Pilar-pilar Kemenangan ( IJSO: Part 6 )

Assalamu’alaikum.

Hari-hari terakhir di Bandung, bisa dibilang, aku habiskan dengan suasana hati yang tidak begitu bahagia. Kadang-kadang kepala terasa cenat-cenut, tampaknya rasa lelah bekas begadang mengerjakan tugas Biologi itu masih sering muncul. Fisika masih menjadi musuh terbesarku, padahal waktu menuju IJSO tinggal sebulan lagi ((kalau berangkat)). Aku masih dibayang-bayangi rasa ketakutan … apakah yang berangkat hanya enam orang? Ujung-ujungnya, aku melakukan pertahanan diri seperti biasa: membiasakan untuk kemungkinan terburuk, sehingga kalau hal buruk itu terwujud, hati ini nggak bisa lebih sakit lagi. ((Duh, galau maksimal memang yaa)). Tapi sungguh, waktu itu aku jadi pesimis tingkat akut. Sarkasme ‘kalau berangkat’ selalu mengakhiri setiap kata-kataku yang berhubungan dengan Argentina. Misalkan, “Nanti disana oleh-oleh yang bagus tapi murah apa, ya? Harus beliin buat temen-temen sekelas nih.” Diselingi hening sesaat, kemudian. “… Kalau berangkat.” gumamku pasrah. Belum lagi perkara pembentukan tim untuk eksperimen. Ah … rasanya pikiranku kacau balau.

Akhirnya, kami semua meninggalkan Bandung. Cukup sedih, mengingat kami telah 2 bulan berada di Hotel Sukajadi, mengenal hotel itu layaknya rumah kedua kami, bahkan sepertinya pegawai hotel sudah sangat familiar dengan sekumpulan anak kecil yang selalu membuat keributan dimana pun mereka berada. Pernah pula menjadi sumber komplain pengunjung lain saking ributnya kami😀. Setelah berkemas dan memastikan tidak ada yang tertinggal, kami naik ke bus untuk perjalanan ke Depok.

Hotel kami di Depok namanya Hotel Bumi Wiyata. Hotel ini terletak di pinggir jalan paling sibuk di Depok, Jalan Margonda. Kesan pertama saat kami tiba disana: panas. Sudah bisa diduga, aku, Muti dan Eli menempati satu kamar bersama lagi. Ya iya sih… nggak ada pilihan lain juga. Aku menengadah ke langit lewat jendela kamar. Ah … langit biru Bandung, berubah menjadi langit putih ke abu-abuan; Depok. Kota yang menurutku sedikit tidak berbatas dengan Jakarta.

 

Langit biru Bandung

Langit biru Bandung

Di hari itu juga akan diadakan pertemuan dengan wakil dari Kemendikbud. Mereka akan memberi kejelasan tentang berapa orang yang bisa berangkat ke Argentina. Rasanya pengumuman saat itu lebih ngeri dari OSN, meskipun masih lebih emosional OSN, sih. Kami bingung … terus kalau hanya enam, sisanya dipulangkan begitu saja? Harus mengemasi barang dan menggeret koper keluar penginapan layaknya peserta yang tereliminasi di Indonesian Idol? Apa yang harus kami katakan pada guru-guru dan teman-teman di sekolah? Kalau mereka menanyakan ‘Bagaimana di Argentina?’, apa yang harus kami jawab?

Dan, detik itu pula aku sadar…

Betapa aku masih mencari muka dihadapan manusia …

Selama pertemuan, Pak Supriono mengulur-ngulur pengumuman dan selalu membumbui kata-katanya dengan ungkapan seperti “Yah, nanti 6 yang lain gampang, lah.” Aku bener-bener nggak habis pikir. Bapak kira hati kita mainan … bisa digantungin dan dibikin penasaran dan diphpin seenaknya … ((lama-lama aku terdengar kayak cewek yang lagi curhat di ask.fm hehehe)). Tapi aku jadinya semangat! Nggak mungkin kan, perwakilan dari Kemdikbud sengaja terkesan men-down-kan peserta seperti itu, kecuali kalau memang akan ada kabar baik yang menyertainya! Pemikiranku makin kuat ketika bapak itu memanggil nama kami satu persatu dan membagi kami ke dalam dua kelompok. Sayangnya, bapak tersebut membuat kesalahan. Beliau memisahkan Dean dan Michael, sehingga aku pun yakin kami ber-12 akan berangkat. Nggak mungkin kan, salah satu dari dua orang itu nggak ke Argentina?

Deg-degan menunggu pengumuman ...

Deg-degan menunggu pengumuman …

Setelah sekian lama, akhirnya Pak Supriono menyatakan …

“Yah… Indonesia bisa mengirimkan … 12 orang untuk ke Argentina.”

ALHAMDULILLAH!

Tepuk tangan dan senyuman bahagia kami

Tepuk tangan dan senyuman bahagia kami

Aku mengucapkan syukur yang teramat mendalam. Selanjutnya, diumumkan tim untuk eksperimen di Argentina. Ternyata, aku bersama tim untuk simulasi terakhir di Bandung kemarin, sekaligus tim awal kami eksperimen kimia di ITB: Dean dan Andrew!

Kami pun harus berpisah dengan kakak pendamping yang telah menemani kami dua bulan belakangan. Selanjutnya, kami akan bersama dengan kakak-kakak baru untuk satu bulan di Depok. Perpisahan itu cukup mengharukan. Namun nyatanya, kami sempat bersua lagi beberapa kali dengan beberapa kakak dari Bandung.

"Sampai bertemu lagi, kak!"

“Sampai bertemu lagi, kak!”

Keluarga Besar Bandung

Keluarga Besar Bandung

Alhamdulillah … banyak hal yang berubah pada TC di Depok ini. Kami telah pasti berangkat: 12 siswa yang resmi menjadi delegasi Indonesia di IJSO 2014! Aku merasa, kami telah sangat jauh berubah dari awal TC dulu. Kami lebih dewasa, sudah lebih saling kenal dan keegoisan kami juga berkurang. Kami sudah melihat kesebelas orang yang lain sebagai anggota tim, bukan lagi saingan. Aku membayangkan pertemanan kami layaknya sebuah zat. Kami bisa mengalami fasa gas, cair dan padat.

Awal kami di TC, kami saling berjauhan. Tekanan yang kami rasakan begitu tinggi dan suhu persaingan kami juga tinggi. Kami masih gas. Seiring waktu, suhu persaingan di antara kami berkurang. Kami makin rekat, menjadi liquid. Semakin lama, kami tidak lagi menjaga jarak. Saat ini, kami telah benar-benar solid🙂

12 DELEGASI iNDONESIA DI  IJSO 2014

12 DELEGASI iNDONESIA DI IJSO 2014

Di Depok ini, kami bertemu dosen-dosen UI. Kami tidak lagi mendapat materi. Setiap hari adalah soal, soal dan soal. Kemudian pembahasan. Hari Jumat dan Sabtu adalah waktunya kami menuju kampus UI. Eksperimen! Aku selalu menantikan saat-saat tersebut. Berbagai eksperimen kami laksanakan. Ada yang dengan bimbingan asisten praktikum, ada yang secara mandiri. Namun, yang secara mandiri pun berujung dengan bantuan asisten. Eksperimen sudah mulai dibiasakan untuk dilakukan bertim. Sehingga setiap orang akan mengerjakan satu bidang. Sudah jelas untuk timku, bahwa Dean memegang Kimia, Andrew Fisika, dan aku sendiri Biologi. Banyak pengalaman selama TC yang sangat mengembangkan skill, teamwork dan cara kerja kelompokku. Lama-lama, kami sudah mengerti posisi masing-masing. Kami bisa membantu anggota lain ketika salah satu sedang ada waktu luang. Diskusi juga berjalan baik dan aku sendiri sangat mengandalkan saran dan pemikiran dari anggota kelompokku saat akan mengambil keputusan.

Simulasi teori

Simulasi teori

Simulasi teori

Berperang melawan soal dengan senjata di tangan kami: KALKULATOR.

Simulasi eksperimen

Simulasi eksperimen

Ada beberapa kesempatan kami bisa mendapat arahan dari asisten praktikum

Ada beberapa kesempatan kami bisa mendapat arahan dari asisten praktikum

Laboratorian selalu mengawasi kerja kami... Terutama Kimia! Maklum, peralatan mereka memang lebih berbahaya dan 'mahal' dibandingkan Fisika dan Biologi.

Laboratorian selalu mengawasi kerja kami… Terutama Kimia! Maklum, peralatan mereka memang lebih berbahaya dan ‘mahal’ dibandingkan Fisika dan Biologi.

Biologi: olahraga jempol untuk menghitung setiap gelembung yang terbentuk.

Biologi: olahraga jempol untuk menghitung setiap gelembung yang terbentuk.

Chesmistry, and any other experiment: accuracy required!

Chesmistry, and any other experiment: accuracy required!

Kimia: butuh kursi ;)

Kimia: butuh kursi😉

 

Disini, semua materi yang belum kami kuasai harus ter-cover. Kami bisa meminta tambahan ke kakak tutor untuk memantapkan materi. Jadwal tambahan pun disusun. Ada yang dilaksanakan sesudah tutorial malam, sekitar pukul setengah sepuluh sampai setengah sebelas. Bahkan jam sebelas. Pagi hari, kami membuat janji pukul lima pagi. Biasanya molor sampai jam setengah enam. Parahnya, aku pernah melewatkan suatu sesi tutorial pagi karena … ketiduran. Aku merasa bersalah sekali dengan kakak tutor yang akhirnya kembali ke kosannya gara-gara lelah menunggu kami😦.

Bisa diduga, aku langganan tambahan fisika. Ada yang malam dan ada yang pagi. Memang tidak setiap hari. Namun, jadwal seperti biasa saja sudah membuatku kelelahan. Aku hanya berdoa, supaya nggak terjadi masalah dengan kesehatanku. It is already this close … batinku pada diri sendiri.

Kami juga memiliki sesi untuk mendengarkan observasi dan pengarahan dari dosen untuk hasil-hasil tes harian dan simulasi. Kami dipanggil satu per satu. Bapak dosen akan membeberkan nilai-nilai kami, memaparkan pengamatan beliau untuk kelebihan dan kekurangan kami, dan kami pun bisa menyatakan apa yang ingin kami utarakan. Aku mendapat sedikit teguran dari dosen biologi. Beliau mengingatkanku untuk tidak lupa pada bidang basic kami sendiri. Jangan terlena mempelajari yang lain, sampai-sampai bidang yang lebih dulu kami kuasai jadi tertinggal. Padahal, di bidang yang kami kuasai lah kami memiliki kesempatan untuk memetik poin sebanyak-banyaknya. Well, aku merenungi itu semua. Ya, aku memang telah mengabaikan biologi selama ini. Aku berjanji untuk memperbaikinya.

Dosen fisika mengaku cukup senang dengan perkembanganku. Beberapa kali nilaiku cukup mampu bersaing dengan anak-anak fisika, namun ada saat-saat dimana nilaiku memang jeblok. Pakai banget. Selebihnya, beliau keheranan karena di beberapa tes pilihan ganda, jawabanku benar semua ….. Namun, banyak soal yang kosong tak terjawab. Dengan sedikit malu-malu, aku mengakui bahwa masih banyak bab fisika yang bukannya belum kukuasai, tapi memang belum aku pelajari sama sekali! Soal yang kujawab berasal dari bab yang telah kupelajari, rata-rata aku mengerjakannya dengan benar. Yang tidak kujawab, aku benar-benar nggak mengerti konsep bab itu sama sekali, jadi lebih baik kutinggalkan. Aku berjanji aku akan mempelajari bab-bab selanjutnya dengan cepat dan tekad penuh. Aku semakin bersemangat. Setidaknya, aku telah membuktikan bahwa aku bisa mengerjakan soal fisika dengan baik. Dengan satu syarat saja: aku sudah belajar tentang itu!

Kimia … ah, dosen kimia tidak terlalu fokus ke perseorangan. Menurutku sih, tes dan simulasiku memang membuktikan kimia sebagai bidang dengan nilai terbelakang.

Kali ini, bidang Fisika yang paling banyak memberikan aktivitas diluar kelas. Pernah saat itu kami diminta untuk menyelesaikan beberapa soal secara bertim. Tapi, kami mengerjakannya diluar ruangan. Pernah juga kami memainkan suatu games. Masing-masing tim mendapatkan clue. Clue itu menunjuk ke salah satu dari kakak pendamping. Kami harus mencari kakak pendamping sesuai urutan di petunjuk. Mereka bisa berasa dimana saja, di sekitar halaman hotel. Di setiap pos yang dijaga oleh seorang kakak, kami diminta mengerjakan beberapa soal. Saat itu, timku mengambil selfie dengan setiap kakak setiap selesai mengerjakan soal. Yah, di Depok ini, semua dilakukan secara bertim. Tampaknya, kami sengaja diberikan banyak waktu untuk menambah keakraban.

Selfie cantik di setiap pos. Andrew dan Dean mengerjakan soal, Salsa jadi petugas stationary >,<

Selfie cantik di setiap pos. Andrew dan Dean mengerjakan soal, Salsa jadi petugas stationary >,<

Nggak terasa, kami mencapai minggu terakhir menjelang keberangkatan. Fokus kami untuk belajar sudah berkurang. Kami mulai memikirkan persiapan non-akademis, seperti perlengkapan sehari-hari, administrasi, dan ketahanan mental. Mental? Well, itu adalah salah satu bagian penting yang akan diuji di medan perlombaan nanti. Banyak kisah yang telah kami dengar. Tanpa ketahanan mental, semua ilmu dan semua hal yang telah kami pelajari bisa menguap begitu saja. Kami diminta untuk belajar dari kisah-kisah IJSO terdahulu. Untuk itu, seorang alumni IJSO diundang untuk membagi kisahnya dengan kami. Alumni yang dipanggil bernama Kak Putu, peraih medali perak IJSO 2010 dan medali perak IChO 2014. Keren ya :”)

Pak Yasman, salah satu Dosen Biologi dari UI memberi nasihat yang sangat bermanfaat. “Sekarang sudah semakin dekat. Kalian harus yakin bahwa, meskipun kalian merasa masih ada materi yang kurang mantap, apapun yang sudah kalian pelajari sampai sekarang itu sudah cukup.”

Pak Budhy, Dosen Fisika UI berulang kali mengingatkan kami. “Sekarang itu, masanya kalian harus banyak berbuat baik dengan orang lain. Jangan sampai membuat orang lain kesal. Bisa-bisa karena seseorang yang sakit hati dengan kita lah, kebaikan untuk kita dari Tuhan tidak sampai.”

H-7 menjelang keberangkatan, kabar buruk menghampiri. Bu Retno, seseorang yang mengurusi segala keperluan kami sebelum berangkat dan saat di Argentina nanti menyatakan bahwa ……….. visa kami belum keluar! Entah bagaimana, pengurusan visa di Kedutaan Argentina terkesan ribet. Aku dan teman-teman jelas khawatir. Seminggu lagi … kan, nggak lucu kalau setelah semua usaha ini, kami bahkan nggak sempat menjadi peserta IJSO. Kami disuruh banyak-banyak berdoa. Ya Allah … aku sadar, seenggak berdaya ini manusia untuk setiap nasibnya sendiri.

Alhamdulillah … Pada hari Kamis, dipastikan kami semua bisa berangkat ke Argentina🙂. Jadwal keberangkatan kami adalah hari Minggu dini hari, artinya pagi buta hari Senin. Sebelum itu, kami mengunjungi gedung Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Senayan, Jakarta. Rencananya, akan ada pelepasan sekaligus pembekalan dari kementrian. Perjalanan yang seharusnya nggak terlalu lama menjadi molor karena -biasa- macet. Setibanya disana, kami turun dari bus dan buru-buru masuk ke dalam gedung karena hujan yang turun dengan derasnya.

Pintu masuk gedung itu adalah pintu kaca yang bersensor, akan terbuka setiap ada orang yang melangkahkan kaki ke dalam. Di dalam adalah sebuah ruangan yang sangaaaaat besar. Penerangan saat itu cukup temaram. Sebuah hall tempat pertemuan akbar biasa digelar, terletak ditengah. Di sekeliling ruangan tersebut berdiri pilar-pilar berwarna hitam. Inilah yang unik dari gedung Kemdikbud. Di setiap sisi pilar-pilar tersebut, terpampang foto-foto siswa-siswa berprestasi yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional beserta catatan prestasi yang telah mereka torehkan.

Saat itu … aku sungguh bahagia. Dengan semangat, kami berkeliling menengok satu-persatu foto yang dipajang. Kami akan berteriak saling memanggil ketika foto seseorang yang tidak asing bagi kami ada disana. Selanjutnya, kami akan bertukar informasi tentang si ini dan si itu, betapa hebatnya mereka, asal sekolah mereka, apa yang mereka lakukan sekarang dan sejarah lain yang kami ketahui. Yang paling menarik perhatian tentu saja kakak-kakak peraih medali internasional SMA.

“Kakak ini gold medalist IBO pertamanya Indonesia! Emas IJSO juga! Sekarang di MIT.”
“Denger-denger uang yang kakaknya ini kumpulin selama ikut olimpiade udah bisa dibikin rumah, loh.”
“Astaga … smp udah perak IPhO? Kakaknya kerja di Swiss loh, sekarang.”
“Otaknya nggak normal … terlalu jenius. Katanya sekarang dia lagi riset di Kanada.”

Dan lain sebagainya.

Dua temanku yang sangat perkasa sejak sekolah dasar, Gian dan Eli, telah melanglang buana ke berbagai negara. Berbagai medali di even internasional telah mereka raih. Lucu sekali melihat foto mereka saat masih imut-imut terpajang disana.

Kenapa aku sangat bahagia? Well, sebuah prinsip yang telah kupegang sejak dahulu …

Perbanyak kenalan, perluas ilmu pengetahuan. Kamu akan melihat betapa banyak diluar sana orang yang jauuuuh lebih hebat darimu. Pintu kesombongan akan tertutup, berganti dengan semangat membara untuk menyamai, atau bahkan melampaui prestasi mereka terdahulu.

“Tenang … masih banyak tempat kosong, kok.” Ujar seseorang di sebelahku. Tentu saja … ini menjadi penyemangat kami pula, untuk menjadi generasi berikutnya yang mengisi pilar-pilar itu.

Karena kami tak kunjung mendapatkan info kelanjutan acara dari kementrian, kami memutuskan untuk sholat dan jalan-jalan ke dalam perpustakaan. Aku menengadahkan kepala ke atas. Tinggi sekali gedung ini … batinku. Akhirnya, kami disuruh memasuki gedung lain. Saat menaiki lift, telingaku terasa aneh, persis seperti saat pesawat akan take off. Ya ampun, perubahan ketinggian yang mendadak tampaknya menyebabkan hal itu. Acara berjalan dengan lancar. Kami diberi motivasi dan diakhiri dengan foto bersama.

Tapi… kami tidak langsung kembali ke hotel! Beberapa dari kami telah merengek sejak kemarin, “Nonton Interstellar, kak!” Kakak pendamping mau saja menuruti. Tapi, setelah mengecek jadwal bioskop di internet, film yang tersisa berjarak tidak lama lagi. Sedangkan, jika menggunakan bus, nggak mungkin bisa tiba tepat waktu.

“Jadi gimana?”
“Jadinya ke Sency, kan?”
“Ayo, jalan kaki!” Patrick tampak paling semangat. Awalnya, kami tidak yakin dengan opsi tersebut. Namun, mau bagaimana lagi?

Akhirnya, 16 orang berbondong-bondong berjalan kaki setengah berlari dari gedung Kemdikbud sampai mall Senayan City. Demi Interstellar. Ya ampun.

Nyatanya … tiket Interstellar tinggal sebuah. Daripada pulang dengan tangan kosong, kami memutuskan untuk menonton … Penguin of Madagscar. Hahaha … alternatif film yang jauh berbeda dari segi genre, memang. Namun, kami cukup terhibur kok. Kapan lagi coba bisa nonton gratis pakai uang negara?😀

Well, bagiku yang belum pernah keluar negri sebelumnya, perjalanan ke Argentina aku nantikan dengan penuh antisipasi. Senang, tegang, namun juga bersemangat! Alhamdulillah, betapa aku selalu bersyukur. Sampai saat ini, aku sudah bisa memenuhi harapan Umi. Beliau ingin aku bisa mengecap berbagai pengalaman, menginjakkan kaki ke berbagai daerah, mengetahui banyak hal baru, semuanya disponsori pihak lain. Dan, sponsor tersebut aku dapatkan semata-mata karena prestasi. Alhamdulillah :’)

BERSAMBUNG

5 thoughts on “Pilar-pilar Kemenangan ( IJSO: Part 6 )

  1. ih dek salsa. kakak ngefans nih sama adek. apalagi adek anak biologi wkwkwk. Ada tips menjelang ONS bio dek? insyaallah kakak mau ikutan nih, doain ya biar bisa kayak adek heheh🙂

  2. Kecanduan baca part selanjutnya😀
    Doakan ya kak,aku ikutan OSN IPA tahun ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s