Karena Hidup Sering Tak Terduga (OSN 2016: Part 2)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Hai, Pembaca! Kali ini, aku mau berbagi sebuah rahasiaku. Ini serius, kok, karena memang nggak banyak orang yang mengetahui hal ini sebelum aku memutuskan untuk menuliskannya di blog.

Apakah itu???

JENG JENG JENG ….

Salsa kecil adalah seorang yang cengeng. Banget. Salsa kecil akan meminta Umi untuk menampakkan bagian tubuhnya di jendela kelas TK, supaya aku tahu Umi masih ada diluar, menemaniku yang sedang belajar (atau bermain, aku nggak tahu mana yang lebih tepat untuk seorang anak TK). Ketika Umi meninggalkanku, atau aku berpikir Umi meninggalkanku padahal masih ada, aku akan menangis sejadi-jadinya.

Hm, mungkin nggak terlalu unik, ya? Namanya juga anak kecil, bukankah hal seperti itu wajar? Well, seiring waktu berlalu, aku memang semakin nyaman dengan TKku dan nggak melulu minta Umi menemani setiap saat.

Eits, tapi … masih ada yang lebih unik lagi.

Menginjak SD, Salsa kecil menunjukkan bakatnya di dalam pelajaran sekolah. Aku bukan seperti anak kebanyakan; aku nggak tertarik untuk bermain dengan teman di kompleks rumah, aku nggak tertarik untuk punya koleksi boneka Barbie segudang, aku nggak peduli ketika setiap anak di kompleks memiliki skuter dan mengendarainya kemana-mana. Intinya, aku berbeda. Ehe. Termasuk dalam satu hal ini; aku mulai menunjukkan sisi perfeksionis-ku bahkan sejak SD!

Salsa kecil yang terbiasa mendapat straight 100 dalam hampir semua mata pelajaran (pengecualian besar, tentu saja Bahasa Jawa), mulai merasa mendapat 100 itu sebuah kewajiban. Dimulai sekitar kelas 3, aku akan menangis sejadi-jadinya bila tiba-tiba, entah karena apa, aku memiliki pikiran ‘peringkat satu di kelas tidak akan jatuh kepadaku semester ini’.

Apa ada peran kedua orangtuaku yang membuatku seperti itu? Seperti … memberi tekanan aku harus menjadi peringkat paling pucuk di kelas? Sama sekali nggak ada! Kelihatannya, motivasi itu berasal dari diriku sendiri. Mungkin, aku merasa bangga ketika namaku disebut sebagai peringkat 1 oleh walikelas saat pembagian rapot. Mungkin, aku terlalu nyaman dengan rasa bangga itu hingga tidak menginginkannya diambil dariku.

Setelah aku berumur belasan, aku nggak menangis separah itu lagi, sih. Aku suka belajar. Maksudku, aku nggak belajar semata-mata ingin meraih peringkat pertama. Aku juga mencintai ilmu pengetahuan dan belajar untuk memuaskan rasa penasaranku tentang alam semesta ini. Namun, ketakutan dan perasaan tertekan tetap menghantuiku di ujung semester. Will I be the number one?

Sejak aku kelas 1 SD sampai kelas 10 semester 1, pertanyaan itu terjawab dengan; yes, I was the number one in my class.

Gara-gara persiapan OSP 2016, porsi belajar pelajaran sekolahku jadi minimal sekali. Menjelang penerimaan rapot Mid Term, aku telah mengetahui bahwa akan banyak dari nilaiku yang merupakan hasil ‘kebaikan hati’ guru. Dan … benar saja. Well, it turned out to be not as bad as I had imagined. Malah ada pelajaran yang kurasa, bila aku benar-benar mengikuti pelajarannya, nilaiku nggak akan sebagus itu. Hehe. Tapi tentu saja ada yang aku yakin akan mendapat lebih bila aku benar-benar hadir dan mengikuti kelas tersebut.

Anyway, aku peringkat 3. Yap, Salsa yang perfeksionis dan bercokol di peringkat pertama selama 9,5 tahun itu turun pangkat. Bahkan langsung dua nomer! Memang, rapot Mid Term itu biasa disebut ‘rapor bayangan’. Namun, tetap saja… sejak 9,5 tahun yang lalu, mau bayangan atau asli, aku selalu menempati peringkat pertama.

“Hehe. Wah, saya peringkat 3 ya, Miss.” Komentarku sambil nyengir di hadapan walikelas saat melihat rapor.

“Iya, bagaimana nilainya?” Miss Vera meminta pendapatku tentang nilaiku sendiri.

“Yah … ya … nggak papa, Miss. Belakangan ini prioritas saya untuk OSN. Jadi ya … udah. Hehe.”

Perasaan lucu itu menari-nari di perutku. Kenapa, ‘lucu’? Nggak tahu ya, kalau dibilang sedih, enggak juga. Kalau dibilang senang, apalagi. Bagaimana bisa aku senang ketika turun peringkat? Haha. Tapi setelah aku pikir-pikir, perasaan itu lebih ke arah senang, sih. Aku senang karena, Allah memberiku kesempatan mencicipi rasanya dikalahkan oleh dua temanku yang kerja kerasnya luar biasa. Dua anak ini memang bukan anak olimpiade. Kehidupan mereka sehari-hari di sekolah, bisa dibilang, benar-benar definisi ‘murid yang baik’ yang selama ini diharapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Haha. Mereka fokus dengan sekolah, tapi juga anak yang aktif di kegiatan sekolah dan asrama, tak ketinggalan berusaha mengembangkan bakat lain diluar pelajaran.

Istilahnya, aku memang dikalahkan, tapi dikalahkan oleh orang-orang yang memang pantas. My score was okay, but theirs were … superb!! Akhirnya, aku sadar. Semakin dewasa, hal-hal yang menurut kita penting banget saat kecil, bisa jadi nggak berarti apa-apa di masa mendatang. Seiring kita bertambah usia, this life will be a lot more complicated than it already is. Masing-masing dari kita pun akan dihadapkan dengan prioritas yang berbeda-beda. Tidak menjadi yang terbaik di satu sisi, sama sekali bukan pertanda kegagalan ketika kita memang sedang sibuk menyiapkan amunisi untuk pertarungan di lain perang. Wow, life is indeed a war land. Jadi, temukan prioritasmu mulai dari sekarang, kawan! Bahkan, kalaupun kita tak berhasil meraih target untuk sesuatu yang sudah kita prioritaskan, kita selalu bisa mengambil pelajaran kehidupan dari sana. Or, do write a blog about your failure. Like me. Mehehe.

Lalu … apa kabar persiapan OSP?

Pengumuman OSK Jateng memang keluar dua minggu sebelum tanggal OSP. Mepet banget, pikirku. Apalagi, Biologi dan kebanyakan bidang lain, mempunyai tipe soal OSK yang sangat berbeda dengan OSP. Sedangkan OSP dan OSN tidak berbeda jauh. Ibaratnya, OSK adalah kulit terluar dari masing-masing bidang yang kalau pun belum mempelajari bidang tersebut secara mendalam, pelajaran di sekolah bisa membantu sampai kadar tertentu.

image

The Girls Squad; cewek-cewek peserta OSP 2016 dari Semesta. Before studying, first, let us take a wefie!😉

Boys Squad OSP

The Boys Squad yang menginspirasi kami untuk wefie!😀

OSP ternyata nggak dilaksanakan serentak se-Indonesia. Untuk Jateng, hari Rabu 21 Maret 2016, bidang Matematika, Fisika dan Kimia akan berlomba. Hari berikutnya, giliran bidang Biologi, Astronomi dan Komputer. Terakhir, ada Kebumian, Geografi dan Ekonomi. OSP Jateng dilaksanakan di Hotel Azisa, Solo.

Jadilah mobil sekolah kami bolak-balik Semarang-Solo selama tiga hari. Ketika giliranku tiba, kami berangkat dari Semarang sekitar pukul 11 siang (atau pagi?). Setibanya di hotel tersebut pukul 2 siang, kami bertemu dengan pejuang bidang-bidang hari sebelumnya.

“SEMANGAT!!” Kami bertukar salut dan saling mendoakan.

Alhamdulillah. Untukku, OSP berjalan cukup lancar. Waktu yang terasa mepet banget untuk mengerjakan 50 soal multiple true false tahun lalu itu tidak terjadi tahun ini. Bisa dibilang, aku lebih tenang dan menguasai keadaan. Materi yang lebih matang tentu sangat berpengaruh, namun kemampuan untuk mengolah mental juga menentukan ketenangan kita selama mengerjakan tes.

Kurasa, ini yang dinamakan bersaing dengan diri kita sendiri. Sometimes, we do not need to compare ourselves with others. Pertama, coba bandingkan diri kita sekarang dengan diri kita di masa lampau. Jika ada perkembangan, congrats! Kita sudah menjadi orang yang beruntung; lebih baik dari hari sebelumnya🙂 .

Selama hari-hari semenjak OSK hingga OSP, ada sekumpulan orang yang ibaratnya menjadi penonton dari pinggir lapangan. Well, yang berada di lapangan adalah kami, pejuang OSN 2016. Dan penonton tersebut adalah para manusia TOBI 2016 alias anak-anak Pelatnas tahun lalu. Menarik, lho, grup Line kami tampaknya nggak pernah sepi. Memang sudah menjadi kerjaan turun temurun setiap angkatan untuk update tentang peroliman adik kelas, terutama pada tahun yang tepat di bawahnya. Tapi, aku nggak tahu, apa setiap angkatan punya orang-orang unik bin ajaib seperti TOBI 2016. Mungkin saja enggak. Mungkin juga iya. Namun, satu yang kutahu pasti; setiap angkatan dari setiap bidang, setelah menghabiskan waktu bersama yang begitu lama baik di dunia nyata maupun virtual, akan merasa anak Pelatnas angkatan mereka lebih gila dan lebih abstrak dari kesan awal bertemu. Hehehe.

1464775483764

Pelatnas 2 IBO 2016 beserta orang Bandung yang menyusup, sebagian dari Supporter Terbaik! 💕❤

Sebaliknya, anak-anak Pelatnas tahun lalu yang langkahnya terhenti di Pelatnas 1 juga terus memantau jalannya Pelatnas yang semakin panas dan ketat persaingannya. Tapi, semakin kekeluargaan juga🙂 .

Pelatnas 2 IBO 2016 selesai sekitar dua minggu sebelum OSP. Sudah nggak heran lagi, pengumuman Pelatnas Biologi dilangsukan di tempat dan dengan sangat transparan. Semua nilai peserta diumumkan dan kesepakatan tentang keikutsertaan anak kelas 10 dan 11 ke OSN juga dibahas dengan sejelas-jelasnya. Ini adalah transparansi yang nantinya, sangat teramat aku syukuri karena … well, nggak semua bidang setransparan itu.

Dari 16 orang yang melaju ke Pelatnas 2, 8 besar berhak melanjutkan ke Pelatnas 3. Selamat buat; Kak Wilson, Kak Robin, Kak Fatin, Kak Adriel, Kak Jordan, Kak Ikhsan, Kak Andrea, dan Kak Haryo. (Urutan tersebut acak sih, berdasarkan seingatku. Bisa berarti peringkat atau bukan. Hehe). Namun, ada satu kejutan. Peringkat kesembilan ditempati oleh Syailendra yang masih kelas 10. Karena perbedaan nilai yang nggak begitu jauh dan usia yang masih muda, kakak TOBI akan mengusahakan keikutsertaannya di Pelatnas tahap 3. Wohooo, selamat Len! Bisa jadi harapan terakhir Semesta😀 .

Enam orang kelas 10 dan 11 yang mengkuti Pelatnas 2 akhirnya fix mendapat wild card ke OSN. Apa maksudnya wild card? Biasanya, ini adalah sebutan yang diperuntukkan untuk para pemain di kejuaraan olahraga yang karena memenuhi syarat tertentu, tidak perlu mengikuti seleksi dari awal dan langsung bisa memasuki babak utama. Jadi, keenam orang ini; Kak Ikhsan, Kak Haryo, Kak Vincent, Syailendra, Kak Rio, dan Kak Handika, tinggal menunggu undangan OSN yang pastinya akan memuat nama mereka.

Dilihat dari satu sisi, agak mengerikan dan mengguncang batin (?) sih. Kebijakan TOBI membuat peserta OSN harus bersaing dengan mereka mereka yang bahkan akan menginjak Pelatnas 3! Sangat berbeda dengan beberapa bidang yang peserta Pelatnas 2 saja sudah tidak diijinkan mengikuti OSN. Tapi, ya sudah lah, ya. Memperketat persaingan berarti meningkatkan level dari OSN itu sendiri🙂 (re: jadi makin susah :”””) ).

Thanks to sosial media dan internet yang telah menghubungkan dunia yang luas ini jadi sebesar laptop bahkan smartphone, pengumuman OSN menjadi sesuatu yang ditunggu banyak orang. Dan … yah, manusia-manusia yang sedang ‘digantungin’ itu meramaikan sosial media dengan berbagai kegalauan dan keluhan akan penantian yang tak berujung. Hehe.

Kalau aku sendiri, kebetulan sedang berada di rumah karena libur UN kakak kelas 12 yang lamanya nggak kira-kira. (Untuk libur panjang ini, dan hanya ini, aku mensyukuri pemakaian UN CBT😀 ). Di rumah, hari-hari berlangsung lebih cepat. Nggak terasa, sudah saatnya aku kembali ke sekolah.

Desas-desus apapun mengenai kapan pengumuman akan keluar selalu cepat bergulir dari satu komunitas olimpiade ke komunitas lainnya. Satu berita yang meyakinkan pun tiba; pengumuman tanggal 12 April! Hari dimana libur UNku berakhir dan aku harus kembali ke sekolah.

“Yah, lagi-lagi … menghadapi pengumuman penting sejenis ini harus ketika jauh dari orangtua …” gumamku sedikit kecewa.

Sejak SMP, pengumuman apapun yang berkaitan dengan olimpiade selalu aku dapat via internet dan … saat aku sedang tidak di rumah. Jadi, bersyukurlah, kawan. Bisa membagi rasa was-was yang sedang melanda dengan orang-orang tercinta di rumah, adalah suatu kenikmatan yang nggak bisa semua orang dapatkan :’) .

Semua pasti berdebar menunggu pengumuman, itu jelas. Namun, aku tidak hanya mengkhawatirkan nasib diriku. Banyak orang, terutama teman sekolah yang kalau dipikir-pikir, aku harapkan untuk lolos sebesar aku berharap diriku sendiri lolos.

Tanggal 12 April, aku sudah berada di sekolah. Sebelum pengumuman resmi keluar, bidang Biologi lewat suatu cara yang sebenarnya ‘kecelakaan’ telah membocorkan beberapa nama yang lolos ke nasional. Well, salah satunya, namaku. Dan dikabarkan pula bahwa aku adalah Juara Jateng, alias ranking 1 OSP Biologi se-Jateng. Mendengar kabar itu aku serasa bermimpi. Alhamdulillah! Aku bersyukur, namun tidak juga tenang, karena bisa jadi pada pengumuman resmi yang bertanda tangan direktorat pembinaan SMA, ada beberapa perubahan nama.

Lewat cara mengetahui yang sedikit absurd itu pula, terungkap bahwa keenampeserta Pelatnas 2 yang mendapat wild card terhitung kuota sekolah. Deg. Jantungku serasa mau copot.

Tunggu … kalau Syailendra dihitung kuota sekolah dan aku peringkat 1 OSP Jateng, maka … pasti, tidak ada salah satu pun kakak kelasku yang bisa ke OSN. Kuota dua orang per bidang dari sekolah yang sama itu telah terpenuhi oleh aku dan Syailendra.

Dua orang adik kelas yang menghentikan mimpi kakak kelasnya, di kesempatan terakhir mereka mengikuti OSN.

Tiba-tiba, aku merasa bersalah. Aku tahu, OSN adalah persaingan bebas dan usia sama sekali tidak berpengaruh. Jika nilai memang mengatakan adik kelas lebih tinggi daripada kakak kelas, penilaian yang fair memang akan meloloskan nilai yang lebih tinggi, kan?

Tapi … tetap saja. Entah kenapa, aku merasa seorang kakak kelasku sangat mampu untuk melaju ke OSN. Sangat mampu, karena ia telah memiliki track record yang luar biasa bagusnya selama Camp Olimpiade dan sepanjang 2 bulan terakhir aku mengikuti pelatihan bersamanya, aku yakin soal OSP yang kemarin aku kerjakan, juga mampu ia kerjakan dengan baik.

Aneh memang, aku kan nggak tahu pasti peringkat OSP, namun sudah bisa membuat praduga seperti itu. Tapi … entahlah. Aku merasa aku tahu, bahwa kakak kelasku pasti masuk 6 besar Jawa Tengah jika para pemegang wild card tidak dihitung kuota.

Aku nggak bersalah, Syailendra juga enggak. Siapa pula yang menyangka bahwa tahun lalu ada sekolah yang bisa mengirim hingga 3 orang ke OSN karena pemegang wild card tidak dihitung kuota, sekarang peraturan itu berubah? Well, perasaan nggak enak itu masih terus menghantui.

Akankah ada keajaiban saat pengumuman resmi muncul?

Sekitar pukul 4 sore, pengumuman resmi itu keluar. Langsung saja aku men-download file pdf pengumuman tersebut. Begitu beres, aku membukanya dengan gegabah. Nafasku tercekat. Aku melewati halaman-halaman awal yang aku tahu hanya memuat penjabaran kegiatan OSN dan hotel tempat peserta. Aku langsung menuju ke daftar para peserta. Aku sudah menghafal nama kakak kelas dan teman-temanku yang mengikuti OSP.

Matematika … Nggak ada. Fiuh. Fisika … ada dua! Wah! Kimia … yes, dua lagi! Eh, kok … sudahlah, nanti dulu. Komputer … nope, hmm. Astronomi. Satu! Biologi … aku, lalu … Syailendra. Udah, nih?

Aku menarik nafas sejenak, mengatur perasaan yang bercampur aduk ini. Kemudian, aku melanjutkan. Kebumian, satu! Geografi … satu, wah temanku ini keren! Dan ekonomi, satu. Alhamdulillah.

Sebentar … aku menenangkan diri untuk kembali menekuni pengumuman masing-masing bidang karena ada beberapa keanehan disana.

Kak Atika Nur Rochmah alias Kak Tika, peraih medali emas OSN Kimia 2015 … namanya tercantum sebagai peserta OSN Kimia tahun ini! Wah, kok aneh?

Kemudian, di bidang Biologi, ada sebuah sekolah yang bisa mengirimkan 3 orang siswa. Well, aku mengenal ketiga-tiganya, sehingga aku heran kenapa semua kelas 11 itu bisa tidak kena kuota. Tunggu, eh … salah satunya memiliki data bersekolah di SMP sebagai kelas 9???? Pantas saja tidak terhitung kuota! Tapi, itu kan tidak sesuai kenyataannya.

Tiba-tiba, ada perasaan bingung, panas, dan sedih dihatiku. Entah kenapa, saat itu aku yakin sekali. Seharusnya kakak kelasku bisa masuk OSN! Sekolahku bahkan nggak bisa mengirim dua orang lewat jalur OSP, sedangkan ada sekolah lain yang bisa mengirim tiga, ketiga-tiganya lewat OSP, karena … rrggh, data yang berbeda dengan kenyataannya?

Dua kejanggalan ini lantas menjadi perbincangan banyak komunitas anak olimpiade. Selidik punya selidik, si kelas 9 itu sebenarnya menulis sesuai kenyataan, sebagai kelas 11 saat pengisian data diri. Tapi, entah darimana datangnya, data tersebut bisa berubah! Dia yang secara peringkat berada di bawah dua temannya, akhirnya bisa mengikuti OSN karena pengumuman resmi itu sudah tidak bisa diganggu gugat.

Wah … kuasa Allah itu sungguh luar biasa ya? Aku mengenal betul si kakak ini. Bagiku, ia adalah salah seorang paling istiqomah yang pernah aku temui. Setelah bertahun-tahun menjajal seleksi OSN dan tidak pernah mencapai tahap nasional, Allah memberi keajaiban yang memungkinkannya menginjak tanah Sumatera tahun ini. Nggak adil, kah? Mungkin, jika dipikir-pikir kalau data si kakak tetap seperti data asli dan terkena kuota, maka seharusnya ada seseorang entah siapa yang tercantum dalam pengumuman itu.

Namun, kembali lagi. Cara Allah memang tidak terduga. Aku pun nggak seharusnya merasa kejadian itu berhubungan dengan ketidaklolosan kakak kelasku. 1) Aku bahkan nggak tahu peringkat kakak kelasku, sehingga semua ini hanyalah sekedar dugaan, dan 2) Allah telah menentukan rejeki setiap hambaNya, dan nggak akan ada sesuatu apapun yang bisa menghalangi hamba mendapat limpahan rejeki dari Allah bila Allah memang memberi.

Di pengumuman OSN ini, aku belajar banyak tentang arti ikhlas.

Kejanggalan berikutnya, tentang Kak Tika. Aku mendengar dari Muti, bagaimana Kak Tika sama terkejutnya dengan semua orang begitu melihat namanya tercatut di pengumuman OSN. Karena ingin melihat keadaan Kak Tika secara langsung, (untungnya kami anak asrama) aku menuju lorong kamar kelas 11 dan mengetok pintu kamar Kak Tika.

Pasti kakaknya terpukul, batinku.

Benar saja. Aku menemukan Kak Tika sedang berada di atas kasurnya, menangis tersedu-sedu. Aku menaiki tangga kasur Kak Tika, kemudian kami duduk bersebelahan.

“Kak Tik …” aku menggigit bibir.

“Daritadi … nggak bisa berhenti, nangisnya … hiks,” ucap Kak Tika sambil berusaha tersenyum. Namun, mukanya yang sembab dan memerah tak bisa membohongi.

Kami berbagi cerita cukup lama. Apa terdengar aneh, menangis dan merasa sedih karena lolos OSN? Untuk kasus Kak Tika; ya, rasanya pasti sedih banget!

Kak Tika lolos sampai Pelatnas 2 IChO 2016. Pengumuman yang lolos Pelatnas 3 belum keluar. Kak Tika yang diikutkan OSN bisa merupakan pertanda ia nggak lolos ke Pelatnas 3.

Melihat peraturan OSN, tentu saja peraih medali emas tidak bisa mengikuti OSN pada bidang yang sama. Tapi, ketahuilah, Kak Tika juga sama tidak tahunya dengan semua orang. Kimia tidak setransparan Biologi dalam membicarakan segala peraturannya.

“Seseorang sudah tanya ke juri. Jurinya sampai kayak kesal gitu, katanya; sudah dipertimbangkan dengan sebaik mungkin. Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.” Jelas Kak Tika.

Aku tahu … pasti sulit sekali berada di posisinya saat ini. Sebagian diri Kak Tika juga merasa nggak layak untuk ikut OSN karena medali emas yang telah ia kantongi tahun lalu. Ditambah lagi, ‘serangan’ orang-orang yang menanyakan keikutsertaan Kak Tika. ‘Kok ada namamu, Tik?’ ‘Udah dapet emas mau apalagi, Tik? Platinum?’

Memang, banyak banget grup olimpiade, bahkan grup TOBI 2016, yang … well, agak ‘pahit’ menanggapi keputusan juri Kimia itu. ‘Ngapain sih emas ikut lagi? Didoain dapet perunggu.’ Sebuah pernyataan yang membuat kesal banget, bahkan bagiku sebagai seorang adik kelasnya. Bagaimana kalau Kak Tika melihat dan menerima pernyataan semacam itu lebih banyak lagi?

“Nggak papa, kak. Yah … Kimia kan memang penug kejutan, kakak yang bilang sendiri hehe.”

“Iya, memang … Gagal, deh, jadi pengajar Pelatda …” kata Kak Tika.

Ya, Kak Tika telah berencana mengajar Pelatda Jateng dengan statusnya sebagai alumni OSN tahun lalu. Kalau sudah begini, Kak Tika saja mengikuti Pelatda, gimana mau ngajar? Hehe.

Pengumuman OSN 2016 memang penuh keanehan. Kimia memang aneh. (Ampuni aku, anak-anak Kimia. Haha). Tapi … kesembilan bidang OSN itu diurusi oleh 9 tim olimpiade yang berbeda. Sudah sewajarnya terdapat perbedaan peraturan antar satu bidang dengan yang lainnya. Juri OSN juga manusia. Mekanisme pengisian data diri juga bukannya terbebas dari kesalahan. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Mereka yang namanya berada di pengumuman tersebut sebagai peserta OSN 2016, adalah mereka yang terbaik untuk menuju OSN. Terbaik disini bukan hanya soal nilai, mengingat nilai yang lebih unggul bisa jadi gugur gara-gara kuota. Yang terbaik; untuk kehidupan kami secara umum. Sedangkan yang namanya tidak ada disana, aku yakin, itu pun juga keputusan terbaik dari Allah. Nggak mudah memang, untuk menjadi positif saat kabar buruk tiba. Tapi … bersyukurlah dengan keadaan apapun yang kita terima, niscaya akan Allah tambahkan limpahan karunia-Nya🙂 .

Aku mengucapkan rasa salutku untuk mereka yang berada di lingkungan sekolah dengan persaingan olimpiade sangat ketat. Terimakasih sudah mengusahakan yang terbaik dalam setiap pelatihan dan lomba universitas yang telah kalian lalui selama ini. Terimakasih karena telah turut membangun atmosfer persaingan secara sehat itu bahkan berbulan-bulan sebelum OSK dimulai. Terimakasih atas kedewasaannya menerima kenyataan dan apapun yang terjadi.Terimakasih sudah menunjukkan bahwa OSN hanyalah satu dari ribuan cara menuntut ilmu di jalan Allah. Terimakasih, dan terimakasih. Aku nggak hanya belajar banyak dari para Juara. Bagiku, seseorang seperti kalian yang bisa jadi, merasa mimpinya kandas di tengah jalan namun mampu bangkit kembali, adalah seorang pemenang yang nggak kalah hebat dibanding mereka yang dikalungi medali emas internasional.

Semangat terus, wahai sepuluh punggawa Semesta untuk OSN 2016!

Fisika: Naqita Ramadhani, Nafis Salman Brahmantino
Kimia: Wahyuda Nuzul Fahmi, Mutiara Aulya Firdausy, Atika Nur Rochmah
Astronomi: Azka Dzaki Arrazaq
Biologi: Salsabiilaa Roihanah, Syailendra Karuna Sugito
Kebumian: Suwaibatul Annisa
Ekonomi: Andreas Alfonsus Sahat Angelo S.
Geografi: Avissa Putri Khairunnisa

Bismillah, the Land of Pempek is waiting for us!

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s