Kumpulan Kisah dari Negri yang Jauh ( IJSO: Part 11)

Assalamu’alaikum.

Disela-sela kesibukan tes, kami mendapat kesempatan untuk menyegarkan pikiran lewat serangkaian kegiatan wisata. Kami selalu menggunakan bus besar, bertingkat dua, yang memuat cukup banyak peserta setiap busnya. Kami dibawa mengelilingi berbagai sudut Mendoza dan berhenti di beberapa tempat.

Tim Indonesia, dengan Inez dan Nacho sebagai pemandu kami, selalu menempati satu bus bersama. Sekali saja para cewek dan cowok terpisah di dua bus, Inez mengusahakan kami harus berpergian bersama-sama. Sampai akhirnya, tiga cewek Indonesia beserta Inez menjadi satu-satunya wanita di dalam bus (dengan usaha mengusir beberapa orang terlebih dahulu). Selama perjalanan, aku senang sekali mengamati berbagai kenampakan alam di balik jendela bus. Mendoza adalah nama provinsi, dengan Kota Mendoza sebagai ibukotanya. Nah, perjalanan wisata kami tidak terbatas di suatu kota, benar-benar mengitari Provinsi Mendoza.

Mendoza terletak tepat bersebelahan dengan negara tetangga, Chili. Dibatasi dengan pegunungan besar yang terangkai sepanjang Amerika Selatan; Pegunungan Andes. Gunung Aconcagua, sebagai gunung tertinggi di benua Amerika Selatan terletak di provinsi ini. Dataran tinggi yang kering dan gersang; itulah Mendoza. Di perjalanan pun, aku banyak mendengarkan kisah tentang sejarah Argentina dan Mendoza dari Inez. Aku beruntung, karena Inez sendiri adalah seorang mahasiswi jurusan Bahasa Inggris, sehingga ia bisa berbicara dengan sangat lancar.

Mendoza terkenal akan minuman anggurnya. Well, tentu saja bukan minuman anggur macam sirup rasa anggur, tapi wine, minuman hasil fermentasi tanaman anggur. Kami menghampiri suatu winery, alias pabrik pembuatan minuman anggur. Kami berkeliling sambil mendengarkan penjelasan seorang tour guide. Yang pada akhirnya, tidak kudengarkan dengan baik karena suaranya yang terlalu kecil. Kami memasuki sebuah hall luas dengan drum-drum berukuran raksasa. Drum itu tidak berisi, rupanya. Hanya digunakan sebagai pemanis interior karena ruangan yang kami masuki ternyata disewakan untuk kegiatan pesta dan semacamnya. Kami menyempatkan untuk berfoto bersama.

Winery

wpid-img_1546336085198.jpeg

Berikutnya, kami memasuki toko wine pabrik tersebut. Kami bertemu dengan beberapa orang dosen kami. Karena peserta IJSO masih dibawah umur, mereka menyuguhkan beberapa gelas kecil berisi minuman anggur non-alkohol untuk kami. Tentu saja aku tidak meminumnya. Beberapa temanku minum, dan mereka berkata rasanya masih cukup kuat. Tiba-tiba, Patrick mendengar namanya dipanggil dari meja diujung. Meja tersebut berisikan banyak guide yang sedang berkumpul. Entahlah, mungkin karena Inez merasa kami terlalu pemalu namun sebenarnya asyik, Inez sering sekali memberikan julukan untuk masing-masing dari kami (kecuali para cewek😀 ). Patrick sebagai Patricio, Gian sebagai Bird Poop, Jo dipanggil Mozart, Olym dipanggil Moustache, dan masih banyak lagi. Setiap Inez bertemu dengan guide lain, ia bercakap-cakap dalam Bahasa Spanyol. Dari beberapa kata yang ia ucapkan, aku menangkap Inez sedang bercerita tentang masing-masing dari kami. Aku makin yakin, karena setelah guide itu bertemu Inez, mereka mulai memanggil kami sesuai julukan yang diberikan Inez ._.

Patrick pun menghampiri meja itu. Para guide sedang bercakap-cakap. Gelas-gelas berisi sedikit cairan warna ungu berada dihadapan mereka. Dengan muka tidak serius, Inez meminta Patrick mencicipi salah satu gelas. Tanpa menunggu, Patrick meneguk cairan dalam gelas itu! Spontan, para guide tersebut tertawa terbahak-bahak, diikuti teriakan Eli dan muka tidak percaya kami semua yang sudah menyadari bahwa Patrick baru saja minum wine. Kali ini asli, benar-benar beralkohol.

“Patrick!!!!!!!!!!!!!!! Lu ngapain sih minum wine! Nggak sadar apa kita tuh belum tes praktikum! Nanti kalau lu mabuk gimana!!!” Eli mengomel dengan suara melengkingnya. Kami berusaha menenangkan Eli, mengingat para peserta lain telah menaruh perhatian kepada kami. Patrick tidak berkomentar, hanya meringis menampilkan muka tidak bersalah.

Pasca kejadian itu, Patrick makin terkenal saja. Dimana-mana, para guide meneriakkan nama ‘Patricio!’ ketika Patrick lewat.

“Patrick, you’re gonna be a real drunkman. And today is your inisiation!” komentar Inez dengan wajah gembira.

Walaupun terkenal akan anggurnya, penyumbang anggaran daerah terbesar untuk Provinsi Mendoza berasal dari perusahaan minyak. Aku tertegun. Terlintas dipikiranku, bahwa dunia ini masih saja begitu. Ketergantungan akan bahan bakar fosil masih tinggi, terbukti dengan permintaan yang tidak pernah menurun dari pasar dunia. Padahal, bergantung kepada bahan bakar sejenis itu bagaikan bergantung kepada sesuatu yang kita tahu akan segera berakhir, nggak bakal ada untuk selamanya #aseeek.

Kami menaiki bus yang lebih kecil, mengikuti rute yang mengitari lahan pengolahan minyak bumi milik perusahaan YPF. Seorang guide menjelaskan setiap prosesnya. Hal-hal seperti ini menarik perhatian tim Indonesia, dan sepertinya memang hanya kami yang tertarik. Aku sendiri lebih tertarik ketika guide itu mulai membicarakan tentang pengolahan limbah perusahaan tersebut. Dia berkata, dahulu, pengolahan minyak disini belum diikuti dengan pengolahan limbah yang maksimal. Namun kini, banyak perubahan telah dibuat. Mereka banyak memanfaatkan agen biologis untuk mengurangi bahaya limbah semaksimal mungkin sebelum dibuang ke lingkungan bebas.

YPF

wpid-img_8573925399241.jpeg

Selain anggur, Mendoza juga penghasil olive oil. Perkebunan zaitun banyak ditemukan dipinggir jalan. Suatu saat, kami berkesempatan mengunjungi salah satu pabrik minyak zaitun. Kami mendengarkan penjelasan tour guide, kali ini sangat jelas hingga aku benar-benar mengerti. Aku tertarik ketika kami diajak menghampiri bagian pabrik yang lebih ‘ketinggalan jaman’, yaitu sisa-sisa pengolahan minyak zaitun model jaman dahulu. Setelah melihat proses pengolahan berbekal mesin-mesin yang canggih, kami mengamati bagaimana minyak zaitun juga bisa didapatkan dengan peralatan yang jauh lebih sederhana. Bahkan tanpa listrik! Hanya berbekal tarikan kuda! Aku senang membayangkan dan mengira-ngira, perubahan apa saja yang dialami oleh perusahaan yang telah berdiri selama kurang lebih dua ratus tahun. Betapa industri berkembang dengan pesat.

Setelah melulu mengunjungi kenampakan buatan manusia, tiba saatnya kami menjelajah alam; high mountains tour! Membaca judul kegiatan di selembar jadwal milik peserta membuatku bertanya-tanya. Apakah kami akan benar-benar mendaki gunung? Jika ya, setinggi apa dan sejauh apa kami akan mendaki? Ternyata, kami tidak mendaki apa-apa. Kami hanya menempuh perjalanan yang cukup lama dengan bus menuju daerah barat, tempat berdirinya Pegunungan Andes. Kami berhenti di beberapa tempat. Sayangnya, bus yang kami tumpangi mengalami kerusakan saat berangkat. Kami menghabiskan satu setengah jam di tempat reparasi kendaraan. Saat itu, kebanyakan peserta mengikuti kelas menari dadakan yang dimulai oleh beberapa guide dan peserta dari Kolumbia. Aku bisa melihat, Latinos memang sangat suka menari. Tubuh mereka dengan mudahnya mengikuti irama musik. Lalu … kami? Well, kami malah sibuk membuat soal matematika asal-asalan, lalu memberikannya kepada Gian atau Michael atau Eli dan membiarkan mereka mencoba memecahkan soal-soal itu. Aku suka sekali melihat cara mereka mencoret-coret kertas, menorehkan angka-angka yang aku tidak mengerti kenapa bisa tiba-tiba muncul disana. Tapi aku benar-benar menikmatinya! Kelakuan kami semakin melekatkan julukan tim Indonesia (beserta negara Asia lainnya, namun terutama Indonesia): Nonos. Bahasa Spanyol yang berarti nerd.

Sepanjang perjalanan, pandanganku terpaku dengan kenampakan alam diluar sana. Bus berjalan melintasi daerah yang tampak tak berpenghuni, dengan dinding-dinding tinggi berwarna coklat kemerahan hasil pahatan alam mengapit kami. Kami berkendara membelah pegunungan, memaksa kami memasuki terowongan-terowongan gelap beberapa kali. Pemandangan itu menjadi semakin indah, ketika perjalanan pulang kami memasuki waktu senja. Matahari yang mulai malu menampakkan dirinya semakin merendah. Menjadikan beberapa bagian dinding raksasa itu gelap, dan sebagian lagi masih terang. Efek cahaya itu membuat segalanya terlihat makin dramatis. Bisakah kau membayangkannya, kawan? Sangat indah, Subhanallah🙂 .

Perhentian pertama kami adalah sebuah kenampakan alam bertajuk ‘Puente del Inca’ atau ‘The Bridge of Inca’. Sebuah struktur serupa jembatan yang terbentuk secara alamiah. Rupanya, tempat tersebut merupakan objek wisata yang cukup terkenal. Di daerah itu, berjejer toko-toko semi permanen yang menjajakan beragam cinderamata khas Argentina. Beberapa gantungan kunci dengan warna-warni mencolok mencuri perhatianku. Gantungan kunci itu juga bisa berfungsi sebagai peluit. Aku pun mengeluarkan beberapa lembar peso dan membawa pulang satu kantung penuh gantungan kunci. Beragam pahatan dari batu juga menjadi cinderamata menarik. Namun, karena harganya yang cukup mahal, aku mengurungkan niat untuk membeli.

Puente del Inca

Tim Indonesia di Puente del inca

Tempat selanjutnya adalah daerah luas dengan pemandangan pegunungan Andes yang menakjubkan di belakangnya. Untuk menuju spot terbaik, kami perlu mendaki beberapa meter. Hembusan angin yang kencang membuatku sedikit menggigil. Namun, semua itu terbayar ketika sampai di atas. Sejauh mata memandang, gundukan berwarna coklat kemerahan yang bersanding dengan langit biru sangat memanjakan mata. Kami bisa melihat Gunung Aconcagua dari kejauhan, satu-satunya yang tampak bersalju di akhir musim semi menjelang musim panas seperti ini.

Salsa di gunung

Gunung Aconcagua di kejauhan. Sangaaaat jauh…

Aku menjadi pendengar setia Inez, mendengarkan kisahnya dengan seksama. Inez bertutur, orang-orang Argentina berasal dari Spanyol. Kala itu, banyak orang Spanyol yang mulai menduduki Amerika Selatan. Tak heran, negara-negara tetangga seperti Kolumbia dan Bolivia menggunakan Spanyol sebagai bahasa sehari-hari mereka. Keluarga Inez sendiri termasuk salah satu yang mengawali pendudukan, jauh sebelum gelombang kedatangan besar terjadi pada abad kedelapan belas. Salah satu kisah yang berulang kali terjadi, seperti pada suku Aborigin di Australia atau Indian di Amerika Utara, suku asli Argentina memang sudah punah. Maka dari itu, setiap orang Argentina yang kami temui berkulit putih dan memiliki ciri fisik seperti orang Eropa umumnya. Agak berbeda dengan temanku dari Bolivia, misalnya. Mereka berbahasa Spanyol, namun berkulit lebih gelap dengan tulang muka yang menonjol; sisa-sisa ciri fisik suku asli Amerika Selatan.

Aku meminta Inez untuk menceritakan kisah horor berlatarkan pegunungan Argentina. Dengan semangat, Inez bercerita tentang beberapa kisah; mulai dari penunggang kuda tak berkepala sampai sepasang ibu dan anak yang ditinggalkan di tengah gurun tak berpenghuni. Mungkin, permintaanku ini menginspirasi para guide. Akhirnya, mereka meminta setiap negara mengajukan perwakilannya untuk menceritakan legenda asal negara masing-masing. Teman-temanku dari Indonesia memilihku, sehingga aku pun maju bercerita. Aku mengisahakan tentang … tebak apa hayo? Tangkuban Perahu! Tentu saja ceritaku ini mengundang decak keheranan dari para pendengar. Yah, mungkin mereka tidak habis pikir bagaimana bisa ada pernikahan antar spesies, seseorang yang awet muda, sampai sebuah perahu yang terbalik kemudian menjadi gunung. Tales are always nonsense, that’s why they are tales😀 .

Walaupun kami melewati jalan yang sama saat perjalanan pulang, aku tidak pernah bosan. Aku selalu menyukai pegunungan, baik itu pegunungan yang penuh dengan pepohonan hijau seperti di negara-negara tropis atau pegunungan gersang seperti ini. Di tempat-tempat yang ekstrem, sebuah jembatan untuk rel kereta api terlihat menembus masuk perut gunung. Ternyata, dahulu terdapat jalur kereta api yang menghubungkan Argentina dan Chili melintasi Pegunungan Andes. Namun, saat ini jalur tersebut tidak lagi berfungsi. Beberapa kali, aku mengamati terdapat parit yang berukuran cukup besar di pinggir jalan. Parit tersebut mengikuti bentuk jalan, namun terkadang menghilang dan mengarah entah kemana. Kata Inez, parit-parit seperti itu adalah sumber air Mendoza. Mereka memanfaatkan es-es yang mencair di pegunungan tinggi dan mengarahkannya ke daerah pemukiman.

Orang Argentina sangat menghormati seorang pahlawan nasional mereka -atau mungkin malah multinasional- bernama JosĂ© de San MartĂ­n. San Martin adalah ‘Sang Pembebas’, seorang pria yang memimpin perlawanan rakyat Chili, Peru dan Argentina terhadap kolonial Spanyol. Kami sempat menjejakkan kaki ke sebuah monumen yang khusus dipersembahkan kepada San Martin. Kendaraan yang membawa kami kesana cukup unik, yaitu sebuah bus bertingkat dengan lantai dua yang tidak berdinding. Sehingga, kami bisa menghirup udara dan memandang segala pemandangan dengan leluasa. Bus itu melewati jalan yang berkelak-kelok, sepertinya melewati sebuah perbukitan. Sampai di monumen, kami bisa menikmati pemandangan kota dari ketinggian.

Monumen itu cukup besar. Berbentuk patung dengan dasar bebatuan yang mengandung pahatan-pahatan. Dengan berbaik hati, Inez menceritakan kisah yang tercantum disana untuk kami.

Di depan monumen.

Di depan monumen.

Pada awal abad kedelapan belas, José de San Martín memimpin sebuah pergerakan besar melintasi Pegunungan Andes. Ia, beserta ribuan pasukan yang berasal dari Chili, Argentina, dan sekitarnya mengawali perjalanan dari Provinsi Cuyo (yang sekarang telah menjadi Provinsi Mendoza). Semua orang menyambut baik rencana pergerakan melintasi Andes ini. Digambar di dinding batu itu, para wanita menyerahkan harta yang mereka miliki untuk perisapan para pejuang. Menghabiskan waktu kurang dari satu bulan, mereka berhasil mencapai Chili. Pertempuran dengan tentara Spanyol tak terhindarkan. Setelah perjuangan itu, pasukan San Martin memperoleh kemenangan. Kekalahan pasukan Spanyol membawa kemerdekaan untuk Chili dan Peru.

Tidak heran, beragam monumen dan nama San Martin tercantum, baik di Mendoza maupun Buenos Aires. Kebanyakan pasukan San Martin yang berasal dari Argentina adalah penduduk Mendoza. Maka dari itu, kata Inez, mereka orang Mendoza sering dianggap ‘pemberani’ dan memiliki sifat pantang menyerah.

——-

Memori-memori mengenai perjalananku di Argentina, masih sering membuatku tersenyum. Dari orang-orangnya, kultur budayanya, sampai kenampakan alamnya. Setiap inchi bumi ini memang semakin meyakinkan diriku akan cipataan-Nya yang selalu sempurna dan tak bercela. Kau tahu … aku makin tergerak untuk mengintip semakin banyak bagian dunia ini. Berpergian dan berkeliling ke tempat-tempat baru, sambil mengutip kisah-kisah unik dari setiap tempat. Kelihatannya menyenangkan, bukan?

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s