nilai teori antar peserta biasanya mirip-mirip. Menyebabkan jarak yang lebih sempit antar t-score peserta. Sedangkan eksperimen itu nilainya sangat bervariasi. Jadi, kemungkinannya lebih besar untuk mengungguli nilai peserta lain dengan jarak t-score yang lebih luas. (Maaf kalau ini juga susah dipahami :’ )     

Aku ingin realistis. Aku sadar bahwa eksperimenku tadi sangat nggak cukup untuk mengantarkanku ke lima besar. Alias, selamat tinggal emas! Kecuali, kalau aku bisa mengerjakan soal teori dan mendapat nilai super, paling nggak sampai t-scoreku 53. Sebenarnya aku ingin berpikir positif, ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa pertarungan belum usai. Namun, aku tahu kemampuanku sendiri, aku tahu cukup banyak tentang kemampuan lawan-lawanku. Dan aku menyimpulkan, mungkin tahun ini aku harus berpuas diri dengan masuk 10 besar nasional, tapi tidak sampai  5 besar.

Baiklah, sampai jumpa besok, tes teori! Aku pun membiarkan diriku terbawa ke alam bawah sadar. Aku tahu aku sangat kelelahan ketika keesokan paginya, aku bangun pukul tiga pagi. Well, aku tidur jam tujuh malam. Waw, tidur selama delapan jam memang telah berhasil menyegarkan badan dan pikiranku. Tapi akhirnya … aku tertidur lagi. Hehe.

Berbekal tidur 9 jam, pagi hari aku sudah merasa sangat fresh. Aku kembali menaiki bus yang akan mengantarkan kami ke SMAN 3 Palembang.

Let’s finish this!

 

BERSAMBUNG

4 thoughts on “Gemerlap OSN yang Penuh Kejutan (OSN 2016: Part 4)

  1. Dan tgl 16 mei maghrib korban keracunan mulai berjatuhan

  2. Hai kak salsa, aku dika… Selamat ya kak, kemarin dapat medali di palembang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s