Serpihan Mimpi yang Menjadi Satu (OSN 2015: Part 4)

Assalamu’alaikum 🙂

Pernahkah kalian menemukan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama, sehingga pembicaraan kalian selalu terhubung? Pernahkah kalian menghabiskan banyak waktu bersama orang-orang yang sama, membuat kalian semakin akrab? Walaupun terpaut usia, kalian seperti menemukan saudara yang tidak sedarah.

Entah kenapa, awal aku menjadi siswi kelas 7 di SMP Semesta, aku tidak sekamar dengan teman sekelasku. Malahan, aku dan Alzana yang juga mendapat beasiswa itu, menempati satu kamar dengan kakak-kakak kelas 8. Mereka kebanyakan anak olimpiade. Hanya satu bulan, tak lebih. Kemudian aku berpindah ke kamar dengan anggota kelas 7 semua. Namun, waktu sebulan itu sudah cukup untuk mengenalkanku dengan kakak-kakak inspiratif yang luar biasa bersemangat dalam bidang mereka masing-masing.

Anak olimpiade SMP angkatan tepat sebelumku itu memang unik. Dalam satu angkatan, terdapat 8 anak beasiswa! Padahal, OSN setiap tahunnya hanya bisa diikuti satu orang setiap mata pelajaran. Bahkan dengan nilai yang mumpuni, satu atau lebih siswa bisa didiskualifikasi di tingkat kota karena ada siswa dari sekolah yang sama menempati peringkat lebih tinggi. Dua anak biologi, tiga anak fisika, dan tiga anak matematika. Mereka harus berjuang untuk mendapatkan satu tempat di masing-masing bidang.

Jujur, aku tidak (atau belum) tahu bagaimana rasanya bersaing di tingkat sekolah. Angkatanku tidak memiliki anak olimpiade biologi lain, hanya aku seorang. Namun, terutama di sekolah seperti sekolahku sekarang, aku menyaksikan sendiri bagaimana persaingan itu sangat, sangat berat. Bersaing dengan teman satu sekolah, berarti bersaing dengan orang yang bersama-sama dengan kita dari awal sekali. Kita sama-sama berjuang sejak kelas 7 atau 10, kita sama-sama menghadiri kelas olimpiade pada sore hari selama beberapa kali seminggu, kita sama-sama mengikuti perlombaan di universitas, bahkan menempuh perjalanan keluar kota bersama. Dan, mimpi salah seorang atau bahkan lebih di antara kita harus kandas. Menghadapi kenyataan bahwa nilai kita memang kalah dari banyak orang saat seleksi, mungkin lebih melegakan dibanding mengetahui kita sebenarnya lolos namun terhadang kuota sekolah.

Continue Reading