Experiment: Team Work, Egos, and Everything Else ( IJSO: Part 4 )

Assalamu’alaikum.

Dulu sekali, aku mengira bahwa IJSO nggak bakal jauh beda dengan kompetisi sains pada umumnya. Namun ternyata … aku salah besar!

Tengoklah kompetisi internasional lain yang juga berawal dari Olimpiade Sains Nasional untuk menyeleksi siswa yang akan menjadi wakil Indonesia. Semua adalah olimpiade yang memperlombakan bidang yang cocok dengan bidang siswa di OSN; International Biology Olympiad, International Chemistry Olympiad, International Physics Olympiad, dan banyak lagi. Sedangkan Internasional Junior Science Olympiad, memperlombakan bidang sains, yaitu meliputi Fisika, Biologi dan Kimia. Sampai tahun 2014, peserta IJSO diseleksi dari pemenang bidang Fisika dan Biologi. Artinya, para siswa yang terpilih harus mempelajari bidang-bidang yang asing untuknya.

Bukan itu saja. IJSO juga melibatkan tes eksperimen. Uniknya, tes eksperimen IJSO dilakukan berkelompok! Tepatnya, satu tim berisi tiga peserta dari negara yang sama. Awalnya, aku berpikir. Memang apa bedanya mengerjakan eksperimen sendiri dan berkelompok? Rasanya kok, nggak banyak pengaruh. Eittss… rupanya, pemikiranku itu akan segera berubah!

Kami adalah 12 anak yang berasal dari berbagai daerah di seluruh penjuru Indonesia. Saat Training Center IJSO dimulai, ada diantara kami yang sudah saling kenal. Baik mengenal secara personal atau lewat sosial media. Banyak juga yang baru benar-benar berkenalan saat TC. Kalau aku memikirkan hari-hari awal kami di Training Center Tahap 2, aku jadi tertawa sendiri. Aku hanya merasa, betapa saat itu kami sangat kekanak-kanakan.

Kurang lebih, aku bisa membayangkan alasannya, sih. Nggak semua orang memiliki karakter yang cocok satu sama lain. Nggak semua orang cepat bergaul dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Singkatnya, kami belum saling mengenal, kami masih terlalu egois, kami masih terlalu banyak menuntut dari orang lain. Yah, bagaimanapun, anak olimpiade juga manusia. Punya rasa, punya hati (a6 mau nyanyi dulu). Ada beberapa hal yang menimbulkan ‘percikan-percikan’ diantara kami.

Lalu, apa hubungannya semua itu dengan eksperimen? Nah, karena eksperimen di IJSO dilaksanakan bertim, sejak di TC kami telah berlatih melaksanakan eksperimen secara berkelompok. Setiap akhir minggu, kami memiliki jadwal berlatih eksperimen di ITB untuk 3 minggu pertama dan di UPI untuk 4 minggu selanjutnya. Waah … aku pastinya seneng banget, diusiaku sekarang aku sudah bisa menjalankan dan merasakan eksperimen yang biasa dilakukan mahasiswa.

Eksperimen pertama adalah eksperimen kimia. Saat itu, entah kenapa, kami dibebaskan untuk memilih kelompok sendiri. Namun dieksperimen-eksperimen selanjutnya, kelompok kami telah ditentukan. Akhirnya, penentuan kelompok ini juga yang menciptakan banyak cerita. Setiap Jumat malam, kami mendesak Kak Nadia untuk membacakan pengaturan timnya. Kata Kak Nadia, salah satu kakak pendamping yang menemani kami selama di Bandung, pembagian kelompok ini untuk melihat kecocokan kami dan kinerja kami dengan berbagai teman. Nanti, akan ditentukan tim yang diharapkan benar-benar pas untuk kami: yaitu tim untuk eksperimen di Argentina sana. Wah, tentu saja hal itu membuat galau. Karena …

Setelah sekali dua kali eksperimen berkelompok, aku baru mengerti. Eksperimen berkelompok itu berlipat lebih susah dari eksperimen sendiri. Baiklah, eksperimen sendiri juga bisa berantakan kalau kita nggak punya self-control dan skill yang baik. Tapi… hei, setidaknya ketika eksperimen sendiri, hanya diri kita yang mempertimbangkan semua. Nggak ada orang lain yang campur tangan dalam penentuan keputusan selama kita bekerja. Tangan kita sendiri yang menyelesaikan semua prosedur eksperimen. Nggak ada penyerahan tugas ke orang lain, nggak akan timbul rasa kurang percaya atau kecewa jika prosedurnya tidak berjalanan dengan baik. Kalaupun eksperimen itu gagal, yang patut disalahkan, jelas: diri kita sendiri. Sedangkan eksperimen bertim? Segala permasalahan di atas jadi jauuuuuh lebih rumit.

Selama pengacakan kelompok itu, aku merasakan eksperimen bertim yang nano-nano. Asam garam. Bitter sweet. Ada saat-saat dimana aku merasa, aku kurang terlibat dalam pengerjaan eksperimen. Dua anggota lain sedikit ‘memonopoli’. Ada juga ketika aku bersyukur bisa bekerja dengan orang-orang yang tenang namun berkemampuan, sehingga kami bisa bekerja sambil ber-hahahihi dengan hasil yang cukup memuaskan. Pernah juga aku merasa tertekan sekali, mendapat begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu yang sempit, sedangkan kerjasama dan pembagian kerja diantara anggota tim kurang baik. Pernah pula aku masuk ke dalam tim dengan anggota yang mumpuni secara akademis, sehingga aku sangat terbantu karena bidang eksperimen saat itu bukanlah keahlianku. Atau saat kami dihadapkan pada hasil pembacaan alat yang nonsense; mau digimanakan lagi?

Aku juga mendengar cerita dari teman lain tentang kelompok mereka. Ceritanya pun beragam. Ada yang tingkat ketidakcocokannya sudah seperti bumi dan langit (lebay sih), selalu berbeda pendapat tapi juga gagal untuk menemukan jalan tengahnya. Ada yang merasa kecewa dengan anggota tim yang lain, karena kurang inisiatif dan terkesan mengabaikan. Ada yang kegirangan dengan timnya, merasa disatukan dengan orang-orang yang nggak hanya cocok saat bekerja di lab tapi juga sehari-hari. Wah, pokoknya macem-macem, deh.

Tunggu… mungkin, pembaca jadi penasaran, sepertinya masalah-masalah itu kelihatan kompleks sekali. Memang tim itu mau mengerjakan apa? Proyek pembangunan gedung pencakar langit? Mengorganisir perayaan Dirgahayu RI di Istana Negara? Duh, bukan pekerjaan sebesar itu. Tapi, ya. Kerjasama di tim memang benar-benar dibutuhkan. Selama eksperimen, hal-hal diluar dugaan benar-benar bisa terjadi. Bahkan hal yang sudah terduga dan biasa aja bisa jadi luar biasa dengan kombinasi orang tertentu dalam suatu tim. Bayangkan, kalian adalah manusia-manusia ambisius berego tinggi, diberi waktu yang terbatas untuk menyelesaikan eksperimen dengan orang-orang yang berbeda sifat. BOOM! Mungkin kalian bisa bayangkan semacam reality show di TV, walaupun nggak segitunya juga sih. Oh ya, satu hal lagi yang sangaaat berpengaruh: Saat di Bandung, kami belum mendapat kepastian berangkat ke Argentina. Bayang-bayang ‘dipulangkan’ masih berkelebat di kepala, membuat kami belum bisa melihat teman sebagai teman, masih sebagai saingan. Tuh, makin mantap kan tekanannya.

Namun, dari pengalaman-pengalaman itu, aku benar-benar belajar banyak. Aku bersyukur, selama ini aku selalu melihat setiap orang dari sisi positifnya. Selama pengacakan kelompok, aku nggak pernah mengutarakan rasa sesalku disatukan dengan si A atau si B, nggak juga begitu kegirangan kalau bareng si C atau si D. Aku merasa, saat-saat itu aku perlu belajar sebanyak mungkin dari orang lain. Aku merasa ilmuku jauuuuuh dibawah mereka semua. Bukan, aku tidak lantas jadi rendah diri. Malahan dengan begitu, aku siap mengamati teman-temanku, memperhatikan cara mereka melakukan ini itu, bertanya tentang banyak hal, ditegur saat melakukan kesalahan. Aah, aku senang, sungguh. Aku nggak keberatan menjadi -istilahnya sih- ‘babu’ dalam tim. Disuruh ini itu yang kebanyakan berhubungan dengan mengambilkan, menuang, atau mencuci sesuatu tanpa begitu banyak memikirkan teori. Namun, selama itu juga aku perlahan mengerti pola pikir, analisa dan kelebihan serta kekurangan teman-temanku. Akhirnya, aku sampai pada suatu kesimpulan bahwa …

Kadang, ada baiknya kita menurunkan ego. Jadilah seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Dengan begitu, pikiran kita akan netral, siap menerima banyak ilmu dari orang lain. Intinya, seseorang yang terlihat tidak tahu apa-apa, bisa jadi jauuuh lebih tahu banyak karena kebersahajaannya.

a6 banged kan (pakai 6 dan pakai d) (maaf lagi suka ngalay).

Berikut koleksi foto eksperimen-eksperimen yang kami lakukan.

KIMIA 

Dean-Andrew-Salsa. Tim pertama dan tim terakhir ;)

Dean-Andrew-Salsa. Tim pertama dan tim terakhir😉

Eli-Patrick-Michael. Tim pertama dan terakhir juga ;)

Eli-Patrick-Michael. Tim pertama dan terakhir juga😉

Aria-Jo-Thoriq. *ngeliatin buret* "Itu berapa mili sih?"

Aria-Jo-Thoriq. *ngeliatin buret* “Itu berapa mili sih?”

Gian-Thoriq-Dean-Patrick. Destilasi!

Jo-Thoriq-Dean-Patrick. Distilasi!

Hayo... Patrick mau meracik apa ._.

Hayo… Patrick mau meracik apa ._.

"Yang paling cocok yang mana, sih?"

“Yang paling cocok yang mana, sih?”

Salsa-Jo-Andrew-Olym. Mendengarkan penjelasan dari Pak Ali.

Salsa-Jo-Andrew-Olym. Mendengarkan penjelasan dari Pak Ali.

 

FISIKA

Michael-Aria-Muti.

Michael-Aria-Muti.

Muti-Dean-Jo

Muti-Dean-Jo

Gian-Michael-Thoriq. Gian mah nggak pake kalkulator ._.

Gian-Michael-Thoriq. Gian mah nggak pake kalkulator ._.

Eli-Andrew-Aria. Entah kenapa aku suka banget sama foto ini ... hehe

Eli-Andrew-Aria. Entah kenapa aku suka banget sama foto ini … hehe

"El, ini berapa mili, sih?"

“El, ini berapa mili, sih?”

 

BIOLOGI

"Ini daun kan, ya?"

“Ini daun kan, ya?”

Muti's favorite :)

Muti’s favorite🙂

Tabung

Fermentasi glukosa

Cepatlah naik, pewarna...

Cepatlah naik, pewarna…

Ini ikan-ikan yang kami gunakan untuk eksperimen. Sayangnya, pasca dimasukkan ke dalam air yang telah ditambahkan detergen, dua dari ikan ini menemui ajalnya :(

Ini ikan-ikan yang kami gunakan untuk eksperimen. Sayangnya, pasca dimasukkan ke dalam air yang telah ditambahkan detergen, dua dari ikan ini menemui ajalnya😦

Akhirnya… momen itu datang juga! Saat-saat dimana Kak Nadia mengumumkan tim pasti kami untuk di Argentina! ((Kalau berangkat)). Beberapa hari sebelumnya, Kak Nadia meminta kami untuk menuliskan 5 orang yang kira-kira kami anggap cocok untuk bekerja sama dengan kami. Aku benar-benar berpikir keras. Setelah melalui pertimbangan panjang, aku menyelesaikan daftar itu. Begitu Kak Nadia menuliskan ke empat tim beserta anggota-anggotanya di papan tulis … berbagai reaksi bermunculan.

Reaksiku melihat timku kurang lebih; “Loh… kok. Mmm, yaaa… Oke, boleh laah.”

Jadi, sebenernya siapa bersama siapa? Ketika itu, kami dibagi menjadi 4 tim. Tim A beranggotakan Patrick, Eli dan Michael. Tim B itu Jonathan, Thoriq, Gian. Tim C adalah Aria, Mutiara, Olym. Sedangkan Tim D … ya sisanya … hehe. Yaitu Dean, Salsa dan Andrew.

Kerja sama kami kebanyakan dilaksanakan ketika sudah di Depok, karena masa-masa di Bandung cenderung sebagai percobaan dan pengacakan. Awalnya, aku sedikit kaget. Dean dan Andrew nggak masuk daftar 5 orang yang aku pikir bakal bagus bekerja sama denganku. Tapi, setelah sekian lama, aku benar-benar bersyukur. They are the ones (mm, awkward). Aku nggak ngerti lagi kalau nggak setim sama mereka gimana jadinya. Kami juga mulai melihat alasan dibalik pembentukan setiap kelompok. Tentu saja aku nggak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan orang lain. Cuma … ke empat tim itu memang paling pas :):).

Jadi … ketua timku itu Dean. Dan, dia memang bener-bener pantas buat itu. Dia pegang bagian kimia. Tapi dilihat dari background ‘double degree’-nya, Dean bisa mengontrol aku yang pegang Biologi dan Andrew yang pegang Fisika dengan baik. Dia dengan terbuka mendengarkan pertimbangan anggota kelompok yang lain, meskipun kalau diskusi suka tiba-tiba lupa apa yang mau diomongin … hehe. Sedangkan Andrew, aaahh dia sama Dean get along each other very well. Kalaupun mereka sempat berselisih, nggak bakal membawa masalah ke tim juga. Andrew sering ngingetin aku untuk kerja lebih rapi di lab, memanfaatkan tempat kerja seefektif mungkin dan meminimalisir barang pecah. Dan … yah, kelompok kami nggak pernah mecahin barang loh, selama pelatihan😀 Eh pernah sih, kaca objek waktu itu … wkwk. Di tim, aku juga merasa berguna dan belajar banyaaaaaak banget. Ada saat dimana aku ngerasa, kalau Andrew doang yang kerja sendiri bisa lebih cepet kayaknya, tapi dia berusaha melibatkan aku.

Tuh kan, itu membuktikan lagi bahwa …

His plans are always better than ours.

Rencana Allah selalu lebih indah dan lebih baik untuk kita. Kita boleh berpikir dan merencakan sampai menganalisa sepusing-pusingnya. Namun, akhirnya, pilihan dari Allah selalu paling pas :3 Alhamdulillah!

Dan… bagaimana kabar kelompok lain?
Ah, aku bahagia juga melihat mereka. Lihatlah Eli, Patrick dan seorang om-om itu selama eksperimen dan diskusi. Mereka ceria dan penuh tawa. From the very first sight, people can tell that they are meant to be together (ini ngomongin apa sih). Atau coba lihat Jo, Thoriq dan Gian. Betapa Gian serasa punya dua kakak yang ngingetin dia macem-macem, dan Gian pun bisa all out mengeluarkan ‘kesaktiannya’ untuk kebaikan kelompok … hoho. (Gian bisa regresi tanpa kalkulator, kawan! Hasilnya cuma beda sekitar 3 angka di belakang koma!). Dan juga kelompok Aria, Muti dan Olym! Muti bisa jadi semacam ‘pemanas’ buat kelompok, yang akhirnya mem-boost anggota yang lain untuk bekerja. Mereka juga terlihat lebih speak up their minds. Sesuatu yang mungkin nggak bakal terjadi kalau susunan kelompoknya nggak kayak gitu.

Salsa-Andrew-Dean

Salsa-Andrew-Dean

Thoriq-Jo-Gian

Thoriq-Jo-Gian

Olym-Aria-Muti

Olym-Aria-Muti

Patrick-Michael-Eli

Patrick-Michael-Eli

Yap, lesson learnt! Mungkin sekarang aku bisa bilang kalau aku memang cocok dengan Dean dan Andrew. Tapi, setelah kupikir-pikir, sebenernya waktu awal tim itu terbentuk, pasti banyak perbedaan. Tapi, semua berusaha menyesuaikan diri sehingga bisa secocok sekarang. Usaha untuk saling cocok itu terus berlangsung setiap harinya. Itu berlaku untuk setiap orang, jadi nggak menutup kemungkinan aku bisa bekerja sama dengan baik dengan orang lain. So…

Give it time. You may think that you aren’t getting allong with someone very well. But as the time goes by, with your effort to settle down, things will start to change.

Nggak selalu berhasil, memang. Tapi … nggak ada salahnya untuk mencoba kan?

Saat-saat eksperimen itu selalu mengasyikkan. Kami bisa menggunakan alat yang harganya jutaan bahkan puluhan juta (tentunya dibarengi dengan peringatan tanpa henti dari laboratorian yang mengawasi), mengerjakan eksperimen setara mahasiswa tingkat 1 bahkan lebih, dan belajar dibawah bimbingan dosen-dosen senior. Ah yaa … satu lagi! Kami mulai membuka mata melihat dunia perkuliahan. Melihat dari dekat keadaan universitas-universitas terkemuka; ITB, UPI dan UI. Alhamdulillah :”)

Di depan gerbang ITB

Di depan gerbang ITB

image

Di depan Gedung JICA FPMIPA UPI

Aku belajar banyak (dan entah ini ke berapa kali aku mengulangi kata-kata itu)…. aaahh pokoknya bersyukur sekali🙂 bisa berkecimpung di dalam bidang yang aku sukai; keilmuan. Bukankah itu intinya? Kita harus mencintai apa yang kita lakukan, tentu saja. Namun ketika yang kita lakukan adalah yang kita cintai … memang indah🙂

 

BERSAMBUNG

14 thoughts on “Experiment: Team Work, Egos, and Everything Else ( IJSO: Part 4 )

  1. Reblogged this on chocolatika and commented:
    Keren banget ini si adek

  2. vira agistasari

    Masya Allah.. Aku bangga kepada mu. Tapi Banggu ku ini tidak melebihi banggaku pada Allah, karena telah menciptakan mu..
    Makasih banget atas kisah-kisah mu yang menginspirasi saya, agar saya makin giat lagi untuk mengikuti lomba-lomba

    Semangat terus ya… Kamu harus BERKAH (BERHASIL KARENA ALLAH)

    • Alhamdulillah, memang lah segala yang kita miliki ini cuma titipan dari Allah yang bisa Ia ambil sewaktu-waktu. Kita saling mengingatkan dalam kebaikan ya, untuk terus bersyukur atas segala nikmat Allah yang tak terhitung.

      Barakallah🙂

  3. vira agistasari

    Kamu mau lanjut sekolah kemana??

  4. vira agistasari

    oh iya..
    cara belajar kamu gimana ya??
    Kamu kenal mutiara kan?? Yg ikut IJSO juga..
    Aku sering lho komunikasi sama dia.. Hehehe

    • Aku belajar karena aku penasaran… rasa ingin tahuku untuk berbagai hal itu besar banget. Akhirnya belajar nggak jadi beban, malah mengalir aja untuk memuaskan rasa keingintahuanku itu.

      Yap, kenal sekali. Mau satu sekolah dan satu angkatan juga🙂

  5. vira agistasari

    sama dong.. Aku juga anaknya sering kepo dengan hal yg belum aku tau..

    Iya tuh, si mutiara juga bilang begitu ke aku. Nah aku sering bgt berbagi pengalaman. kamu tanya aja ke dia, dia kenal aku apa tidak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s