Kawan Lama yang Menyapa (OSN 2016: Part 1)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Buatku, memori-memori yang aku tuliskan di blog ini teramat sangat berharga. Beberapa kali aku iseng membaca ulang tulisanku tentang hal-hal yang sudah lama berlalu. Seketika, otakku memutar kembali rekaman tentang momen tertentu yang terabadikan dalam tulisanku itu. Tidak jarang juga, tulisanku sendiri menjadi sumber semangat untukku. Ketika sedang galau atau sedih atau khawatir, sering aku membaca kenangan dimana aku pernah merasakan perasaan yang serupa. Aku pernah melalui ini, tentu aku pasti bisa melewati ini kembali!

Yang lebih mengharukan adalah, beberapa kali anonim di ask.fm atau orang-orang yang menyapa dan berkenalan padaku, menuturkan sepotong kisah yang mereka baca di blog ini. Sungguh, aku sering tertawa ketika menyadari kenyataan bahwa, pembaca blogku mengingat sesuatu yang bahkan sempat aku lupakan😀 .

Sepulang dari OSN 2016—tunggu, jadi … aku mengikuti OSN lagi? Hehe. Jawabannya; ya, dan banyak sekali kisah yang menyertai perjalanan selama kurang lebih empat bulan itu. Sepulang dari OSN 2016, aku memperhatikan tab kategori ‘Olimpiade’ di sisi atas blogku. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur. Sekarang, anak kategori ‘Olimpiade’ akan bertambah; OSN 2016🙂 .

Aku merasa … well, untuk tahun 2016, mungkin, aku akan lebih siap menghadapi apapun kompetisi yang aku ikuti secara mental. (Bukan secara materi, lho, karena … hehe, aku nggak akan pernah merasa benar-benar siap sih, seberapa pun keras aku sudah belajar). Ini, kan, bukan kali pertama aku mengikuti OSN SMA. Pasti, kejadian yang menungguku gitu-gitu aja, lah. I thought that … nothing would surprise me anymore. Tapi ternyata, anggapanku itu … salah besar :’)

Bulan Januari awal, sekembalinya dari liburan semester ganjil selama dua minggu di rumah, aku sudah menunggu dengan hati berdebar tentang jadwal OSN 2016. Rupanya, OSN akan diadakan bersamaan untuk tingkat SD, SMP dan SMA di Palembang, Sumatera Selatan, 15-21 Mei 2016. Seleksi tingkat kota dilaksanakan pada 18 Februari 2016, diikuti seleksi tingkat provinsi pada 21 sampai 23 Maret 2016.

Menghadapi OSN 2016, aku sudah siap dengan segala kemungkinan. Tim olimpiade Biologi SMA Semesta terdiri dari empat orang kelas 10 dan tiga orang kelas  11. Sudah menjadi peraturan OSN bahwa setiap sekolah hanya bisa diwakili oleh maksimal dua orang siswa per bidang mata pelajaran. Lah … dari sebanyak itu siswa olimpiade Biologi di sekolahku … artinya, menjadi dua yang terpilih untuk ke tingkat OSN, berarti ‘mengambil’ mimpi teman, atau bahkan kakak kelas 11, dimana tahun ini adalah tahun terakhir mereka bisa mencoba berjuang ke OSN.

Sangaaaaat berbeda dengan keadaanku sebagai solo fighter saat OSN SMP dulu. Berbeda juga dengan posisiku tahun lalu. Aku mengikuti OSN SMA, namun masih berstatus siswa SMP sehingga tidak termasuk kuota SMA. Ditambah lagi, Alhamdulillah, sekolahku menyisakan satu orang untuk berjuang di Pelatnas IBO tahap 2, Syailendra. Kami pun masih menunggu dengan was-was. Apa Syailendra dan anak-anak kelas 11 yang ikut Pelatnas 2 mendapat wild card ke OSN? Jika iya, apa mereka dihitung kuota sekolah? Kekhawatiran ini cukup berdasar. Karena, jika Syailendra dihitung kuota sekolah, maka… hanya ada satu yang terbaik dari sekolahku yang bisa lolos hingga ke OSN melalui seleksi biasa (OSK dan OSP, kemudian OSN), serapat apapun nilai kami nantinya. Sedikit menakutkan, ya? :’

Sudahlah, aku mengesampingkan pikiran-pikiran tentang kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Kalau memang rejekiku ikut OSN tahun ini, in syaa Allah itulah yang aku dapat.

Ketidaklolosanku ke Pelatnas tahap 2 (cerita lengkapnya disini) membuatku merasa… hm, bebas? Hehe. Menjadi bagian dari Pelatnas Biologi itu unik, lho. Kami mendapat tugas mingguan yang datang berminggu-minggu sebelum Pelatnas 1 dimulai. Kami memperoleh tugas dan mengumpulkan jawaban kami via email. Nantinya, nilai tugas mingguan menjadi salah satu penyumbang nilai untuk seleksi Pelatnas. Jujur saja, aku masih susah untuk mengatur waktu mengurusi tugas-tugas itu. Tentu saja tugas kami memiliki deadline. Sekeras apapun aku berusaha tidak menjadi seorang deadliner, ujung-ujungnya aku selalu mengumpulkan tugas mepet dengan batas waktu. Ckck.

Yah, tanpa tugas-tugas itu, hari-hariku menjadi lebih santai dari biasanya. Aku memiliki waktu senggang yang cukup banyak. Wah, bisa dimanfaatkan untuk belajar persiapan OSK, nih, pikirku senang.

Menghadapi setiap kejadian di hidup ini, umiku selalu berkata dengan penuh keyakinan, “Tenang saja, nak, pasti ada hikmahnya.” Umiku mengajarkan untuk melihat sisi positif dari segala-galanya. Selalu ada hal baik, setersembunyi apapun itu. Prinsip yang sederhana, namun tidak mudah untuk dilakukan.

Well, aku selalu mencoba, dan akhirnya terbiasa. Banyak hal kecil di hidup ini yang aku syukuri, dan aku yakini, merupakan hikmah dari kejadian yang telah lalu. Hal baik itu akan terungkap, meskipun butuh waktu lama dan dalam bentuk yang sangat berbeda dan tak terduga. Aku tersadar. Terkadang, manusia terlalu sibuk menyesali kesialan di masa lampau, hingga melupakan nikmat lebih besar yang Allah berikan di depan mata. Bukan, bukan masalah kita mendapat nikmat itu atau nggak. Tapi, apakah kita bisa melihat dan sadar akan kehadiran nikmat tersebut di setiap helaan nafas kita. Wehee… jadi serius banget ya :’)

Ternyata … Allah begitu Maha Pemurah. Di waktu senggang yang aku punya, Allah membukakan jalan untukku menyapa kegiatan favorit yang sebelumnya sempat lama terbengkalai; menulis! Yap, aku mendapat tawaran untuk menulis suatu cerita anak-anak di penerbit yang sama dengan buku-bukuku dahulu. Alhamdulillah! Senang sekali rasanyaaaaaa.

Memang, sempat terbersit sedikit rasa tidak percaya diri dengan kemampuanku sekarang. Menulis selalu menjadi bagian dari diriku. Namun, aku merasa tidak selihai dulu lagi dalam urusan meramu kata. Dan mungkin, jangka waktu lima tahun sejak terakhir aku menerbitkan karya, seharusnya bisa diisi dengan latihan untuk terus mengembangkan tulisanku. Biar… kualitas sastraku nggak mangkrak gini-gini aja. Dibandingkan dengan penulis remaja yang aktif terus menerbitkan buku, aku mah apa atuh :”)

cover-sohib-never-dies

Sohib Never Dies (DAR! Mizan, 2011). Buku terakhirku yang diterbitkan 5 tahun lalu. Mungkin buku ini di toko-toko buku sudah menjadi usang dimakan zaman :’)

Tapi, tenang saja! Pikiran seperti itu nggak bertahan lama, kok. Aku langsung sadar, menulis ya menulis. Menulis itu menyampaikan kata hati yang paling dalam. Baik tulisan fiksi maupun pengalaman pribadi seperti yang aku tulis di blog ini, jika memang aku memiliki suatu pesan yang ingin kusampaikan, dan Allah mendekatkanku pada kesempatan ini, artinya lebih baik aku just jump and go for it, right?😉 Masalah kualitas, in syaa Allah banyak waktu untuk memperbaikinya. Dan … bukankah itu gunanya editor? Hehe.

Jadilah, info Pak Imam—koordinator olimpiade di sekolahku dari jaman dahulu kala, hoho—tentang Camp Olimpiade yang diadakan akhir bulan Januari sampai awal Februari, menjadi deadline yang aku patok sendiri untuk tulisanku. Hilang sudah masa-masa yang seharusnya diperuntukkan belajar olimpiade itu. Malah jadi ajang senam tangan dengan meloncat-locatkan jari di atas keyboard laptop😀 Sebelum berangkat Camp, tulisan ini harus selesai. Setelah itu, aku bisa fokus dengan Biologi! Kata hatiku menyusun target.

Lalu …. Berhasil! Alhamdulillah! Aku senaaaaaang sekali ketika menekan tombol kirim yang mengantarkan bagian terakhir naskahku menuju ke alamat surel editor penerbit tersebut. Agak lebay, yah, Salsa… hihi. Tapi, sungguhan, deh. Aku sesenang itu mendapat kesempatan ini. Aku kembali menulis—dalam hal ini benar-benar berhubungan dengan buku yang akan diterbitkan, bukan sekedar menulis di blog—seperti … bertemu belahan jiwa yang sudah lama tak bersua!

Jadi, pembaca sekalian, tunggu bukuku, yah! In syaa Allah terbit pertengahan tahun ini … atau sedikit lebih lama dari itu. Karyaku kali ini memang cerita anak-anak. Tapi … pesan didalamnya akan bermanfaat untuk segala usia, in syaa Allah😀 (Nggak papa kok, teman-teman membeli bukuku untuk diberikan kepada adiknya, tapi dibaca dulu, ya, sebelum itu! hehe).

Camp Olimpiade adalah kegiatan rutin, berlangsung sekitar dua sampai tiga minggu, dimana anak-anak dari seluruh sekolah kerjasama Indonesia-Turki berkumpul dengan teman satu bidang untuk mendalami bidang tersebut secara intensif di salah satu sekolah yang telah ditentukan. Well, ini kali pertamaku mengikuti Camp Olimpiade SMA, setelah selama SMP rajin mengikutinya dua kali dalam setahun. Camp semester ganjil berlangsung dua kali untuk setiap bidang, memisahkan kelas 10 dan 11. Baru pada camp semester genap, seperti yang akan aku ikuti kali ini, menggabungkan kelas 10 dan 11 yang terpilih dari camp sebelumnya. Lalu, apa aku mengikuti camp sebelumnya? Ya nggak juga, sih😀

Biologi dari Semesta beranggotakan empat orang; aku dan ketiga kakak kelasku. Lagi-lagi, aku menginjakkan kaki ke Kharisma Bangsa di Tangerang Selatan, Banten. Kalau dijumlahkan, mungkin sudah tujuh minggu selama hidupku, aku ‘numpang’ bersekolah disana. Akan menjadi sepuluh minggu setelah camp ini usai. Bahkan, aku bisa bercerita kepada temanku sesama kelas 10 yang baru menginjak tahun pertamanya disana, “Dulu itu kantinnya blablablabla … terus gedung itu belum ada, jadi blablabla …”

Seru, kok! Mendapat pengalaman baru tinggal di ‘negeri lain’. Merasakan masakan baru (hal yang satu ini sangat menjadi concern anak asrama by the way, bahkan kami sering mengobrol seru ketika membahas dan membandingkan makanan sekolah ini dan itu), aturan baru (yang tidak sepenuhnya menyenangkan haha), jadwal dan harga laundry yang baru (hal SUPER PENTING untuk anak asrama), dan yang paling utama … merasakan kebaikan dari orang-orang yang baru dikenal. Seperti makanan Turki yang tiba-tiba nyasar ke kamar anak olim, misalnya. Hehe. Sederhana, kan, menunjukkan jalan untuk orang yang baru pertama kali mencapai sebuah tempat baru, atau membantu mengangkat koper menaiki tangga yang panjangnya nggak kira-kira? Namun, hal itu membuatku  sadar, bahwa orang baik memang dimana-mana, dan aku senantiasa mensyukuri kesempatanku bertemu banyak jenis orang dan mengamati berbagai jenis kebaikan yang mereka lakukan setiap waktunya. Inspiratif😉

Camp berjalan asyik dan lumayan melelahkan, entah kenapa. Ada enam cewek perantauan yang menginap di satu kamar, yaitu aku dan Kak Cantika kakak kelasku. Sisanya adalah anak Kesatuan Bangsa; Kak Syifa, Kak Iffah dan Feira anak Biologi, ditambah Kak Hasna anak Matematika. Yap, nggak salah lagi, Feira ini adalah Feira yang berhasil mengajakku membuat meme pertamaku! (Dan sampai sekarang, itu satu-satunya ^_^). Oke, akan aku sertakan kembali meme legendaris kita disini Fei, for the sake of that good ol’ times😀

cymera_20140904_155956

Kata orang, tekanan membawa kreatifitas, kan? Nah, ini dia buah ke-stress-an kami ketika TC 1 IJSO 2014, berkenalan dengan KImia dan FISIKA untuk pertama kalinya😀

Walaupun selama camp banyak korban berjatuhan karena sakit, termasuk aku yang terserang flu parah hingga merampok tisu banyak orang, secara umum camp berakhir dengan sukses. Pengajar kami, Kak Ros, adalah medalis perunggu IBO dan perak OSN, yang sering bercerita tentang keunikannya meraih Best Theory walaupun perak😀

DSCN3499

Foto bersama sebelum Camp usai. Eh, ada adik SD yang bukannya latihan Karate, malah numpang foto😛

DSCN3502

Akhirnya… sukses mengambil gambar! :’) Bersama pengajar kami yang berdiri di tengah, kak Ros.

1454916647339

Dari kiri ke kanan: Kak Cantika, Salsa, Alief Abi dan Alfri Abi. Semesta Biology!

IMG_1102

Hari terakhir Camp, bertepatan dengan ulang tahun Kak Syifa🙂

IMG_1122

Semoga sukses dunia akhirat, Kak Syifa🙂 (Dari kiri ke kanan: Salsa, Kak Syifa, Kak Iffah, Kak Nisa, Kak Cantika, Dinda, dan Feira)

Ada kejadian super unik yang mewarnai kegiatan camp-ku kali ini. Pernah suatu saat, aku meletakkan laptopku di loker meja. Tak kusangka, laptop itu meluncur jatuh ke lantai, karena ternyata aku meletakkannya di atas binderku yang memiliki permukaan licin. BRAK!! Suaranya mengagetkan satu kelas. Setelah kunyalakan, ternyata laptopku masih bisa berfungsi. Syukurlah.

Eh … ternyata. Beberapa hari setelah kejadian, laptop yang sedang aku gunakan tiba-tiba macet! Dan … mati! Aku menatap layar laptopku yang hitam itu dengan air muka tak percaya. Berbagai bayangan buruk langsung menghantuiku. Laptopku kenapa? Tidak ada laptop … aku tidak bisa belajar, dong?

Setelah puas menangis ke Abi dan Umi, aku memantapkan hati untuk meninggalkan kesedihanku sebentar dan memutar otak mencari jalan keluar. Alhamdulillah, Allah menunjukkan pertolongan-Nya. Seorang guruku beserta kakak kelas sedang mampir ke Kharisma Bangsa untuk menginap semalam. Mereka berencana mengurus visa untuk keberangkatan kakak kelasku itu ke sebuah festival seni di Amerika Serikat. Maam Irham, guruku itu, bersedia membawa laptopku untuk diperbaiki oleh teknisi komputer di Semesta. Konsekuensinya, tidak ada laptop yang bisa kugunakan selama sisa camp-ku yang masih satu minggu. Tapi, mau bagaimana lagi. Kalau laptopku tetap disini juga tidak berguna.

Tiba-tiba, terlintas sebuah ide di pikiranku. Ada seorang teman SMPku yang sekarang melanjutkan SMA di Kharisma Bangsa. Ethal, nama temanku, mau meminjamkan laptopnya saat jam pelajaran sekolah supaya bisa aku gunakan. Alhamdulillah, aku terbantu sekali! Langsung saja aku meng-copy beberapa buku  penting dari teman-teman  satu camp ke laptop Ethal. Tidak senyaman menggunakan laptop sendiri, tentu saja. Tapi, sangat sangat membantu dan bermanfaat.

Kejadian itu membuka mataku. Bagaimana kalau tiba-tiba semua alat elektronik yang kita miliki tidak bisa digunakan? Kembali ke abad lalu saat orang berkomunikasi dengan sura-menyurat dan bukannya chatting? Rasanya memang aneh dan mengesalkan, namun bukan tidak mungkin terjadi, lho! Pada akhirnya, aku bersyukur pernah menghadapi kejadian seperti itu. Meskipun harus merogoh kocek untuk mengganti hardisk, setidaknya, aku belajar untuk memecahkan masalah di lingkungan baru yang jauh dari kenyamanan rumah, sekaligus memanfaatkan kesempatan seterbatas apapun untuk belajar.

Sepulang camp, aku tersadar bahwa OSK tinggal seminggu lagi! Hari-hari itu aku habiskan untuk outing, alias belajar mandiri, dengan teman-teman seperjuangan yang juga mewakili Semesta ke OSK dari berbagai bidang. Kadang-kadang, (hm, sering😀 ) kami merasa jenuh belajar. Beberapa kegiatan hiburan kami lakukan untuk mengusir kebosanan dan rasa kantuk yang melanda. Well, karena sekarang aku sudah kelas 10, aku tidak berjuang sendirian lagi di angkatanku untuk OSN SMA. Bersama teman-teman sesama kelas 10, kami sering bermain permainan tidak penting, seperti membuat pertanyaan trivial menyangkut dunia per-olim-an di Semesta. Yang menjawab benar akan mendapat cireng dari salah satu temanku yang kebetulan sangat dermawan … haha. (Contoh pertanyaannya: Sebutkan dua bidang di OSN yang belum pernah ‘pecah telur’ di Semesta! Pecah telur=mendapat emas! Apa hayooo jawabannya? Hihi)

Akhirnya, hari Kamis, 18 Februari 2016 pun tiba.

Setiap tahun, OSK Kota Semarang diadakan di tempat yang sama, SMAN 2 Semarang. Keberangkatan kami di pagi hari mengalami hambatan gara-gara bapak angkot (yap, angkot adalah kendaraan yang setia menemani anak Semesta kemana-mana) yang kami carter tidak kunjung tiba. Aku sempat waswas, takut tidak mencapai tempat lomba tepat waktu. Namun, Alhamdulillah, kekhawatiranku tidak terwujud, kok. Kami berhasil sampai sebelum bel tanda ujian dimulai berbunyi.

Sampai di ruang ujian, Ibu Guru yang menjaga memberi instruksi untuk meletakkan kalkulator dan tidak menggunakannya. Aku menggernyitkan dahi mendengar perintah ini. Cepat-cepat kuperiksa lembar soal. Hm, memang tidak ada peraturan yang memperbolehkan peserta menggunakan kalkulator, tapi tidak ada yang melarang juga! Waduh, pikirku gugup. Aku sudah terbiasa banget pakai kalkulator, bahkan hitung-hitungan sederhana pun pakai kalkulator. Tapi, tetap saja aku nggak punya alasan yang konkret untuk melawan ibunya …

Aku menghembuskan nafas pasrah sambil menatap lembar soal bagian paling awal yang memuat peraturan pengerjaan dengan perasaan sedikit menyesal, karena penggunaan kalkulator sama sekali tidak dibahas disana. Ya sudah, mau bagaimana lagi. Harus menghitung pakai otak.“Bismillah,” ucapku pelan sambil membalik lembar soal dan mulai mengerjakan.

Waktu tiga jam akhirnya usai juga. Aku keluar ruangan dengan perasaan tenang dan cukup puas. Ketakutanku tidak terwujud, hitungan soal OSK tadi tidak ada yang rumit, masih sangat bisa di-handle dengan menghitung manual meskipun memang menghabiskan lebih banyak waktu untuk orang sepertiku. Setelah sampai ke luar ruangan, aku segera berkumpul dengan sesama kawan berbaju merah, seragam khas sekolah Indonesia-Turki. (Dulu kami punya nama; PASIAD, namun sekarang nama itu secara formal sudah tidak ada, sehingga terkadang aku bingung mau bercerita menggunakan sebutan apa untuk sekolah-sekolah seperti itu hehe).

Hari-hari setelah OSK, kami berencana mengikuti pelajaran di kelas seperti biasa sambil menunggu pengumuman hasil OSK Jawa Tengah. Loh, bukan Semarang? Ya, Jawa Tengah memang mengadakan jenis seleksi yang unik. Provinsi ini tidak mengumpulkan tiga besar dari seluruh kabupaten dan kota, melainkan membuat sistem passing grade. Sehingga, siapapun yang termasuk 105 besar di Jawa Tengah berhak mengikuti OSP, tidak terbatas kuota perwakilan kota. Sistem ini sangat menguntungkan, terutama di kota seperti Semarang yang persaingan tingkat kota saja lumayan ketat.

Sebaliknya, sekolah malah menyuruh kami untuk outing kembali. Pengalamn-pengalaman tahun sebelumnya, pengumuman OSK Jawa Tengah hanya berjarak sekitar dua minggu dari OSP. Untuk berjaga-jaga, sekolah mengijinkan kami outing sejak awal. Namun, tidak semua anak menyambut penawaran ini. Beberapa dari kami memilih untuk mengikuti kelas karena Mid Term alias Ulangan Tengah Semester semakin dekat. Kami pun hanya diwajibkan mengikuti Mid Term sains, matematika, dan Bahasa Inggris. Tetap saja, ada temanku yang bersikeras mengikuti semua ujian. Ckck. Namun, aku menghargai keputusan mereka karena … well, setiap orang memiliki prioritas yang berbeda, dan sepertinya temanku itu tidak menginginkan nilai rapornya jatuh.

Lalu, apa prioritas Salsa? Hehe… bersama beberapa teman yang lain, kami sepakat hanya akan masuk kelas ketika ada quiz (ulangan harian) pelajaran sains, Matematika, dan Bahasa Inggris. Buku-buku yang kami bawa ke ruang outing pun jadi bermacam-macam, tergantung pelajaran yang akan diujikan hari itu.

Kota demi kota sudah mengumumkan hasil OSK. Sungguhan, website Dinas Pendidikan Provinsi Jateng sering sekali aku refresh. Suatu siang setelah ujian, aku membuka laptop, menyambung ke internet, dan membuka pdkjateng.go.id. Huft … nihil, batinku kesal. Aku memutuskan untuk melakukan hal lain dan menghibur diri. Tiba-tiba, Kak Ica datang mengetuk kamarku.

“Salsa!” wajah Kak Ica yang sumringah cukup menjelaskan semuanya. Tapi, aku bingung. Kan baru saja aku mengecek website itu, dan nggak ada apa-apa …

“Beneran!” Kak Ica meyakinkan. Aku menduga, di sela waktu yang singkat antara aku membuka website dan Kak Ica datang, pengumuman itu diunggah.

Entah kenapa, saat itu, teman-teman dekatku sedang ada di kamar. Mereka beringsut menyesaki kasurku, sebelum akhirnya aku usir karena aku ingin melihat pengumuman untuk pertama kalinya seorang diri. Hehe … maafkan aku, kawan :’)

Alhamdulillah.

Ada namaku dan nama hampir semua temanku. Sejak OSK, sekolah kami hanya mengirimkan tiga orang setiap bidang, karena kuota OSP dari Jawa Tengah untuk setiap sekolah memang hanya tiga. Semesta berhasil mengirim 27 orang. 26 anak SMA, dan 1 anak SMP kelas 9.

Aku mengucap syukur. Sepertinya, aku menjadi peringkat 1 Kota Semarang.

Sekali lagi, Alhamdulilllah🙂

Mataku kembali berbinar ketika melihat surat dari Dinas Pendidikan Jateng. OSP tahun 2016 dilaksanakan di … Solo, dan … di hotel? Wah! Aku senang sekali! Seriusan deh, OSP 2015 diadakan di tempat yang menurutku kurang nyaman, jadi aku sangat gembira mengetahui perubahan ini😀 .

Tadi, aku menyebutkan tentang teman-teman dekatku, kan? Yah … aku selalu bersyukur memiliki mereka. Mereka bukan anak olim, tapi mereka sudah berteman denganku cukup lama hingga mengerti bagaimana seleksi OSN berlangsung. Bukankah itu yang kita semua cari dalam sebuah persahabatan? Kita tidak perlu sama dalam segala hal. Cukup dengan pengertian, dua kutub yang terpisah jauh pun bisa disatukan ^_^

Orangtuaku di rumah juga telah menjadi pengunjung setiap website pdkjateng beberapa waktu belakangan. Setelah pengumuman tersebut keluar, kami bercakap-cakap lewat telefon. Inti dari percakapan kami adalah, perjalananku masih panjang. Solo menunggu, sebelum bisa ke Palembang. Bismillah!

BERSAMBUNG

3 thoughts on “Kawan Lama yang Menyapa (OSN 2016: Part 1)

  1. nimasaurafi

    Halo, Kak!!😀 Kunjung blog-ku juga, ya, Kak Salsa!🙂 Oh, ya, aku posting Jejak Langkah Kak Salsa, lho! Itu berisikan tulisan-tulisan yang aku copy dari “My Books” blognya Kakak. Hehehe… maaf, ya, Kak, copy My Booksnya….😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s