Akhir dari Impian Itu (Pelatnas I IBO 2016: Part 2)

Assalamu’alaikum!

Liburan yang lalu,  Umiku mencoba banyak sekali resep kue kering untuk usaha kuenya. Karena saat itu aku sedang berada di rumah (pulang kampung!😀 ), aku menjadi salah satu tenaga tambahan yang membantu Umi mengubah bahan-bahan mentah itu menjadi sesuatu yang lezat. Yah, anggap saja aku sedang magang di rumah sendiri😀

Seperti yang aku katakan, resep-resep ini adalah percobaan pertama Umiku. Percobaan pertama nggak selalu sukses. Atau, bisa jadi awalnya terlihat sukses, tapi untuk beberapa percobaan berikutnya ada keanehan yang membuat kue kering itu tidak sesukses percobaan pertama. Menghadapi segala keanehan itu, Umiku selalu melakukan analisis. Kira-kira, apa yang kurang? Apa yang bisa ditambahkan? Apa yang perlu dihilangkan? Kini, aku mengerti. Bahwa, ada hal-hal yang tidak tertulis di dalam resep. Ada hal-hal yang harus kita temukan sendiri dari sebuah percobaan. Aku menyebutnya; resep tersembunyi.

Sekarang, kami tahu resep mana yang bisa menggunakan kuning telur beku, atau hanya bisa yang fresh. Kami jadi mengerti bahwa waktu pemanggangan sebuah jenis kue kering bergantung kepada pewarna yang digunakan supaya warna yang dihasilkan terlihat cantik. Kami menemukan cara untuk membuat bentuk-bentuk kue kering dalam suatu jenis yang sama menjadi lebih teratur. Kami membandingkan kuas berukuran sebesar apa yang paling mudah digunakan untuk mengolesi permukaan kue kering dengan kuning telur supaya mengkilap.

Benar, kan? Semua itu nggak tercantum di dalam resep. Agar sampai kepada kesimpulan tersebut, kita butuh waktu, butuh latihan, dan bahkan butuh kegagalan yang berulang kali. Aku rasa, perjalanan kami untuk mengungkap lebih banyak ‘resep tersembunyi’ itu nggak akan pernah berhenti🙂

Sama halnya dengan … seluruh sisi kehidupan ini. Sama halnya dengan … olimpiade🙂

Satu kesempatan yang begitu berharga untukku, karena di Pelatnas kali ini, aku bisa berlatih eksperimen berkali-kali. Yap, OSN dan IBO tentu nggak melulu soal teori. Untuk penilaiannya sendiri, Teori dan Eksperimen memiliki perbandingan 50 : 50! Jelaslah, eksperimen menjadi suatu aspek yang nggak boleh dianggap ringan. Nah, berlatih eksperimen itu juga nggak bisa sembarangan. Sangat sedikit sekolah di Indonesia yang sudah terbiasa melakukan eksperimen dalam kegiatan belajar-mengajarnya. Apalagi untuk eskperimen setingkat IBO dan OSN yang biasanya melibatkan Biologi Molekuler, kebanyakan sekolah tidak memiliki peralatan lab yang memadai.

Meskipun selama tes eksperimen peserta akan diberikan prosedur pengerjaan, namun … Banyak sekali resep tersembunyi yang sebaiknya kita ketahui supaya hasil eksperimen menjadi maksimal.

Jujur saja, aku sempat merasa malu. OSN 2015 lalu, TOBI langsung mem-publish nilai seluruh peserta yang sangat mendetail untuk setiap tes segera setelah OSN usai. Dan nilaiku … uhuk. Ada yang terlihat sangat menyedihkan. Nggak sampai dua digit loh! Entah ada yang care sekali sama aku atau gimana, sampai-sampai sempat ada pertanyaan di ask.fmku; “Sal, nilai kamu yang Mikrobiologi kok segitu? Susah banget kah?” kurang lebih seperti itu. Aku cuma bisa meringis sedih. Setelah aku ingat-ingat, kerjaku dengan bakteri saat itu memang berantakan banget! Pantaslah nilaiku cuma segitu.

Saat Pelatnas, ada hari dimana kami dapat berlatih eksperimen. Kakak pembina akan datang untuk menjelaskan segala prosedur dan membimbing kami selama kami mengerjakannya. Kami bisa bertanya dan minta dijelaskan apa saja. Nah, hari berikutnya, kami dihadapkan dengan tes eksperimen. Kali ini, kami benar-benar melaksanakan tes; nggak mendapat bantuan dari kakak pembina sedikit pun.

Mikrobiologi masih menjadi momok terbesarku. Namun, setelah beberapa kali berlatih, aku mulai terbiasa. Aku sadar bahwa banyak banget resep tersembunyi yang sebelumnya benar-benar tersembunyi, tapi kini telah aku mengerti dan menjadi bagian dari kerja proseduralku. Everything seems to be a lot easier! Alhamdulillah! Nilai eksperimenku juga terbebas dari satu digit. Alhamdulillah🙂 Hehe.

Di Pelatnas ini juga, aku sadar bahwa kompetisi dengan orang lain itu perlu. Tapi terkadang, untuk menghindari stress, kita perlu untuk berkompetisi dengan diri kita terlebih dahulu. Kalau nilai yang kita dapat lebih baik dari hari sebelumnya, itu kereeen! Mungkin belum bisa melewati nilai teman-teman yang lain, but at least we made an improvement. Barulah kemudian, kita mengamati nilai teman-teman, utnuk dijadikan pelecut semangat supaya bisa menyamai bahkan melebihi mereka.

Terkadang, mungkin, anak Biologi itu terlalu berpikir biologists. Topik pembicaraan kami, becandaan kami, semuanya dikaitkan dengan teori-teori Biologi. Sampai-sampai, kegemaran kami itu mengakibatkan melayangnya nyawa makhluk hidup lain.

Pada suatu malam yang tenang, kami tidak ada jadwal tutor malam. Aku dan teman sekamarku; Kak Fatin, Kak Amel dan Kak Saskia sedang bersantai di kamar. Tiba-tiba, terdengar teriakan sekumpulan orang. Tampaknya, sesuatu yang heboh sedang terjadi diluar.

“Tumben rame banget,” komentarku. Kakak-kakak yang lain berpendapat sama. Mungkin anak kimia, pikirku kemudian. Dari kamar kami, memang sering terdengar ‘karaoke’ khas anak kimia. Bernyanyi keras-keras sambil bermain kartu, cerita Kak Tika.

Tok tok tok! Pintu kamar kami diketuk keras-keras dari luar. Ketika kami membukanya, Kak Faqih, Kak Iqbal, dan beberapa kakak-kakak lain sedang tertawa-tawa sambil memegang sebuah tabung kaca.

“Ada yang mau ikut bedah tikus?” ucap mereka tiba-tiba, dengan muka bahagia. Aku terdiam sesaat.

“Nemu dimana?” tanyaku heran.

“Ditangkap Faqih di kamar!” jelas mereka, lagi-lagi sambil tertawa.

Akhirnya, semua anak Pelatnas keluar dari kamar masing-masing menuju ke kelas. Thanks to IBO 2014 di Bali, TOBI sekarang memiliki alat praktikum sendiri, lengkap, dan sengaja ditinggal di belakang kelas supaya  kami bisa menggunakannya kalau-kalau ingin berlatih sendiri. What a convenient 🙂

Ternyata, tikus kecil itu ditemukan di kamar Kak Faqih. Kasihan, tikusnya mengambil keputusan yang salah masuk ke kamar anak Biologi, gumamku dalam hati. Kak Faqih berhasil menangkap tikus itu dengan tangan! (Hal ini memperkuat tahtanya sebagai Kepala Suku, kelihatan sekali bisa bertahan hidup di alam liar😀 ) Kejadian itu yang mengakibatkan kehebohan tadi. Kemudian, mereka mengetuk kamar kakak pembina. Kak Arsa menyarankan mereka untuk merendam tikus itu di… cairan spirtus, untuk membunuhnya. Kami mengerubungi meja tempat tikus itu di bedah. Seseorang bertugas mengabadikan prosesi pembedahan dalam video, seseorang yang lain memberikan penerangan dengan senter dari hapenya. Kalau video itu diputar ulang, akan terdengar suara tawa kami semua yang sedang mengerumuni ‘meja operasi’. Entah apa, selalu saja ada yang lucu selama prosesi pembedahan. Erh, may be that sounds rather creepy. To laugh out loud while performing dissection😀 Dasar anak Bio.

Momen-momen pembedahan

Momen-momen pembedahan

 

Kerumuman yang antusias!

Kerumuman yang antusias!

Tapi tapi, kami nggak melulu belajar-tes-belajar-tes, kok. Kami menyempatkan diri untuk bertamasya (?) ke mall terdekat. Atau paling tidak menuju perempatan yang dekat dengan wisma, disana sudah banyak toko dan supermarket yang bisa kami kunjungi. Selain itu, satu hari Minggu dijadwalkan khusus untuk wisata. Kami pergi ke Taman Hutan Raya alias Tahura. Rencananya, kami akan bermain paintball dan jalan-jalan.

Hiii… mendengar kata paintball, aku sudah begidik ngeri duluan. Pelurunya memang bukan betulan, tapi … tetap saja (kata orang) sakit kalau terkena badan! Tapi, mau bagaimana lagi … semuanya harus ikut main. Ya sudahlah.

Girls Warrior (?). Jangan ketawain aku, aku emang mirip Baymax disitu -_-

Girls Warrior (?). Jangan ketawain aku, aku emang mirip Baymax disitu -_- (efek baju yang dobel-dobel dan angle foto kok) (serius, Salsa nggak segendut itu) (eeh, jangan ketawa!)

 

(Not so) ready to fight!

(Not so) ready to fight!

 

Bang bang bang!

Bang bang bang!

 

Mungkin ada yang mengira, bahwa pasti setelah aku beneran mencoba bermain paintball, ternyata ketakutanku tidak terbukti dan paintball tidak seburuk yang aku pikirkan. Kenyataannya … well, it was worse! Bete banget pokoknya, main paintball ._. Belum-belum udah tertembak di kepala, catnya menutup kaca helm, praktis nggak bisa lihat apa-apa. Giliran mau mundur ke markas, udah angkat tangan, tapi masih aja ditembakin … biru semua badan ini -_- Orang-orang semacam Kak Aby dan Kak Paksi mah, malah ngebet banget ingin main lagi. Oh, I would be more than glad to give you my turn, kak😐

Tapi sebenarnya, seru juga, sih😀 (Nah kan, labil😛 ) Meskipun badan sakit semua, hitung-hitung pengalaman, lah. Ternyata, ada kejadian unik lagi di dekat kawasan bermain paintball. Kak Faqih (lagi-lagi) menangkap seekor burung yang terbang, tapi sempoyongan. Rupanya, burung itu terluka di bagian bawah sayapnya. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang (?), beberapa dari kami berusaha mengobati burung itu dengan … dikasih betadine😀

Future doctors in action

Future doctors in action

 

Kami tidak tahu, bagaimana burung itu akan melanjutkan hidupnya. Tapi … ya sudahlah, kami berharap yang terbaik untukmu, little buddy :’)

Di kawasan Tahura, juga terdapat banyak gua bekas peninggalan Jepang dan Belanda. Kami sempat menjelajahi satu Gua Jepang dan satu Gua Belanda. Nggak serem kok, meskipun banyak cerita-cerita, sih. Memang hawanya dingin banget …

Foto komplit! (Akhirnya ...)

Foto komplit! (Akhirnya …)

Selain menuju tempat wisata alam, kami juga beberapa kali ke mall. Tujuan kami nggak macam-macam; kalau nggak nonton, pasti makan. Eh, tapi ada satu pencilan; Kak Rio! Seperti sudah jadi agenda wajib, Kak Rio bakalan mencari Timezone terdekat untuk … nge-pump! Master banget mainnya, kami yang sempat menyaksikan secara langsung cuma bisa berdecak kagum.

Mumpung Bioskopnya bagus, cewe-cewe ini nyempetin foto kalem dulu ...

Mumpung Bioskopnya bagus, cewe-cewe ini nyempetin foto kalem dulu …

 

Kenapa gitu ke Bioskop aja pakai foto? Karena, momen-momen ini nggak boleh terlupakan! (padahal gara-gara bioskopnya bagus, sih, terutama)

Kenapa gitu ke Bioskop aja pakai foto? Karena, momen-momen ini nggak boleh terlupakan! (padahal gara-gara bioskopnya bagus, sih, terutama)

 

Movie (again) ! Tapi ... Salsa nggak ikut pas ini :D

Movie (again) ! Tapi … Salsa nggak ikut pas ini😀

Intinya … Pelatnas itu seru banget! Nggak nyangka, bisa kenal sedekat ini sama makhluk-makhluk unik bin ajaib itu dalam waktu nggak sampai satu bulan. Sampai, nggak terasa … tes akhir pun tiba.

Seperti biasa, terdapat tes teori dan eksperimen. Tes eksperimennya supeeerr bikin capek. Ada yang berhasil, ada yang gagal. Namun ya sudahlah, aku sudah pasrah dengan keputusan Allah. Untuk teori, terbagi menjadi dua. Tes teori pagi dan tes teori siang. Sekarang, semua pengerjaan tes teori menggunakan LJK. Sehingga, hasil tes langsung bisa keluar dalam waktu singkat.

“Yak! Waktunya habiss!” Kak Zain mengomando kami untuk berhenti mengerjakan. Seketika, ruangan yang tadinya hening berubah menjadi riuh.

“Yeeeeaaaaah!!!”

Kami bersorak dan bertepuk tangan. Semuanya lega. Pelatnas 1, ditandai dengan berakhirnya tes teori siang ini, telah berakhir. Kami keluar ruangan denagn penuh canda tawa. Entahlah perkara hasilnya. Untuk sementara ini, istirahat dan bersenang-senang dulu saja.

Penutupan Pelatnas 1 berlangsung di Wisma Kartini pada pukul setengah enam sore, 10 November 2015. Kami yang baru saja mendinginkan kepala pasca tes, harus berkumpul lagi untuk penutupan. Semua mapel yang hadir saat pembukaan kembali hadir di penutupan, kecuali Komputer yang telah selesai terlebih dahulu. Biologi, Kimia, Astronomi dan Geografi.

Tampaknya, kesempatan itu jadi ajang pamer kaos atau jaket tim, sekaligus yel-yel. Anak Biologi gitu sih, hebohnya intern doang, jadi kalau dari luar kami kelihatan kalem😀 . Setiap penanggung jawab mapel memberikan laporannya untuk pelaksanaan Pelatnas kali ini. Setelah itu, bapak yang mewakili Kementerian Pendidikan meminta satu anak dari setiap mapel maju ke depan untuk membagikan kesan dan pesannya selama mengikuti Pelatnas. Yang maju pertama adalah seorang kakak dari Geografi. Wih, kakaknya bisa berpidato yang menggelorakan semangat, sebelas dua belas sama pidato kemerdekaan. Keren pokoknya. Anak Biologi sudah ribut sendiri untuk menentukan siapa yang maju. Tiba-tiba, Engkong Robin menggunakan otoritasnya untuk menunjuk salah satu cucunya yang paling muda secara kelas, polos dan tak tahu apa-apa, untuk maju ke depan.

“Lah, kok aku?” Aku menggaruk-garuk kepala bingung. Ya sudah deh, aku memantapkan hati. Sedikit banyak aku mengingat momen yang mirip, satu tahun yang lalu, ketika aku juga dipilih untuk maju memaparkan kesan dan pesan selama TC 1 IJSO 2014. Wah, kebetulan yang unik.

“Pernah nggak sih, kalian bertemu orang-orang yang punya ketertarikan yang sama, yang satu pemikiran, yang bisa memahami dunia kalian? Aku merasa, pasti kita menemukan orang-orang seperti itu saat Pelatnas ini. Ketika kita sudah menghabiskan banyak waktu untuk skip sekolah karena OSN, ketika di sekolah kita mungkin nggak punya teman yang bisa diajak diskusi bidang kita, disini semua itu ada. Aku bersyukur, bisa dapat kesempatan untuk diajar oleh dosen dan kakak yang ahli di bidang masing-masing, merasakan eksperimen sekelas mahasiswa … Pokoknya, banyak banget ilmu baru yang aku dapat.

Akhirnya, Pelatnas, dan olimpiade, dan apapun itu yang kita lakukan, memang bukan cuma untuk meraih penghargaan. Semua ini, adalah untuk menuntut ilmu, dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.”

Kira-kira, itulah sebagian dari pidatoku yang, setelah aku pikir-pikir, agak panjang juga … hehe. Oh iya, pesanku untuk TOBI saat itu, supaya setiap tes teori, kalau bisa kami disediakan kertas yang berwarna. You have no idea how often colourful graphs appear in our questions. A lot.

Penutupan pun berakhir. Kami akan kembali melakukan kegiatan masing-masing …

Eh, tiba-tiba… ternyata, TOBI sangat teramat bekerja cepat dan tidak mau menunda-nunda pengumuman. Orang-orang penting TOBI telah tiba di Wisma, menandakan pengumuman siapa yang lolos ke tahap selanjutnya bisa dilakukan hari ini! Wah!

Kami semua diperintahkan untuk berkumpul lagi di kelas. Tapi, tidak semudah itu untuk menunggu ke-30 peserta lengkap. Rupanya, Kak Haryo dan Kak Vincent malah sudah pergi duluan, makan pecel katanya ._. Jadilah beberapa orang melakukan misi ‘penyelamatan’ (alias berlari-lari menuju warung tempat mereka makan yang jaraknya lumayan jauh).

Dag dig dug. Duh, deg-degan banget rasanya. Walaupun begitu, rasa berdebarnya belum bisa menyaingi OSN, kok. Sebagian diriku sudah pasrah seutuhnya, sebagai yang lain masih berharap tinggi …

Satu persatu nama diumumkan. Merekalah enam belas orang yang terpilih melanjutkan ke tahap 2. Dan di antara nama-nama itu ….

…. tidak ada namaku.

Jadi … ini rasanya. Ini rasanya ketika namaku tidak disebut menjadi bagian dari hal penting. Alhamdulillah, selama ini, aku merasa perjalananku di OSN selalu berbuah sesesuatu. Mulai dari OSN SD, ada namaku sebagai peraih medali perak. OSN SMP, aku menjadi bagian dari peraih medali emas. Tahapan seleksi menuju timnas IJSO, ada namaku. Di Argentina, namaku juga disebutkan oleh pembawa acara, meskipun dengan pengucapan yang aneh… Hehe. Terakhir, OSN kemarin. Namaku terpanggil sebagai peraih medali perunggu.

Sekarang … tidak ada namaku.

Untuk sepersekian detik, dadaku seperti runtuh. Seperti ada sesuatu yang menusuk kesadaranku, mengguncang jiwaku, menyadarkan diriku; this is my first ever failure in my olympiad journey …

Tapi, rasanya tidak begitu buruk, kok. Aku syok, sebentar. Namun kemudian, aku sadar bahwa ini yang terbaik untuk diriku. Aku memberikan senyum untuk mereka yang berhasil maju ke depan. Syailendra, sekarang sebagai satu-satunya wakil Semesta. Empat belas orang lainnya bangkit ke depan untuk menyalami mereka yang lolos.

“Kak Fatin! Kak Ameeeel!!! Jangan mau kalah sama yang cowok!” candaku sambil menjabat erat tangan mereka, dua orang cewek yang tersisa menuju Pelatnas 2. Mereka berdua tertawa dan mengucapkan terimakasih.

Buru-buru aku menemui Kak Yuni dan Kak Tika yang berada di belakang ruangan.

“Maaf ya, kak … Aku… nggak lolos …” ucapku terbata-bata. Aku sudah berusaha memantapkan hati untuk tidak meneteskan air mata. Aku kira aku berhasil. Namun, begitu aku melihat wajah kedua kakak kelasku itu, entahlah … Sebagian diriku merasa, aku nggak gagal untuk diriku sendiri. Aku juga gagal untuk … sekolahku.

Salsa jangan nangis. Jangan nangis. Jangan nangis. Rapalku dalam hati.

Kak Tika menyambut pelukanku dengan senyum. “Nggak papa. Santai aja, kayak aku kemarin. Dapet emas dulu,” ujar Kak Tika. Akhirnya, aku berhasil menahan air mata yang hampir jebol.

Perasaan sesak di dada itu perlahan-lahan hilang. Aku mengetik sepotong SMS untuk kedua orang tua dan koordinator olim sekolah. Mereka, tiga orang yang selalu aku harap dapat kuberi kabar baik. Well, not this time, aku menghela nafas dalam-dalam.

Tentu saja, aku bisa menduga respon mereka. Nggak apa-apa, kamu sudah berusaha.

Esok harinya, kami memiliki satu misi; berfoto bersama dan menulis testimoni untuk kenang-kenangan. Pagi hari, kami telah mengenakan hoodie kami. Memang sudah menjadi tradisi setiap Pelatnas untuk membuat jaket, kaos, atau apapun bersama. Kami duduk melingkar di dalam kelas. Setiap orang memiliki satu lembar kertas putih untuk diberi nama. Nanti, kami akan menyerahkan kertas itu ke orang yang duduk di sebelah, lalu berlanjut lagi ke sebalahnya. Setiap orang akan mendapat waktu 1.5 menit untuk menuliskan kesan terhadap orang yang namanya ada di kertas itu. Setelah 29 orang selesai menulis, kertas itu akan kembali ke pemiliknya.

Kadang-kadang, aku tidak bisa menahan tawa saat melihat beberapa kertas milik orang lain. Kertas kak Faqih, contohnya. Terdapat gambar seorang stick man dengan rambut jabrik; kepala suku! Setelah semuanya selesai, kami membaca tulisan di kertas kami masing-masing. Pesan-pesan yang ada di kertasku juga berhasil membuatku terkekeh. Ada yang lucu, unik, susah dibaca, aneh, gombal, so sweet, dan lain-lain … Sudah pasti, kertas ini akan jadi benda yang aku simpan baik-baik. Pesan-pesan itu hanya berupa kata, tapi … perasaan di dalamnya yang berharga🙂

Selanjutnya, kami berfoto bersama. It was really fun! Kak Rio yang biasanya nggak mau difoto, sekarang menyerah untuk sembunyi dari kamera! Hehe.

Icon of Pelatnas I 2016: Timothy Jordan. Posenya hot sekali ya -_-

Icon of Pelatnas I 2016: Timothy Jordan. Posenya hot sekali ya -_-

Foto Akhir 2

King Zain (julukan yang diberikan Kak Robin) yang titahnya ditunggu para rakyat jelata setiap malam, apakah ada tutor atau tidak.

Foto Akhir 3

Sok candid yang akhirnya … candid beneran lho :3

 

20151111_104149

Kami memang kekinian banget. Kak Rian bawa polaroid yang akhirnya digunakan berkali-kali. Suka banget sama foto ini sama Kak Rian❤

Satu per satu dari kami mulai berpamitan untuk pulang ke daerah masing-masing. Perpisahan paling epik terjadi saat Kak Royyan pergi. Kak Royyan, karena suatu insiden foto dijuluki Soeharto. Para cowok mengiringi kepergian Kak Royyang dengan … menyanyikan lagu Padamu Negeri. Pasti anak Kimia yang masih ada kelas saat itu heran sendiri ._. Hehe.

Pelatnas 1 sudah berakhir. Rombongan Semesta termasuk yang paling akhir meninggalkan wisma. Grup Line penuh dengan ucapan selamat tinggal dan sampai jumpa kembali. Atmosfernya berubah melankolis.

Aku menggiring pelan koper oranyeku menelusuri koridor wisma. Hujan deras sudah turun sedari tadi, dan aku yakin perjalanan ke taksi saja bakal membuatku basah kuyup. Aku menoleh ke arah kamarku sejenak. Tiga minggu ini, begitu berarti. Tiga minggu ini …

Ah, aku benar-benar belajar banyak hal. Sekarang aku percaya, sebuah kegagalan memang dibutuhkan di kehidupan ini. Ketika kita tidak berhasil meraih yang kita impikan, mungkin kita akan terpuruk. Tapi, perlahan, kita akan temukan kekuatan itu kembali. Kekuatan untuk bangkit. Dan setelah bangkit, kita bukanlah lagi orang yang sama. Dirimu akan merasa lebih dewasa … lebih utuh.

Aku mengenal banyak orang yang mungkin di mata manusia, telah menelan pahitnya kegagalan berkali lipat lebih banyak daripada yang aku rasakan. Namun sungguh, mereka bukan sial. Mereka, menurutku, justru sangat beruntung karena telah Allah beri kesempatan untuk mendewasakan dirinya. Kesuksesan memberi pelajaran hidup yang berharga, namun kegagalan menanamkan pelajaran itu dalam-dalam di sanubari kita.

Untuk kakak-kakakku yang sudah kelas 12, yang tidak bisa melanjutkan mimpi IBOnya, aku percaya kalian memang pejuang sejati. Aku percaya mimpi kalian masih tinggi untuk masa depan nanti. Mimpi itu bisa berbentuk sebuah universitas, sebuah negara, seseorang (? hehe), atau apapun … Tapi aku berpesan, selipkan ‘menjadi seorang yang lebih baik’ dalam mimpi kita🙂

Untuk teman-teman yang terhenti sampai tahap 1, really … there isn’t anything to regret. Nggak ada yang perlu disesali. Masih ada tahun depan. It’s not Vietnam, it’s not this year. But it could be United Kingdom, right?😉 (Sebenarnya ini aku berbicara dengan diri sendiri sih … hihi)

Untuk 16 teman dan kakak-kakak yang masih menapaki tangga menuju IBO 2016; TERUS SEMANGAT! Setiap dari kalian benar-benar masih memiliki peluang yang sama untuk menjadi Timnas. Bahkan kalaupun takdir berkata tidak, pengalaman itu sudah terlampau berharga.

Terimakasih, semua. Terimakasih, Umi Abi. Terimakasih, sekolahku tercinta (cieee). Terimakasih, teman-teman, adik atau kakak kelas, teman-teman di facebook, ask.fm, email, anon-anon di ask.fm, dan yang lain yang tidak bisa aku sebutkan satu-satu … Terimakasih, untuk dukungannya.

Terimakasih, Indonesia … untuk kesempatan ini.

Terimkasih, Ya Allah, untuk … segalanya. I am feeling so blessed. Every. Single. Day. Alhamdulillah🙂

Tangga menuju impian itu mungkin sudah sirna untukku. Tapi, bukan berarti ini adalah satu-satunya tangga, kan?🙂

 

Vietnam

27th IBO 2016, Hanoi-Vietnam

TAMAT

13 thoughts on “Akhir dari Impian Itu (Pelatnas I IBO 2016: Part 2)

  1. Iqbal Pratama

    SEMANGAT SAAAAAL semoga IBO UK!

  2. Adriana Viola M

    aku pas baca ini ngebayanginnya kamu lagi cerita-cerita di depan kita dengan suara Salsa yang khas banget :)) fix bikin baper bangeet wkwkw. Semaangat Sall, taun depan insyaallah! Go get gold IBO 2016 United Kingdom!

    Takdirnya bukan menjelajahi Asia mungkin Sal, taun lalu kan jauh tuh ke Amerika, nanti IBO berikutnya jauh lagii ke Eropa😉 kita semua yakin kamu bisaa!

    • Waaaah :””))) hihi. Makasih kak! Aamiin ya Allah! Yang terbaik in syaa Allah🙂 Kakak juga selalu semangat ya, Calon Bu Dokter! Sekali lagi terimakasih kak atas dukungannya selama ini❤

  3. Ok, ini bikin baper… Bikin plesbek pas nama tidak ada di deretan peraih medali… Ya, mungkin tahun ini memang bukan waktuku… Terima kasih sal, sangat menginspirasi :’D
    Semoga sukses IBO 2017

  4. Analoginya bagus sekali. Teruslah menulis, Salsa.🙂

  5. wah ternyata muncul lagi cerita pelatnas setelah punyanya kak iga… jadi ingat dua tahun lalu dan ternyata beberapa nama yang kukenal masih ada saat ini, bahkan suasananya pun sepertinya ga jauh berbeda dari tahun ke tahun

    jadi kangen masa-masa bersama teman-teman sejenis itu lagi

    tetap semangat, masih ada tahun depan

  6. Anasya Marella

    Thanks a lot buat blog nya super duper inspiring. Semangat semangatttt 😊

  7. […] ke Pelatnas tahap 2 (cerita lengkapnya disini) membuatku merasa… hm, bebas? Hehe. Menjadi bagian dari Pelatnas Biologi itu unik, lho. Kami […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s