Sekeping Logam, Sejuta Cerita (OSN 2015: Part I)

Assalamu’alaikum🙂

Hai kawan pembaca blog Salsa! Pernahkah kalian mendengar tentang Olimpiade Sains Nasional? Sebuah kegiatan akbar tahunan yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Bidang yang diperlombakan meliputi berbagai bidang keilmuan, mulai dari IPA dan Matematika untuk jenjang SD, sampai semakin menjurus dan spesifik untuk jenjang SMA. Bahkan, kau bisa menemui bidang seperti Astronomi dan Kebumian! Mungkin banyak dari kita membayangkan ilmu-ilmu itu sebagai tontonan di channel National Geoghraphic semata. Nyatanya, para ilmuwan yang mempelajari itu sungguhan ada. Bahkan, setingkat siswa SMA pun bisa mendalaminya.

Nasib membawaku untuk ‘bergaul’ dengan OSN (singkatannya, populer disebut seperti itu) sejak kelas 5 SD. Dimulai dari tahap kota, provinsi, lalu nasional. Alhamdulillah, di setiap jenjang pendidikan, Allah telah memberiku kesempatan untuk menjadi bagian dari OSN tingkat nasional. Tahun 2011, di Manado, Sulawesi Utara. Seorang siswa SD yang benar-benar baru di dunia per-oliman (sebut saja begitu), dipanggil ke atas sebuah panggung besar, lalu seorang bapak-bapak yang tampak penting dan berwibawa mengalungkan sebuah benda. Warnanya cerah, kemilau, dengan cahaya yang menyilaukan bila sekeping logam itu diarahkan ke sumber cahaya. Ya, anak itu berhasil membawa pulang sebuah Medali Perak bidang IPA.

Siapa sangka, OSN berubah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup si anak. Ia memasuki sebuah sekolah yang menaruh perhatian besar kepada kompetisi itu. Saat SMP, ia merasa bahwa Biologi adalah passion-nya. Dengan semangat, ia mengikut berbagai pelatihan yang mempertemukan ia dengan banyak sekali teman baru. Dan, well, saingan baru. Waktu terus berjalan, hingga akhirnya ia sadar bahwa OSN tak hanya menjadi penting bagi dirinya; OSN adalah penting untuk banyak orang. Berdiri di podium sambil menggenggam medali emas telah menjadi impian ratusan bahkan ribuan siswa di seluruh pelosok Indonesia. Dengan rahmat Allah, ia berhasil menginjakkan kaki di Padang, Sumatera Barat. Menjadi salah satu dari sekian siswa yang terpilih mengikuti OSN SMP 2014. Ia bahagia, namun juga tertekan. Tampaknya, beban medali terlalu menghantui diri si anak, sampai ia lupa menikmati masa-masa belajar bidang favoritnya. Sepulang dari tanah Minang, mukanya terlihat sumringah. Sekeping medali ada di tangannya, dan nampaknya cukup berbeda dari yang tersimpan di rumah. Medali itu, emas.

Allah telah memudahkan jalannya, hingga ia meraih kesempatan untuk berkelana ke negeri orang sambil membawa garuda di dada. Di perjalanan keluar negeri pertama untuk dirinya itu, ia benar-benar mendapat pengalaman. Pengalaman yang luar biasa, baik selama mempersiapkan keberangkatan maupun di saat kompetisi berlangsung. Koleksi baru untuk dirinya, sebuah Medali Perunggu. Medali yang terasa agak berbeda, karena di dalamnya tersimpan cita rasa ‘Tim nasional yang mewakili Indonesia’. Ia mulai membuka mata, bahwa OSN, maupun IJSO yang baru saja diikutinya itu, semuanya hanyalah kompetisi buatan manusia. Rugi benar, kalau tidak dimanfaatkan untuk mencari ilmu. Soal membawa pulang medali apa atau bahkan pulang dengan tangan kosong, itu urusan belakangan. Meskipun, yah, pada penerapannya prinsip ini tak selalu mudah dijalankan.

Setelah seluruh kesibukannya, anak ini … yaitu diriku sendiri🙂 sempat berkeinginan untuk kembali ke habitat normal: dunia sekolah seorang anak SMP pada umumnya. Aku kembali ke sekolah awal tahun 2015. Bulan Januari saat itu, aku bagaikan kembali dari perjalanan lintas waktu. Aku berkumpul bersama kawan-kawan terbaikku. Kekompakan, kekocakan, dan kegilaan mereka tidak berubah. Hanya saja aku yang tampaknya jadi harus banyak pertanya dan memutar otak dengan cepat untuk mengikuti setiap topik pembicaraan mereka. Bingung euy, tahun 2014 terlalu sering meninggalkan sekolah. Alhamdulillah, walau begitu, mereka (yang juga teman asrama) tetap membuatku merasa jadi bagian dari keluarga kelas. Aku bersyukur punya kalian, Girls❤

Kesayangan <3

Kesayangan❤

Kalau ada yang belum tahu, aku ingin memberi tahu bahwa … awal tahun 2015 adalah awal semester genap untuk diriku yang menginjak … kelas 9! Gila nggak, tuh. Enggak juga sih, sebenarnya😀 Di dunia peroliman, sudah cukup lazim untuk seorang anak olim melanglang buana dalam pelatihan daerah maupun nasional untuk persipan kompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Jadi, sebenernya aku nggak sendirian juga. Apa kabar 11 teman satu timku untuk IJSO 2014 kemarin? Kurang lebih mereka merasakan hal yang sama. Cuma … tetap saja. Try out matematika pertamaku yang diadakan sekolah berbuah angka … 75. Sediiiiih banget😥 Rekor nilai matematika terjelekku seumur hidup. Entah kenapa, untuk masalah nilai, aku paling ambisius di Matematika, mengalahkan Biologi atau Fisika.

Lalu… apakah nilaiku membaik? Aku baru saja berniat untuk mencurahkan segala energi dan tenaga untuk sekolah. Namun tiba-tiba, koordinator olimpiadeku memanggil aku dan seorang temanku.

“Salsa, Alzana, kalian saya daftarkan, ya.” ujar Pak Imam kepada kami.

Dengan spontan, aku berkata, “Oh, nggak usah repot-repot, Pak. Kemarin saya sudah tanda tangan ke Pak Asep.”

Kemudian hening. Lalu Pak Imam tersenyum, “Bukan, bukan daftar SMA. Saya daftarkan kalian ke seleksi OSN SMA tingkat kota, ya? Bulan Februari mendatang. Dinas yang minta kelas 9 ikut.”

Hening lagi. Aku cengengesan karena sempat salah faham. Namun, pikiranku berkecamuk, baru saja aku akan mengikhlaskan diri untuk melupakan olimpiade sejenak dan fokus bersekolah, lalu datang pemberitahuan ini?

“Oh iya, baik, Pak.”

Seusai menemui Pak Imam, aku berteriak kegirangan sepanjang jalan. “Tuh, kan, Zan. Allah sudah kasih pertanda buatku. Minggu ini aku bukanya Campbell terus, buku pelajaran mana kubuka. Ternyata memang kita diikutkan OSK!”

Untung saja, sekolahku memperbolehkan siswanya untuk tidak mengikuti pelajaran di kelas, melainkan belajar di ruangan terpisah untuk persiapan OSK. Istilahnya: outing. Kami belajar mandiri, tidak ada gurunya. Untuk aku yang pemula, tentu saja hal ini menjadi tantangan lagi. Tapi, karena OSN SMA itu bidangnya sangat banyak, ada 9 bidang, aku nggak pernah merasa kesepian! Malah saking ramainya, meja di ruang outing bisa kurang. Ya sudah, sebagian dari kami berinisiatif, membawa meja belajar kecil dari asrama ke sekolah. Ada rencana bawa karpet juga, sih. Mungkin juga water heater, pop mie kalau laper, teh hijau biar tenang, bantal kalau ngantuk, boneka buat dipeluk-peluk … Eh enggak, kita nggak pindah kamar ke ruang di sekolah, kok.

Di salah satu sudut ruangan, terdapat sebuah papan tulis putih. Kami mencorat-coret papan itu hingga penuh dengan … countdown -_- Ada countdown untuk SMA, ada yang untuk SMP. Jarang-jarang OSN SMA dan SMP dilaksanakan berdekatan. Tahun ini malah bersamaan. Hanya saja berbeda tempat. SMA di Yogyakarta, sedangkan SMP di Palu, Sulawesi Tengah. Biasanya, OSN SMA diadakan sekitar bulan September. Tahun ini, maju kurang lebih 4 bulan! Bayangkan saja betapa berbedanya cara belajar para peserta yang mengikuti seleksi OSN. Kami harus menambah kecepatan dan percepatan, kawan.

Logo OSN 2015

Olimpiade Sains Kota, OSK. Pintu pertama untuk melangkah menuju kompetisi impian, OSN. Tahap pertama, tentu saja soal-soalnya paling mudah dibandingkan tingkat provinsi dan nasional. Namun, bagiku yang alumnus OSN Biologi SMP, soal-soal Biologi SMA itu … mm, apa yaa kata yang tepat untuk menggambarkannya? Oh iyaa.. abstrak!

Kakak kelas menganjurkanku untuk membaca Campbell. Katanya sih, OSK cukup dari sana. Baiklah, ujarku pada diri sendiri. Kita mulai menamatkan Campbell!

Kenyataannya adalah, aku sama sekali nggak akrab sama Campbell. Sebelum OSN SMP, aku cuma pernah menyentuh Campbell nggak sampai setengah buku. Selebihnya, aku merasa buku itu nggak cocok untuk OSN setingkat SMP, buku pelajaran SMA saja cukup, kok. Dan di IJSO, aku malah lebih fokus mempelajari dua bidang lainnya, Kimia dan Fisika. Biologi aku anak tirikan sementara. Jadi, pengetahuan biologiku nggak banyak perkembang pasca IJSO, kecuali tentang biokimia dan eksperimennya.

Intinya adalah, aku bingung. Aku bingung mau belajar apa, mulai dari mana. Aku download soal-soal tahun sebelumnya dan coba mengerjakan. Muncul pertanyaan menari-nari di kepala; Ini nih, soal ini, ada dibagian mananya Campbell ya? Dan, aku pun sadar, bahwa Campbell aja nggak cukup. Tapi, apa boleh buat. Februari semakin dekat, try out semakin padat, apa yang ada dihadapanku… bantai aja (sadis banget😀 ).

Senangnya, aku punya senior-senior keren yang pengalamannya jauh di atas aku. Seorang kakak kelas 12 saat itu, Kak Hana namanya. Kak Hana adalah peraih medali perak IBO 2014 di Bali, dan berkesempatan mengikuti seleksi untuk menjadi tim IBO 2015. Ckckck… keren banget, ya. Aku bisa satu sekolah, satu asrama, sama seorang peraih medali yang kuimpi-impikan. Padahal sih, tiga tahun menjadi adik kelas, aku nggak pernah kenalan sama Kak Hana😦 Baru saja saat itu aku berkenalan, dan tiba-tiba kita menjadi akrab! Aku merelakan diri menjadi tempat sampah, menampung segala file Kak Hana yang berhubungan dengan Biologi. Aku ikhlas, kok… senang banget malah😀

Walaupun banyak dari soal OSK masih nggak masuk akal buatku, aku memantapkan diri saat akan berangkat bertanding mengikuti OSK 2015. Untuk Kota Semarang, OSK diadakan di sebuah SMA Negeri. Sampai di tempat perlombaan, kami melingkar sejenak. Kami berdoa mengharapkan kemudahan dan hasil yang terbaik. Setelah itu, kami melambaikan tangan sambil mengucapkan semangat seraya melangkah menuju kelas tempat ujian masing-masing.

Seusai OSK … ya sudah, lah. Kepalaku pening. Waktu 180 menit terasa kurang sekali untuk 100 soal. Aku berserah diri kepada Allah, pasti Dia tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Banyak orang berkata, “Kamu kan masih kelas 9, ikut OSN SMA tanpa beban saja.” Cuma… gimana bisa … Begitu aku memasuki sebuah kompetisi, yang awalnya berniat hanya sebagai penggembira saja, bisa berubah menjadi ambisius gara-gara terpengaruh situasi dan atmosfer perlombaan. Berlaku juga untuk OSN SMA tahun ini. Hati kecilku ingin aku lolos, namun sebagian yang lain bertanya-tanya; aku mampu nggak kalau diberi kesempatan lanjut? Kan sudah kelas 9 … Untuk OSK ini saja, aku sudah meninggalkan satu mata pelajaran Try Out resmi dari kota! Nggak terbayang bagimana bentuk nilaiku nanti, karena ada satu mata pelajaran yang dipastikan nol. Keesokan harinya pun aku masih harus mengikuti satu lagi Try Out mata pelajaran terakhir.

Seperti biasa, setelah perlombaan, aku malah mulai memahami soal-soal yang baru saja dikeluarkan. Terlambat? Nggak juga, namanya kan menuntut ilmu, proses itu perlahan tapi pasti. Dan lagi, menjalani hari-hari tanpa kepastian itu nggak enak … sungguh nggak enak. Kami semua berharap Jawa Tengah cepat merilis hasil OSK. Karena Jawa Tengah memakai sistem passing grade satu provinsi dan bukan sistem perwakilan setiap kota, pengolahan datanya jadi terkesan lama. Kabar demi kabar berlalu, kota A, B, C, D, E, F, G….. di luar Jawa Tengah sudah diumumkan perwakilan yang akan mengikuti OSP. Kami pun dibuat bingung. Di tengah ketidakpastian begini, apakah kami harus tetap belajar? Atau ikut pelajaran seperti biasa? Kalau tidak lolos, kan sayang meninggalkan kelas. Kalau lolos, kan sayang tidak menggunakan waku untuk belajar olim.

Akhirnya, aku lebih memberatkan olimpiade, sih. Karena hasil Try Out kota yang aku sempat membolos itu, (untung hanya di pelajaran Bahasa Inggris) nilai matematikaku sempurna. Alhamdulillah🙂 Bagaimana dengan Bahasa Indonesia? Baik juga, masih menjadi bahasa ibu yang aku gunakan sehari-hari kok😀

Penantian itu pun berujung. Pada suatu hari, anak-anak olim digemparkan dengan pengumuman hasil OSK Jateng yang diupload ke internet. Alhamdulillah, aku lolos. Melihat peringkatku … Entahlah, pengumuman Jateng tidak diurutkan menurut peringkat seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun di tingkat kota, aku peringkat 4. Kakak-kakak kelasku tampak mendominasi tiga besar se Kota Semarang. Aku turut senang dan bangga. Selamat kakak-kakak! Walaupun aku masih SMP dan sebenarnya berbeda sekolah dengan SMA, aku merasa benar-benar satu tim dengan mereka.

3 Besar OSK 2015 Kota Semarang dari SMA Semesta

3 Besar OSK 2015 Kota Semarang dari SMA Semesta

Berlomba di tingkat provinsi, aku harus bersiap dengan soal model baru yang sedikit sangat menguras tenaga. Terdapat 50 soal. Setiap soal terdiri dari sebuah uraian beserta 4 pertanyaan. Kami diminta menentukan setiap pernyataan apakah benar atau salah. Nggak ribet, kok. Kalau kita ngasal pun, ada kesempatan 50% untuk menjawab benar ……………………………………… Tapi nggak sesederhana itu😦 Setiap soal yang jawaban kita benar 4, nilainya 1. Jika benar tiga pernyataan, nilai 0,6 , benar dua 0,2 , dan benar satu 0, salah semua juga 0. Katanya sih sistem penilaian seperti itu untuk menghindari keberuntungan dan kebetulan …… ya sudah nurut aja.

Ketika aku mencicipi soal OSP tahun lalu……. JENGJERENGJERENG. Kembali lagi diri ini tercengang. Ini soal kenapa berlembar-lembar banget? Satu soal uraiannya segini? Apa pula grafik-grafik dengan titik segala macam bentuk bangun datar? Ini grafik atau apa, kok ada kotak-kotaknya, ada garis titik-titik, ada garis mendatar? Terus dari gambar itu kita tahu apa buat menentukan pertanyaan tersebu benar atau salah?

Yah, intinya aku bingung kuadrat. Namun, tenang saja. Aku sangat menikmati segala proses penuh kebingungan itu. Aku senang, Allah memberiku kesempatan mencicipi OSN SMA, walaupun masih sampai tahap provinsi. Bisa dibilang, aku telah lulus dari OSN SMP. Kini, bab baru buku kehidupanku yang jauh lebih berat telah menanti. Alhamdulillah, aku pun merasa sangat nggak bisa, nggak tahu, nggak mampu, dan nggak berdaya lagi. Membuat hati ini terhindar dari rasa sombong atas segala pencapain masa lalu, karena menyadari banyak hal yang kita masih pemula di dalamnya. Banyak orang yang jauh lebih hebat dibanding kita. Karena di atas langit masih ada langit.

Yang jelas, mencoba sesuatu yang sempat terpikirkan sangat susah untuk kamu selesaikan itu perlu! Biarlah kita sempat stress, merasa tertekan, berat, lelah …. Namun semua hal itu yang menjadikan hidup manusia berarti; tantangan.

Sampai jumpa di post berikutnya!

BERSAMBUNG

11 thoughts on “Sekeping Logam, Sejuta Cerita (OSN 2015: Part I)

  1. Kak Alzana itu osn bidang apa kak?

  2. […] kalian membaca blogpostku yang ini dan ini, terlihat sekali bagaimana keterkejutanku menghadapi soal-soal OSN SMA. Matematika dan […]

  3. Kakk benerrr banget. Awalnya aku ikut OSK juga santai2 aja… ga begitu ambisius. Tp ngelihat atmosfir di sekitar yg kompetitif banget tuhhh rasanya jd gimana gitu…
    Trus pikiran aku juga terbuka, bahwa kita ga bs sombong byk yg lbh dr kita, di atas langit masih ada langit…

  4. waahh keren banget kak cerita perjuangannya… berharap bisa kayak kakak juga🙂
    kk aku boleh minta soal-soal latihan atau matei saat kak persiapan osp ngga?
    soalnya aku baru ikut dan belum ada pengalaman saat osp
    mohon bantuannya kak..🙂

    • Ini OSP Biologi tingkat SMA ya? Hmm… kalau soal kayaknya agak susah. Melihat OSP tahun 2016, kalau buku sih sebenernya Campbell cukup kok, kecuali bagian Genetika yang kalau aku pribadi memang butuh guru buat ngajarin dan banyak latihan soal hehe.

  5. Ratih Lara

    Kak, aku juga ngersaain hal yg sama. Abis ikut osk sma kemarin. Aroma kompetisi dimana mana. Tpi ya gitu apa yg bisa diharapin dari siswa dengan kepintaran standar yg baru tau di ikutin osk 2 minggu sebelum pelaksanaan ? Aku down, liat kakak2 kelas bljar mati2an. Lah aku. Bahkan materi mtk kelas X aja gk tau. Gagal sih udah pasti ya apalgi ngebayangin hasilnya. Dari 20 soal aku cuma ngisi 7 soal dan 2 soal udah fix salah. Aku punya tekad ikut sleksi tahun dpn dgn mapel sama. Mtk. Ada referensi gak kak buat nambah ilmu ? Aku bingung cari situs materinya. Makasih sebelumnya.sorry curhat hehehe

  6. Anasya Marella

    Yap. Aku masih kelas 8 sih skrg sebenernya, tapi udah prepare buat OSN SMA Biologi tahun depan😅
    Entahlah, nyoba aja sih..
    Kak, bisa kirim softcopy buku buku bio nggak selain campbell? Terutama buat Biokimia.
    Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s