Arti Sebuah Medali (OSN 2015: Part 7)

Assalamu’alaikum🙂

Tanggal 23 Mei 2015. Hari Sabtu. Hari ini menjadi hari istimewa yang telah dinantikan seluruh peserta OSN SMA 2015. Pengumuman? Sesuatu yang pasti akan terjadi. Sesuatu yang selalu berada di penghujung OSN. Betapapun pengumuman itu menjadi sebuah kepastian, segala hal ajaib dan berbagai hal tak terduga bisa terjadi di dalamnya. Sesering apapun seseorang menghadapi pengumuman seperti ini, rasa grogi itu tetap muncul. Setiap pengumuman memiliki cerita tersendiri. Dan, cerita pengumuman kali ini, akan terungkap dalam waktu kurang dari setengah hari.

Meninggalkan makan pagi sudah menjadi kebiasaanku selama dua hari belakangan. Tentu saja aku tidak akan mengambil resiko ketika tes. Namun hari kami berwisata dan pengumuman seperti saat ini, aku cenderung cuek. BINGO Jateng kembali memastikan berada di satu bus bersama. Kali ini, kami akan menuju Hotel Sahid Rich. Akan diadakan sebuah pertemuan dengan Direktorat Pembinaan SMA. Serta … sebuah sesi motivasi? Entahlah. Setelah makan siang, kami dijadwalkan untuk menuju Sportorium UMY, bangunan tempat Penutupan OSN 2015 sekaligus Penganugerahan Medali akan dilaksanakan.

Senangnya, bisa berkumpul dengan seluruh peserta dari sembilan bidang lomba. Aula Hotel Sahid Rich tampak padat oleh manusia-manusia berbusana warna-warni. Memang, terdapat aturan tidak tertulis bahwa setiap acara penutupan, para peserta mengenakan seragam kontingen masing-masing. Anak Jawa Tengah bisa dibedakan dengan batik abu-abu kami. Tidak terlalu mencolok dan sederhana, sih, tapi cukup bagus. Walaupun kalau suruh memilih, aku lebih suka batik kuning terang yang dipakai Jawa Tengah tahun lalu.

Berbicara lebih jauh tentang baju kontingen, aku selalu suka kontingen dari daerah Kalimantan. Mereka menggunakan warna-warna terang yang ceria. Kalau untuk model, aku suka sekali dengan Jawa Timur yang membedakan batik putra dan putri, siswi putri terlihat anggun dengan model batik yang cewek banget. Tapi, baju kontingen paling keren sejauh ini, menurutku, masih dipegang oleh DKI Jakarta 2014. Batik warna oranye yang sangat eye-catching! Namun, yang membuat istimewa adalah fakta bahwa batik itu bukan kemeja, melainkan sebuah jas tidak resmi yang memiliki resleting di bagian depan. Well, mengamati baju kontingen menjadi salah satu kegiatan yang menyenangkan dan telah aku masukkan dalam daftar what-to-do di OSN tahun depan🙂 Hehe … semoga bisa! Aamiin!

Sesi pertama adalah uraian informasi dari Direktorat Pembinaan SMA tentang kompetisi yang digelar untuk SMA dan sederajat setiap tahunnya. OSN, O2SN, OPSI, FLS2N, NSDC, dan LDBI. Semuanya mencakup segala aspek pendidikan, baik itu sains, seni budaya, olahraga, penelitian, dan bahasa. Hal ini semakin meyakinkan diriku, bahwa anak muda tak lagi patut mengutarakan keluh kesah bahwa pendidikan di Indonesia cuma fokus di sains. Nyatanya, kesempatan untuk mengembangkan bakat di bidang lain juga terbentang luas😉 Walaupun di lapangan masih banyak hal yang harus diperbaiki, paling tidak, kita harus tahu bahwa banyak orang mendukung kita untuk terus berkarya!

Selain itu, kami mendapat penjelasan tentang beasiswa kuliah yang dijanjikan pemerintah untuk peraih medali internasional. Bisa dibilang, sebelum ini cukup banyak berita yang beredar, menyangsikan keberadaan beasiswa itu. Semoga untuk tahun-tahun ke depan benar-benar terealisasi untuk kebaikan bersama.

“Yakin, Sal, nggak dapet?”

Sebuah suara mengejutkan diriku. Aku menoleh ke sumber suara, seseorang yang  duduk di barisan kursi di belakangku.

Aku cuma bisa membalas dengan tertawa meringis. Kak Wildan dan Kak Ikhsan, dua anak Kharisma Bangsa itu, pasti membaca status facebook-ku kemarin. Aku mencoba mengingat-ngingat apa yang telah kutulis. Yah, memang agak bernada putus asa sih, tapi masih ada secercah harapan di dalamnya, kok!

Tak kusangka, statusku itu mendapat like dan komentar yang sangat banyak, beberapa orang bahkan membagikannya di dinding mereka. Aku jadi terharu sendiri. Menulis status itu kulakukan untuk menyingkirkan kegalauan. Tapi, aku dikejutkan ketika banyak orang, kebanyakan orang-orang asing yang tidak kukenal sebelumnya, menyampaikan support dan salut mereka. Kata-kata seperti “ini mental juara”, “pertahankan mindsetnya, adik”, “kereeen”, dan banyak lagi, benar-benar menyingkirkan moodku yang sempat sendu. Ah, terimakasih teman-teman, kakak-kakak, bapak dan ibu sekalian. They are just words but they mean so, so, sooo much to me🙂

“Iya, nggak yakin. Sama sekali.” Aku mengangguk kuat-kuat.

“Yah, kenapa? Apa sih, yang nggak Salsa bisa?” komentar Kak Ikhsan.

“Dapet lah, Salsa … masa nggak dapet.” Tambah Kak Wildan.

Aku hanya tersenyum mendengar dukungan mereka. Di dalam hati, terkadang aku sebal dengan orang-orang yang sangat yakin bahwa aku akan membawa pulang gelar juara. Hm, lebih tepatnya, aku tidak sebal dengan orang itu, melainkan kepercayaan mereka berubah menjadi beban untuk diriku sendiri. Bukan cuma kali ini aku mendengar kata-kata seperti itu. Banyak orang lain telah mengatakannya. Aku tahu seharusnya aku malah senang, menganggap kata-kata itu sebagai dukungan yang mengangkat kepercayaan diriku. Tapi, kenyataannya, yang terjadi malah sebaliknya. Please, aku sudah berusaha menurunkan ekspektasi serendah mungkin, jangan buat aku berharap lebih tinggi lagi. Aku takut nggak bisa memenuhi anggapan kalian … Aneh, ya, diriku? Sekarang, aku menyadari hal itu sekali lagi. Sebuah kesadaran yang selalu datang di saat-saat pengumuman lomba seperti ini.

Betapa aku masih mengejar penghargaan di mata manusia.

Sesi selanjutnya adalah motivasi. Motivasi berjalan cukup seru. Ketika sesi motivasi berakhir, kami meninggalkan aula untuk menaiki bus menuju Sportorium UMY.

Kedua orang tuaku sedang dalam perjalanan dari Malang ke Yogyakarta. Mereka mengusahakan untuk datang ke upacara penutupan. Aku memejamkan mataku. Tiba-tiba, aku teringat percakapanku dengan Umi kemarin malam.

“Mi … aku… mm, nggak apa-apa ya, kalau aku nggak dapet?” Fiuh, pertanyaan klasik.

Ya nggak papa, sayang. Tapi sih, feeling Umi masih tetep.”

Aku tersenyum, walaupun tentu saja Umi nggak bisa melihatnya. Belakangan ini, aku menyadari bahwa Umi sering sekali berbicara dengan embel-embel ‘feeling Umi’ di belakangnya. Kata Umi, feeling seorang ibu itu sering sekali benar. Di tambah lagi ketika seseorang dekat dengan Allah, maka akan Allah beri petunjuk terkait kejadian-kejadian di hidupnya. Wah, tentu saja aku sangat tertarik mendengar pemaparan itu.

Selama aku mengikuti lomba, feeling Umi juga belum pernah meleset. Bukan, Umiku bukan dengan jelas meramalkan medali apa yang akan kubawa pulang. Tapi paling tidak, Umi akan tahu apakah aku akan membawa pulang sebuah medali atau menjadi peserta saja. Bahkan, Umiku berkata, beliau sangat tenang selama proses TC IJSO. Padahal, well, waktu itu aku sempat stress parah dan tertekan sekali, sama sekali nggak yakin akan terpilih sebagai tim yang mewakili Indonesia. Nyatanya, dua belas orang berangkat semua. What a relief.

Menyadari Umi masih menaruh keyakinan yang besar bahwa aku akan pulang membawa sesuatu, aku lumayan lega.

“Kakak-kakak gimana ya, Mi?” tanyaku lagi.

Feeling Umi, sih, Semesta tahun ini bawa pulang emas, kok.” jawab Umi. Aku tersenyum lagi.

“Iya, sih… Paling nggak dua emas, lah …” Aku menebak. Aku berpikir keras sembari mempertimbangkan segala kemungkinan sampai akhirnya mengutarakan dua emas itu. Yang jelas, aku bukan salah satunya. Tapi, sepertinya beberapa kakak kelasku berpotensi. Semoga!

Percakapan lewat telepon itu akhirnya bergulir lagi ke dalam topik yang sama; aku galau. Aku nggak sabar menunggu pengumuman. Sampai akhirnya, Umi mengatakan sesuatu yang kemudian terpatri di benakku sampai saat ini.

Manusia itu, ya. Allah sudah tentukan siapa yang akan membawa pulang medali. Tinggal menunggu manusia lain menyebutkan pengumumannya. Gitu aja, lho. Tenang saja, Sayang …

Iya juga, ya. Semudah itu, kok! Hanya tinggal menunggu manusia menyebutkan pengumuman peraih medali, yang mana segala raihan ini telah Allah tentukan lebih awal. Simpel.

Kami memasuki Gedung Sportorium UMY. Aku ternganga ketika menginjakkan kaki ke dalamnya. Bangunan itu besar sekali! Panggung di depan juga tampak sangat megah. Di lantai dasar, kursi-kursi para undangan, termasuk para peserta OSN, telah berjejer rapi. Kami segera menempati kursi yang disediakan untuk Biologi. Di lantai atas, para orang tua dan orang-orang lain yang ingin menyaksikan jalannya acara berkumpul. Aih, aku merasa jadi bahan tontonan … Hehe.

Acara segera dimulai. Aku masih sibuk dengan hapeku. Di tengah baterai yang krisis, aku masih harus berkomunikasi dengan Abi dan Umi serta … Eli. Nah, menyangkut Eli, tiba-tiba dia memberitahuku bahwa berdasarkan info Dinas Pendidikan Jateng yang sudah mengantar pulang siswa OSN SMP dari Palu, kontingen SMA Jateng membawa pulang 14 medali emas. Aku tentu terkejut mendengarnya. Sejujurnya, aku nggak suka spoiler. Ketika kita tahu sesuatu lebih awal dari seharusnya, rasa ‘greget’ di momen puncak akan sangat berkurang. Tapi jika spoiler itu menandakan kabar baik, yah … bisa ditoleransi😀 Jika info itu valid, maka Jawa Tengah telah merebut hampir sepertiga dari total medali emas untuk SMA. Jumlah medali itu ditambah medali yang diperoleh Jateng di tingkatan lain, bisa dipastikan, tahun ini Juara Umum berpulang ke Jawa Tengah. Alhamdulillah … satu beban sudah terangkat.

Kami mendapat kabar bahwa mulai tahun ini, tempat penyelenggaraan OSN sudah ditentukan sampai dua tahun ke depan. Pemerintah juga mengusahakan agar pelaksanaan OSN untuk semua bidang dalam semua jenjang dilaksanakan bersama-sama. Terungkaplah provinsi yang akan menyelenggarakan OSN 2016. Palembang, Sumatera Selatan! Aku membuka mulut saking terkejutnya. Wah, tebakanku itu jadi kenyataan! OSN 2017 akan diadakan di Pekanbaru, Riau. Alhamdulillah, ketakutanku jika Sumatera Barat kembali menjadi tuan rumah tidak terwujud. Hehe😀

Kemudian, layar besar di depan panggung menampilkan tayangan Kilas Balik OSN 2015. Melihat rekaman itu sangat menghibur!

Aku terheran-heran dengan jalannya acara. Kenapa lebih maju dari jadwal, ya? Syukurlah, lebih cepat lebih baik. Sekarang, saatnya mengkhawatirkan diriku, BINGO, dan sekolahku.

Bismillah.

Biologi mendapat giliran pengumuman putaran kedua. Pembacaan medali diurutkan dari Perunggu. Aku sudah memasang telinga untuk mendengar nama sekolahku disebut. Selama putaran pertama, belum ada.

Fiuh … aku mencoba menarik nafas dalam-dalam. Tim BINGO duduk berdekatan satu sama lain. Kami saling menyemangati. Untuk Kak Niko, aku sangat mengagumi kemampuannya membuat lelucon bahkan disaat seperti ini.

Sekarang, Biologi. Aku memusatkan perhatianku sepenuhnya kepada setiap nama yang diucapkan pembawa acara.

Kak Dewan! Lalu Kak Bagus! Kami semua bertepuk tangan dengan ceria.

Aku tidak berpikir apa-apa karena masih tenggelam dalam euforia dua anak BINGO yang dipanggil maju lumayan berdekatan itu. Sampai akhirnya …

“Salsabiilaa Roihanah …”

Aku merasakan sebuah tangan menyentuh pundakku.

“Yeay … Selamat Salsa!” ucap Kak Fatin. Seruan bahagia lainnya terdengar dari orang-orang di sekitarku.

Aku mengerjapkan mata. Kuucapkan hamdalah dengan sungguh-sungguh. Sambil menutup mulut saking senangnya, aku bangkit dari kursi. Aku berlari kecil menuju ke atas panggung. Seorang pria mengalungkan medali perunggu itu ke leherku sambil mengucapkan selamat. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain tersenyum sumringah. Aku diarahkan untuk berdiri di titik yang telah disiapkan, bersama dengan peraih perunggu pada putaran kedua ini. Aku memandang lurus ke depan, lalu sedikit menyipitkan mata karena silau. Lampu sorot langsung mengarah ke atas panggung. Orang-orang yang berlarian, terlihat sangat bahagia karena namanya dipanggil, tampak sebagai siluet berwarna hitam.

Di atas panggung

Di atas panggung

Aku masih memasang telinga lekat-lekat. Seorang yang tidak asing melangkah untuk berdiri di sebelahku; Kak Saskia. Aku berseru senang, Kak Saskia juga tampak bahagia. Kami saling mengucapkan selamat. Seluruh perunggu biologi telah terpanggil. Sejauh ini, lima orang BINGO sudah maju; Kak Dewan, Kak Bagus, aku, Syailendra, dan Kak Dika. Nama yang aku kenal juga ada beberapa. Kak Rian, Kak Hanan, dan beberapa orang lagi. Aku sungguh senang melihat mereka senang.

Kami mengacungkan medali kami untuk sebuah foto. Setelah selesai, kami dipersilakan untuk menuruni panggung.

Langkah kakiku terasa ringan sekali, bagaikan terbang. Aku tak henti mengucapkan syukur dalam hati. Kami diarahkan menuju sebuah meja tempat mengurus hadiah medali berupa uang dalam bentuk tabungan. Selama perjalanan menuju ke sana, aku memberi selamat kepada setiap wajah yang kukenal. Kami mengantri untuk mengambil beberapa berkas. Saat inilah, aku yang tidak suka spoiler malah berusaha keras untuk mengungkap daftar peraih medali setiap bidang yang bisa aku lihat. Ya, karena yang sedang kami urus adalah hadiah medali, maka terdapat daftar nama-nama peraih medali, dari peraih medali emas sampai perunggu, yang bisa kami lihat dengan bebasnya ketika membubuhkan tanda tangan.

Aku sangat gembira melihat hasil tim Biologi Jawa Tengah. Sebelas medali berhasil kami raih. Kak Willy, Kak Roihan, Kak Rio dan Kak Ilham mendapat medali perak. Medali emas? Aku sangat bahagia untuk Kak Fatin dan Kak Jordan! Yah … walaupun caraku mengetahui hasil ini kurang greget, tapi … karena hasilnya sangat memuaskan, bisa ditoleransi😀 Sebuah provinsi bisa mengambil lebih dari sepertiga medali dalam satu bidang, Alhamdulillah🙂

Akhirnya, kami berada di situasi yang agak canggung. Setelah selesai mengurus berkas, kami kembali ke tempat duduk Biologi. Kami mendapati para peraih medali perak telah kembali dari panggung. Tinggal menunggu medali emas. Kami menenangkan Kak Fatin dan Kak Jordan. Walaupun kami tidak mengungkapkannya dengan eksplisit, aku rasa seharusnya mereka sudah bisa menebak dari tingkah laku kami😀

Aku kembali membagi fokusku untuk mengetahui kabar kakak-kakakku. Salman Abi mendapat perunggu bidang Geografi, sukses menjadi penyumbang medali Geografi pertama dalam sejarah Semesta. Ihyar Abi, Kak Yuni dan Kak Usy mendapat medali perak untuk Kimia, Astronomi dan Ekonomi. Aku telah mengetahui nasib semua anak Semesta yang tersisa, kecuali Kak Tika. Aku belum berhasil mengintip daftar Kimia. Tapi, di dalam hati, aku yakin Kak Tika berhasil mewujudkan impiannya.

Tampaknya, seorang kakakku sudah mengetahui bahwa untuk OSN kali ini, ia masih menjadi peserta saja. Aku menggigit bibir. Aku … entahlah … perasaanku campur aduk. Aku sangat mengetahui usaha kakak ini dari awal, dari SMP dulu. Bicara dalam kerangka pemikiran manusia, sempat terbersit bahwa dia layak mendapatkan medali, Ya Allah. Aku … Aaaarrrgghh … aku pun yang hanya seorang adik kelasnya, harus berjuang sepenuh hati untuk meyakinkan diri bahwa inilah takdir Allah yang terbaik. Apalagi dirinya sendiri …

Aku memandang si kakak yang berada di barisan agak belakang. Aku menimbang-nimbang sejenak. Apakah aku harus menghampiri si kakak untuk memberi dukungan? Atau ia lebih nyaman sendiri dahulu? Tapi, kakak ini perempuan sendiri di timnya. Ia pasti butuh seseorang untuk menggenggam tangannya, sesederhana memberi dukungan. Aku pun memutuskan untuk menghampiri si kakak.

Tanpa banyak bicara, aku dan ia sudah tahu apa yang terjadi.

“Kak …” Aku memeluk kakakku yang sangat kukagumi ini. Aku bisa merasakan ia mulai terisak. Mendengar tangisannya, hatiku ikut meleleh. Beberapa butir air mata turut mengalir keluar dari mataku. Salsa nggak berguna banget sih, bukannya menghibur malah ikutan nangis, sesalku dalam hati. Bagaimana aku bisa menghibur, ketika sepatah kata pun sangat susah untuk keluar dari tenggorokanku yang sesak.

“Kak …” aku berhasil bersuara. “Aku tahu. Allah … Allah menganggap kakak kuat banget,” bisikku akhirnya.

Aku yakin ia butuh waktu untuk menguatkan hatinya. Melihat ketangguhannya selama ini, aku yakin ia akan cepat bangkit. Aku mengganggam tangannya untuk terakhir kali, sebelum akhirnya kembali ke tempat dudukku untuk menunggu pengumuman medali emas.

Pengumuman medali emas menjadi paling epic. Hanya lima orang terbaik dari setiap bidang yang mendapat kesempatan maju ke atas panggung. Nama-nama yang muncul di sebuah layar besar di atas panggung itu mengundang sorak sorai dari banyak orang.

Aku akan berseru dan bertepuk tangan dengan keras setiap seseorang dari Jawa Tengah dipanggil. Apalagi ketika Kak Tika maju ke depan. Benar saja! Aku sangaaaaaaat gembira! Aku berteriak senang. Kak Tika meraih medali emas pertamanya di kampung halamannya sendiri. Kak Tika juga berhasil memecahkan ‘telur’ Kimia, meraih emas Kimia pertama untuk Semesta. Itu artinya, sepanjang keikutsertaan Semesta di OSN, sudah tujuh dari sembilan bidang OSN SMA yang pernah memperoleh emas. Kaka Abi berhasil meneruskan tradisi emas kebumian tahun 2012 dan 2013. Ah … I am so proud of you, seniors!

Atika Nur Rochmah, Emas Kimia OSN 2015. Abdan Malaka, Emas Kebumian OSN 2015.

Atika Nur Rochmah, Emas Kimia OSN 2015. Abdan Malaka, Emas Kebumian OSN 2015. (Wah, ternyata tebakanku benar lagi!)

Ketika sampai giliran Biologi, kami menunggu dengan tenang nama Kak Fatin dan Kak Jordan dipanggil. Kak Fatin maju terlebih dahulu. Matanya berkaca-kaca dan … sangat bahagia. Akhirnya, Kak Fatin berhasil melengkapi koleksi medalinya! Kak Jordan juga keren sekali! Seseorang yang lebih muda dariku, tapi bisa meraih prestasi seperti ini … mengagumkan🙂

Para peraih medali emas Biologi. Look at their happy faces! :)

Para peraih medali emas Biologi. Look at their happy faces!🙂

Pengumuman medali telah usai. Alhamdulillah, lagi-lagi, feeling Umiku benar. Aku pulang membawa sesuatu. Benar saja, pengumuman kali ini juga membawa banyak sekali kejutan. Kelihatannya, kelas sembilan cukup banyak yang mendapat medali. Keikutsertaan kami di OSN ini menjadi agak spesial, mengingat kami adalah generasi pertama yang benar-benar mengikuti OSN SMA saat masih SMP akibat jadwal OSN yang dimajukan. Belum lagi kami harus menjalani UN dua minggu menjelang OSN.

Farras dan Michael membawa pulang medali emas pada bidang Matematika dan Fisika. Di bidang Matematika, ada Otto yang meraih medali perak, serta William dan Gian perunggu. Di Biologi sendiri, aku dan Syailendra meraih perunggu. Kalau tidak salah di bidang Fisika dan Komputer ada peraih medali kelas sembilan juga, tapi aku tidak kenal.

20150522_094944

H-1 Pengumuman. Salsa, Gian, Michael.

Setelah pengumuman. Salsa dan Gian Sanjaya, Perunggu. Michael Gilbert, emas! Ckck :D Congratulation, guys! (Kenapa posenya selalu urut Salsa-Gian-Michael ya? Entahlah. Hehe)

Setelah pengumuman. Salsa dan Gian Sanjaya, Perunggu. Michael Gilbert, emas! Ckck😀 Congratulation, guys! (Kenapa posenya selalu urut Salsa-Gian-Michael ya? Entahlah. Hehe)

Berikutnya adalah pengumuman Juara Umum. Setiap tahun, sebuah trofi akan diberikan kepada provinsi yang berhasil membawa pulang medali paling banyak hasil akumulasi setiap bidang dalam setiap jenjang. Lambang lima provinsi muncul di layar panggung. Salah satunya, Jawa Tengah. Urutan lima besar provinsi itu mulai terungkap satu persatu.

“Juara Umum Olimpiade Sains Nasional 2015 …………. JAWA TENGAH!” seru sang pembawa acara.

Tepuk tangan meriah dan teriakan gembira seluruh kontingen Jawa Tengah bergema di gedung itu.

“Dipersilakan untuk seluruh kontingen Jawa Tengah untuk naik ke atas panggung …”

Aku tertawa bahagia. Kami bersama-sama berjalan untuk naik ke atas panggung. Suasana saat itu … sangat ramai. Official dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah turut hadir untuk menerima trofi. Kami semua berkumpul dan bercakap-cakap dengan gembira.

We are the champion … My friend … lagu itu menemani prosesi penyerahan trofi.

DUAR! Sebuah suara seperti ledakan terdengar. Percikan api menghiasi bagian depan panggung.

“Waaaah …” kami berseru kagum. Aku menengadahkan kepala ke atas. Potongan kertas warna warni yang tadi ditembakkan, mulai berjatuhan. Aku menangkap beberapa potongan kertas itu. Rasanya … magical. Semua orang tertawa. Semua orang bahagia. Kakak-kakak pembimbing juga naik ke atas panggung. Mereka memberi selamat kepada kami dan ikut berfoto-foto.

Saat kami semua terhipnotis oleh kemeriahan di atas panggung. Sumber: Fransiska Herline.

Saat kami semua terhipnotis oleh kemeriahan di atas panggung. Sumber: Fransiska Herline.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan berjabat tangan dengan perwakilan kontingen Jawa Tengah yang menjadi Juara Umum Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2015 dalam acara penutupan OSN 2015 di Gedung Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (23/5). Kompas/Haris Firdaus (HRS) 23-05-2015

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan berjabat tangan dengan perwakilan kontingen Jawa Tengah yang menjadi Juara Umum OSN 2015. Sumber: Kompas/Haris Firdaus (HRS) (Look at their happy faces!🙂 )

Kak Yuni, Salsa, Kak Tika.

Kak Yuni, Salsa, Kak Tika. (Eh … Kenapa medalinya Kak Tika jadi kayak perak?)

With our precious Kak Yanuar!

Sebagian BINGO dan Kak Yanuar

BINGO Jateng: Dua emas, empat perak, lima perunggu. ALHAMDULILLAH!

BINGO Jateng: Dua emas, empat perak, lima perunggu. ALHAMDULILLAH!

Ini kali pertama aku menjadi bagian dari provinsi yang meraih Juara Umum. Sewaktu SD, aku bahkan nggak tahu dan nggak merasa gelar itu penting. Saat SMP, Jawa Tengah tidak meraih Juara Umum. Ternyata, menjadi Juara Umum itu benar-benar membanggakan. Alhamdulillah🙂 Terimakasih atas kerja sama dan kerja keras semua pihak! Jawa Tengah menjajikan jamuan makan malam untuk kami. Hehe … kelihatannya asyik, tuh.

Rupanya, ada sebuah acara dadakan untuk para peraih medali. Kami diundang menjadi audiens acara Mata Najwa yang akan syuting malam nanti. Yah … batal, deh, jamuan makan malamnya. Kami diarahkan untuk menaiki bus yang berisi para peraih medali masing-masing bidang. Di dalam bus, aku terkagum-kagum sendiri. Tidak kusangka, aku berhasil menjadi salah satu dari 30 peserta teratas. Aku bisa menaiki bus yang sama dengan nama-nama yang sudah beberapa kali ikut OSN SMA, sebagian malah sudah mencicipi Pelatnas. I am feeling so honoured🙂

Di OSN SMA 2015 kali ini, Semesta berhasil menyabet dua emas, tiga perak dan satu perunggu. Ditambah dua medali perunggu yang disumbangkan oleh siswa SMP yang akan melanjutkan ke Semesta. Yah, anggap saja total peraihan medali kami dua emas, tiga perak dan tiga perunggu … Hehe ((maksa))

Aku berbicara tentang hasil OSN kali ini dengan Umi dan Abi. Aku menyampaikan segala hal yang terlintas di pikiranku. Ada orang-orang yang aku inginkan untuk berhasil, tapi kenyataan masih di bawah ekspektasi.

“Namanya juga permainan. Ada yang menang dan ada yang kalah.”

Aku meruncingkan bibir. Frasa di atas selalu, dan sudah berkali-kali Abiku katakan setiap kali aku memprotes kenyataan. Baik itu dalam hasil olimpiade, atau sering juga, perlombaan bulutangkis. Pembawaan Abiku yang santai saat mengatakannya membuatku bersungut-sungut.

Seakan-akan mudah banget Bi, untuk pihak yang kalah.

Namun, itu dulu. Sekarang, aku mulai membuka mata. Di dalam bus, aku mengeluarkan sebuah benda bundar yang sedari tadi belum sempat aku amati lekat-lekat. Alhamdulillah, Allah telah memberiku amanah untuk menjadi peraih medali perunggu. Sungguh, raihan ini diluar prediksiku. Aku merasa senang sekali. Namun, perasaan senang ini lebih membumi dan sederhana. Setelah semua yang kulewati, aku sadar bahwa kualitas diri seseorang tidak bisa dinilai dari raihan medalinya.

Medali itu hanya logam. Keringat yang kauteteskan, doa dan sujudmu setiap malam, goresan pena yang kautorehkan, kelas yang kauhadiri puluhan kali, semua itu lebih berharga dan lebih berperan untuk membentuk pribadi hamba yang dekat dengan Tuhannya.

Akhirnya, ini semua memang hanya permainan. Bukan perkara meraih juara atau tidak. Tapi, pemenang sejati adalah mereka yang mampu menghadapi rintangan dalam setiap tahap kehidupan. Bagiku, kakakku yang belum sempat mendapat medali tahun ini juga seorang pemenang. Sudah sepantasnya, sesuatu yang proses untuk meraihnya membutuhkan lebih banyak waktu dan kesabaran, akan menjadi hal yang luaaaar biasa. Untuk kakakku, aku yakin hal luar biasa itu akan ia genggam suatu saat nanti🙂

Setelah ini? In syaa Allah, atas seizin Allah. P E L A T N A S. Semoga kesempatan itu menjadi ladang pahala dan ajang memburu ridho Allah lewat usaha menuntut ilmu🙂 .

 

HAMPIR TAMAT :’D

12 thoughts on “Arti Sebuah Medali (OSN 2015: Part 7)

  1. Yaampun Sal, bijak banget deh. Artikelnya menginspirasi. Selamat yaaaa😉

  2. Nggak bisa berkata apa-apa selain : KEREN.
    Ditunggu part selanjutnya😀

  3. Hallo dek. Saya sudah baca postinganmu tentang IJSO dan tentang OSN. And that’s so inspiring ^^
    awalnya saya terlalu banyak berpiikiran negatif tentang anak2 MIPA tapi setelah baca postinganmu ternyata pendapat saya tentang anak MIPA jadi berubah.
    Fighting ^^ keep ur spirit🙂
    btw boleh minta follbacknya?🙂

  4. Sebuah catatan yg indah…

  5. dinda maharani

    tulisan ini mampu membuat saya kagum sekaligus iri :”) kamu hebat sekalii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s