Behind the Scene ( IJSO: Part 7 )

Assalamu’alaikum.

Training Center IJSO tahun ini cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, baru di tahun ini saja melibatkan tiga universitas berbeda. Kami pun menjalani TC di dua kota, Bandung dan Depok. Nah, satu lagi hal yang sangat menonjol selama TC. Kami ditemani oleh kakak-kakak pendamping berjumlah empat orang di masing-masing kota.

Lalu… apa tugas pendamping itu? Kalau anak PASIAD pasti tahu. Mereka semacam belletmen, abla dan abi bagi kami. Mereka mengurusi administrasi kami selama TC, berperan sebagai teman curhat juga, atau alarm yang berisik mengingatkan dan menyuruh kami ini itu demi kebaikan kami sendiri. Di setiap kota, ada seorang kakak yang berbasic bimbingan konseling atau psikologi untuk … well, memantau sisi psikologis kami? Kakak-kakak ini sudah serasa kakak kandung kami sendiri.

KAKAK-KAKAK BANDUNG

Di Bandung, kami telah mengenal tiga kakak saat TC 1: Kak Nadia, Kak Lulu dan Kak Syifa. Di TC 2, kami kedatangan satu kakak lagi, namanya Kak Adit. Kakak-kakak di Bandung benar-benar merasakan, kami yang masih jaim dan malu-malu di awal TC, lama-lama mulai terlihat sifat aslinya. Rusuh, ribut, dan kacau. Kadang-kadang aku membayangkan, jadi mereka harus ekstra sabaaaaar hehe. Apalagi awal dulu, ketika suasana di antara kedua belas anak itu belum begitu kekeluargaan. Mereka memiliki peran besar untuk mulai ‘menyatukan’ kami.

Continue Reading

Advertisements

Pilar-pilar Kemenangan ( IJSO: Part 6 )

Assalamu’alaikum.

Hari-hari terakhir di Bandung, bisa dibilang, aku habiskan dengan suasana hati yang tidak begitu bahagia. Kadang-kadang kepala terasa cenat-cenut, tampaknya rasa lelah bekas begadang mengerjakan tugas Biologi itu masih sering muncul. Fisika masih menjadi musuh terbesarku, padahal waktu menuju IJSO tinggal sebulan lagi ((kalau berangkat)). Aku masih dibayang-bayangi rasa ketakutan … apakah yang berangkat hanya enam orang? Ujung-ujungnya, aku melakukan pertahanan diri seperti biasa: membiasakan untuk kemungkinan terburuk, sehingga kalau hal buruk itu terwujud, hati ini nggak bisa lebih sakit lagi. ((Duh, galau maksimal memang yaa)). Tapi sungguh, waktu itu aku jadi pesimis tingkat akut. Sarkasme ‘kalau berangkat’ selalu mengakhiri setiap kata-kataku yang berhubungan dengan Argentina. Misalkan, “Nanti disana oleh-oleh yang bagus tapi murah apa, ya? Harus beliin buat temen-temen sekelas nih.” Diselingi hening sesaat, kemudian. “… Kalau berangkat.” gumamku pasrah. Belum lagi perkara pembentukan tim untuk eksperimen. Ah … rasanya pikiranku kacau balau.

Akhirnya, kami semua meninggalkan Bandung. Cukup sedih, mengingat kami telah 2 bulan berada di Hotel Sukajadi, mengenal hotel itu layaknya rumah kedua kami, bahkan sepertinya pegawai hotel sudah sangat familiar dengan sekumpulan anak kecil yang selalu membuat keributan dimana pun mereka berada. Pernah pula menjadi sumber komplain pengunjung lain saking ributnya kami :D. Setelah berkemas dan memastikan tidak ada yang tertinggal, kami naik ke bus untuk perjalanan ke Depok.

Hotel kami di Depok namanya Hotel Bumi Wiyata. Hotel ini terletak di pinggir jalan paling sibuk di Depok, Jalan Margonda. Kesan pertama saat kami tiba disana: panas. Sudah bisa diduga, aku, Muti dan Eli menempati satu kamar bersama lagi. Ya iya sih… nggak ada pilihan lain juga. Aku menengadah ke langit lewat jendela kamar. Ah … langit biru Bandung, berubah menjadi langit putih ke abu-abuan; Depok. Kota yang menurutku sedikit tidak berbatas dengan Jakarta.

Continue Reading

Theory: Multitalents Required! ( IJSO: Part 5 )

Assalamu’alaikum.

Medali yang diperebutkan dalam kompetisi IJSO ada dua; medali individu dan tim. Medali individu berupa emas, perak, dan perunggu yang diberikan kepada (secara berurutan) 10%, 20%, dan 30% dari jumlah peserta. Nilai yang digunakan untuk pembagian medali individu ini diambil dari nilai Multiple Choice Question 30%, Theoritical Test 30%, dan Experimental Test 40%. Khusus tes eksperimen, setiap tim yang beranggotakan tiga peserta dari negara yang sama akan mendapat nilai yang sama sesuai nilai eksperimen mereka. Sehingga nantinya, dari nilai eksperimen ini akan ditentukan 3 tim dengan nilai terbaik. Ketiganya akan mendapatkan medali emas, perak dan perunggu sesuai urutan nilai. Penghargaan The Best in Theory juga akan diberikan kepada 3 peserta yang total nilai MCQ + Theoritical Test-nya paling tinggi. Berupa medali emas, perak dan perunggu sesuai urutan nilai.

Nah, seperti yang sudah aku singgung di post sebelum ini, kami terbagi menjadi dua bidang saat OSN: Biologi dan Fisika. Saat TC Tahap 1, peraih medali emas dan perak kedua bidang itu berkumpul untuk memperebutkan tempat 12 besar. Hasilnya pun telah keluar, kedua belas besar yang terpilih melanjutkan ke Tahap 2. Kenyataannya adalah, dari dua belas besar itu, yang basicnya biologi hanya tiga orang: aku, Muti, dan Dean. Dean pun bisa dianggap tidak murni (?) karena keikutsertaannya di OSN Fisika tahun sebelumnya.

Wah, kalau begitu, anak Fisika mendominasi dong, ya? Memang! Terkadang, inilah yang sering menjadi masalah untuk kami anak biologi. Sudah bukan rahasia, sepanjang sejarah IJSO pun, tim Indonesia didominasi oleh anak Fisika. Peraih medali emas pun kebanyakan anak Fisika. Seseorang yang kala itu pernah mematahkan anggapan itu adalah Kak Rahmat Waluyo, peraih medali emas OSN Biologi 2012 dan emas IJSO pada tahun yang sama. Keren ya 🙂

Continue Reading

Experiment: Team Work, Egos, and Everything Else ( IJSO: Part 4 )

Assalamu’alaikum.

Dulu sekali, aku mengira bahwa IJSO nggak bakal jauh beda dengan kompetisi sains pada umumnya. Namun ternyata … aku salah besar!

Tengoklah kompetisi internasional lain yang juga berawal dari Olimpiade Sains Nasional untuk menyeleksi siswa yang akan menjadi wakil Indonesia. Semua adalah olimpiade yang memperlombakan bidang yang cocok dengan bidang siswa di OSN; International Biology Olympiad, International Chemistry Olympiad, International Physics Olympiad, dan banyak lagi. Sedangkan Internasional Junior Science Olympiad, memperlombakan bidang sains, yaitu meliputi Fisika, Biologi dan Kimia. Sampai tahun 2014, peserta IJSO diseleksi dari pemenang bidang Fisika dan Biologi. Artinya, para siswa yang terpilih harus mempelajari bidang-bidang yang asing untuknya.

Bukan itu saja. IJSO juga melibatkan tes eksperimen. Uniknya, tes eksperimen IJSO dilakukan berkelompok! Tepatnya, satu tim berisi tiga peserta dari negara yang sama. Awalnya, aku berpikir. Memang apa bedanya mengerjakan eksperimen sendiri dan berkelompok? Rasanya kok, nggak banyak pengaruh. Eittss… rupanya, pemikiranku itu akan segera berubah!

Continue Reading

Mereka, Para Jenius ( IJSO 2014 : Part 3 )

Assalamu’alaikum.

Pembaca yang budiman, (ehem, agak resmi dikit) sebelumnya aku mengucapkan terimakasih atas apresiasi yang pembaca sampaikan untuk tulisan-tulisan di blog ini. Aku benar-benar semangat karena itu. Jadi, sekali lagi… Jazakumullah khairan katsir 😌.

Aku selalu bersyukur, atas nikmat yang telah Allah berikan. Mulai dari hal-hal yang memang aku senangi, sampai hal-hal yang menurutku awalnya buruk, ternyata dibalik itu semua tersimpan hikmah yang sangat berharga. Mengikuti Training Center 2 pun sebuah nikmat yang luar biasa untukku. Disini, aku bertemu sebelas pelajar jenius, sembilan pendamping yang bagaikan kakak sendiri, guru-guru yang sabar dan kaya ilmu, serta kakak tutor yang gaul nan ahli.

Perjalanan masih sangaaaat panjang. Untuk itu, ada baiknya kita mengintip para pemain di kisah ini. Berikut profil singkat serta impersonate mereka-mereka 😄😄 (Apa tuh imprersonate? Bisa dilihat disini).

Continue Reading

Belum Pasti, Namun … Berjuang Saja! ( IJSO: Part 2 )

Assalamu’alaikum.

Mari kita sedikit menoleh ke belakang. Kembali ke bulan September akhir, ketika Training Center IJSO 2014 Tahap 1 baru saja berakhir. Kala itu, kepala sekolahku menjemput langsung ke Bandung. Kami telah memesan dua tiket untuk kepulangan ke Semarang. Ternyata, tanpa membuat janji sebelumnya, nggak sengaja aku pun satu pesawat dengan tiga orang temanku dari Semarang; Eli, David, dan Jo. Mereka dijemput orang tua dan seorang guru privat Jo turut menemani.

Aku tertawa dalam hati. Rasanya… kok pas banget. Baru saja aku curhat ke Umi, betapa aku sudah merasa nyaman dengan teman-temanku selama TC kemarin, terutama teman sesama Jateng yang sering duduk berdekatan denganku. Sedih untuk berpisah dengan mereka, terlebih lagi tak ada jaminan kami bisa berkumpul kembali saat TC 2 nanti. Lumayan lah, menghabiskan waktu lebih bersama mereka di bandara saat menunggu pesawat.

…… Dan memang, nyatanya, kami menghabiskan banyak waktu bersama. Terlalu banyak malah, karena ternyata pesawat yang seharusnya membawa kami ke Semarang pada pukul enam sore di delay. Entah berapa lama kami harus menunggu. Sampai akhirnya, terbit kabar bahwa kami benar-benar tidak bisa berangkat dihari itu. Ya Allah ._. Kami pun menuju sebuah hotel yang telah disiapkan maskapai penerbangan. Esok paginya, kami akan menaiki pesawat dari maskapai yang sama pukul enam pagi. Aku masih saja tergelitik ketika mengingat-ngingat kejadian itu. Lewat grup di whatsapp, teman-teman yang lain menyampaikan rasa prihatinnya akan nasib yang menimpa anak Jateng 😦 .

Continue Reading

Kembali Pulang ( IJSO: Part 1 )

Assalamu’alaikum 🙂

Hari ini, tanggal 14 Desember 2014 di pagi buta, aku masih duduk dihadapan laptopku. Seberapa keras pun aku mencoba, mataku tetap tak bisa terpejam. Fiuh, tentu saja. Jet lag. Jam biologisku masih belum sesuai untuk jam di Indonesia, dimana aku telah terbiasa di Argentina untuk dua minggu belakangan. Disana, pagi buta di Indonesia adalah siang hari.

Tunggu.

…. Salsa habis dari Argentina? Ngapain coba?

Sewaktu aku masih duduk di bangku kelas 8, mendengar kabar seorang kakak kelasku mengikuti perlombaan internasional di India membuatku terkagum-kagum. Kak Tika, saat itu, meninggalkan sekolah selama kurang lebih tiga bulan. Aku membantin, what a hard work, yet much pride to be Indonesian delegation in international events! Ketika aku menjelajahi google, aku menemukan berita-berita terdahulu yang memuat tentang punggawa-punggawa Indonesia yang bekerja keras untuk mengibarkan merah putih dalam kompetisi sains internasional. Mereka, yang telah melewati bertahap-tahap seleksi, terpilih menjadi perwakilan Indonesia di panggung dunia. Dahulu, menjadi seperti mereka serupa angan saja. Namun kini, aku percaya bahwa batasan antara mimpi dan kenyataan hanyalah sebatas doa dan usaha serta ridho Allah Yang Maha Kuasa.

Continue Reading