Theory: Multitalents Required! ( IJSO: Part 5 )

Assalamu’alaikum.

Medali yang diperebutkan dalam kompetisi IJSO ada dua; medali individu dan tim. Medali individu berupa emas, perak, dan perunggu yang diberikan kepada (secara berurutan) 10%, 20%, dan 30% dari jumlah peserta. Nilai yang digunakan untuk pembagian medali individu ini diambil dari nilai Multiple Choice Question 30%, Theoritical Test 30%, dan Experimental Test 40%. Khusus tes eksperimen, setiap tim yang beranggotakan tiga peserta dari negara yang sama akan mendapat nilai yang sama sesuai nilai eksperimen mereka. Sehingga nantinya, dari nilai eksperimen ini akan ditentukan 3 tim dengan nilai terbaik. Ketiganya akan mendapatkan medali emas, perak dan perunggu sesuai urutan nilai. Penghargaan The Best in Theory juga akan diberikan kepada 3 peserta yang total nilai MCQ + Theoritical Test-nya paling tinggi. Berupa medali emas, perak dan perunggu sesuai urutan nilai.

Nah, seperti yang sudah aku singgung di post sebelum ini, kami terbagi menjadi dua bidang saat OSN: Biologi dan Fisika. Saat TC Tahap 1, peraih medali emas dan perak kedua bidang itu berkumpul untuk memperebutkan tempat 12 besar. Hasilnya pun telah keluar, kedua belas besar yang terpilih melanjutkan ke Tahap 2. Kenyataannya adalah, dari dua belas besar itu, yang basicnya biologi hanya tiga orang: aku, Muti, dan Dean. Dean pun bisa dianggap tidak murni (?) karena keikutsertaannya di OSN Fisika tahun sebelumnya.

Wah, kalau begitu, anak Fisika mendominasi dong, ya? Memang! Terkadang, inilah yang sering menjadi masalah untuk kami anak biologi. Sudah bukan rahasia, sepanjang sejarah IJSO pun, tim Indonesia didominasi oleh anak Fisika. Peraih medali emas pun kebanyakan anak Fisika. Seseorang yang kala itu pernah mematahkan anggapan itu adalah Kak Rahmat Waluyo, peraih medali emas OSN Biologi 2012 dan emas IJSO pada tahun yang sama. Keren ya🙂

Tapi… tetap saja. Tampaknya, Kak Rahmat (atau Rahmat Abi ngg… yea) yang sekarang menjadi kakak kelasku itu belum bisa disamai pencapaiannya oleh anak biologi tahun-tahun berikutnya. Bukan tidak mungkin, tapi karena banyak faktor, anak fisika selalu lebih diunggulkan (dan memang lebih unggul). Aku sendiri sudah merasakan berbagai ‘anggapan miring’ kepada anak-anak IJSO (atau yang akan mengikuti seleksi IJSO) dengan basic biologi. Kebanyakan mengingatkan kami untuk berhati-hati, terutama dalam Fisika, yang ((katanya)) kami kesulitan untuk mengejar. Nah loh… kok bisa seperti itu? Aku akan berpendapat dari sudut pandang anak biologi ya😉

Biologi adalah ilmu yang berdasarkan hafalan: memang benar. Ketika dihadapi suatu permasalahan, kami dituntut untuk menggunakan logika untuk menyelesaikannya. Namun, tentu saja logika itu harus berlandaskan teori, dan biasanya teori itu bukan ‘sekedar’ F = ma, lebih kepada uraian yang cukup panjang. Intinya, ilmu kami semakin bertambah seiring banyaknya buku yang kami baca dan referensi yang kami jadikan pegangan. Terdangar simpel? Untuk saat ini, ya. Anak fisika yang mempelajari biologi ‘hanya’ tinggal membaca, menghafalkan dan … tadaaa! Mereka terlihat tidak ada kesulitan. (Atau setidaknya itulah anggapan kami anak biologi).

Sedangkan anak biologi? Benar, Fisika memang menjadi momok. Bagi kami yang tidak biasa bergaul dengan angka, mengutak-ngatik rumus dan memeras otak untuk berlogika dengan ‘segitunya’, Fisika cukup bikin nafas tersengal-sengal; capek. Kami harus kembali menguatkan dasar matematika kami dahulu. Lalu mempelajari konsep-konsep dasar fisika. Nah, itu saja sudah memakan cukup banyak waktu. Padahal, tahap paling krusial dalam pembelajaran fisika belum terlewati. Yaitu: latihan soal!

Jujur saja, aku sempat depresi (ah, bahasanya). Dalam waktu yang begitu singkat, melakukan itu semua serasa tidak mungkin. Hei, betapa banyak soal-soal diluar sana! Ketajaman logika, pemahaman dan kecepatan dalam mengerjakan soal bakal terasah seiring banyaknya latihan soal. Namun, itu sangat-sangat-sangat menyita waktu, I tell you. Dan bukannya aku tidak harus belajar Kimia dan Biologi juga. Aku merasa lebih mampu pada Kimia dibandingkan Fisika, sehingga bidang itu sempat kuabaikan untuk sementara. Lama-lama, aku menyadari pula bahwa banyak teori yang belum kupegang konsepnya dengan matang. Jadilah aku perlu meluangkan waktu untuk mendalaminya. Sedangkan Biologi, ah dia terabaikan. Kasihan sekali. Aku pun nggak menjamin materi biologiku sempurna dan tanpa ada hal yang terlupa. Tapi ya sudah, mau bagaimana lagi.

Suasama kelas

Suasama kelas

Aku benar-benar mengalami masa-masa tertekan. Namun, tepat sekitar sebulan sebelum pertandingan, aku berjanji kepada diriku sendiri. Dua bulan belakangan, aku merasa aku belum belajar apa-apa, dan hal ini tidak boleh terus dibiarkan. Setelah mewawancarai beberapa anak fisika dan bertanya tentang cara belajar mereka, aku menyadari bahwa cara belajarku selama ini salah. Aku terlalu terburu-buru untuk mencapai tahap berlatih soal, padahal toh saat itu aku belum menguasai konsepnya dengan benar.

Aku pun mengubah cara belajarku. Rumus bukan dihafal, tapi dimengerti. Untuk setiap rumus, aku pahami teori yang melatarberlakanginya. Misalkan, rumus F = qvb tidak lantas kuhafalkan begitu saja. Aku memahami pengertiannya, bahwa rumus itu diturunkan dari F = ilbsinθ. Rumus ini digunakan untuk mencari besar gaya (F) yang dialami sebuah partikel dengan muatan q dan kecepatan v pada medan magnet sebesar B. Selanjutnya, aku menghafalkan satuan untuk setiap besaran.

Pemahaman itu memang masih dangkal banget, aku tahu. Tapi setidaknya, Alhamdulillah, cara seperti itu sangat memudahkanku. Ketika menghadapi soal, mau soalnya dibalik sedemikian rupa, enggak ada masalah. Akhirnya, soal-soal itu mulai kulahap satu persatu. Setiap ada soal yang terselesaikan, muncul perasaan puas dan bangga … rasanya, Ya Allah, I did it! Untuk soal yang mudah saja sudah senang, apalagi kalau soalnya cukup rumit. Jujur, ketika itu aku benar-benar bahagia, sebuah perasaan yang nggak (atau belum) aku temui selama berkutat dengan soal-soal biologi. Setiap soal yang terselesaikan meningkatkan semangat belajarku. Setiap soal yang tidak terselesaikan membuatku berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya. Baru ketika sudah benar-benar clueless, aku bertanya pada anak-anak Fisika.

Sempat sih, terlintas dibenakku, ‘Ah, yang aku pelajari sekarang apalah bagi anak Fisika. Aku mah apa dibandingkan mereka.’ Cuma, aku buru-buru menghapus pikiran itu. Hush! Salsa nggak boleh kayak gitu! Kalau aku belajar ya buatku sendiri, nggak perlu membandingkan dengan orang lain. Intinya…

Belajar memang bertahap. Nggak perlu malu jikalau harus merangkak benar-benar dari bawah.

Right? Dan … Alhamdulillah, aku sempat meraih nilai tertinggi ketiga atau keempat gitu (aku lupa tepatnya) saat simulai pada bagian Teori Fisika. Aaaaaaa Subhanallah aku waktu itu seneeeeeeeng banget :’) Hihihi… lebay memang, cuma aku bangga aja. Kayak from zero to hero walaupun bukan hero juga … hehe. Apalagi itu teori loh, TEORI. U R A I A N. Aah Salsa lebay banget lah…. biarin😛 Aku jadinya makin semangat deh! Alhamdulillah. Tapi …

Aku pun sadar, nilai biologiku pernah (bahkan sering) dikalahkan oleh para anak fisika. Yah, akhirnya aku membuat kesimpulan …

Medali itu riwayat.

Ungkapan ini pertama kudengar dari seorang kakak kelasku, namanya Kak Ica. Aku mengerti sih, apa maksud ungkapan itu. Hanya saja sekarang aku jadi lebih mendalaminya. Lebih tepatnya, semua pencapaian kita di masa lalu ya … masa lalu. Kita butuh pengalaman, tentu tak bisa dipungkiri. Namun, yang menentukan bagaimana kita kedepannya, adalah saat ini. Bukan kemarin. Bukan dulu. Maka, nggak layak bagi kita untuk terlalu memuja peraih medali emas atau meremehkan peraih perunggu. Nggak juga perlu berbangga hati untuk seseorang yang telah mempelajari suatu bidang lebih lama, dan nggak perlu untuk berkecil hati bagi yang baru belajar.

Dunia seaneh itu, kawan. Berbagai kejutan terus bermunculan. Bersiap untuk mengagetkan kita akan hal-hal yang diluar perkiraan. Jadi …

Saatnya untuk percaya kepada sesuatu yang diluar pemikiran kita. Sebuah faktor X.

Lalu tiba-tiba aku sadar, kapan terakhir kali aku belajar Kimia? Hahaha (ketawa miris). Dan … DANG! Akhirnya aku pun pontang-panting mengejar kimia. Karena berdasarkan nilai latihan-latihan pun, belakangan Kimia menempati urutan paling bungsu😦

Jadi, kawan-kawanku pembaca coretan Salsa, aku betul-betul menyadari bahwa dari awal aku menginjak seleksi IJSO, aku benar-benar belum siap. Aku mendengar cerita dari beberapa teman tentang betapa ‘berdarah-darahnya’ mereka selama tenggat waktu antara OSN dan pemanggilan seleksi IJSO untuk belajar ketiga bidang tersebut, terutama yang bukan bidang basic mereka. Dan memang, hasil juga mengatakan orang-orang seperti itu lebih unggul. Aku nggak heran: hardwork never fails… right? Usaha mereka memang sepadan dengan hasil yang mereka raih. Aiih … aku makin ngefans kan sama mereka-mereka itu :3 Thanks guys! You’ve supported me a lot, although trough a kind of mmm weird way😀

Well, bisa teman-teman simpulkan mengapa kami berkacamata :3

Well, bisa teman-teman simpulkan mengapa kami berkacamata :3

Para Pendekar Tiga Bidang

Para Pendekar Tiga Bidang

Selama Training Center, kami bertemu dengan dosen-dosen hebat! Salah satu perbedaan yang menonjol dalam TC tahun ini adalah para pengajar yang didatangkan dari 3 universitas berbeda.
Wuih… keren ya? Selama di Bandung, ada ITB dan UPI. Menyusul di Depok nanti ada UI. Pada malam harinya, giliran kakak-kakak mahasiswa S1/S2/S3 (well, ada yang sudah jadi dosen sih) atau bapak-bapak dosen yang lain untuk memberi pemantapan serta pembahasan soal-soal IJSO tahun lalu. Tapi nyatanya selama di Bandung, fisika dan kimia lebih banyak melakukan …. tebak apa hayo? Cerdas cermat!

Salah satu guru kami, Dosen senior ITB: Bu Lubna Bardja. Cara mengajar beliau berkesan sekali :)

Salah satu guru kami, Dosen senior ITB: Bu Lubna Baradja. Cara mengajar beliau berkesan sekali🙂

Salah satu kakak tutor Biologi, Kak Ipit :)

Salah satu kakak tutor Biologi dari ITB, Kak Ipit🙂

Salah satu kakak tutor Kimia, Kak Untung :)

Salah satu kakak tutor Kimia, dari ITB, Kak Untung🙂

Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Lalu setiap kelompok diberi pertanyaan giliran dan ada pula bagian rebutannya. Jujur sih aku rada mangkel saat itu. Aku mengerti kemampuan diriku pada Fisika dan Kimia: belum mantap sama sekali! Eh, malah dihadapkan pada permasalahan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Belum lagi beberapa ‘drama’ yang mengiringi pembagian kelompok dan penjurian jawaban. Aku lelah, aku capek … ((lebay)). Ujung-ujungnya kan, aku menjadi anggota kelompok yang rada useless, bergantung kepada anggota lain yang lebih jago Fisika atau Kimia. Bukannya aku 100% nggak bisa, sih. Tapi tekanannya saat cerdas cermat itu loh, it’s just too much for me😦 Disisi lain, aku juga nggak berani buat berkata ‘tidak’ pada cerdas cermat semacam itu. Melihat teman-temanku terutama saat pelajaran Fisika, mungkin udah pada terlalu ‘dewa’ sehingga nggak ngerti lagi mau belajar apa, benar-benar antusias akan cerdas cermat. Aku cuma bisa menghela nafas. ‘Ya tau kok, yang pinter…’ pikirku. Ketika diberi kesempatan untuk memberi masukan tentang TC selama di Bandung, aku mengutarakan semua keluh kesah ini.

Tapi yang paling menyenangkan sekaligus bikin stress itu tugas-tugas dari Biologi. Dosen-dosen Biologi sering ngasih tugas ke kita, mulai dari bikin artikel sampai laporan praktikum. Nggak tanggung-tanggung, kami mengerjakan laporan selayaknya mahasiswa. Pakai aturan selayaknya laporan asli pula. Jadilah kami mulai merambah jurnal-jurnal yang ‘beneran’. Belum lagi tugas presentasi, atau soal berjumlah 50+ yang esainya panjang banget… nggak ngerti lagi. Beberapa dari kami (termasuk aku) sampai hanya tidur 3 jam demi mengerjakan semua tugas itu. Ada juga game Eat Bulaga… tapi pertanyaannya klasifikasi hewan ._.

Team Biology Est Bulaga: Aria, Salsa, Olym

Team Biology Eat Bulaga: Aria, Salsa, Olym

"Apa lagi coba, Lym, yang belum kita sebutin??"

“Apa lagi coba, Lym, yang belum kita sebutin??”

Presentasi Biologi: Team Jo-Thoriq-Gian. Familiar? Hehe.

Presentasi Biologi: Team Jo-Thoriq-Gian. Familiar? Hehe.

Presentasi Biologi: Team Eli-Michael-Patrick. Sounds Familiar? Well, they are destined to be together :) Itu Patrick jelasin apa semangat banget :D

Presentasi Biologi: Team Eli-Michael-Patrick. Sounds Familiar? Well, they are destined to be together🙂 Itu Patrick jelasin apa semangat banget😀

CIE yang katanya anak kimia :3

CIE yang katanya anak kimia :3

Kami juga nggak ngerti, bagaimana bisa semua itu akan diujikan di IJSO. Cuma ya, setelah dipikir-pikir, kami bisa menumbuhkan ketertarikan kepada Biologi dari sana. Wawasan kami terbuka luas. Walaupun nggak akan ada ujian seperti itu di IJSO, tapi secara nggak sadar kekompakan kami semakin terpupuk antar teman. Yah, ini juga berlaku untuk segala cerdas cermat itu sih.

Overall, aku merasa beruntung sekali. Memang sih, terkadang kami juga harus sedih ketika berpisah dengan kakak tutor dan dosen yang telah menemani kami selama beberapa minggu. Namun, dosen dan kakak tutor berikutnya juga nggak kalah seru! Harapanku, semakin banyak yang mengenal kami dan berpartisipasi dalam persiapan kami, makin banyak doa yang tercurahkan untuk kesuksesan tim Indonesia🙂 ((kalau berangkat)). Aamiin …

Memang banyak sekali tumpah darahnya🙂. Tapi… disitulah letak keasyikan rangkaian Training Center ini. Bagaimanapun, ketegangan akan ketidakpastian berapa orang yang berangkat masih menghantui …

BERSAMBUNG

One thought on “Theory: Multitalents Required! ( IJSO: Part 5 )

  1. Reblogged this on chocolatika and commented:
    Keren banget ini si adik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s