A Long Way Up ( IJSO: Part 8 )

Assalamu’alaikum.

Sebelum berangkat, bapak-bapak dosen banyak mengingatkan kami untuk rajin-rajin mencari tahu tentang Argentina lewat internet. Paling tidak, kami memiliki gambaran lingkungan yang akan kami tinggali untuk seminggu lebih itu seperti apa. Lebih jauh lagi, soal yang diujikan memang dibuat oleh negara penyelenggara. Sangat mungkin, negara akan menonjolkan ciri khasnya dalam soal yang mereka buat. Mendoza, daerah di Argentina yang akan menyelenggarakan rangkaian acara IJSO 2014 terkenal akan produksi wine-nya. Gunung Aconcagua juga berada di wilayah tersebut. Karena itu, selama simulasi Biologi, kami sering sekali mendapatkan soal tentang fermentasi glukosa dan adaptasi tubuh untuk suhu rendah. Yang masih tidak tertebak adalah Fisikanya. IJSO 2013 di India menjadi jebakan besar bagi tim Indonesia, mengingat soal uraian yang diujikan tidak ada Biologinya! Fisika sangat mendominasi, padahal tim Indonesia tidak hanya fokus ke Fisika selama TC. Kami berharap, semoga di Argentina nanti tidak ada satu bidang yang terlalu menonjol.

Cuaca juga menjadi hal yang sangat diperhatikan. Karena Argentina seharusnya tropis, maka kami tidak perlu membawa baju hangat. “Namun bersiap saja baju panjang paling tidak sebuah,” mereka mengingatkan kami.

Akhirnya, hari keberangkatan tiba. Orang tua teman-temanku sudah ada yang datang bahkan sejak sehari sebelumnya. Umi dan Abi baru saja mengunjungiku beberapa minggu yang lalu, sehingga mereka tidak bisa melepas keberangkatanku sekarang. Sebagai gantinya, bude-budeku dari Depok dan Bekasi datang untuk menemaniku sampai keberangkatan.

Kami tiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 10 malam. Pesawat kami tengah malam lewat sedikit. Kami berfoto bersama, bersalaman dengan para orang tua, keluarga dan kakak-kakak pendamping. Kami pun masuk untuk check in. Aku mencium tangan bude-budeku, tidak lupa meminta restu.

Bersama Bude tercinta <3

Bersama Bude tercinta❤

12 perwakilan Indonesia pada IJSO 2014 bersama Keluarga Depok.

12 perwakilan Indonesia pada IJSO 2014 bersama Keluarga Depok.

 

 

Singkatnya, kami telah berada di dalam pesawat. Kami menumpangi Qatar Airlines. Dari Jakarta, kami akan mendarat di Doha, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Buenos Aires sambil ‘mampir’ sebentar di Sao Paulo dengan maskapai yang sama.

Karena aku terpaksa terjaga sampai sekitar tengah malam, di pesawat pun aku banyak tertidur. Sampai di Doha, jam disana menunjukkan waktu pagi hari, namun matahari belum terbit. Yang muslim menyempatkan diri untuk sholat Subuh dahulu.

Kesanku memasuki Hamad International Airport itu …. Subhanallah! Besar, megah, dan indah sekali. Yang membuatku jatuh cinta bukan saja bangunannya yang nyaman, atau tempat duduk yang berlimpah di setiap sudut. Namun, di Bandara ini, muslim dan muslimah akan merasa dimanjakan sekali. Mushollanya luas, bersih, dan sangat nyaman. Namanya orang kampung, aku ternganga ketika memasuki toiletnya. Jika di negara asal kita, satu kubikel toilet berukuran sangat kecil, disini … luas sekali! Aku terkejut saat sedang mencuci tangan. Tiba-tiba, beberapa tetes cairan jatuh ke tanganku ketika aku bersiap mengambil sabun. Kran air yang menggunakan sensor sudah biasa. Tapi sabun yang bersensor? Ah, aku jadi alay begini… biarlah, ini memang kali pertama aku melihat fenomena seperti itu😀.

Penerbangan selanjutnya akan memakan waktu lebih lama. Jika Jakarta-Doha ditempuh selama 8 jam di angkasa, Doha-Buenos Aires selama 16 jam! Kami langsung ribut menginterogasi setiap orang (dalam rombongan kami saja, tentunya) tentang seat mereka di tiket. Kami bisa saling tukar menukar, sih. Namun, tetap saja …

Lihatlah! Kami hampir memutari satu bumi penuh!

Lihatlah! Kami hampir memutari satu bumi penuh!

Ternyata, seat-ku di tengah. Aku harus duduk di sebelah Patrick dan seorang ibu-ibu berwajah Cina. Menghabiskan sekian jam di sebelah Patrick memang asyik. Aku banyak tertawa karena tingkahnya yang ada-ada saja. Ketika dilayar muncul ‘Healt Tips’ yang isinya kami sebaiknya menggerak-gerakkan kaki supaya tidak bengkak, Patrick melakukan peregangan yang berlebihan. Kakinya di angkat sampai ke atas kursi. Belum lagi dia sering sekali harus ke toilet. Aku jadi merasa kasihan dengan ibu-ibu Cina yang tidurnya terganggu melulu ketika Patrick lewat. Atau ketika Pak Agus lewat, Patrick bertanya tentang Kimia. Pak Agus berdiri di aisle sambil menjelaskan, aku dan Patrick mendengarkan. Sekali lagi, aku kasihan karena ibu-ibu Cina itu menunjukkan muka tidak enak gara-gara terjebak pembicaraan sekumpulan orang yang tidak ia mengerti bahasanya.

Sampai suatu saat, ibu-ibu Cina itu bangkit dari kursinya dan tidak kembali untuk waktu yang lama. Aku jadi khawatir sendiri.

“Pat, kamu ah ngerepotin terus. Kalau ibunya sengaja pergi gara-gara kesel sama kita gimana?” Tanyaku.

“Alah, ibunya itu jalan-jalan aja biar nggak pegel.” Sangkal Patrick.

Aku hanya mengangguk-ngangguk tak yakin. Belum lama semenjak Patrick berkata begitu, kami melihat si Ibu Cina berlari kecil di sepanjang koridor. Ia berhenti di sebelah kursinya, lalu melakukan beberapa gerakan peregangan di tengah jalan. Kami pun menggulum senyum.

Kami sudah diperingatkan untuk mengatasi jet lag. Jet lag terjadi ketika kita mengalami perjalanan melintasi daerah yang memiliki perbedaan waktu ekstrem. Misalkan di daerah asal sedang siang, di daerah baru sedang malam. Tentu saja ini berpengaruh pada jam biologis kami. Ketika siang hari bisa-bisa kami mengantuk, dan malam hari kami segar bugar. Terserah bagaimana caranya, pokoknya kami harus berhasil mengatasi itu dan mengikuti jadwal daerah baru.

Suatu siang (aku tidak tahu jam berapa, karena siang hari memang berlangsung lamaaaa sekali), seluruh penumpang tampaknya sedang terlelap. Hanya aku dan Patrick yang masih terjaga. Kami melihat di peta. Ternyata, kami sedang terbang di atas Rio de Janeiro! Patrick buru-buru membuka penutup jendela. Cahaya matahari yang menyilaukan memberikan penerangan. Kami melongok ke bawah, berusaha menebak-nebak setiap bangunan bundar adalah Stadium Maracana, tempat diadakan final Piala Dunia 2014. Sebuah bangunan memang sangat mirip, tapi ada yang lebih mirip. Oh, sepertinya benar yang itu. Eh, bisa jadi bukan, sih. Yah, sudahlah … kami sudah cukup senang melihat sekilas (dari ketinggian, lagi) kota yang kemarin ramai diperbincangkan sebagai penyelenggara even sepak bola paling bergengsi.

Berkas cahaya melewati awan, menerangi perkotaan di bawahnya. Jepretan Patrick :)

Berkas cahaya melewati awan, menerangi perkotaan di bawahnya. Jepretan Patrick🙂

Melintasi gurun

Melintasi gurun

Alhamdulillah, kami mendarat di Buenos Aires dengan selamat. Kami bersiap membawa barang bawaan kami, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal. Setelah turun, kami harus melapor ke bagian imigrasi. Selanjutnya, kami bersama-sama melangkah keluar dengan menggeret koper masing-masing. Diluar, kami telah ditunggu oleh seorang Argentina, wanita yang akan menjadi guide kami. Singkatnya, kami menaiki bus menuju hotel. Kami akan bermalam sehari karena pesawat kami ke Mendoza adalah esok hari.

Kami begitu lelah, namun juga sangat semangat! Aku dan Muti menempati satu kamar bersama. Begitu merebahkan diri di atas kasur, kami terlelap dengan cepatnya.

Esok paginya, aku terbangun oleh alarm yang kusetel. Waktu subuh disini tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, sekitar pukul 5. Setelah sholat, aku memutuskan untuk memejamkan mata kembali. Ketika terbangun, aku buru-buru bersiap-siap. Aku membuka tirai jendela. Langit biru, jalan yang ramai oleh kendaraan dan pejalan kaki, gedung-gedung khas perkotaan, serta pesisir dengan beberapa kapal yang menepi memanjakan mataku. Dengan hati-hati, aku mencoba membuka jendela. Desisan udara pagi yang menyeruak masuk terdengar. Udara dingin menerpa wajahku, bagaikan berdiri di depan AC. Aku menikmati hembusan angin itu, walaupun aku merasa kedinginan. Seutas senyum terlukis dibibirku.

Ya Allah … aku sampai juga di Argentina, ya? Siapa yang menyangka … sudah berapa bagian bumi kulewati, untuk mencapai negri antah berantah ini.

Tiba-tiba aku jadi melankolis. Saat itu juga, Muti keluar dari kamar mandi.

“Mut, coba deh lihat keluar jendela. Berdiri disini, dingin banget!” Seruku.

Muti menuruti ajakanku. Senyuman yang tadi merekah diwajahnya jadi pudar.

“Brr… apa banget Argentina tropis. Ini sih dingin banget…” Muti buru-buru menutup jendela kembali.

Aku tertawa, kemudian kami saling beratatapan. Sedetik selanjutnya, kami sudah melompat-lompat sambil menjerit.

“Sal, kita di Argentina, Sal!!!!!”

“Iya, Mut…. kita di Argentina, Mut….!”

“Aaaaaaaaaa…..!” Kami berteriak-teriak, melepaskan rasa bahagia kami yang membuncah.

“Aku masih nggak nyangka, lho, Sal…”

“Aku juga belum percaya, Mut. Rasanya aku baru saja belajar buat OSN tingkat kota. Sekarang aku udah mau mengikti lomba internasional!”

“Apalagi aku, Sal! Aku nggak ada pikiran awalnya, bisa ikut OSN. Sekarang aku udah disini!”

“Tapi ini nyata, kan, Mut?”

“Ini nyata, Sal!”

“Aaaaaaaaaa….!” Kami berteriak lagi. Kami berdua memang sedikit gila, namun biarlah.

Setiap mimpi pernah terdengar mustahil. Namun ketika menjadi nyata, tak ada yang bisa menyangkalnya, bukan?

Siang hari, kami keluar dari hotel. Kami menuju bandara domestik untuk terbang ke Mendoza. Penerbangan ini sedikit penuh drama. Akhirnya, penerbangan kami menjadi mundur lebih sore. Selama di ruang tunggu, aku dan Eli mengedarkan pandangan ke orang-orang di sekitar. Ada beberapa kelompok anak muda yang didampingi orang dewasa. Kami mencurigai mereka sebagai peserta IJSO juga. Di bandara ini pula, seorang bapak-bapak menegur Bu Retno. Tampaknya beliau ingin berbincang, tapi tidak bisa Bahasa Inggris sama sekali dan kami pun tidak mengerti Bahasa Spanyol. Dari gestur tubuhnya, bapak itu menunjuk Bu Retno, aku dan Muti. Segera kami menyimpulkan bahwa ia bertanya tentang … apalagi kalau bukan hijab yang kami kenakan!

Saat itu, aku menyadari sesuatu. Sejak mendarat di bandara pun, aku telah merasakan pandangan keheranan orang-orang disini kepada kami yang berjilbab. Kelihatannya, perempuan berjilbab sangat asing bagi mereka.

Buenos Aires-Mendoza, ditempuh dalam waktu kurang lebih satu setengah jam.

Buenos Aires-Mendoza, ditempuh dalam waktu kurang lebih satu setengah jam.

Kami menaiki maskapai yang baru kudengar pertama kali: Aerolineas Argentinas. Masing-masing penumpang mendapatkan sekotak makanan ringan di pesawat. Aku membaca tulisan yang tertera di kotaknya.

Bienvenido a Argentina. Welcome to Argentina!

Aku tersenyum membacanya. Kemudian, aku membuka sebuah majalah yang diselipkan di kantong kursi depanku. Dalam bahasa Spanyol, aku menggerutu dalam hati, lalu mengembalikan majalah itu ke tempatnya. Tiba-tiba, aku tersenyum sendiri lagi. Aku benar-benar sedang berada di negri orang.

Sampai di Mendoza, kami segera mengantri untuk mengambil bagasi. Setelah lengkap, kami melangkah keluar. Seorang pemuda dan seorang wanita melambaikan tangan kepada kami, mereka mengacungkan papan dengan tulisan ‘Indonesia’.

Wanita itu menyapa para cewek, sedangkan si pria mengurusi anak cowok.

“Hi, my name is Inez! You can see here,” sapa wanita itu sambil menunjukkan ID Card-nya. “I am going to be your mother, and you are going to be my children, okay?” Inez tertawa. Kami turut tertawa. Tampaknya Inez orang yang menyenangkan. Sebenarnya, kami agak sungkan memanggil nama seseorang yang jelas-jelas jauh lebih tua dari kami. Namun, mau bagaimana lagi. Inez juga tidak mengerti kalau kami panggil kakak.

“Is everybody here? Okay, let’s go to the bus!” Kami berbarengan melangkah keluar Bandara. “Prepare yourself, because it will be soooo hot outside.” Inez memperingatkan. Aku mengerutkan kening. Panas? Bukankah Buenos Aires begitu dingin dan Mendoza terletak di dataran tinggi?

Tet tot … ternyata perkiraanku salah besar! Mendoza memang sangat panas. Sangat panas disini, I really meant it. Benar-benar panas. Sinar matahari begitu terik dan menyengat. Sepanas-panasanya Indonesia, paling tidak Jawa, lebih karena polusi. Tapi disini, mataharinya benar-benar membakar kulit. Justru karena di dataran tinggi, Mendoza mendapat sinar yang melimpah.

Di dalam bus, Inez berkenalan dengan kami satu persatu. Namun, ia terlihat kesulitan menghafalkan nama beberapa dari kami. Ketika mendengar namaku, reaksi Inez sudah bisa tertebak. “Ooo Salsa! Do you know the meaning in Spanish?”

“Sauce and a dance.” Jawabku sedikit malas.

“Yeah, that’s right!”seru Inez sambil tertawa. Bisa jadi menyenangkan sih, orang-orang disini dapat mengingat namaku dengan mudah. Namun, tetap saja terdengar lucu jika namaku diucapkan di negara yang arti namaku adalah saos dan jenis suatu tarian.

“Inez, I thought before that Mendoza is cool.” Kataku.

“No, no… this is December. We are at the end of spring, and on the 21st December it will be summer. It is hot here, because you see … we are on desserts. People say that Mendoza is the Land of Sun and Good Wine!” Inez menjelaskan.

Bus pun terus melaju. Melintasi jalanan yang gersang dan tandus, membelah lautan tanaman anggur dan jajaran pohon-pohon zaitun.

Pikiran itu melintas lagi. Aku benar-benar sedang berada di negri orang.

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s