Di Balik Lelah Itu, Ada Kawan dan Usaha (OSN 2015: Part 3)

Assalamu’alaikum🙂

Alhamdulillah … Kalau mengingat masa-masa SMP yang jomblo banget, sibuk Pelatda OSN sebagai satu-satunya perwakilan dari sekolah, berkecimpung di OSN SMA ini membuatku merasa nggak jomblo lagi🙂 Eh, maksudnya tetep jomblo, tapi banyak jomblo yang mengumpul jadi solidaritasnya tinggi (?) (Oke, aku nggak serius).

Intinya… Seneng banget, bisa punya teman-teman (atau kakak-kakak?) seperjuangan dari SMA Semesta. Pengumuman OSN kemarin mengungkapkan, ada delapan kakak dan abi yang akan mengikuti OSN 2015. Siapa saja mereka? Tadaaaa…

1. Atika Nur Rochmah: Kimia

2. Ihyar Kurnia: Kimia

3. Margaret Tanjung C: Komputer

4. Abdan Malaka: Kebumian

5. Suwaibatul Annisa: Kebumian

6. Muhammad Salman Alfarizy: Geografi

7. Yunianti Khotimah: Astronomi

8. Noor Rizky Firdhausy: Ekonomi

Sayang seribu sayang, Pelatda Jateng nggak dilaksanakan di tempat yang sama untuk seluruh bidang. Biologi bersama Matematika, Kimia, Kebumian dan Ekonomi, satu penginapan dan melakukan kegiatan belajar mengajar di Universitas Diponegoro. Fisika, Komputer dan Geografi bergabung di tempat menginap dan universitas yang berbeda. Yah, kesembilan bidang itu … Eh, tunggu. Ada yang terlewat? Oh iyaa, Astronomi. Mereka … satu-satunya bidang yang menjalani pembinaan diluar kota Semarang, Salatiga. Hiks, kita LDR ya Kak Yun😥

Ketakutan kami memang terjadi. Kuota peserta OSN yang biasanya berkisar 90 orang, berkurang menjadi 75 orang per bidang. Uniknya, Biologi menjadi bidang dengan kuota paling besar, 80 orang! Pantas saja sih, karena sistem Pelatnas Biologi agak ribet. Para kelas 10 dan 11 yang mengikuti Pelatnas hasil seleksi OSN tahun lalu diperbolehkan mengikuti OSN, asalkan saat mengerjakan OSP, nilainya memenuhi standar tertentu. Lolosnya anak-anak Pelatnas ini tentu saja menambah ketat persaingan di OSN sendiri.

Alhamdulillah, entah kenapa, ketika kuota secara keseluruhan dipotong, Jawa Tengah justru mengirimkan perwakilan paling banyak sepanjang sejarah untuk Tim Biologi. Ada 13 orang yang masuk passing grade, ditambah lagi 2 anak Pelatnas yang turun dari kahyangan. Waaah… kami berlima belas! Bahkan tim OSN SMP-ku tahun lalu nggak sebanyak itu. Aku membayangkan, pasti kelas kami ramai …

Tidak juga.

Sehari, dua hari, tiga hari, kami menjalani pelatihan, belum tampak tanda-tanda kami bisa menjadi sebuah tim yang solid. Berkali-kali kakak pembimbing mengatakan kepada kami “Kalian berlima belas. 5 emas 10 perak bisa diambil semua, nih.” Wow. Secara jumlah kami memang banyak sekali. Tapi … tetap saja kelas masih sepi. Di kelas, ada 3 orang perempuan: aku, Kak Fatin dan Kak Jasmine. Sisanya laki-laki ._. Heran ya, Biologi yang identik dengan menghafal, dan ‘katanya’ perempuan identik dengan menghafal, seharusnya didominasi perempuan, dong? Kenyataannya enggak, bahkan sampai tingkat nasional. Karena… well, Biology isn’t remembering facts, dude. It is a handful of knowledge from books and journals, mixed with analytical thinking, and topped with experiment skill. In many aspects, guys win. Fiuh.

Namun, seiring berjalannya waktu, kelas kami bisa hidup juga! Ini dia cuplikan nama-nama personil tim kami:

Daftar BINGO

Dan yang jatuh dari kahyangan:

Daftar BINGO cont

Nah, nama mereka saja berbintang. Karena mereka dewa dewi. (Hehe… becanda kakak ^_^)

Ruang makan di penginapan yang menjadi sasaran anak Pelatda belajar. Jika aku menjadi tamu dari luar yang menginap disana, mungkin aku keheranan.

Ternyata … di kelas itu ada tiga anak Malang. Aku, Kak Dewan, dan Kak Dika. Yah, meskipun Kak Dika orang Pasuruan sih… tapi anggap saja iya, hehe. Aku terharu, ternyata orang Malang memang suka merantau. Khusus Kak Dewan, aku merasa dia pecinta alam sekali. Wawasan soal kehidupan makhluk lain sangat luas. Paling nyambung sama dosen kalau membahas semacam tumbuhan atau makhluk hidup apapun di alam liar; “Itu, tumbuhan yang biasanya ada di sawah…” Dosen itu menyebutkan deskripsinya. Kami pun hanya mengangguk-ngangguk, tapi Kak Dewan dengan yakin dan tampak sangat mengenali “Oh, iya pak. Yang itu, kan …” Ckck.

Kelas bakal ramai kalau Kak Niko mulai mengeluarkan lelucon-lelucon abstraknya. Iya, kami tertawa, memang lucu tapi … aneh😀 Justru keanehan itu yang bikin Kak Niko unik, sih. Memanggil salah satu kakak pembimbing kami yang perempuan sendiri itu ‘Umi’, aku dan Kak Fatin dipanggil ‘Bunda’, sedangkan Kak Jasmine dipanggil Bunda(r). Memang dia spesies langka yang harus dilestarikan -_- Kak Niko cukup sering dikunjungi keluarganya. Dan dia membawa adik! Namanya Immanuel. Terkenal, karena … diajak masuk kelas. Bahkan dijadikan tameng saat semua orang sedang berperang colek-colekan kue ulang tahunnya Kak Willy. Jahat, ya. Padahal kan Immanuel imut dan kelihatan tak berdosa. Nggak kayak kakaknya *ups.

Happy Birthday Kak Willy!

Happy Birthday Kak Willy!

1430627362305

Ini nih, ketua kelas kami, Kak Willy! Sabar banget, menghadapi kami yang kalau rapat membahas jaket bisanya iya iya doang, nggak ngasih saran apa-apa😀 . Merayakan sweet sixteen-nya di kelilingi kami. Mungkin dalam hati kakaknya menyesal… hehe. Satu sekolah sama,

Kak Jasmine! Kami roomate dong, sama Kak Fatin juga. Ketika kamar lain sepi berdua, kami mah ramai bertiga🙂 Kakaknya kalau ngomong halus banget. Pecinta Jepang dan bercita-cita kuliah disana. Semangat kak! Ternyata nyambung sama Kak Fatin ketika mengobrol tentang … Naruto. Apalah aku, nggak bisa mengikuti pembicaraan mereka😦 Tapi aku banyak diberi pengetahuan baru sih … Mmm😀

Kak Fatin ini, murah hati sekali kawan! OSN 2015 adalah OSN SMA ketiga untuk kakaknya. Setelah tahun 2013 dan 2014 mendapat perunggu dan perak secara berurutan, Kak Fatin (dan kami semua) berharap ia bisa melengkapi koleksi medalinya tahun ini. Kenapa murah hati? Kak Fatin paling suka berbagi file, ebook, soal-soal, modul, atau apalah yang berhubungan dengan Biologi. Kak Fatin juga sering menemani aku kemana-mana. Maaf ya kak, telah membuatmu repot dan bosan bersama denganku :’) Kakaknya berjanji akan mengajar tim Jateng tahun depan. HAYOLO kupegang janjimu😀 wkwk.

Ada juga Kak Jordan yang sering labil kupanggil ‘kak’ atau nama, karena… sebenarnya dia lebih muda dariku ._. Cuma, kakaknya sudah kelas 10 sekarang. Anggap saja dia lebih tua. Ya, benar, asumsikan saja seperti itu. Ex-IJSO, loh. Kak Jordan ini punya kecintaan yang mendalam terhadap segala macam jenis serangga (yap, ini ironi). Menurutku saja atau … sepertinya Kak Jordan sering menjadi sasaran bully anak kelas sepuluh yang lain. Tapi tanpa melakukan apapun, dia sudah punya aura mengintimidasi ala-ala anak yang dewa gitu😉

Aus nih ngerjain soal :P

Aus nih ngerjain soal😛

Satu lagi ex-IJSO di tahun yang berbeda, Kak Roihan. Awalnya, aku kira Kak Roihan pendiam dan jarang berbicara. Ternyata nggak juga, kok… Apalagi kalau kakaknya bertepuk tangan. Wih, aku bersiap-siap menjauh dulu deh, bikin telinga berdengung saking kerasnya. Kakak kelas 11 yang lain yaitu Kak Ilham. Anak SBBS juga, tapi … Bukan orang Jawa Timur kok, Jawa Tengah😀

Satu-satunya perwakilan Kota Semarang selain aku, adalah Kak Royyan. Kak Royyan dan logat Jawanya, memorable banget. Apalagi kalau sedang minta ijin atau permisi … terkesan sopan sekali. Di kelas, juga ada yang hobi dan jago gambar; Kak Rio. Dan yang sewaktu SMP mantan anak Fisika, Kak Hendra. Ada juga yang perantauan dari NTB, namanya Kak Bagus. Rupanya Kak Bagus ini hobi merenung😀

Memang hampir semuanya aku panggil kak, kecuali satu orang ini; Syailendra. Beberapa orang akrab memanggilnya ‘Syai…’. Biasa aja sih, tapi entah kenapa kalau Kak Niko yang memanggil, kesannya beda. Tahun ini mau masuk SMA Semesta. Sampai jumpa sebentar lagi!

Baiklah, ketika ada dosen yang mengajar, hanya orang-orang tertentu saja yang bersedia membuka mulut dan menjawab segala pertanyaan dosen. Tapi ketika sesi malam hari, semuanya berubah🙂 Ada kakak-kakak pembimbing yang menemani kami, akrab kami sebut ‘Kambing’. Mmm … paggilan yang agak awkward ya? Tapi menyenangkan kok, menjadi kambing itu🙂 Mereka adalah alumnus OSN tahun sekian dan sekian, bahkan ada yang IBO tahun sekian dan sekian.

Taman Fakultas Sains dan Matematika UNDIP

Berkat kejilian mata Kak Fatin, kami menemukan dua ekor lalat sedang kawin di taman tersebut. Segera aku abadikan, dan tenyata hasil fotonya bagus😀

Kak Ali, anak FK UGM ini ahlinya menjejali kami Fisiologi manusia. Selain itu, kakaknya juga berbagi banyak hal, loh. Serial Marvel dan Anime contohnya… haha. Nggak papa lah kak, kami juga butuh refreshing. Juga ada Kak Yanuar, baru saja kembali dari Turki setelah menempuh pendidikan S2-nya! Kak Yanuar juga Bronze Medalist IBO 2008. Hobi banget sama Biologi Molekuler dan Biokimia, apalagi memberi makanan berupa soal-soal yang akhirnya dibuat tugas. Paling hobi deh itu :B Nggak ketinggalan, kakakku, Kak Hana yang masih berjuang untuk Pelatnas IBO tahun ini, namun sudah mengantongi perak di IBO 2014 lalu. Kakaknya sering kangen sama aku, padahal sudah aku larang. Repot, ya😦

Menjelang akhir Pelatda, muncullah seorang Kak Rudi. Aku tak tahu dia siapa, berasal darimana, tiba-tiba bergabung bersama kita saja *ups. Kakaknya banyak mengurusi Sistematika dan Morfologi Hewan, gitu deh. Anak UGM juga… udah lulus belum sih? *misteri Illahi*

Mendapat bimbingan dari kambing-kambing ini seruuu. Mereka yang pernah merasakan ada di posisi kami. Sehingga, apa yang mereka ajarkan benar-benar tepat sasaran. Nggak cuma secara materi, namun secara mental mereka juga banyak menginspirasi kami. Kak Yanuar dan Kak Hana adalah alumni Semesta. Dan banyak, banyak, banyak lagi alumni Semesta yang berkeliaran menjadi kambing pada Pelatda OSN 2015 ini. Aku jadi merasa dunia sangat sempit. Tapi, aku juga berterimakasih untuk mereka yang telah bersedia meluangkan waktunya. Transfer ilmu dari senior yang masih ‘hangat’ ke junior-junior ini salah satu keunggulan Pelatda Jawa Tengah. Aku pun akan dengan senang hati melakukannya, pada waktunya kelak. Sekali lagi, terima cinta kakak-kakak! Karena kasih sudah terlalu mainstream😀 #aiiih #sosweet #LUPAKAN!

Tes!

Tes! Anak Biologi juga butuh kalkulator😀

Lagi-lagi tes.

Lagi-lagi tes.

OSN SMA, dengan banyak sekali bidang yang dilombakan, menjadi keunikan tersendiri. Aku bisa berkenalan dengan kakak-kakak dari bidang lain. Senang juga ketika mendengarkan cerita mereka tentang bidang masing-masing. Bidang yang selalu berbagi kelas di ruang meeting hotel adalah Kimia. Walaupun jumlah Biologi lebih banyak, tapi kehebohan mereka selalu mengalahkan kami. Ketika sedang membahas Biokimia, biasanya aku berakhir dengan menghabiskan waktu di kamar Kak Tika. Niatnya sih, belajar. Tapi… ehe, yaa namanya juga manusia. Belajar juga, kok, setelah story telling panjang lebar😀

Aku paling suka mendengarkan Kak Tika bercerita tentang fakta-fakta di Kimia. Saat membahas asam amino, misalnya. Dia mencontohkan orang yang berambut keriting, biasanya memiliki kandungan asam amino sistein pada rambut yang banyak. “Kan antar sistein membentuk ikatan kovalen, makanya nggak lurus, tapi keriting. Kalau orang catok rambut itu, karena dengan panas bisa menghilangkan ikatan antar asam amino, jadinya lurus sementara.” Dan beragam fakta-fakta lainnya. Makanya, aku suka banget sama Kimia, sampai-sampai ia menempati daftar bidang terfavorit setelah Biologi. (Udah deh, Kak Tik, nggak usah mikir macem-macem😀 ).

Kak Ica pun jadi yang paling cantik di tim Kebumian Jawa Tengah sebagai satu-satunya cewek. Aku juga senang sekali mendengar cerita kakaknya. Kebumian itu mempelajari Meteorologi, Oceanografi, Geologi dan juga … Astronomi! Makanya, nggak heran Kak Ica sering nempel buat belajar bareng sama Kak Yuni. Kalau nggak salah denger, mereka juga mempelajari hewan-hewan, bedanya hewan yang mereka pelajari sudah punah semua -_- Yang hidupnya pada zaman blabla-tikum apalah itu. Kalau di Campbell, bab bagian itu cuma aku lirik beberapa detik aja hehe. Apalagi waktu Kak Ica cerita tentang sejarah nama timnya, Calcite. Terkesannya, calcite itu mineral yang kelihatan nggak berharga, namanya juga kapur. Biasanya dipake nulis dipapan terus gampang banget patah. Ternyata, ada suatu calcite yang spesial, satu-satunya ada di dunia. Cuma terbentuk di Iceland (the youngest island geologically!), yaitu yang kristalnya berbentuk trigonal. Pernah mendengar tentang Bangsa Viking? Well, kristal ini yang mereka jadikan penunjuk arah saat mendung karena polarisasi cahaya yang mengenai kisi kristal istimewa itu. Subhanallah ya :”) Mereka juga anak outdoor loh … pernah beberapa kali field trip mengamati kenampakan-kenampakan alam.

Calcite dan Kambing (Anak Semesta juga, fyi)

Calcite dan Kambing (Anak Semesta juga, fyi)

Ada juga Kak Tashia dari SMAN 3 Semarang, satu-satunya cewek di tim Matematika juga. Aku terkesan sama cara belajar anak matematika. Bisa gitu ya, seharian duduk di kursi dengan fokus mencorat-coret berlembar-lembar kertas. Soal nggak sampai lima biji membutuhkan waktu pengerjaan berjam-jam. Katanya sih, sangat membanggakan untuk seorang anak matematika bisa menemukan solusi terlebih dahulu dari kawan-kawan lain. Dan pasti makin tertekan ketika semua sudah bisa menemukan, tinggal ia seorang yang belum. Sehingga, frasa “Udah ada yang nemu?” sangat populer di kalangan anak matematika.

Anak ekonomi selalu membawa kalkulator kemana-mana, sepanjang yang aku lihat. Katanya, hitungan mereka sebenarnya meliputi matematika dasar saja. Mata lomba yang akan mereka hadapi banyak sekali. Mereka harus menulis sebuah makalah. Mereka juga dituntut untuk kreatif. Ada mata lomba yang mengharuskan mereka mengkreasikan suatu barang dari bahan yang sudah disediakan. Setelah selesai, barang ini harus dijual. Jelaslah, kemampuan berpromosi sangat diperlukan.

Sayangnya, pelatihan kali ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tempat dan pembina Pelatda berubah. Hal ini menyebabkan Pelatda, khususnya Biologi, tidak seefektif tahun-tahun sebelumnya. Konon katanya, setengah dari satu bulan Pelatda dipergunakan untuk berlatih eksperimen. Kami? Sampai minggu kedua, ketika aku sukarela terpaksa meninggalkan Pelatda untuk mengikuti UN, belum ada sehari pun yang digunakan untuk eksperimen. Khawatir? Jelas. Melihat OSN Biologi yang teori dan praktikumnya memiliki presentase nilai seimbang, menguasai eksperimen adalah keharusan. Untuk mengatasi hal ini, sekolahku mendaftarkan kesembilan wakil Semesta untuk mengikuti sebuah pelatihan berbayar di sebuah kota. Tepat saat hari terakhir UN, kami berangkat ke kota itu menggunakan kereta api.

Aku bersyukur sekali, berada di sekolah yang sangat, sangat perhatian dan rela melakukan apapun untuk pembinaan siswanya. Tapi, sepertinya takdir berkata lain. Di tengah keadaan hormonal yang bergejolak, aku mengalami stress yang cukup berat. Aku merasa tertekan, menghadapi kenyataan bahwa OSN tinggal seminggu lagi. Nyatanya, jadwal praktikum di pelatihan itu hanya sehari! Dan hanya ada dua eksperimen dari empat tema praktikum yang akan dilombakan! Lebih sakit lagi, saat tahu jadwal Pelatda Jateng berubah. Para kambing mengusahakan untuk menambah jadwal eksperimen menjadi tiga hari, dan mereka pun telah mempelajari LENGKAP seluruh tema praktikum.

Aku…. menyesal? Bisa dibilang. Aku menyesal berada di pelatihan itu. Sekolah mendaftarkan kami kesana untuk mencari yang lebih baik, dan pakai uang loh, berbayar! Bukan pakai daun! Ternyata, Pelatda Jateng yang gratis malah memiliki kualitas yang lebih baik, saat aku telah meninggalkannya. Aku ingin menyalahkan diriku. Kenapa aku harus disini? Gimana kalau aku pulang saja ke Semarang dan kembali ikut Pelatda? Apalagi tim biologi memiliki grup Line, sehingga aku benar-benar tahu dan bisa memantau apa saja yang sedang mereka lakukan. Sampai suatu saat, aku nggak kuat. Aku menangis, menangis, dan menangis, sambil menelepon orang tua. Mereka setuju, apa yang aku hadapi cukup berat. Lalu, mereka coba menghiburku.

“Nak, dengarkan, ya. Usaha kamu mencari pelatihan lain diluar Pelatda, itu nggak bisa disalahkan. Siapa yang tahu kenyataannya Pelatda Jateng lebih baik? Toh perubahan itu baru ada setelah kamu mengikuti pelatihan berbayar. Namanya kita berusaha untuk mendapatkan yang lebih baik, itu nggak papa. Sudah Allah nilai ikhtiarnya. Sekarang, kalau pun kamu sudah mempelajari semua eksperimen itu berbulan-bulan, kamu nggak bakal merasa siap. Itulah ilmu. Semakin kamu belajar, semakin kamu merasa kurang.”

….. Benar juga, sih. Aku berusaha menguatkan diri. Aku bertanya kepada kakak-kakak dari bidang lain. Siapa tahu, disini mereka dapat yang lebih baik. Kalau sudah begitu, setidaknya aku terhibur. Walau aku kurang, tapi yang lain lebih bermanfaat. Ada sih, kakak yang mengaku lebih terbantu disana. Syukurlah.

Hatiku belum sembuh total juga. Ujian dari Allah kembali datang. Ketika kami akan pulang ke Semarang, tiket kereta habis. Akhirnya, kami menggunakan bus. Sedihnya, bus itu mengalami kerusakan! Kami berangkat sekitar pukul tujuh malam, dan seharusnya sampai di Semarang pagi hari. Kepulangan kami jadi terulur sampai sekitar pukul dua siang. Tengah malam, aku menghubungi orangtuaku dan mengabarkan keadaan kami. Tiba-tiba, aku mendengar Umi terisak. Ia berkata, keadaan kami terlihat sangat … well, mengenaskan. Umiku sedih membayangkan sebuah bus berisikan anak-anak remaja itu menepi di pinggir jalan di daerah antah berantah, menunggu bus lain membawakan suku cadang.

Ya, benar, pengalaman itu cukup ‘berdarah-darah’. Alhamdulillah, kami sampai ke Semarang dengan selamat. Namun, tekanan batinku nggak sampai disitu saja. Tampaknya, kepergian tim Semesta dan beberapa anak Jateng yang tergiur ajakan kami sedikit menyinggung beberapa pihak. Aku mendengar suara-suara seperti:

“Loh, kok nggak bisa? Belum diajarin ya di Pelatihan di (sebuah nama kota)?”

“Padahal  pelatihannya sudah sampai ke (sebuah nama kota), loh …”

“Lain kali tahun depan nggak usah ada Pelatda ya? Kalau akhirnya yang datang cuma sekian.”

“Nanti akan dievaluasi, yang ikut pelatihan ke (sebuah nama kota), apakah tahun ini bisa menyumbang medali.”

Sakit, mendengarnya. Sakit.

Aku belajar, bahwa kata-kata itu bisa menjadi alat penyemangat yang luar biasa. Sebaliknya, ia juga bisa menjadi selayaknya pisau yang menembus sanubari terdalam, membuatku kembali meneteskan air mata. Ketahuilah, kami juga berusaha. Kami ke sana bukan karena kami tidak menghargai usaha dinas mengadakan Pelatda. Kami ke sana karena kami justru ingin yang terbaik untuk Jawa Tengah, bahkan kami merogoh kocek sendiri. Kami berusah mendapatkan yang lebih baik. Sudah cukup sakit aku menerima kenyataan bahwa ternyata, untuk Biologi setidaknya, usaha mencari yang lebih baik itu gagal, ditambah omongan seperti itu. Mau jaminan kami mendapat medali? Baiklah … aku akan beritahu sesuatu. Banyak orang yang sudah keluar masuk Pelatnas, tapi nyatanya, emas yang dibebankan kepada mereka sirna; nggak berhasil mereka raih. Pelatihan apapun bukan jaminan, itu harus ditekankan. Aku bersyukur, dan selalu sangat mengapresiasi perhatian yang telah Jateng tujukan untuk OSN. Segala pelatihan itu adalah usaha, jadi … Biarlah kita saling menghargai usaha masing-masing, ya?

Bahkan aku kembali menangis ketika mengetik tulisan ini.

Tapi, aku mencoba bersikap dewasa, kok. Aku sadar, kata-kata yang menyakitkan hati juga pasti pernah terlontar dari mulutku. Sehingga, kejadian ini dibuat pelajaran saja, ya. Jadilah orang yang selalu berpikir positif. Yang selalu mencoba mengatakan hal-hal baik, bahkan ketika segalanya terihat buruk. Ayo, kita sama-sama belajar, kawan🙂 Pun juga, aku yakin ada hal-hal baik yang aku dapat dari pelatihan berbayar itu. Bukan, bukan pelatihannya yang jelek. Hanya saja, saat itu ternyata Pelatda Jateng lebih bagus (untuk Biologi). Aku yakin, Allah membawaku kesana, pasti kelak ada hikmah yang bisa kupetik. Berlatih sabar? Teman-teman baru? Tentu saja, itu salah satu hikmahnya😉

 

BERSAMBUNG

10 thoughts on “Di Balik Lelah Itu, Ada Kawan dan Usaha (OSN 2015: Part 3)

  1. Bener sal. Dan anggap aja aku yang paling muda 😁😛

  2. Assalamualaikum. Salam kenal Salsa. Dari rentetetan perjalanan kamu semenjak OSN SMP sampai sekarang, menurut saya part ini yang paling luar biasa. Selalu hamasah, ikhtiar, dan tawakal ya.. btw tahun depan masih bisa ikut osn Bio lagi kan ya? semoga makin menunjukkan usaha dan mental yang lebih baik.🙂

    • Wa’alaikum salam. Salam kenal juga Kak Ilham. Wah, sudah dibaca dari awal banget yaa? Hehe. OSN ini belum selesai, dan semoga OSN mendatang ada serial lagi🙂 Aamiin.
      Makasih kak! Ingginnya sih, begitu. In syaa Allah. Terimakasih sudah diingatkan.

  3. dek salsa… aku juga pengen ikutan nangis nih… sedih… sabar ya,, akhirnya kamu kan bisa membuktikan. medal on your hand🙂

  4. Budi S. Darma

    Orang yang mengaku “berpendidikan” selayaknya dibuktikan dengan kemampuannya menjaga lisan dan sikapnya, bukan cuma dibuktikan dengan sederet titel dan raihan medali.
    Tetap lakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan, karena sesungguhnya dalam proses itulah terdapat “ujian kehidupan” yang nyata.

  5. sayang banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s