Diversity, It Exists ( IJSO: Part 9 )

Assalamu’alaikum.

Peserta dan Team Leaders memang menempati hotel yang berbeda. Hotel para dosen dan official adalah Hyatt Hotel yang berada di kota. Lebih ke pinggir kota, adalah hotel kami; Savoia Hotel. Team leaders dan official turun terlebih dahulu di hotel mereka. Kami melanjutkan perjalanan ke hotel kami. Begitu tiba di hotel, suasana sudah ramai. Para peserta berkumpul untuk menerima tas, kaos, dan beberapa perlengkapan lain. Aku duduk di sofa lobby sambil memperhatikan sekitar. Diriku bertanya-tanya dalam hati. Kami anak Indonesia kenapa terlihat paling kecil di antara mereka… batinku sambil mengamati para peserta berkulit putih pucat. Kebanyakan datang dari daratan Eropa. Namun, jangan salah. Orang-orang Amerika Selatan pun banyak yang berkulit putih.

Seketika, aku teringat perkataan Pak Budhy. ‘Jangan sampai kalian merasa terintimidasi melihat peserta dari negara lain yang badannya gede-gede. Pengalaman IJSO terdahulu, ada kakak kelas kalian yang merasa minder seperti itu.’ Ketika di Depok, kami tertawa mendengar ketakutan senior kami itu. Apa coba yang harus dikhawatirkan dari badan kami yang lebih kecil? Ternyata, ketika sampai disini, aku menyadari bahwa ketakutan itu memang nyata. Wajar untuk merasa minder melihat kami yang berbeda. Tentu saja banyak anak Asia lain, rata-rata berukuran tubuh seperti kami. Walaupun nggak semua, sih. Anak Hongkong dan Vietnam tinggi-tinggi. Tapi memang, anak-anak Eropa, Australia dan Amerika Selatan memang heboh-heboh dan gampang mencuri perhatian.

Beberapa saat kemudian, Inez memberi pengumuman yang mengejutkan kami.

“Girls, ini adalah hal yang sangat disayangkan. Tapi … kalian para gadis tidak bisa bermalam di Savoia Hotel untuk malam ini dan 2 malam lagi. Aku tidak tahu, kayaknya pihak hotel tidak memiliki kamar kosong saat ini. Boys tetap tinggal disini, dan kalian akan berangkat ke hotel lain setelah makan malam nanti.” Ucap Inez panjang lebar. Tentu saja dalam Bahasa Inggris, hanya saja kira-kira dalam Bahasa Indonesia artinya seperti itu.

Para cewek melongo. “Hah? Jadi kita nggak bisa dapet kunci kamar sekarang, Inez?”

“Sayangnya begitu … seluruh aktivitas dilakukan di hotel ini. Kita kesana setelah makan malam dan berangkat lagi setelah sarapan.”

“Tapi, kami pasti capek dong, kalau harus bolak-balik kayak gitu.” Protes kami.

“Iya, aku tahu. Aku sudah memprotes pihak hotel, tapi kami benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.” Inez terlihat pasrah. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi.

Inez memperkenalkanku ke seorang guide lain. Yang jadi perbincangan utama, apalagi kalau bukan namaku.

“So, you can dance Salsa?” Tanya guide cowok yang belum kuketahui namanya itu sekaligus mempraktekkan beberapa gerakan.

“No, I can’t.” Aku menggeleng penuh horror. Gila aja kalau cuma karena namaku, aku dianggap bisa nari Salsa.

“We’ll teach you,” ujarnya.

“But I don’t want to learn!” Aku menggelengkan kepala kuat-kuat lagi. Kami pun tertawa.

Oh ya, Indonesia adalah satu-satunya negara yang dapat mengirim dua tim selain negara penyelenggara. Sehingga, Indonesia dan Argentina memiliki 12 perwakilan dalam ajang ini. Karena itu, kamipun memiliki dua guide, Inez dan seorang lagi bernama Nacho. Inez dan Nacho mengumpulkan kami sebentar untuk memberitahu sebuah peraturan.

“Ingat ya, perempuan tidak boleh masuk kamar laki-laki, begitupun sebaliknya. Kalau kalian ada suatu urusan ke kamar lawan jenis, ijin salah satu dari kita dulu.” Jelas mereka.

Kami tertegun sebentar mendengar peraturan itu. Keren, dong. Segala kompetisi yang melibatkan laki-laki dan perempuan di Indonesia sendiri jarang sekali memiliki peraturan seperti itu. Sebutlah, OSN aja nggak kayak gitu. Akhirnya, yang cowok masuk kamar mereka. Sedangkan kami dengan sangat kurang kerjaan duduk-duduk di sofa lobby. Capek, jelas. Kami iri sekali dengan para cowok. Mereka bisa beres-beres, beristirahat dan membersihkan diri.

Disini, makan malam disajikan sangat larut: pukul sembilan, atau bahkan setengah sepuluh! Terang saja, matahari baru terbenam sekitar pukul setengah sembilan. Setelah penantian kami sekian lama itu, ruang makan dibuka juga. Kami mengantri dalam barisan yang panjang. Setiap orang mengambil nampan dan meletakkan piring di atasnya. Kami akan melewati meja yang penuh makanan. Petugas menyendokkan makanan pilihan kami ke atas piring. Dan itu … iuh, aku tahu aku lebay. Tapi … bagiku benar-benar menjijikkan untuk melihat, misalkan saja, sesendok besar kentang tumbuk diangkat dari tempatnya, kemudian dijatuhkan di atas piringku dan menimbulkan suara ‘ceplok’. Apalagi makanan lembek semacam risotto atau jenis-jenis pasta dengan saosnya. Aku harus memalingkan pandangan dahulu supaya aku kuat memakan makanan seperti itu.

Perkara makanan, memang bukan hal yang mudah untuk menghindari yang haram. Bahkan seperti daging ayam pun, sangat kecil kemungkinannya untuk disembelih berdasarkan syariat Islam. Apalagi menyangkut cara memasaknya, atau bumbu-bumbu lain yang ditambahkan. Alat masak? Nah, apa lagi itu. Sering juga tempat daging babi bersebelahan dengan tempat daging-daging lain, seperti ayam atau sapi. Sedihnya, petugas hotel tidak ada yang bisa berbahasa Inggris.

“Does this food contain pork?” Tidak ada yang mengerti.
“Is this pork?” Tidak ada yang mengerti juga.
“Is this ham?” Sama saja.

Biasanya, kami mengandalkan Inez untuk memberitahu kami mana makanan yang mengandung daging babi. Penyebab haram yang lain, ya sudahlah. Kami sudah berusaha semampu kami untuk menghindari yang jelas-jelas haram. Yang subhat… aku senantiasa istighfar dan memohon ampunan kepada Allah atas ketidakmampuanku memenuhi perintah-Nya dengan sempurna.

‘Sin cerdo?’ Adalah bahasa Spanyol yang artinya ‘tanpa pork?’. Rupanya hanya itu satu-satunya Bahasa Spanyol yang aktif aku ucapkan disamping ola (halo), gracias (terimakasih), dan grenada (sama-sama). Makanan di hotel pun sangat tidak bervariasi. Karena sering berulang, kami hafal mana pork, mana yang bukan. Lama-lama petugas hotel pun mengerti kalau kami tidak bisa makan daging babi. Ujungnya, seluruh anak Indonesia jadi dilarang mengambil daging babi, padahal ada dari kami yang bisa memakannya. Hehehe…

Hotel sementara para cewek terletak agak dekat ke kota. Hotelnya lucu sekali, namanya Hotel Balbi. Model hotel di film-film bersetting Eropa, dimana bangunan hotel terletak dipinggir trotoar dan tidak memiliki halaman. Lift yang digunakan adalah lift kecil dengan jeruji sebagai pintunya. Ketika lift itu melewati lantai demi lantai, kami bisa melihat keluar, begitu pula sebaliknya. Semua perabotan juga nampak tua. Sungguh unik.

Hari kedua, jadwal kami adalah mengikuti Opening Ceremony. Para cewek berangkat menggunakan bus. Kami berhenti di depan sebuah bangunan di lingkungan Savoia Hotel. Bangunan itu terlihat cukup besar dari luar. Rupanya, para cowok dan dosen-dosen telah sampai terlebih dahulu. Mereka melihat kami dan mengajak foto bersama.

Para dosen dan official.

Para dosen dan official.

Indonesian Boys Team. Kayak boyband yaa :) Rupanya mereka sempat narsis duluan sebelum kami datang.

Indonesian Boys Team. Kayak boyband yaa🙂 Rupanya mereka sempat narsis duluan sebelum kami datang.

Di depan aula serbaguna.

Di depan aula serbaguna.

Lalu, bagaimana jalannya acara? Biasa saja, tidak ada sesuatu yang spesial. Setiap negara akan disebutkan, kemudian berdiri dari bangku masing-masing untuk memberi salam. Kami disuguhi penampilan tarian Tango dan mendengarkan lagu kebangsaan Argentina dinyanyikan. Sambutan-sambutan yang diberikan rata-rata menggunakan Bahasa Spanyol, jadi aku tidak mengerti. Selanjutnya, bandara IJSO diserahkan kepada tuan rumah oleh perwakilan dari negara yang meraih predikat The Best Country tahun 2013, yaitu Taiwan. Bendera ini akan diberikan kepada The Best Country tahun ini saat Upacara Penganugerahan Medali nanti.

Aku tertegun. Terlalu tinggikah mimpiku… jika aku berharap, tidak saja aku mendapat emas, namun juga tim ini bisa membawa pulang Juara Umum?

Indonesia adalah penggagas IJSO. Dua tahun pertama, IJSO diadakan di Jakarta dan Yogyakarta. Selama itu pula kita menjadi Juara Umum. Mulai tahun ketiga, IJSO diadakan di negara lain. Mulai tahun itu pula, bendera IJSO tak pernah mampir ke tanah air, tempat asalnya sendiri.

“Kan ini IJSO kesebelas. Bisa nggak, ya, kejadian sepuluh tahun lalu terulang?”

Untuk saat ini, pertanyaan itu tidak bisa terjawab. Atau belum.

Siswa pembukaan

 

Indonesia: Full Team!

Indonesia: Full Team!

Newsletter 2

Opening Ceremony telah resmi berakhir. Untuk lima hari ke depan, seluruh peralatan yang bisa digunakan untuk berkomunikasi wajib dititipkan kepada guide masing-masing negara. Kami tidak diijinkan untuk menghubungi siapapun. Artinya, inilah kesempatan terakhir kami untuk bersua dengan para dosen sebelum tes dimulai esok hari. Kami tim Indonesia berkumpul melingkar untuk berdoa bersama.

Kami bersalaman dan melambaikan tangan ke para dosen dan official. Mereka akan kembali ke hotel untuk mulai menerjemahkan soal. Kami berdoa semoga mereka diberi kemudahan oleh Yang Maha Kuasa. Bagaimanapun, tahap penerjemahan sangat krusial untuk pemahaman kami akan soal-soal yang diujikan besok. Sedangkan kami memiliki free time!

… Baiklah, free time yang kami maksudkan … well, tidak berjalan terlalu menyenangkan untuk kami, terutama para cewek. Aku, Muti, dan Eli. Bisa dibilang, kami bukanlah tipe cewek atletis. Nggak seperti cewek Australia yang kemana-mana bawa bola voli, atau cewek Eropa yang berbinar melihat kolam renang, kemudian menceburkan diri ke dalamnya. Dibandingkan mereka-mereka itu, sosialisasi kami memang sangat kurang. Kami duduk di sofa, tepatnya sofa yang sama yang kami duduki sejak kemarin, di pojok lobby. Lalu… membuka buku. Sedangkan, anak cowok sudah ‘merumput’ di lapangan depan hotel.

Melihat peserta dari negara diluar Asia, aku menemukan banyak perbedaan. Perbedaan disini meliputi cara berpakaian, bersosialisasi, dan tampaknya, tujuan mereka mengikuti lomba ini juga berbeda dengan kami.

“Inez, kenapa ya, mereka terlihat santai sekali? Mereka selalu bersenang-senang.” Tanya Muti pada Inez saat aku kebetulan ikut mendengarkan.

“Well, aku rasa itu semua masalah perbedaan kultur. Entahlah, mungkin kalian orang Asia lebih serius. Bagi negara lain, perolehan medali di kompetisi ini penting, tapi tidak sepenting itu. Mereka, misalkan saja anak-anak dari Argentina. Aku tahu mereka bekerja keras, ibuku sendiri salah satu pelatih mereka yang mengajar fisika. Tapi, saat bertemu dengan banyak orang dari banyak negara seperti ini, mereka lebih memilih untuk … well, get to know other people from a very different part of the world? Bisa jadi.”

Aku mengangguk-ngangguk mengerti. Menurutku, kami bukannya tidak bisa bersenang-senang. Kami hanya memiliki cara bersenang-senang yang berbeda dari mereka. Sebagian diriku ingin sekali berkenalan dengan banyak orang. Tapi, sebagian diriku yang lain ingin fokus saja di perlombaan. Toh, ini lomba internasional pertamaku. Sebaiknya aku melihat-lihat keadaan saja dulu, deh. Istilahnya; jadi penonton. Aku pun telah membulatkan keputusan.

Namun, sebenarnya kami bertiga telah membuat suatu rencana. Kami memiliki target masing-masing untuk mengajak berkenalan seseorang… cewek, kok. Aku senang sekali memandangi wajah seorang dari Rumania. Kelihatannya dia juga ramah. Beberapa kesempatan, ia menyapaku dulu. Seperti ‘Good Morning’ atau ‘Hi’ atau hanya tersenyum. Tapi ketika aku berniat mau kenalan, aku nggak bisa menemukannya dimana-mana, atau kalau tidak dia sedang bersama banyak orang lain. Ya sudahlah. Rencana mengajak kenalan cewek cantik ditunda dulu😀 #eh #akukokngeri

Suatu saat, kami sedang berbincang-bincang mengenai larangan main ke kamar lawan jenis ini. Kami heran. Bukannya apa, tapi … di Indonesia yang relatif negara religius saja jarang, kenapa disini para guide benar-benar menegakkan peraturan tersebut? Akhirnya, kami menanyakan alasan dibalik larangan itu kepada Inez.

Inez tertawa. “Aku tahu kalian gadis-gadis baik. Hanya saja … well, some girls when they meet boys in a room they do … stuff. Stuff you don’t do. Beberapa hal yang .. yah, nggak akan kepikiran di otak kalian. Kami ingin kalian disini menikmati Argentina, bersenang-senanglah!” Inez menjelaskan.

“Dan…” Inez membuka mulut untuk melanjutkan. Kami mendengarkan dengan seksama. “Kalian harus pulang ke negara kalian nanti dengan sehat ya? Not with something in your belly!” Gurau Inez. Kami bertiga nyengir. Alasan yang cukup masuk akal,  pikirku.

Seperti biasa, malam harinya kami menaiki bus menuju hotel kami di kota. Sampai di kamar, kami membahas tentang tes pilihan ganda yang akan dilaksanakan esok hari. Kalau sudah membicarakan kemungkinan soal yang keluar, memang tidak ada habisnya. Namanya juga kemungkinan. Tidak ada yang benar-benar pasti. Perlahan, kami semua mengistirahatkan mata. Esok akan menjadi hari pertama dari serangkaian perjuangan kami yang masih panjang.

Oh mimpi, perjalanan meraih dirimu baru saja akan dimulai.

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s