Menguras Otak, Menikmati Jogja (OSN 2015: Part 6)

Assalamu’alaikum🙂

Aku bangun pagi hari itu dengan satu ingatan di pikiranku; Tes Praktikum! Kami akan berangkat ke SMAN 3 Yogyakarta, tempat tes Biologi dan Matematika. Seluruh peserta biologi dibagi menjadi empat kelompok. Ada kelompok merah, kuning, biru dan hijau. Kelompok tersebut akan memulai di lab yang berbeda untuk kemudian bergiliran pindah ke lab lain sampai semua orang melaksanakan keempat eksperimen. Kami telah mendapat sebuah jas lab berwarna putih dan sebuah band yang diikatkan di lengan tangan. Setiap band menyesuaikan warna tim. Katanya sih, untuk identitas dan kewaspadaan pengawas supaya tidak ada peserta dari tim berbeda saling bertemu.

Halaman tengah SMAN 3 Yogyakrta yang tampak asri.

Tema eksperimen saat OSN selalu disesuaikan dengan tema eksperimen IBO tahun berikutnya. Selalu terdiri dari empat tema. Tahun ini menyesuaikan dengan IBO Vietnam 2016, yaitu; Mikrobiologi dan Biologi Molekuler, Biokimia dan Biosel, Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan, Anatomi Sistematika Evolusi Hewan. Salah satu kebiasaan anak biologi adalah menyingkat tema-tema praktikum tersebut agar lebih praktis saat mengucapkannya. Aku mendapat band biru, yaitu kelompok yang memulai Tes Mikrobiomol (mudah ditebak kan, kepanjangannya?) terlebih dahulu. BINGO di kelompokku adalah aku, Kak Jasmine, Kak Royyan, Kak Dika dan Kak Bagus. Eh, tampaknya kurang satu orang lagi …. Kak Niko😀

Eksperimen biologi selalu memiliki prosedur pengerjaan. Pesan semua orang, kami harus memperhatikan petunjuk dengan baik. Tentu saja, aku berasumsi bahwa setiap langkah secara detail telah tertera disana. Aku jadi lumayan tenang…. Toh, tinggal melakukan sesuai perintah.

…. Ternyata, tidak sesimpel itu. Ada beberapa teknik yang mau tidak mau harus kita kuasai dengan sering berlatih. Terutama di mikrobiomol, aku merasa gagal segagal-gagalnya! Dari tiga sub bab praktikum, aku terlalu fokus di sub bab pertama yang benar-benar praktek melibatkan bakteri. Tapi, hasilku sama sekali tidak bagus! Aku menyesal menghabiskan terlalu banyak waktu disana, sedangkan sub bab selanjutnya yang lebih mungkin untuk dikerjakan karena hanya berupa teori tidak sempat kuselesaikan. Kami diberi waktu 90 menit di setiap lab. Dalam keadaan repot mengerjakan prosedur dan tertekan mengisi lembar jawaban, 90 menit itu berlalu sekejap saja.

Baiklah, aku berusaha membangun kepercayaan diri lagi. Masih ada tiga praktikum! Praktikum selanjutnya, Anfistum. Bisa dibilang, praktikum ini tergolong sederhana. Aku tahu pasti apa yang harus dijalankan, tapi aku sama sekali tidak berinovasi yang berakibat hasilku kurang baik…. Ok, pelajaran untuk ke depannya, bahwa prosedur praktikum belum tentu selengkap itu.  Lagipula, ada satu bagian yang telah salah kukerjakan, dan bagian ini mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya. Jadi ya… bye bye dua praktikum belakangan. Pasrah.

Tiba saatnya istirahat makan siang. Karena kami benar-benar dilarang bertemu dengan kelompok lain, peserta yang Muslim disediakan tempat sholat di masing-masing ruang transit. Walaupun tidak begitu berselera makan, aku memaksakan diri menelan suap demi suap nasi …. Masih ada dua eksperimen lagi, aku harus menghimpun energi!

Alhamdulillah, diluar dugaanku, eksperimen setelah makan siang cenderung lancar. Biokimia, ada beberapa bagian yang aku mengarang bebas dan menggunakan insting. Berharap kesukaanku dengan kimia selama ini akhirnya terbalaskan dalam bentuk tebak-tebak yang berujung benar! Hehe. Ansisevowan … Aku rasa juga tidak terlalu susah. Ketika praktikum yang lain ada yang tak tuntas kukerjakan, di tema ini ada sedikit sisa waktu. Meskipun aku bilang ‘relatif mudah’, sama sekali tidak ada jaminan jawabanku benar, kok.

Selesai semua praktikum, kami kembali ke bus yang akan membawa kami ke hotel. Anak matematika telah pulang sejak makan siang! Mereka memang murni tes teori semua, sih. Badanku terasa lelah. Kami tidak mengadakan simulasi dengan praktikum yang sungguhan saat pelatihan. Sehingga, ini adalah kali pertama aku melaksanakan empat praktikum itu dalam satu hari. Dan… entah kenapa, kepalaku sedikit pening. Aku sudah merasakan ada yang tidak beres dengan hidungku sejak sebelum makan siang. Tepatnya, setelah praktikum Anfistum. Ada bagian soal yang meminta kami menentukan nama buah dari ekstrak buah yang telah disajikan. Jeruk? Hm, baunya sedap dan kentara sekali. Begitu pun beberapa ekstrak lainnya. Sampai di satu botol, baunya seperti buah yang mengalami fermentasi! Padahal, aku telah menghirup dalam-dalam aroma ekstrak tersebut. Fiuh … kapok😦

Aku berkumpul dengan beberapa kakak BINGO. Ada Kak Willy dan Kak Jordan, lalu kami memutuskan untuk menuju ke bus yang terparkir di luar sekolah. Aku mengikuti mereka berjalan… Loh, kan pintu keluarnya disana? Batinku keheranan. Oh, mungkin mereka mau ke suatu tempat lain. Aku terus mengikuti.

“Pintu keluarnya mana, ya?” Kak Willy tampak keheranan.

“Loh, aku ya nggak tahu,” ujar Kak Jordan.

Aku menepukkan tangan ke kening. “Kak, daritadi tuh jalan keluarnya nggak berubah kok, disana… kita udah ngelewatin,” jawabku sambil cekikikan.

“Oh… ya maaf, kayaknya aku kehilangan orientasi arah,” ucap Kak Willy.

Ckckck… gara-gara eksperimen kah ini😀

Optimismeku? Yah, selayaknya lampu mobil mainan yang hampir kehabisan baterai, semakin meredup. Kalau sudah begini, rasanya ingiiiin sekali curhat ke orang tua. Namun, apa daya … seluruh alat komunikasi masih di panitia. Ada baiknya peraturan ini ditegakkan, aku jadi belajar mengelola hati dan pikiran tanpa campur tangan orang tua😀 . Masih ada harapan untuk tes teori, sih … Tapi, tes teori itu lebih mungkin dikuasai oleh banyak peserta. Nilai kami nggak bakal beda jauh, sedangkan aku telah kehilangan kesempatan untuk menunjang nilai lewat tes eksperimen. Bagaimanapun, aku harus menjalani tes teori besok sebaik yang aku bisa.

Hari berikutnya tiba. Kami menjalani tes di empat ruangan berbeda, masing-masing ruangan berisi kelompok yang sesuai kelompok praktikum. Disesuaikan dengan IBO juga, tes teori terbagi menjadi dua bagian. Tes Teori A dan B, masing-masing berjumlah 50 soal dan dikerjakan dalam waktu tiga jam. Ada beberapa subbab dalam setiap tes. Meliputi Biomolekuler, Anfistum, Anfiswan, Genevo, Biosistematika dan Ekologi. Setiap soal terdiri dari empat pertanyaan. Seperti OSP kemarin, kami menggunakan Lembar Jawab Komputer. Well, untuk membulatkan 200 lingkaran memang sangat menyita waktu.

Tes Teori A…  yah, namanya juga tes teori. Tapi, Tes Teori B cukup melelahkan untukku. Lebih banyak, banyak, dan baaaanyaaak lagi soal sepanjang satu setengah halaman dengan grafik bejibun. Mataku lelah membaca uraian itu. Subbab biomolekuler dan anfiswan paling mendominasi. Seperti yang selalu aku lakukan, aku mengerjakan Genetika paling terakhir. Sering juga mengandalkan insting karena segala perhitungan di bab itu benar-benar memakan waktu untukku yang belum begitu faham.

Bel berdering, menandakan waktu pengerjaan telah usai. Panitia meminta kami untuk mengisi sebuah angket tentang pelaksanaan OSN tahun ini. Aku sepenuh hati mengisi angket tersebut, dengan harapan tahun depan aku masih bisa menjadi peserta OSN dan kualitas perlombaan meningkat dari tahun ini.

Aku melangkahkan kaki keluar ruangan tes menuju ruang transit tempat kami menyimpan tas. Lorong yang berjarak dekat itu jadi terasa jauh, apalagi kepalaku seakan begitu berat, dipenuhi oleh berbagai pikiran-pikiran putus asa. Hape … mana hape … aku bergumam penuh harap. Ingin sekali segera menghubungi orang tua. Ketika aku mendekati tong sampah untuk membuang sampah dari rautan pensilku, dua orang pria tiba-tiba mendekat.

“Boleh wawancara sebentar?” Tanya salah seorang dari mereka.

“B… boleh…” ujarku sedikit terkejut.

Kemudian, wartawan itu menanyakan nama, sekolah dan provinsi asal, serta bagaimana perasaanku menjalani tes-tes kemarin dan hari ini. Tibalah ketika ia menyinggung soal persiapanku menjelang OSN. “Saya ada pembinaan satu bulan dari Jawa Tengah. Kami dibina dosen dan alumni-alumni OSN serta olimpiade internasional.” Aku menjelaskan.

“Oh ya … Bagaimana dengan target medali? Yakin dapat?”

Mendapat pertanyaan macam itu, aku berpikir sejenak. Sudah jelas ada dipikiranku, bahwa kesempatanku itu kecil…. kecil sekali.

“Enggak.” Jawabku mantap.

Wartawan itu terlihat sedikit terkejut.

“Oh… nggak yakin? Udah pelatihan satu bulan masih nggak yakin, ya?”

Deg.

Apa katanya??!! Aku menjerit dalam hati. Saat dalam keadaan aku tertekan begini, masih saja ada orang yang melontarkan pernyataan seperti itu. Namun, yang keluar di mulutku hanyalah seulas senyum malu-malu sambil berkata, “Iya, nggak yakin sama sekali.”

Selesai wawancara, aku menyusul anak BINGO yang telah berkumpul. Dengan muka super bete, aku menceritakan pengalaman itu kepada mereka.

“Ya ampun, parah banget …” komentar mereka.

“Air tuba jangan dibalas air tuba, dibalasnya pakai H2SO4 aja…” kata Kak Willy.

Kak Niko ini unik lagi, “Harusnya kamu balas tanya ke wartawannya … Mas, mas udah kuliah jurnalistik berapa tahun, kalau daftar ke koran mesti keterima nggak?”

Aku tertawa dan mengangguk-ngangguk senang. “Untung yang tadi diwawancara bukan Kak Niko,” ujarku geli.

Sampai di hotel, kami mendapat alat komunikasi yang dari dua hari yang lalu kami titipkan. Rasanya senaaaang sekali. Memang aneh ya, aku terbiasa tinggal di asrama yang membatasi penggunaan hape hanya empat hari seminggu. Dua di antaranya pun hanya beberapa jam saat sore hari, ditambah hape yang kami gunakan sangat jadul. Tapi, kegiatan Pelatda dan segala persiapan OSN ini membuatku lebih nempel ke gadget daripada biasanya, bikin rindu kalau berpisah sebentar saja😀 Ups, kayaknya hal ini nggak boleh berlangsung lama, sih. Tahun ini kan, aku masih kembali ke sekolah dengan peraturan yang sama:/ .

Rupanya, telah menjadi jadwal tetap TOBI untuk mengumpulkan peserta setelah seluruh tes berlangsung. Beberapa hal teknis akan dibahas untuk evaluasi bersama. Kami berkumpul di sebuah aula di hotel. Kakak-kakak juri mulai berdatangan. Satu per satu tema praktikum dibahas. Ada saja momen-momen kocak yang tertangkap kamera juri yang mengawasi, lalu fotonya ditampilkan di layar depan ruangan. Tapi, technical meeting akhir ini sangat berguna, loh. Aku mendapat banyak pencerahan tentang semua praktikum itu. Aku jadi tahu seharusnya yang benar itu seperti apa. Buat perbaikan ke depannya, Sal, hiburku pada diri sendiri. Di satu sisi memang sangat bermanfaat, disatu sisi aku jadi makin kepikiran segala kesalahan bodohku selama praktikum. Aku banyak tertawa. Ya … menertawakan diriku sendiri.

Seluruh tes telah usai … we are officially free! Nggak ada lagi tes yang harus kami jadikan beban pikiran. Walaupun mungkin untuk beberapa orang pengumuman malah beban yang lebih berat, aku sih pasrah saja. Waktu yang tersisa lebih baik dimanfaatkan untuk berkumpul bersama teman-teman. Bisa jadi ini pertemuan terakhir kami … Ah, semoga tidak! Hatiku kecilku masih menyisakan secercah harapan untuk berkumpul lagi saat Pelatnas. Aamiin.

Kak Fatin sedari dulu telah merencanakan, suatu saat BINGO harus bermain werewolf! Terimakasih kak, rasanya perjuangan Kak Fatin untuk memupuk kebersamaan (?) tim begitu banyak. Permainan ini sangat populer di kalangan anak-anak olimpiade, terutama jebolan Pelatnas. Entah awalnya darimana, tapi kebanyakan anak Kimia dan Biologi dan bidang lain yang aku kurang tahu, pernah memainkan game ini. Game ini hanya bermodalkan kertas dan pulpen. Selanjutnya, seseorang yang berperan sebagai ‘sutradara’ akan menuliskan berbagai peran di kertas yang nantinya ‘para aktor dan aktris’ ambil secara acak. Peran-peran tersebut meliputi ‘penduduk desa’ dan ‘serigala’ atau ‘werewolf‘. Beberapa penduduk desa pun punya jabatan yang agak rumit kalau dijelaskan. Intinya, ‘sutradara’ akan memberi aba-aba siang dan malam. Saat malam hari, seluruh pemain tertidur. Sutradara akan membangunkan beberapa orang sesuai perannya. Saat inilah, sesama werewolf membuat kesepakatan untuk membunuh seorang penduduk desa. Saat siang menjelang, semua pemain terbangun. Tidak ada yang tahu peran orang lain. Bisa saja seseorang tiba-tiba terbunuh. Jika ada yang terbunuh, pengadilan digelar! Kami saling tunjuk siapa sebenarnya werewolf di antara kami. Mulailah banyak teriakan, kebohongan, pembelaan diri, bocoran petunjuk, ajakan, bujukan, dan lain sebagainya, sampai seseorang disepakati sebagai werewolf. Seorang tertuduh itu akan dihukum mati. Pemenang dari game itu bisa beragam, sesuai kesepakatan. Werewolf bisa menang, atau penduduk desa, atau peran lain, saat syarat-syarat tertentu tercapai.Memang, awalnya terkesan rumit dan nggak asyik. Pikiranku dulu juga begitu. Tapi, semakin terbiasa memainkan ini semakin seru juga! Saking berisiknya, petugas hotel menegur kami. Dengan muka-muka bersalah, kami mencari tempat yang lebih aman. Memang sih … Awalnya kami berkumpul di ruangan tepat DI ATAS restauran hotel. Akhirnya, kami menuju ke ruang makan outdoor yang sepi.

Kak Niko membuat suatu terobosan baru. Ia menyetel backsound suara suasana malam hari saat kita tertidur, serta suasana pagi hari saat siang. Membuat beberapa dari kami terus cekikikan gara-gara ide absurdnya itu. Ia juga nggak profesional banget dalam kesempatan pertamanya menjadi serigala. Gimana nggak ketahuan, wong sebelum membunuh ia melolong dulu! Jelaslah semua tahu itu suara siapa … Permainan ini berlanjut sampai agak larut malam. Aku balik ke kamar terlebih dahulu gara-gara sudah mati di awal permainan, jadi nggak berguna juga kalau aku terus disana. Besok adalah jadwal kami mengunjungi tempat wisata. Destinasi kami adalah Candi Prambanan dan Museum Merapi Merbabu. Besok… Ah, lupakan saja tes kemarin untuk sementara …

Bangun di pagi hari dan menyadari aku telah kembali menggenggam hape, membuat mood ku menjadi lebih baik.

Sebelum bersiap-siap untuk sarapan di bawah dan menuju bus, aku menyempatkan diri untuk menghubungi kedua orang tua.Rasanya … Galau. Lagi. Setelah semua pengalaman olimpiade yang aku dapat, ingin sekali menjadi kebal untuk semua roller coaster emosi ini. Sayangnya, kenyataannya tidak seperti itu. Pikiranku terbebani oleh satu pertanyaan; bagaimana kalau kita merasa sudah tidak mungkin untuk mendapat medali, melihat segala kehodohan yang sudah tidak bisa diperbaiki saat tes kemarin … Apakah itu termasuk putus asa? Jawaban Abi saat itu menenangkan diriku.

“Tenang saja, Nak. Itu bukan putus asa. Kamu sudah berusaha keras sebelum perlombaan. Begitu perlombaan selesai, menyadari kesalahan yang telah kamu perbuat itu justru bagus. Sekarang, saatnya menjadikan kesalahan itu bukan penyesalan, melainkan diperbaiki untuk ke depannya. Yang namanya putus asa itu, kalau kamu sudah menyerah bahkan sebelum perlombaan dimulai.”

Iya juga, ya … Lagipula, dalam segala ketidak mungkinan ini, kuasa Allah tetap selalu berperan, kan? Beban dipikiranku perlahan-lahan terangkat. Namun, tidak ‘afdhol’ rasanya jika aku belum menuliskan segala kegalauan ini di status facebook. Yehehe. Aku suka sekali mengamati peserta-peserta OSN kenalanku di facebook. Pasca tes seperti ini, pasti mereka menulis bermacam-macam status dengan isi yang mirip-mirip; sudah berjuang, menunggu hasil, kayaknya nggak sebagus harapan deh, tinggak tawakal aja, dll… Aku nggak mau ketinggalan dong😉 Hehe.

2015-06-23%2011.50.34[1]
2015-06-23%2011.49.34[1]

Berkumpul dengan peserta OSN dari seluruh penjuru Indonesia, aku belajar banyak hal. Tidak semua provinsi mengadakan pembinaan dan menjadi perhatian seperti Jawa Tengah. Namun, mereka tetap semangat. Track record pun menyajikan data bahwa banyak siswa yang minim pembinaan dan fasilitas dari provinsi tetap bisa berprestasi. Aku membayangkan ada di posisi mereka. Tentunya, mereka bekerja lebih keras. Namun, aku juga berharap, kalau saja provinsi lain (terutama yang di luar Jawa) mengadakan pembinaan, pasti banyak mutiara-mutiara di pelosok Indonesia yang mulai bersinar. Hal seperti itu malah memperketat persaingan OSN. Menurutku, itu yang namanya pemerataan sesungguhnya.

Ternyata, di jadwal sebenarnya, kami tidak jadi ke Museum Merapi Merbabu. Pemberhentian awal kami dari pagi sampai makan siang adalah UGM. Ya, kami menjadi audiens sebuah acara yang mengenalkan kampus UGM. Sebelum acara dimulai, kami menyempatkan untuk befoto.