Menapaki Tangga Impian Lebih Tinggi (Pelatnas I IBO 2016: Part 1)

Assalamu’alaikum!

Kilasan lampu kamera yang menyilaukan, sekumpulan wartawan yang mengajukan pertanyaan dengan antusias, karangan bunga yang dikalungkan di leher, ucapan selamat bertubi-tubi, wajah-wajah orang tercinta yang sudah lama tak bersua ….

Semua itu adalah serangkaian peristiwa yang pasti dialami kontingen Indonesia setelah kembali dari sebuah perlombaan Olimpiade Sains Internasional. Kebanggaan untuk membawa merah putih ke panggung dunia adalah momen berharga yang pastinya diinginkan oleh banyak orang.

Lalu, bagaimana siswa-siswa tersebut bisa terpilih mewakili Indonesia dari sekian juta pelajar di tanah air ini?

Jawabannya; OSN. Namun, tak berhenti sampai disitu. Selanjutnya; Pelatnas.

Pelatnas adalah tahapan setelah OSN yang merupakan pintu gerbang menuju olimpiade internasional. TOBI alias Tim Olimpiade Biologi Indonesia adalah organisasi yang bertugas melaksanakan segala seleksi hingga didapatkan empat siswa untuk mewakili Indonesia ke International Biology Olympiad setiap tahunnya. Artinya, OSN dan Pelatnas, keduanya merupakan kegiatan yang berada di bawah naungan TOBI.

Unik. Ketat. Prestisius.

Adalah tiga kata yang terlintas dibenakku setiap mendengar kata ‘TOBI’. Unik, karena berbagai macam aturannya. Ketat, karena persaingan kerasnya untuk memperebutkan empat kursi tersebut. Prestisius karena … well, sudah 9 emas yang berhasil Indonesia dapat selama 16 tahun keikutsertaannya di IBO. Untuk sebuah olimpiade internasional, jumlah itu sudah sangat luar biasa.

Salah satu keunikan TOBI adalah pemanggilan Pelatnasnya nggak menyamaratakan ke-30 peraih medali saat OSN. Yang akan mendapat undangan Pelatnas hanya 15 besar kelas 11 dan 15 besar kelas 9 dan 10. Jadi, karena kebanyakan peraih medali itu kelas 11, ada beberapa kelas 11 yang tidak terpanggil Pelatnas dan ada kelas 9 dan 10 yang terpanggil meskipun tidak dapat medali. Dengar-dengar sih, sistem ini digunakan supaya setiap tahunnya, selalu ada veteran yang mengikuti Pelatnas atau OSN. Veteran-veteran ini diharapkan memiliki performa yang lebih baik karena pengalaman yang sudah mereka dapatkan selama Pelatnas.

Alhamdulillah, berbekal medali perunggu OSN SMA 2015 dan usiaku yang masih kelas 9, aku tahu dengan pasti bahwa aku akan terpanggil Pelatnas. Benar saja, jauh sebelum undangan resmi Pelatnas sampai ke sekolahku, sesuatu yang lain datang terlebih dahulu, menegaskan keikutsertaanku di Pelatnas.

Sesuatu itu ….

Tugas mingguan.

… dua kata yang sangat bermakna.

Setiap minggu, aku mendapatkan sekitar  dua sampai empat email dari kakak-kakak pembina. Email itu berisi tugas beserta penjelasan aturan serta tenggat waktu pengiriman. Tugasnya …. bermacam-macam. Mulai dari menjawab soal, membuat rangkuman jurnal ilmiah, sampai menulis esai. Referensi yang full English sudah tidak asing lagi di mata anak Pelatnas, mengingat jurnal-jurnal ilmiah yang bertebaran dan menjadi rujukan memang dalam Bahasa Inggris semua. Reading comprehension kami benar-benar diuji! Nantinya, nilai-nilai dari tugas mingguan itu akan dikumpulkan dan menjadi salah satu pertimbangan selama seleksi Pelatnas.

Yap, Pelatnas memang terdiri dari beberapa tahap. Biologi sendiri memiliki 3 tahapan Pelatnas, hingga akhirnya didapatkan empat orang sebagai Tim Indonesia. Pelatnas 1 adalah tahapan paling awal. Menuju Pelatnas 2 dan 3, jumlah peserta akan semakin menipis. Yah, bayangkan saja seperti Indonesian Idol dan semacamnya; banyak orang berguguran sampai akhirnya ditemukan sang juara.

Sebagai anak  olimpiade, tentu aku sering mendengar kisah tentang senior-senior kami. Kisah tentang mereka selalu menarik untuk didengar. Banyak dari alumni TOBI yang kembali menjadi pengajar. Kisah para peraih medali emas, perak, dan perunggu IBO jadi semakin legendaris ketika mereka melanjutkan pendidikannya di universitas-universitas papan atas dunia. MIT, contohnya. Apapun pekerjaan mereka sekarang, atau dimana pun mereka menuntut ilmu, terdapat satu kesamaan; they were once in our position.

Mengingat hal tersebut, semangatku selalu berkobar. Mereka telah melewati ini, aku juga harus bisa!

Well … nyatanya, semangat lebih mudah diikrarkan daripada dipertahankan :’ Tentu saja, Pelatnas bukan satu-satunya beban hidup kami (ya ampun, bahasanya). Masih banyak berbagai tanggung jawab yang harus kami selesaikan. Aku saja yang masih kelas 10, suka keteteran selama mengerjakan tugas -_- Tak peduli ujian sekolah, tugas dan tugas selalu datang setiap minggu. Belum lagi kakak kelas 12 … dan yang mengikuti program aksel! Nggak terbayang deh, bagaimana kerja keras mereka.

Namun, tentu saja, dari kerja keras sebanyak itu, ilmu yang didapat juga banyak sekali. Baaanyaaak sekali, sampai-sampai tugas yang lama sudah sering terlupakan jawabannya olehku :’D Hehe. Suatu saat, kakak TOBI pernah mengungkapkan kepada kami, bahwa tugas mingguan adalah bagian dari warming up, supaya nggak ada yang benar-benar lepas dari Biologi selama tenggat waktu antara OSN dan Pelatnas. Cieee, Biologi …. yang nggak mau banget dilupain😛 ((loh)). But honestly, it works for me. Setiap minggu jadi ada bahan buat belajar. Yah, meskipun ujung-ujungnya lebih terkesan sebagai heating up daripada warming up🙂

Lalu, lalu … bagaimana Pelatnasnya sendiri?

Pelatnas Biologi dimulai serentak bersama Pelatnas tujuh bidang lainnya. Khusus ekonomi, tidak ada Pelatnas karena tidak ada lomba internasional untuk bidang tersebut. Biologi, Kimia, dan Astronomi, menempati Wisma Kartini di Bandung, dimulai dari tanggal 18 Oktober 2015.

Alhamdulillah, aku tidak berhenti bersyukur atas kesempatan mengikuti Pelatnas yang kudapatkan. Benar-benar … dulu itu aku merasa kata-kata Pelatnas memiliki aura menyeramkan di dalamnya. Seakan-akan, orang-orang yang menjadi bagian darinya membutuhkan intelegensi luar biasa tinggi. Pelatnas juga membawa aura persaingan ketat dan atmosfer kompetitif, dimana setiap orang berusaha mendapatkan kursi menjadi Timnas. Sekarang aku sadar, kalau sudah Allah tetapkan, tidak ada yang tidak mungkin. Nyatanya, aku berhasil memasuki Pelatnas IBO 2016, atas seijin Allah. Disana, aku mendapat berbagai pengalaman berharga yang masih membekas segar diingatanku.

Selama Pelatnas ini, aku jadi belajar banyak tentang Biologi. Dari SMP, aku telah menekuni bidang yang sama. Namun, olimpiade Biologi SMA itu sangat jauuuuuh berbeda dengan olimpiade Biologi SMP. Mengacu kepada soal-soal yang diujikan di IBO, olimpiade Biologi SMA, bisa dibilang, tidak mementingkan hafalan. Setiap soal yang kami dapat adalah sekumpulan cuplikan dari jurnal-jurnal ilmiah yang memang benar-benar ada, beserta berbagai grafik maupun keterangan penunjang, yang harus kita fahami agar dapat menentukan  empat penyataan yang menyertai setiap soal tersebut Benar atau Salah.

Dengan model soal yang seperti itu, pandanganku terhadap ilmu biologi secara keseluruhan juga berubah. Tidak ada yang namanya ilmu pasti. Tidak ada yang menjamin isi buku pelajaran tahun ini akan masih valid untuk tahun-tahun depan, mengingat penelitian dan pengembangan selalu dilakukan oleh akademisi-akademisi di seluruh dunia, setiap waktu. Aku tidak lagi belajar Biologi karena ingin menghafalkan apa yang tertera di buku. Aku belajar Biologi, untuk memahami konsep terbaru tentang suatu permasalahan, dilengkapi dengan pengetahuan mengenai bagaimana para ilmuwan tersebut dapat mencapai kesimpulan itu. Tahap selanjutnya adalah, aku belajar Biologi untuk menjadi bagian dari orang-orang yang mengembangkan penelitian itu sendiri🙂

Sebuah keasyikan untukku, berada di antara kakak-kakak sesama pecinta Biologi, para peserta Pelatnas I IBO 2016. Sepertiga dari anak pelatnas tahun ini adalah anak Jateng, loh. Banyak ya😀 .

Kami nggak melulu belajar, kok. Beberapa kali kami berinisiatif untuk refreshing ke tempat-tempat di luar wisma, atau sesederhana bermain dan ngobrol di saat jam kosong. Bahkan selama praktikum maupun tugas yang diberikan kakak pembina, kami sering diharuskan berkelompok. Hal-hal tersebut membuat kami menjadi makin mengenal satu sama lain.  Mari yuk, kita intip para nerds Biologi dengan segala keunikan mereka😉

Kak Amelia Nur Khasanah dan Kak Fatin Camilla Azhary! Dijuluki dewinya Pelatnas🙂 Karena mereka berdua adalah veteran Pelatnas tahun lalu, sampai ke tahap 2, kemudian mengikuti OSN 2015 dan membawa pulang medali emas. Kak Fatin adalah calon pembina Pelatda Jateng untuk OSN 2016 nanti (aku masih ingat janji kakak, looh…), memang enak banget kalau menjelaskan, sekaligus dengan senang hati berbagi segala file, soal, buku, atau apapun yang sangat membantu sekali. Ssstt, hati-hati, kakaknya ke sekolah bawa scalpel😛

Kak Amel sendiri termasuk yang paling jago kalau sudah mendebat soal. Dengan gaya bicaranya yang halus, Kak Amel bisa memaparkan pengetahuannya dengan percaya diri dan jelas banget! Seriiiiing sekali teleponan dengan keluarganya di Bukittinggi, pakai bahasa Padang :’ Daaan membantu adiknya belajar via telepon! Benar-benar mulia kakak yang satu ini😀

Kak Saskia Ardine Zhafira dan Kak Adriana Viola Miranda sudah kukenal semenjak SMP. Kak Saskia adalah kakak kelasku saat SMP, namun sudah pulang kampung sekarang😀 . Kak Saskia jago gambar, loh! Care sekali sewaktu aku sedang sakit, dan kelihatan banget nggak ingin ngerepotin orang. Mendengarkan logat kakaknya berbicara, bawaannya kangen rumaaah … hehe.

Dulu, aku biasa memanggil Kak Rian, dengar-dengar sih, sekarang kakaknya dipanggil Adriana. Kak Rian itu suuupeeeeel, ramaaaah, rameee, hebooooh, daaan… intinya kelas bakalan sepi kalau nggak ada kakaknya😀 . Tangan kanan ketua kelas, bagian nge-forward email penting ke teman-teman lain dan ngurusin pemesanan jaket. Kakaknya sering baper ih, gimana dong😛 Bareng Kak Jason, jadi tour guide di Bandung!

Angkot legendaris yang sering lewat di depan sekolah Kak Rian :'D

Angkot legendaris yang sering lewat di depan sekolah Kak Rian :’D

 

Kak Khairunnisa F. Ilato adalah kakak kalem yang ternyata hobi belanja juga😀 hihi. Kak Nisa, atau Kak Nisil, senyumnya indah, loh🙂 (kata seseorang … wkwk. Kataku juga kok, kak!) Kalau sudah digodain sama para cewek, mukanya memerah😀 Tulisannya sangat teramat kecil, jadi aku selalu tahu yang mana tulisan kakak.

Kak Alfina Husni Dzarrah atau biasa dipanggil Kak Fina, orang Jawa Timur juga nih! Soulmate banget bareng Kak Saskia kalau udah ngomongin tentang Anime. Sekelompok tugas Kak Danang sama aku dan Kak Ihya. Kalau  di dunia nyata jarang ngomong keras, tapi begitu di chat grup, jadi rameee🙂

Dari kiri ke kanan, atas: Kak fatin, Kak Rian, Kak Nisa, Kak Fina. Bawah: Kak Amel, Kak Saskia, Salsa.

Dari kiri ke kanan, atas: Kak fatin, Kak Rian, Kak Nisa, Kak Fina. Bawah: Kak Amel, Kak Saskia, Salsa.

Syailendra Karuna Sugito alias Syailendra, teman seperjuangan dari SMA Semesta yang sama-sama masih kelas 10! Dapat julukan ‘terancam punah’ karena namanya yang khas mirip dinasti jaman dahulu dan ekspresi mukanya yang kelihatan selalu senyum … hehe.

Kak Ihya Fakhrurizal, alias Kak Ihya, dulunya kakak kelasku pas SMP, tapi persis seperti Kak Saskia, pulang kampung ke Malang untuk SMA-nya. Sekelompok bareng untuk setiap tugas Kak Danang. Punya laptop super gede yang ada kalkulator ibu-ibu pasarnya😀

Kak Muhammad Faqih A.H., panggilannya Kak Faqih, biasa dijuluki …. Kepala Suku! Kereeen banget kemampuan survival di alamnya. Bisa nangkap tikus pakai tangan kosong :O Tapiii diam-diam kakaknya bijak juga looh.

Kak Muhammad Ikhsan, sudah lama kenal sama kakaknya. Hobi banget …. flashback -_- Entah kenapa kakaknya belum bisa move on sejak dahulu kala, bingung deh :’D Ramee jugaa, selalu punya bahan pembicaraan dan sesuatu untuk diobrolin. Kelihatannya cocok jadi Pembina olimpiade, mengingat kakaknya suka sekali bikin soal🙂

Kak Ekapaksi Wisnumurti atau biasa dipanggil Kak Paksi, adalah seorang pecinta cacing. Nggak mungkin deh, kalau ada praktikum membedah cacing, kakaknya sampai teriak-teriak dan lari keluar kelas, bahkan loncat dari lantai dua gara-gara ditakut-takutin cacing. Bener-bener nggak mungkin! (ingat, ini majas ironi :”D ) Denger-denger sih, hobi nge-game.

Kak R. Himan Haryo Teguh, Kak Haryo, dengar-dengar penulis juga, loh! Kakaknya hobi membuat naskah drama, katanya. Kak Haryo punya ketertarikan selain bidang Biologi. Contohnya, Kak Haryo sangat mendalami teori-teori fisika yang menyangkut tentang pelipatan dimensi (?) hingga sempat berpikir untuk mencantumkan teori tersebut dalam salah satu tugas kelompok Evolusi kami :” Kak Haryo sangat pede ketika disuruh maju ke depan. Kalau memimpin tim paintball, sudah seperti jenderal beneran😀

Dari kiri ke kanan. Atas: Syailendra, Kak Ihya, Kak Faqih. Bawah: Kak Ikhsan, Kak Paksi, Kak Haryo.

Dari kiri ke kanan. Atas: Syailendra, Kak Ihya, Kak Faqih. Bawah: Kak Ikhsan, Kak Paksi, Kak Haryo.

Kak Timothy Jordan dengan segala macam alias; TiJe, TiJo, Jordan, Moti, Timo, Timtim, dan lain-lain, dan lain-lain. Banyak fansnya, like literally, b a n y a k. Banyak banget pertanyaan di ask.fmku dari anon, tentang … Kak Jordan ini ._. Kata orang-orang sih mukanya imut abadi, minta dibungkus :3 Tapi kalau udah serius, jadi rada menyeramkan gitu raut wajahnya😀

Kak Adriel Hernando ini kelihatan banget orang Surabayanya. Bercakap sehari-hari pakai lo-gua tapi medok😀 Jagooooo banget, ambis juga, belakangan membangun love-hate relationship sama Kak Wilson. Sereem gitu lihat percakapan mereka berdua, kayak mau saling bunuh. Kakaknya menganggap Pelatnas medan Hunger Games yang harus membunuh untuk bertahan hidup :’ Hehehe, sungguh pertemanan yang unik.

Kak Jordan dan Kak Adriel

Kak Jordan dan Kak Adriel

Kak Royyan Iftikhor Amany, Kak Royyan, entah kenapa aku jaraaaang banget ngobrol sama kakaknya. Cuma, waktu itu pernah dengar kakaknya diwawancara. Ternyata, bisa merangkai kata yang penuh makna dan puitis juga😀

Nah, ini dia Absol OSN 2015, Kak Wilson Gomarga. Di grup Line sering ketuker saat dipanggil Wil atau Son (Wil itu jadi Kak Willy, Son jadi Kak Jason), jadi panggilannya sekarang Gom😀 (Gomgom, kata kakaknya jadi kayak nama anjing peliharaan😀 ). Bedaaa banget di dunia nyata sama di dunia chat, jauuh lebih abstrak di dunia chat. Kelihatannya serius dan ambis, padahal yaa bisa role play yang aneh-aneh sama Kak Jason juga setiap malam :’

Kak Robin Chandra a.k.a Engkoooong! Dapat julukan ‘terglodok’ gara-gara perannya yang sangat menjiwai sebagai ketua kelas saat ngurusin jaket; narikin uang -_- Bisa gituuu, menjadikan jendela kamar yang tepat di sebelah kasurnya sebagai loket untuk bayar jaket, dan nyuruh orang lain nge-forward email demi menjaga kuota. Bisa niruin suara Engkong-engkong Cina dengan s a n g a t mirip. Bisa menulis layaknya tulisan di teks proklamasi Indonesia yang belum diketik ulang; semacam tulisan bersambung pakai pena hitam yang nggak jelas gitu deh ._. Bareng Kak Wilson, sering jadi pencilan atas dalam setiap tes teori.

Engkong Robin yang sedang menghitung uang jaket.

Engkong Robin yang sedang menghitung uang jaket.

Kak Jason Wijaya, salah satu inisiator autoracist yang paling menjiwai. Pokoknya, yang bermata sipit tergabung dalam ‘Dinasti Ming’. Di antara para bangsawan dalam Dinasti itu, kita akan sering mendengar seruan-seruan; “Yah, lu kok (menyatakan sesuatu yang nggak berhubungan sama perkataan berikutnya), Cina, sih!” “Cina, lu!” Parah banget autoracist nya, nggak ngerti lagi. Oh ya, khusus Kak Jason, nggak boleh memakai emot ‘😀 ‘ tapi ‘ |D’ Laah kok bisa? Alasannya: supaya sesuai dengan kesipitan mata si empunya😀 . Pencetus kata-kata alay di grup Line semacam; KZL (kesel), KZLO (keseleo), KZLQ ( keselek -_- makin aneh-aneh aja ya), sampai ada KZLMPT juga (alias keselempet :”) Ngakak parah … dunia memang penuh orang-orang unik ^_^

Dinasti Ming I

Foto keluarga Dinasti Ming I

Kak Vincent Augusta ini nih, anak seni di Pelatnas! Buka aja instagramnya, kakaknya jago hand-lettering dan desain gitu. (Lah, username ig-nya apa, Sal? Ada deh, cari sendiri … hihi) Desainer jaket Pelatnas, pernah harus menerjemahkan tulisanku yang nggak dimengerti Kak Gom :’D (Astaga Kak Gom, jurnal ilmiah aja bisa dingertiin, masa aku enggak …) Supel dan ramah juga, asyik kalau diajak cerita dan poni rambutnya badai (?) Hehe.

Kak Ignasius Willy Nugroho, atau Kak Willy. Berasal dari kota yang sangat teramat dermawan untuk juara OSN, Pati. Heboh juga di line, sering diejekin jomblo dan ujung-ujungnya Kak Willy berusaha membantah semua tuduhan itu (?). Ternyata cukup atlestis, sering olahraga bersepeda!

Dari kiri ke kanan. Atas: Kak Royyan, Kak Wilson, Kak Robin. Bawah: Kak Willy, Kak Vincent, Kak Jason.

Dari kiri ke kanan. Atas: Kak Royyan, Kak Wilson, Kak Robin. Bawah: Kak Willy, Kak Vincent, Kak Jason.

Kak Rio Nevin, Kak Rio, rajanya pump banget!! Semua waktu luang yang ada dipergunakan kakaknya untuk pergi ke mall terdekat dengan satu tujuan; nge-pump. Sempat beberapa dari kami mengabadikan aksi kakaknya di atas papan pump itu. Wiiih … kakinya seperti melayang-layang! Kak Rio selalu all out di setiap permainan, dan sepertinya dapat score yang tinggi terus. Alhasil, pulang dari pump, Kak Rio kayak habis kehujanan😀 Soulmate Syailendra nih, kemana-mana bareng.

Kak Roihan Muhammad Iqbal. Kirain pendiem, sebenarnya enggak juga, tapi memang kalau bicara agak pelan. Tapi, kalau sudah tepuk tangan … Ckck, heboh nian, kayaknya satu suara dari tangan kak Roihan sudah bisa mewakili sekelas. Namanya agak mirip-mirip namaku, jadi lucu kalau kakaknya dipanggil setelah namaku😀

Kak I Putu Prakasa W, alias Kak Prakas. Awalnya jaraaang banget ngobrol. Cuma, belakangan sering satu kelompok praktikum bareng, dan… ternyata kakaknya seru, lucu, dan entah kenapa nggak pernah bisa sama tingginya kalau mengisi tabung reaksi dibandingkan tabung reaksi yang kuisi :’D

Kak M. Iqbal Adi Pratama, Kak Iqbal. Punya suara ketawa yang khas, di kelas suka heboh sendiri, dan bahasa Inggrisnya jago😀 Salah satu yang bikin kelas dan grup rame dengan segala kata-katanya yang agak hiperbola.

Kak M. Ilham Dhiya R., atau Kak Ilham, kelihatannya sih nggak banyak omong, tapi sebenarnya rame juga. Kakaknya murah senyum, kemana-mana bareng buku Guyton yang tebal itu😉

Kak Andrea Laurentius, orang Medan yang logat berbicaranya paling unik😀 Bersemangat dan berapi-api dalam memaparkan setiap pikirannya.

Dari kiri ke kanan. Atas: Kak Rio, Kak Roihan, Kak Prakas. Bawah: Kak Iqbal, Kak Iham, Kak Andrea.

Dari kiri ke kanan. Atas: Kak Rio, Kak Roihan, Kak Prakas. Bawah: Kak Iqbal, Kak Iham, Kak Andrea.

Kak Luthfian Aby, alias Kak Aby. Untung nggak masuk Semesta, jadinya nggak bingung kalau adik kelas memanggil kakaknya😀 Awalnya aku kira pendiam, ternyata ramee juga kok, apalagi kalau sudah berdua sama Kak Royyan … mereka bisa main tepuk tangan (?) yang biasanya sering dimainin cewek itu, dengan sangat menjiwai!

Kak Handika Putra, alias Kak Dika, sebenarnya nggak pernah banyak ngobrol sama aku. Pernah sekelompok sewaktu praktikum, dan kakaknya berhasil bikin sayatan daun pinus yang nyaris persis kayak di buku … bagus banget!

Kak Bagus Wijaya Kusuma, dengan suaranya yang berat itu berhasil menguarkan aura khas anak Taruna Nusantara. Sering bilang aku sombong kalau aku nggak nyapa, padahal kenapa nggak kakaknya aja ya, yang nyapa duluan😀 hehe.

Dari kiri ke kanan: Kak Aby, Kak Dika, Kak Bagus.

Dari kiri ke kanan: Kak Aby, Kak Dika, Kak Bagus.

Yap, deskripsi mengenai ke dua puluh sembilan anggota Pelatnas 1 IBO 2016 itu membuat blogpost ini berakhir menjadi sebuah tulisan yang sangaaaaaaat panjang. Tapi, nggak apa-apalah. Manusia-manusia unik seperti mereka harus diabadikan, paling tidak di dalam sebuah cerita😉 . Berkumpul bersama orang-orang yang memiliki passion sama dengan kita memang asyik. Terlalu banyak inside jokes yang hanya akan dimengerti oleh anak Biologi. Rasanya menyenangkan, bisa mempunyai teman diskusi mengenai hal-hal menarik seputar Biologi. Namun, bahkan ketika kami sedang tidak membahas pelajaran, saling berbagi cerita mengenai diri sendiri dan pengalaman-pengalaman kami pribadi juga tak kalah menyenangkan.

Sekarang, aku sadar.

In the midst of tough competition, strong bond of friendship is not impossible to exist.

Di tengah-tengah kompetisi yang ketat, ikatan persahabatan yang kuat bukan tidak mungkin untuk terwujud🙂

IMG_5612

Keluarga besar Pelatnas IBO 2016

 

Bersambung ….

6 thoughts on “Menapaki Tangga Impian Lebih Tinggi (Pelatnas I IBO 2016: Part 1)

  1. Yahhhhh pdhl aku bakalan seneng bgt kalo postnya panjang loh, Soal. Ditunggu kelanjutannya!😀

  2. I KOMANG DANANJAYA

    Kereen kak.. aku udah baca cerita kk dari osn 2014.
    inspiratif sekali..
    Aku nge add di kk tapi batas teman kk udah full.
    okelah ditunggu part selanjutnya

  3. kerennn…. semangat yaa pelatnasnya, btw haryo sama aby itu temen gua wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s