Behind the Scene ( IJSO: Part 7 )

Assalamu’alaikum.

Training Center IJSO tahun ini cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, baru di tahun ini saja melibatkan tiga universitas berbeda. Kami pun menjalani TC di dua kota, Bandung dan Depok. Nah, satu lagi hal yang sangat menonjol selama TC. Kami ditemani oleh kakak-kakak pendamping berjumlah empat orang di masing-masing kota.

Lalu… apa tugas pendamping itu? Kalau anak PASIAD pasti tahu. Mereka semacam belletmen, abla dan abi bagi kami. Mereka mengurusi administrasi kami selama TC, berperan sebagai teman curhat juga, atau alarm yang berisik mengingatkan dan menyuruh kami ini itu demi kebaikan kami sendiri. Di setiap kota, ada seorang kakak yang berbasic bimbingan konseling atau psikologi untuk … well, memantau sisi psikologis kami? Kakak-kakak ini sudah serasa kakak kandung kami sendiri.

KAKAK-KAKAK BANDUNG

Di Bandung, kami telah mengenal tiga kakak saat TC 1: Kak Nadia, Kak Lulu dan Kak Syifa. Di TC 2, kami kedatangan satu kakak lagi, namanya Kak Adit. Kakak-kakak di Bandung benar-benar merasakan, kami yang masih jaim dan malu-malu di awal TC, lama-lama mulai terlihat sifat aslinya. Rusuh, ribut, dan kacau. Kadang-kadang aku membayangkan, jadi mereka harus ekstra sabaaaaar hehe. Apalagi awal dulu, ketika suasana di antara kedua belas anak itu belum begitu kekeluargaan. Mereka memiliki peran besar untuk mulai ‘menyatukan’ kami.


Kak Nadia ini orangnya heboh dan ceria sekali. Kalau kami sedang galau atau ada masalah, tinggal ketuk pintu kamar kakaknya. Namun, jangan salah. Perkara makan, kakak ini tegas banget. Pokoknya, Kak Nadia bakal memastikan semua sudah makan tiga kali sehari. Bahkan kalau perlu disuapin … hehehe. Partner sekamar Kak Nadia itu Kak Lulu. Kak Lulu jadi Bunda yang diperebutkan Eli, Thoriq dan Muti. Kalo udah ketemu Patrick, Kak Lulu keliatan kayak anak kecil lagi😀. Kak Syifa dan Kak Adit bergantian jadi seksi akomodasi. Setiap habis olahraga hari Minggu atau selesai eksperimen, kakak-kakak ini akan membawakan susu untuk kita.

???????????????????????????????

Teh Lulu aus (gaya Sunda…)

Teh Nadia (gaya Sunda dikit ...)

Teh Nadia

Kak Syifa sama Kak Adit juga sering jadi tukang foto, makanya foto mereka nggak begitu banyak ._. Kak Syifa nyaris nggak ada, malah. Kak Syifa, Eli dan Kak Lulu seneng banget sama lagu “malu sama kucing, meong meong meong…” Bahkan mereka berencana untuk bikin video tapi nggak terlaksana. Sayang ya😦 Semua Kakak Bandung kecuali Kak Nadia menempuh pendidikan Biologi di UPI. Terkadang mereka jadi tutor dadakan untuk kami. Pokoknya, mereka berempat bener-bener… mengerti segala seluk-beluk, aneh bin ajaib dan baik-buruknya kami, deh! Di Bandung juga, kami paling ‘ditarik-tarik’ buat olahraga. Sudah jadi kesepakatan bersama, seminggu sekali jam enam pagi harus sudah siap untuk pemanasan ringan. Aku sering mager sih … tapi ya sudah. Masa anak olimpiade keren otaknya tapi lemah fisik😀. (Khusus buatku, mungkin memang seperti itu😛 ).

Kak Syifa

Kang Syifa nyaaamm

Kang Adit

Kang Adit anak motor nih…

Pemanasan di tengah udara pagi Bandung yang dingin.

Pemanasan di tengah udara pagi Bandung yang dingin.

TC 2 IJSO 2014 20141224_224136

Aku berterimakasih sekali dengan kakak-kakak ini. Mereka kakak sekaligus guru sekaligus teman sekaligus adik (buat dibully :D… hehe) bagi kami🙂.

KAKAK PELATIH SENI

Ini dia kakak yang badayy sekali … Kak Riri namanya! Kak Riri pelatih seni kami. Awal pertemuan kami  adalah saat Kak Riri datang untuk mengetes kemampuan kami bernyanyi. Loh, loh… ini IJSO atau kontes menyanyi? Jawabannya … well, IJSO terdahulu biasanya meminta setiap negara untuk menampilkan pertunjukan seni khas masing-masing pada suatu malam atau biasa disebut ‘Cultural Night’. Maka dari itu, Indonesia telah menyiapkan dari jauh-jauh hari. Berhubung kami bukan anak-anak yang terlihat bisa menari, yang akan kami tampilkan adalah menyanyi.

Kak Riri yang penuh semangat!

Kak Riri yang penuh semangat!

Harus dengan hati <3

Harus dengan hati❤

Yah, bayangkan saja, kawan. Kami yang biasanya berkutat dengan buku yang jika di bawa di tas ransel kami dalam jangka panjang dapat mengakibatkan pertumbuhan tulang yang tidak normal … tiba-tiba harus meninggalkan itu semua! Kami harus berdiri, tidak lagi duduk menghadap meja dan sibuk mencorat-coret kertas. Kami harus tersenyum, membuat eye contact dengan penonton imajiner selama latihan. Kami harus mendengarkan iringan dengan baik. ‘Jangan buru-buru, jangan ketinggalan.’ Kami harus menghafalkan koreografi dan bergerak dengan kompak. “Yang pakai perasaan, dong … Biar yang lihat itu kayak … ikut terbawa!” Begitu kira-kira komentar Kak Riri dalam setiap latihan kami.

Latihan kami juga lebih banyak bercanda. Beberapa orang jarang mau serius, ada aja tingkahnya. Kak Riri sampai teriak-teriak dan beberapa kali melontarkan ancaman. “Nggak serius, sampai jam sebelas malem biarin aja.” Hehe… memang menguras kesabaran banget, kadang aku juga ikut geregetan😀. Lalu… apakah kami mengalami kemajuan? Entahlah, tentu saja aku tidak tahu karena yang bisa menilai adalah yang menonton. Tapi, asumsikan saja bahwa latihan terakhir kami sudah cukup baik… hehe. (‘Mending’ atau ‘nggak ancur-ancur banget’ mungkin istilah yang lebih tepat.) Eh… ternyata, Kak Riri dan Kak Nadia itu saudara sepupu, loh! Pantes sih, mirip kok😉

KAKAK-KAKAK DEPOK

Kakak-kakak Depok lulusan UI semua; ada Kak Ana, Kak Dhanys, Kak Dini dan Kak Bonbon … eh, maksudnya Kak Bondan. Kak Ana orangnya kalem dan entah kenapa punya semacam aura keibuan gitu menurutku😀. Kakaknya lulusan psikologi. Hihi pas banget deh, ketemu makhluk-makhluk unik macam kami🙂. Kak Ana perhatian sekali, kami sering masih di kelas sampai larut malam, dan selalu ditemani sampai selesai dengan sabar. Kakaknya juga sering berdiskusi dan ngaji bareng aku dan teman-teman muslim yang lain. Pokoknya, kata kakaknya, salah satu persiapan menjelang lomba yang paling penting itu yaa mendekatkan diri sama Allah😉.

Tiga kakak lainnya baru saja lulus dari Fisika UI. Nah, kebetulan sekali ya, setelah yang di Bandung kemarin Biologi semua. Aku dan Muti langsung kegirangan. Artinya, ada mereka yang hampir 24 jam bersama kami, bisa kami tanya macam-macam. Kak Dini dan Kak Dhanys juga jadi asisten praktikum Fisika. Kak Bondan nih, yang jadi supir bagian akomodasi. Satu-satunya yang nemenin cowok-cowok main futsal juga. Kak Bondan sering kupanggil Kak Bonbon. Pernah suatu saat aku sampai lupa nama aslinya siapa, gara-gara di kontak hp pun aku tulisnya Kak Bonbon. Diem-diem kakaknya populer looh di UI! Pas kami lagi jalan di sekitar kampus, nggak kehitung cewek yang nyapa Kak Bonbon! Wkwk… tapi walau begitu, kakaknya jomblo :p dan sering diejekin juga di grup whatsapp (padahal yang ngejekin juga pada jomblo sih …). Ckck.

Kak Dhanys jadi asisten praktikum

Kak Dhanys jadi asisten praktikum

Kak Dini juga jadi asprak.

Kak Dini juga jadi asprak.

Waktu awal di Depok, kakak-kakak sempat mengadakan suatu game untuk lebih mengenal satu sama lain. Setiap orang menulis 5 cirinya yang nggak banyak diketahui orang pada selembar kertas. Kertas tersebut digulung, kemudian di acak. Setiap orang akan mengambil satu gulungan kemudian membacakannya keras-keras. Berdasarkan urutan nomer yang telah ditentukan, kami harus menyimpulkan siapa orang yang menulis setiap gulungan itu dari ciri-ciri yang dinyatakan.

Wiih … itu susah banget. Apalagi kakak Depok baru kami temui beberapa jam. Beberapa ciri sangat kentara, tapi ada juga yang aku benar-benar clueless hingga menulis nama seseorang dengan asal. Setelah selesai, dimulailah pengakuan! Setiap orang menyatakan dirinya menulis gulungan nomer berapa. Hasil dugaan kami juga dikoreksi. Eli paling jago, bisa menebak 11 dari 16 orang. Aku dan Kak Ana bisa menebak 10. Dan … masa ya, dari ciri-ciri yang kutulis, hanya Eli yang bisa menebak itu aku😦 Hiks… Selain Eli, nggak ada yang tahu aku suka Jus Alpukat. Nggak ada yang tahu makanan favoritku itu coklat. Nggak ada yang tahu aku pernah nangis gara-gara (aku kira) harus pakai kacamata. Nggak ada yang tahu sewaktu kecil aku takut banget melihat anak punk. Nggak ada yang tahu …. hehe, baiklah, ciri-ciri tersebut memang nggak banyak diketahui orang. (But now I’ve written it on my blog soo … yeaa, better prepare chocolate for my birthday gift, people :D)

Kakak di Depok itu harus tahan banting melayani kami yang memang sedang penuh tekanan karena perlombaan yang semakin dekat. Kebanyakan permintaan kami juga diturutin, sepeti makan malam di mall atau minta jajan macem-macem untuk tutorial malam. Terimakasih banyak kakak-kakak🙂

———————–

Aku telah bercerita panjang lebar untuk kegiatan kami belajar. Padahal … hei, kami nggak melulu belajar, kok! Karena belajar terus dan mengalami rutinitas itu-itu aja setiap harinya … memang menjemukan sekali ._. Aku rasa foto ini bisa menggambarkan kebosananku mengikuti pelajaran … hehehe.

Bosen -_-

Bosen -_-

Kalau sudah bosan begitu, kami ngapain? Well, setiap orang punya caranya masing-masing …

Di Bandung, tutorial malam yang seharusnya mulai pukul tujuh sering molor jadi pukul setengah delapan. Namun, kami sudah berkumpul di kelas sejak pukul tujuh kurang. Yap, kami ‘membajak’ proyektor kelas untuk menonton film. Untuk beberapa hari, setiap malamnya kami menonton film selama kurang lebih 35 menit. Hingga, totalnya kami telah menonton sampai habis dua film! Yaitu Lucy dan Divergent. Sebenarnya dosen dan kakak pengisi tutorial sudah datang dan ‘memergoki’ kami. Hanya saja, satu, mungkin mereka memaklumi kami yang butuh hiburan. Atau dua, mungkin juga mereka senang menonton film … hehe. Intinya aku bersyukur atas pengertian kakak dan para tutor.

Hari-hari pertama di Bandung, Jonathan ngotoooooot banget minta main futsal! Apa saja mau dia lakukan, namun dibumbui kepastian, “Tapi futsal ya, kak?”. Jo kreatif banget, dia melakukan berbagai hal untuk mendapatkan perhatian kakak-kakak. Di bawah ini contohnya.

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Ternyata, baru saja hari Minggu pertama di Bandung, kakak-kakak menuruti permintaan futsal Jo! Waktu diberitahu seperti itu, ekspresinya bahagia sekali. Dia mengangkat tangan sambil tersenyum sumringah. Aku yang melihatnya jadi keheranan. Itu ekspresi yang sama yang Jo tunjukkan saat namanya disebut sebagai peraih penghargaan The Best Experiment OSN Fisika 2014. Aku tak habis pikir… bagaimana bisa tingkat kebahagiannya bermain futsal sama dengan mendapat penghargaan bergengsi seperti itu?

Dan… anak cowok bermain futsal nggak cuma sekali dua kali, tapi berkali-kali! Futsal pertama, anak cewek ikut ke lapangan….. jadi penonton, tentu saja. Futsal-futsal berikutnya kami memilih untuk tetap di hotel. Kami tidak tertarik untuk bangun pagi-pagi di hari minggu dan kemudian hanya duduk di pinggir lapangan. Lebih baik menambah waktu tidur atau belajar.

Nongki-nongki cantik dipinggir lapangan

Nongki-nongki cantik dipinggir lapangan

Mengejar si kulit bundar di tengah lapangan.

Mengejar si kulit bundar di tengah lapangan.

Personel tambahan, yaitu teman-teman Kak Syifa dan Kak Adit, sering turut meramaikan kegiatan futsal.

Personel tambahan, yaitu teman-teman Kak Syifa dan Kak Adit, sering turut meramaikan kegiatan futsal.

Fiuh ... Capek

Fiuh … Capek

Makanan yang disajikan di hotel makin hari selalu berulang. Kadang kami jenuh juga. Akhirnya, beberapa kali kami di bawa keluar untuk makan di mall. Pernah juga kami ditraktir untuk makan di warung pangsit, bakso, dan semacam itu. Yummy :3

Makan sehari-hari di Hotel Sukajadi

Makan sehari-hari di Hotel Sukajadi

Bakso, Pangsit, and everything else :)

Bakso, Pangsit, and everything else🙂

Ketika tutorial malam, makanan di Hotel Sukajadi enak-enak. Favorit kami yang akhirnya jadi rebutan itu: bakso, batagor, siomay, empek-empek dan pisang goreng gula. (Aku ngetiknya sambil keroncongan). Kalau mas-mas yang mengantar makanan sudah tiba, mata kami jadi mengikuti gerak-geriknya. Setelah tahu kalau makanannya nggak sesuai harapan, biasanya kami balik belajar lagi. Tapi… yah, mau seenak apapun makanannya, ketika udah asyik ngebahas sesuatu atau ada soal yang bikin greget, makan mah lewaaat😀. Kalau di Depok, malam harinya kami sering dijajanin. Paling sering tuh J.Co, pernah juga kebab, gorengan, bakso, jus buah, martabak manis dan asin, tahu mercon yang pedes banget, pizza, dan lain sebagainya ……….. (maaf ya, yang nulis lagi suka nulis nama-nama makanan :P). Namanya juga mengasah otak, perlu banyak energi, deh! ((Alasan))

Aku bersyukur sekali, baik di Bandung maupun di Depok, aku seperti menemukan keluarga baru. Tahun ini pula pertama kalinya aku merayakan hari raya jauh dari rumah, tepatnya Idul Adha. Entah kebawa atmosfer melankolis atau gimana, aku akhirnya nangis: kangen rumah! Astaga Salsa… cengeng sekali. Padahal aku juga udah biasa nggak ketemu orang tua berbulan-bulan di asrama. Cuma … saat awal TC itu aku merasa masih asing, belum bisa akrab dengan teman, dan tertekan juga dengan pelajaran. Semua rasa itu campur aduk … hingga akhirnya keluar dalam bentuk butiran air mata.

Idul Adha

Idul Adha

Tapi, aku nggak berlama-lama kok, sedihnya🙂. Aku sadar, mereka bisa jadi keluarga aku disini. Umi Abi pun senantiasa mendoakan walau terpisah jarak yang jauh denganku. Apa yang harus ditangisi? Nah, akhirnya aku membuat status di facebook. Ternyata, berimbas dengan sebuah komentar oleh kepala sekolahku …

Komen Pak Haris

DANG! Aku malu sekaligus tertawa geli membaca komentar beliau. Ya ampun… kayaknya kasusku semasa OSN dulu sampai juga ke telinga Pak Haris ._. (Kisah lengkapnya disini). Aku sih, mau-mau saja bertemu kawan sekelas di Bandung😉. Tapi, aku berjanji pada diri sendiri. Untuk ajang-ajang olimpiade SMA nanti, cukup deh nangisnya. Atau paling tidak aku belajar untuk nggak mengumbarnya si sosial media, biar amaan… hehe.

Sebelum keberangkatan ke Depok, personil Bandung mengajak kami foto studio di mall Paris Van Java. Berjarak sepelemparan batu dari hotel kami. Nah, di minggu yang sama, sedang diadakan Pelatnas Tahap 1 untuk bidang Biologi, Kimia dan Astronomi SMA. Tempatnya di Bandung juga! Aku berkali-kali mengutarakan keinginanku untuk bertemu kakak kelasku yang alumni IJSO 2013, Kak Tika. Kak Tika juga kepingin, cuma susah cari teman yang mau menemani, katanya. Namun ujung-ujungnya, banyak banget anak pelatnas yang berkeliaran di PVJ.

Aku bertemu dan bercakap-cakap dengan mereka di depan studio foto. Senangnya … bisa berbagi pengalaman, bercanda, dan sedikit bergosip tentang … banyak hal! Selain Kak Tika, ada juga Kak Ikhsan, Kak Timothy (IJSO 2013), Kak Hana (IJSO 2011), Kak Maulinda (IJSO 2011), Kak Aditio (IJSO 2011) dan beberapa kakak-kakak lainnya yang cuma bisa kulihat dari jauh, tapi nggak sempat (dan aku nggak punya keberanian untuk mengajak) ngobrol. Pokoknya bahagia sekali ketemu para senior ini. Kayaknya kami tertawa dan teriak-teriak keras banget di depan semua pengunjung mall. Bodohnya, kami lupa mengambil foto! Aah… sedih sekali. Tapi yaa sudah lah. It was a very great moment. Dalam sebuah even yang nggak resmi dari kementrian, kami (sebenarnya yang mengobrol banyak dengan mereka hanya aku dan Dean, sih) bisa bertemu banyak alumni sekaligus! Keren ya, waktunya pas banget :”)

Keluarga Bandung :)

Keluarga Bandung🙂

Cari pulpen di Gramedia ...

Cari pulpen di Gramedia …

Dan Muti pun menemukan tempat untuk berduaan... dengan buku

Dan Muti pun menemukan tempat untuk berduaan… dengan buku

Ada satu jenis kegiatan di Depok yang cukup ‘life-changing’ menurutku. Jadi, kami menjalani motivation training pada sebuah hari Minggu. Kami sungguh ogah-ogahan awalnya. Kami merasa, training apapun pasti ujung-ujungnya gitu-gitu aja. Namun ternyata … kami salah besar! Selama training itu, kami mendapat banyak games. Dalam setiap games, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik. Gamesnya menantang, stressful juga. Namun intinya bisa menambah kekompakan kami. Nggak menyesal, deh!

Teamwork is everything!

Teamwork is everything!

Pasangan serasi ;)

Pasangan serasi😉

Make plans before doing something. But do not take too long either because time is still counting.

Make plans before doing something. But do not take too long either because time is still counting.

———————

Selain kegiatan di kelas, momen-momen diluar kelas seperti ini juga masih lekat di memoriku dan menimbulkan kesan yang mendalam. Fokus kami memang olimpiade sains. Namun, nggak mesti juga bidang yang lain nggak kami sentuh sama sekali. Istilahnya, semua harus seimbang🙂

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s