Work Hard and Be Yourself ( IJSO: Part 10 )

Assalamu’alaikum.

Kami akan melaksanakan tes dalam tiga hari berbeda. Setelah setiap tes, akan ada satu hari untuk wisata dan jalan-jalan. Seru, sih, kami bisa refreshing dan menikmati keindahan Argentina. Namun di sisi lain, kami harus waspada untuk tidak kelelahan jika esoknya masih ada tes lain.

Tes Pilihan Ganda atau Multiple Choice Question (kami biasa menyebutnya MCQ) diadakan di gedung yang sama seperti upacara pembukaan. Karena waktu itu para cewek masih tinggal di hotel yang berbeda, kami harus datang menggunakan bus. Sampai di depan gedung, para cowok sudah menunggu. Eh, tapi kok ada yang kurang, ya …

Selidik punya selidik, ternyata baru saja terjadi sebuah insiden! Jo dan Gian sedang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Nah, lho … apa yang terjadi? Rupanya, Jo dan Gian sedang sangat tidak beruntung. Tadi, mereka berdiri di bawah pohon. Tiba-tiba, beberapa burung datang, terbang di atas pohon tersebut. Ada burung yang membuang kotoran, tepat mengenai Gian dan Jo! Entah bagaimana bisa tepat sasaran seperti itu. Jo cukup beruntung, ia sedang mengenakan jaket. Tapi Gian …

Well, kejadian ini banyak mengundang tawa. Gara-gara Inez, sejak saat itu Gian dijuluki ‘Bird Poop’. Aduh, kasihan sekali… untung Gian nggak merasa tersinggung dipanggil seperti itu. Kami menghibur Gian dan Jo. Bisa jadi kejatuhan ‘sesuatu’ dari atas langit adalah pertanda rejeki untuk mereka! Semoga saja😀.

image

Tes pertama, selesai! Ketika seluruh peserta telah mengumpulkan hasil kerjanya dan dipersilakan keluar, kami langsung berkumpul. Sepanjang perjalanan menuju hotel, kami berdiskusi tentang ujian tadi. Diluar perkiraan, soal-soalnya tergolong mudah. Banyak sekali soal yang sangat sangat sangat mirip dengan soal yang diujikan dosen-dosen pada simulasi di Depok. Namun, bukannya senang, kami malah khawatir. Jika banyak peserta mendapat nilai bagus, persaingan mendapatkan emas akan semakin ketat.

Siang harinya, kami bertemu para dosen di sebuah pabrik Olive Oil. Disediakan makanan ringan dan minuman, sehingga para peserta dan team leaders bisa santai sejenak sambil duduk-duduk di hamparan rumput yang hijau. Melihat mereka dari kejauhan membuat kami bahagia. Apalagi kalau bukan untuk mendapatkan kepastian jawaban dari soal-soal yang meragukan. Kami langsung bercerita panjang lebar dan bertanya ini itu kepada para dosen. Seruan gembira dan sedih bercampur menjadi satu. Aku sudah tahu berapa nomer yang kujawab salah. Rasanya kok… nilaiku kecil sekali. Aku jadi merasa bersalah. Soalnya mudah, sudah sering dibahas, tapi kenapa?

image

Aku merenung sebentar. Ini baru tes pertama, Salsa… semangat! Aku berusaha memotivasi diriku sendiri. Kalau sudah begini, curhat ke orangtua memang solusi terbaik. Hanya saja, kali ini aku harus bisa mengontrol emosi, benar-benar sendiri dan tanpa bantuan orang lain. Masih ada dua tes lagi! Aku meyakinkan diriku.

Tes kedua, adalah Theoritical Test alias uraian. Waw. Entah kenapa, 30 menit pertama, otakku bumpet. Macet. Nggak bisa berpikir jernih. Tanganku sedikit gemetaran, degup jantungku terdengar kencang. Nggak bisa dibiarin. Nggak bakal maksimal. Aku pun meminta ijin untuk ke toilet. Seorang guide menemui dan mengantarku. Di toilet, aku… malah senam-senam ringan. Aku menarik dan membuang nafas. Aku memantapkan hati. Nggak boleh gugup! Tenang saja! Semua bisa aku kerjakan, asalkan tenang… Sekembalinya ke tempat duduk, pikiranku sudah lebih fresh.

image

Waktu tiga jam yang diberikan berlalu cepat sekali. Beberapa nomer belum terjawab. Aku sempat panik. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengoreksi saja. Nomer-nomer yang benar-benar tidak muncul petunjuk apapun di otakku kubiarkan kosong. Harapannya, dari nomer yang kubisa akan dinilai sempurna, sehingga banyak poin kuperoleh. Ketika waktu pengerjaan usai, seperti biasa, kami berkumpul untuk membahasnya lagi. Kali ini, Argentina baik hati sekali. Soal-soalnya komprehensif, tidak mengotak-ngotakkan ketiga bidang dan tidak pula menonjolkan bidang tertentu. Kami disajikan tiga permasalahan. Dari setiap permasalahan dapat muncul pertanyaan Biologi, Fisika dan Kimia. Seperti apa sih, soalnya? Bisa teman-teman buka disini.

image

Setelah berdiskusi dengan dosen pun, aku tidak bisa meramalkan skorku. Jangankan jawaban, soalnya pun banyak yang sudah tidak kuingat. Yang jelas, aku senantiasa mengingatkan diriku untuk tetap santai, tapi serius. Eksperimen adalah kesempatan terakhir. Bismillah!

Tes Eksperimen bisa membawa keberuntungan atau malah sebaliknya, tergantung kerja tim itu sendiri. Beruntung karena otak yang bekerja bukan hanya kita sendirian, melainkan bersama dua anggota tim yang lain. Hanya saja, ketika kerja sama tidak berjalan dengan baik, kerja setiap individu malah nggak maksimal. Atau, bisa juga kerjasama sudah baik, tapi memang pekerjaan tidak diselesaikan dengan benar sehingga tidak bisa menunjang nilai juga.

Waktu yang diberikan untuk Tes Eksperimen ini lebih panjang daripada tahun-tahun sebelumnya, yaitu empat jam. Aku berpikir sebelum mulai mengerjakan, bahwa waktu empat jam ini pastilah lama sekali. Semoga saja kami tidak terburu-buru. Nyatanya … wah! Kami mengerjakan tidak santai samasekali, benar-benar dikejar waktu. Prosedur eksperimen memang lama, belum lagi soal-soalnya setumpuk. Padahal, soal-soal itu tidak bisa dijawab sampai didapatkan hasil dari prosedur eksperimen. Tapi, aku bangga kok, dengan kelompokku. Kami bisa saling membantu, setiap dari kami telah mengerti porsi kerja masing-masing. Aku mengerjakan fermentasi glukosa, sedangkan Andrew mengerjakan refraktometer. Dean mengawasi dan membantu kerja kami berdua.

image

Aku memang cukup tenang saat mengerjakan sesuatu dalam tekanan waktu. Tapi, ketika sesuatu tidak berjalanan seperti seharusnya, ketenangan Dean dan Andrew sangat membantuku. Segera setelah data terkumpul, kami melakukan pengolahan data. Beberapa menit terbuang percuma gara-gara entah pikiran kami kemana, tapi tidak ada yang berinisiatif untuk membagi lembar jawaban. Akhirnya kami saling tunggu-tungguan untuk mengisi pertanyaan bagian kami. Setelah lembar jawaban dibagi, kami sibuk dengan kertas dan kalkulator masing-masing. Kalkulatornya itu … ya Allah. Aku hampir nangis saat pertama kali diberikan oleh panitia. Oke, judulnya memang scientific calculator. Cuma… regresi aja nggak bisa!  Tidak ada persamaan yang bisa muncul dilayar, hanya angkanya saja. Jadi, kami harus hati-hati dalam menekan tombol dan menghitung selangkah demi selangkah. Aku jadi benar-benar rindu dengan fx991ID plus ku tercinta❤

image

Saat hitung mundur waktu tanda usai dimulai, Dean masih menghitung soal-soal stoikiometrinya. Aku dan Andrew hanya bisa melihat Dean sambil … berdoa, hehe. Untung saja bisa beres semua. Setelah memastikan semua lembar jawaban telah urut, Andrew memasukkan kertas-kertas itu ke dalam map. Para guide akan mengambil setiap map. Kemudian, kami dipersilakan keluar.

Ruangan mendadak sangat ribut. Dengungan suara para peserta menggema dalam setiap sudut. Aku sangat legaaa … selesai sudah perjuanganku! Sekarang, nikmati saja hari-hari terakhir di Argentina! Aaah … kalau membicarakan hasil… eh, tunggu dulu. Anehnya, rasa waswas samasekali tidak muncul dibenakku. Aku sangat lega, santai dan … ya, itu saja. Berbeda saat OSN kemarin. Lebaynya, cengengnya, berkali-kali lipat sampai aku meneteskan berapa ember air mata, aku juga tidak tahu. Kali ini, aku merasa… ya sudahlah, sudah sejauh ini sampai Argentina. Aku sudah melakukan semampuku. Biarlah Allah yang memutuskan.

Diam-diam aku bangga pada diriku. Ya Allah, ketenangan dan rasa pasrah untuk berserah diri pada-Mu ini yang sedari dulu aku impikan … Terimakasih telah mengijinkan hamba merasakannya sekarang.

——————–

Mayoritas penduduk Argentina adalah pemeluk Katolik Roma. Kata Inez, muslim tidak terlalu banyak. Kalaupun ada, kebanyakan dari mereka tidak menjalankan perintah berhijab. Sehingga, perempuan-perempuan itu pun tampak seperti Argentina kebanyakan.

Saat itu, aku dan Muti sempat merenungi perjalanan kami selama di Argentina.

“Sal, aku baru nyadar loh … kayaknya, aku seneng, di negaraku sendiri orang muslim tampak sudah menjalankan agamanya dengan baik. Lihat, deh, masjid-masjid yang penuh. Tapi, sampai disini, aku heran … Argentina menganggap Islam itu asing sekali.” Tutur Muti.

“Nah, itulah Mut …” ucapku. “Kita disadarkan, objek dakwah itu masih banyaaaaaak sekali. Begitu banyak sisi bumi Allah ini yang belum tersentuh cahaya.”

Pikiranku melayang, teringat memori kejadian-kejadian unik yang aku alami belakangan.

Suatu siang, kami sedang duduk-duduk di lobby Savoia Hotel. Hotel tampak lebih ramai dari biasanya. Tiba-tiba Inez menemui kami. Ia meminta salah satu diantara kami mengikutinya untuk bertemu dengan seorang wartawan.

“Wawancara?” Kami memastikan. Akhirnya, aku dan teman-teman ribut memilih siapa yang harus maju.

Ternyata, Inez berkata bahwa antara aku dan Muti saja yang diwawancara. Tampaknya, mereka tertarik dengan pakaian kami yang ‘tertutup’ dan ingin mengetahui lebih banyak tentang itu. Akhirnya, teman-teman sepakat untuk memilihku. Aku pun mengikuti Inez keluar ke halaman depan hotel. Disana, telah berkumpul beberapa anak dari negara-negara lain. Kami disuruh berbaris. Kemudian, si reporter mulai mewawancarai beberapa orang.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan cukup klise, seputar bagaimana pendapat anda tentang Argentina, atau apa saja pengalaman yang anda dapatkan selama disini, dan semacamnya. Ketika tiba giliranku, seorang guide di sebelahku menerjemahkan pertanyaan dari reporter yang menggunakan Bahasa Spanyol tersebut untukku.

“Kenapa anda memilih mengikuti kompetisi ini dengan mengenakan kostum seperti yang anda pakai sekarang?” Tanya wanita itu sambil menunjuk pakaianku.

Aku tertegun sejenak. Diriku mencerna apa yang baru saja reporter itu katakan. Aku ditanya soal pakaian yang kupakai, sedangkan kompetisi yang aku ikuti adalah kompetisi sains! Bukan kontes kecantikan atau peragaan busana, kan?

Kemudian, aku membuka mulut. “Ya, pakaian seperti ini sudah umum di negara asal saya. Disamping itu, berpakaian seperti ini adalah kewajiban dalam agama saya.” Jawabku.

image

Wawancara pun berakhir. Kami melambaikan tangan ke arah kamera sambil tersenyum. Setelah itu, aku dan Inez kembali masuk ke dalam hotel. Kami berdua tertawa-tawa. Bahkan menurut Inez, pertanyaan yang tadi diajukan reporter itu aneh sekali, sekaligus lucu. Argentina, oh Argentina … hahaha.

Atau ketika suatu malam, kami makan malam bersama Inez. Beberapa anak cowok telah selesai, mereka pun kembali ke kamar. Aku, Muti, Eli dan Inez masih bercakap-cakap di ruang makan. Tiba-tiba, tiga orang guide pria mengambil tempat di meja kami. Kami pun terlibat percakapan yang menarik. Mereka banyak bertanya tentang agama Islam. Banyak hal yang menurut mereka sangat aneh dan asing. 

“Jadi, dimana kamu biasa berdoa? Apakah ada tempat khusus atau … kamu bisa melakukannya dimana saja, misalkan di taman? Di dapur?” Tanya seorang guide, yang nantinya aku tahu bernama Frederico.

“Oh tidak … aku memiliki tempat peribadatan khusus. Namun, aku bisa berdoa dimana saja selama tempat tersebut bersih dan menenuhi syarat.” Ungkapku.

Seorang guide pria lain kemudian bertanya. Seingatku, ini orang yang sama dengan orang yang berjanji akan mengajariku menari Salsa. “Aku melihat kalian memakai penutup kepala, hal itu wajib kan? Tapi, aku pernah melihat ada wanita-wanita yang juga menutupi sebagian muka mereka, hingga hanya matanya saja yang terlihat. Mereka juga muslim kan? Apa ada perbedaan?”

Aku berpikir sebentar, mencari cara termudah untuk menjelaskan hal tersebut kepada mereka. “Sebenarnya, yang benar-benar tertera di kitab suci kami untuk ditutup adalah seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Jadi, tidak berbeda pula dengan mereka. Yah, let’s think this way … it is better to cover more than cover less.” Mereka mengangguk-ngagguk.

Guide itu melanjutkan. “Jadi, apakah tidak ada pria yang boleh melihat rambutmu? Bagaimana dengan ayahmu?”

“Well, ayahku dan keluargaku boleh melihat rambutku. Nanti, suamiku juga.”

“So, if I marry you, then I become your husband, I can see your hair?” Tanyanya.

Aku mengangguk sambil mengerutkan dahi. Kok perumpamaannya sedikit …

“So, will you marry me?” Ucap guide itu tiba-tiba. Dia tersenyum, kemudian tertawa.

Sepertinya, kecepatan otakku untuk memutuskan respon apa yang harus dilakukan dengan stimulus seperti itu menurun drastis. Aku barusan salah denger apa ya?

Tapi kan dia ketawa. Nggak serius, dong. Ya iyalah! Batinku menimpali. Aku pun nyengir dan turut tertawa.

….

Aku masih kecil, aku tahu. Itu hanya sebuah gurauan, aku mengerti. Tapi, tetap saja …

Leluconnya sedikit unik, ya. 

Frederico mengajukan pertanyaan lain. “Apa yang kalian lakukan ketika bertemu orang lain? Di Argentina, kami mengecup pipi kanan dan kiri orang tersebut.”

“Oh… tergantung. Jika itu orang yang lebih tua, kami mencium tangan mereka. Jika itu seumuran dan seorang wanita atau keluarga, kami berjabat tangan, kadang-kadang mencium pipi kanan kiri juga. Tapi kalau orang itu laki-laki dan bukan keluarga, kami bersalaman dari jarak jauh seperti ini,” aku menelungkupkan kedua tanganku di depan dada. Frederico tampak memperhatikan dengan seksama.

Esok paginya, aku sedang berjalan di koridor hotel. Tiba-tiba, suatu suara menegurku.

“Good morning,” sapa seseorang yang ternyata Frederico. Aku tertawa melihat dia menelungkupkan tangannya di depan dada, persis seperti yang kutunjukkan kemarin malam.

“Oh, good morning,” balasku senang sambil turut menelungkupkan tangan.

Sebuah senyuman selalu tersungging di wajahku mengingat kejadian-kejadian itu. Mungkin, aku belum apa-apa karena tinggal di negri orang pun tidak sampai dua minggu. Namun, pengalaman singkatku itu membuatku menarik kesimpulan. Boleh jadi, muslim memang masih asing dimata orang-orang di banyak belahan dunia ini. Namun, kamu tak perlu khawatir, tak perlu takut menunjukkan identitasmu sebagai muslim. Untuk saudaraku para wanita, janganlah malu dengan hijab yang sekarang dirimu kenakan. Janganlah malu dengan sikapmu yang menjaga jarak dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Tetap jadilah dirimu sendiri, tapi dirimu yang berkualitas. Yang bisa menyenangkan orang dan menjadi teman yang baik. Jika kita menghormati diri kita sendiri, dengan menjaga diri kita dari segala hal yang dilarang oleh-Nya, manusia-manusia juga akan menghormati dan menghargai kita. Bukankah indah, untuk berusaha mendapatkan akhirat, dan diberi Allah bonus dunia pula dalam perjalanannya? Nggak selamanya mulus, memang. Maka dari itu, ayo kita sama-sama berjuang menjadi agen muslim yang baik, wahai saudaraku!🙂

BERSAMBUNG

15 thoughts on “Work Hard and Be Yourself ( IJSO: Part 10 )

  1. Alhamdulillah nduk,rupanya saya pun belajar banyak dari dirimu. Sukses selalu dan semoga tetap istiqomah menjadi agen muslim sejati.aamiin,:)

  2. Subhanallah..😀

  3. DB Victory

    Waah, nggak sabar nunggu lanjutan (novel) nya…

  4. DB Victory

    It’s so rare to find such girl as you, Salsa… so motivational. Keep going and raise our Islam up to the highest part of the world!😀 *see you in Jogja😛

  5. Subhanallah benar-benar mengagumkan, rasanya ikut merinding bacanya, kapan aku bisa sepertimu :’)

  6. kagum sama yang biin coretan ini😀
    ohya,soal IJSO nya bisa dibuka di website apa?

  7. salsabilapatria

    Maa syaa Allah🙂 menginspirasi banget

  8. salsabila p

    Maasyaa Allah keren banget :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s