Memaknai Rasa Cinta

Selama ini, aku dikelilingi oleh teman-teman yang beraneka ragam. Dari mereka, aku mengamati. Dan dari mereka pula, aku banyak belajar. Di Indonesia, hal-hal yang dibicarakan komunitas muslim terutama untuk remaja putri adalah dua hal: hijab dan pacaran. Alhamdulillah, saat ini cukup banyak role model remaja untuk remaja yang menggambarkan apa saja kerugian pacaran dan hal-hal yang lebih baik dilakukan selain pacaran.

Namun, ada satu hal yang menggelitik diriku. Bagaimana ketika kata ‘pacaran’ itu mulai menjelma menjadi berbagai bentuk? Sebut sajalah, kakak-adekan, friendzone, ‘sahabat’, dan lain sebagainya. Sebenarnya, ‘pacaran’ sendiri nggak memiliki definisi pasti, sih. Ketika diri ini sudah berkomitmen untuk tidak pacaran, berbagai godaan juga datang untuk menjadi dekat dengan lawan jenis dalam kategori-kategori lain itu. Akhir-akhir ini, frasa ‘mencintai dalam diam karena Allah SWT’ sangat populer. Biasanya, kata-kata itu dipegang teguh oleh para generasi muslim yang telah memiliki kesadaran untuk tidak pacaran tapi (kelihatannya) sedang ‘mencintai’ seseorang. Kata-kata itu tampak sangat cocok; Aku lagi jatuh cinta nih. Eh, tapi nggak boleh menyatakan, ya, dalam Islam? Diam aja deh, sambil mendoakan dia. Diikuti berbagai quotes yang kurang lebih berisi ‘Tiada bentuk mencintai yang lebih indah selain menyebut namanya dalam doa’.

Sebenarnya, jika kita cerna lebih dalam, makna kata-kata itu begitu berat. Mencintai seseorang karena Allah. Artinya, perasaan cinta untuk seseorang itu didasari oleh rasa cinta pada Allah yang lebih besar. Seperti rasa cinta Nabi Ibrahim pada anaknya, Ismail. Itulah cinta karena Allah. Ketika Nabi Ibrahim rela mengorbankan anak tercintanya, yang kelahirannya telah ditunggu sekian tahun, demi memenuhi perintah Sang Pencipta. Seperti tangis seorang ibu yang ditinggal anaknya berjihad. Itulah cinta karena Allah. Karena sang anak telah pergi, si Ibu berharap bisa berjumpa dengannya di tempat yang lebih baik. Meskipun hati kerap merana, namun janji Allah lebih pasti. Seperti seorang anak yang berhenti mengejar cita-cita tingginya sekolah di tempat jauh. Itulah cinta karena Allah. Ketika ia memilih menemani ibunda yang sakit-sakitan, karena pada ridhonya terkirim wangi surga.

Lalu, bagaimana sebenarnya penempatan frasa ini pada perasaan remaja masa kini terhadap lawan jenisnya?

Aku berbicara untuk usiaku sekarang. Usia yang tepat untuk mulai melukis mimpi di langit tertinggi, memupuk cita-cita, dan menggantung asa. Usiaku, dimana banyak status galau dan tangisan dari orang-orang di sekitarku untuk lawan jenis yang mereka sayang. Usiaku, dimana sms merah jambu si dia yang mengingatkan untuk sholat Dhuha membuat wajah merona. Usiaku, dimana menemukan seseorang yang cocok diajak bicara apa saja, membuat aplikasi chatting tidak pernah tertutup sampai larut malam.

Rasa itu, kawan. Perasaan berdebar untuk seseorang. Melihatnya, bahkan hanya sekilas kelebat dirinya dari kejauhan, sudah bisa bikin hati melambung saking senangnya. Semua ucapannya, walau hanya beberapa patah kata pada kita kemarin sore, serta seluruh isi chatting dengan dia sebulan terakhir, tampaknya bisa kita ulang sampai tetek bengek terkecilnya (saat rumus fisika sesimpel itu saja masih tidak kita pahami cara penggunannya).

Lalu, kita tersadar. Tidak untuk pacaran kok, hubunganku dengan dia. Kita berkata pada diri kita sendiri. Kemudian kita melanjutkan, ‘Aku cukup mencintai dia dalam diam. Karena aku mencintainya karena Allah.’

Nah, kawan… cinta karena Allah adalah cinta yang sangat besar, menyimpan makna indah yang akan Allah beri ganjaran yang tak terkira. Sudahkah kita sedewasa itu, untuk bahkan mengerti arti kata ‘cinta’? Apakah kita tidak salah menerjemahkan debar jantung dan pipi yang menghangat ketika melihat dirinya, sebagai rasa suka saja, atau malah nafsu belaka? Aku yakin, sebuah prestasi tinggi, jika kita bisa menyimpan perasaan untuk lawan jenis yang belum sepenuhnya kita mengerti itu. Bukan hanya dari dirinya. Melainkan juga dari siapa saja. Teman dekat atau orang-orang disekitar yang mungkin malah semakin memanas-manasi kita, mengingatkan kita tentang dirinya.

Kalau rasa ingin memiliki sudah muncul, berhati-hatilah! Islam begitu indah. Ketika dirimu ingin memiliki seseorang seutuhnya, telah digariskan sebuah ketentuan untuk terikat janji pernikahan terlebih dahulu. Selain ikatan itu, tidak ada lagi yang mendapat ridho-Nya. Kalau muncul rasa ingin membuatnya merasa istimewa dan bahagia, maka ucapkanlah ‘Subhanallah, Mahasuci Allah’. Yang telah membersamai kelahiran setiap insan dengan fitrah untuk mencinta. Tapi, tak harus dalam bentuk sebuah pemberian (coklat kah, atau mawar kah, atau buku islami kah) yang malah semkain menjerumuskan, bukan?

Menyelipkan namanya dalam doa? Sebuah doa dari muslimah yang taat adalah seberharga itu. Sebutlah nama siapa saja yang kamu inginkan kebaikan baginya. Namun, jangan jadikan ‘mencintai dalam diam’ sebagai pembenaran untuk terus memupuk perasaan itu.

Selama ini, aku belum pernah menemukan seseorang yang bisa membuat batinku tergelitik dan membisikkan kata; aku mencintainya. Rasa suka? Aku memaknainya sebagai rasa kagum semata, atau malah nafsu tercela. Bukan untuk terus disimpan. Tapi untuk dicontoh kebaikannya dan dihilangkan dari pikiran jika telah mengalihkan perhatianku dari sejuta hal yang lebih penting. Jadi, bagi temanku yang pernah merasa jatuh cinta, maafkan aku tidak bisa membantu, karena aku tidak tahu rasanya dibuat jatuh oleh cinta. Namun, satu hal yang kutahu pasti. Disamping cinta pada makhluk-Nya, cinta pada Pencipta selalu lebih utama.

Lucunya adalah … aku sempat bertanya-tanya pada diri sendiri, lho. Aku heran … Melihat mereka yang memiliki seseorang untuk dinanti kemunculannya, dinantikan balasan line-nya, ditunggu jadwal pentasnya di acara sekolah, ditulis namanya dalam buku harian, atau dilaporkan oleh teman lain ketika dirinya terlihat melintas. Lalu, kisah mereka bisa berlanjut bak drama telenovela. Ada yang kalem-kalem saja, ada yang kucing-kucingan dengan ‘intel’ sekolah, bahkan ada yang menjadi kisah cinta legendaris yang diketahui hampir semua orang.

Fakta di depan mataku itu, beserta tren jaman sekarang yang menyediakan berbagai kisah cinta romantis nan manis bak gulali (dan mungkin ditambah otak penulisku), aku berhasil membuat sebuah skenario khayalan.

‘Kenapa belum ada cowok beneran aku suka, sih? Kan seru kalau ternyata cowok yang aku suka itu sangat berilmu, ganteng, enak diajak cerita, ngerti macem-macem, termasuk agama juga. Jadi nantinya kita makin deket. Tapi kita sadar kita nggak bisa jadi lebih dari teman. Kita juga nggak saling menyatakan perasaan, kok. Tapi, orang lain banyak yang sudah berkata kepada masing-masing dari kita, kalau kita saling suka. Kita berusaha menapis anggapan banyak orang itu, walaupun di dalam hati kita juga beranggapan sama. Jadi semacam teman tapi mesra gitu ya? Tapi mesranya tipe yang saling meningkatkan kualitas diri gitu … Saling mengingatkan buat ibadah, diskusi buku, dan sebagainya.’

Nah, konyol sekali kan imajinasiku itu? Bahkan, setelah aku selesai menulis satu paragraf di atas dan membacanya ulang, aku tertawa. Dasar Salsa ada-ada saja! Kemudian aku merenung …

Bukankah aku seharusnya bersyukur, bahwa hatiku belum pernah terisi oleh seseorang? Seseorang itu, sesempurna apapun kelihatannya, pasti memiliki sedikit kemungkinan untuk menjadi pendamping hidupku kan? Karena sekarang pun aku masih begitu belia, terlalu banyak cita-cita yang masih harus diwujudkan.

Bukankah aku seharusnya bersyukur, jika pun aku benar-benar menginginkan sosok cowok yang sempurna dan berpengetahuan agama, tentunya dia juga benar-benar menjaga diri untuk tidak menjadi lebih dari teman untuk seorang lawan jenis, kan? Pantas saja dirimu belum ada di bawah radarku (loh).

Bukankah aku seharusnya bersyukur, aku terbebas dari godaan orang-orang di sekitar yang bisa jadi sangat mengganggu?

Bukankah aku seharusnya bersyukur, niatan ibadahku selama ini jadi terbebas dari niatan fana, semata-mata tergerak karena ajakan si dia? Omong kosong meningkatkan kualitas diri seperti apa, jika akhirnya membuatku berkhalwat lewat dunia maya?

Setelah aku menuliskan semua imajinasi tidak masuk akal itu, aku membayangkan seandainya seseorang dengan masalah sepertiku meminta solusi dariku di ask.fm. Dengan pasti, aku akan menjawab:

Di tengah dunia remaja saat ini, menjadi seorang sepertimu yang memegang teguh prinsip untuk tidak pacaran adalah menakjubkan. Terlebih lagi, komunitas kita melabeli seseorang yang tanpa kekasih (“jomblo”) sebagai orang yang nggak bakal bahagia. Nyatanya, kamu malah bertanya-tanya kenapa belum bisa naksir orang. Seharusnya kamu malah bersyukur, sayang … Banyak orang yang mencari berbagai cara untuk melupakan orang yang disukainya. Dirimu sekarang, adalah keadaan ideal untuk menorehkan prestasi sebanyak-banyaknya sekaligus meningkatkan kualitas diri. Kamu percaya bukan, lelaki baik untuk wanita baik? Maka, jika saatnya telah tiba, Allah pertemukan dirimu dengan belahan jiwamu sesungguhnya. Pikirkanlah, dirimu yang tak pernah naksir cowok sebegitu dalamnya akan memiliki hati yang terjaga. Bukan, bukan sebuah kesialan kamu belum menemukan lelaki impianmu. Ini adalah bentuk penjagaan Allah buatmu, supaya lelaki terbaikmu akan datang hanya pada waktu yang tepat dan untuk selama-lamanya. Kamu mau jadi tujuan terakhir, kan? Bukan sebuah halte tempat singgah sementara?

Sayangku, don’t you ever feel frustated to find the one. The one will come at such a fine timing🙂’

Ah, ya Allah. Tiada pantas aku membayangkan sebuah drama tak bermakna, yang ujung-ujungnya cuma angan yang melengahkan prinsipku. Banyak waktu yang terbuang untuk membayangkan hal-hal yang membawa banyak mudharat. Lebih sedikit pula waktu untuk mengkaji kekuasaan-Mu di sekitar, sekaligus berbagi ilmu dan memenuhi amanah yang dibebankan kepadaku.

Aku mengakui, hati ini terkadang goyah. Maka Engkaulah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Maka teguhkanlah hati ini untuk terus berada di jalanmu yang lurus. Bawa hamba ke dalam lingkaran pertemanan yang diikat oleh ketaatan pada-Mu semata. Bawa hamba menuju pendamping hidup yang masih menjadi rahasia-Mu. Kapan pun itu, dimanapun, hamba yakin Engkau telah menyiapkan yang terbaik untuk hamba. Bawa hamba menuju jalan yang mungkin berliku, tapi ia berhenti di suatu pemberhentian pasti; Surga-Mu.

Karena hamba tahu, pilihan-Mu adalah yang terbaik.

——————————

Nah, kawan … mari buktikan, cintamu pada Sang Pencipta lebih besar daripada cintamu pada ia yang belum menjadi milikmu seutuhnya🙂

Valentine

Selamat menjadi generasi Muslim yang HEBAT!

23 thoughts on “Memaknai Rasa Cinta

  1. dalam dan menusuk sekali…. terguncang…🙂

  2. Setuju^^
    Izin share ya uhti,,,

  3. kata katanya menyentuh
    izin share ya ka🙂

  4. Hai salsa cantik, boleh saya share coretan ukhti?:)

  5. Luthfiyah Yasmin

    Bagus kak.. sayangna aku baru baca sekarang..😦

  6. salsaaa kamu meledak-ledakkan hatikuuu

  7. kak kata – katanya menginspirasi🙂

  8. dek Salsa, izin share ya?
    te-ri-ma-ka-sih ^^

  9. hallo salsa, inspire sekalii menggelitik hati huhu… terimakasih yaa, salam kenal ukhti🙂

  10. Never found something as good as this one. Ijin share boleh? :))

  11. Subhanallah, Salsa! Ingin peluk kamu rasanya ❤️ salam kenal, aku dafi hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s