Real Life Malory Towers

Assalamu’alaikum!

Nggak terasa, Ramadhan tinggal hitungan satu tangan kurang, dan selama itu pula aku belum menuliskan apapun disini😦 Bagaimana jalannya Ramadhan kali ini? Semoga ibadah yang baik bakal diteruskan sampai kapan pun juga yaa🙂

Penghujung Ramadhan berarti … libur! Yap, nggak asing lagi dong, dengan libur lebaran bagi orang Indonesia. Saat dimana akhirnya kita bisa berkumpul dengan keluarga besar dan menjalin erat tali silaturrahmi. Di liburan kali ini, aku sempat menemukan lagi sesuatu yang dulu sempat sangat kugemari. Kalau nggak salah, waktu itu aku sedang iseng cari-cari website yang menyediakan banyak ebook gratis. Ketemulah beberapa, dan aku mencoba untuk mencari ebook sebuah serial lawas, Malory Towers karangan Enid Blyton. Ada!

Enam serial Malory Towers karangan Enyd Blyton

Enam serial Malory Towers karangan Enid Blyton

Awal perkenalanku dengan buku ini adalah ketika di rumah sepupu, aku melihat salah satu buku seri ini. Setelah coba kubaca, wah… ternyata asyik juga! Aku belum membaca lengkap keenamnya saat itu, sehingga aku sangat senang ketika bisa menemukan lanjutannya dalam bentuk ebook.

Well, siapa sih yang nggak kenal Enid Blyton? Penulis asal Inggris yang spesialis dalam bacaan anak-anak itu, mungkin paling dikenal dengan serial Lima Sekawan-nya. Pertama kali aku mendengar nama Enid Blyton adalah dari Umi. Ternyata Umi penggemar serial Lima Sekawan waktu kecil dulu. Tapi, entah ya … aku sama sekali nggak suka serial Lima Sekawan yang berkisah tentang petualangan lima orang sahabat beserta anjingnya itu. Rasanya kok … imajinasiku nggak se’gitu’nya. Pada dasarnya, aku memang lebih suka cerita yang realistis, dimana pembaca bisa mengaitkan cerita tersebut ke kehidupan sehari-harinya.

Enid Blyton, 1897-1968

Enid Blyton, 1897-1968

 

And I simply found it in Malory Towers series! Buku lawas? Jelas banget. Buku pertamanya saja terbit tak lama setelah Indonesia merdeka, tahun 1946. Buku terakhir terbit tahun 1951. Buku ini berkisah tentang kehidupan tokoh utama, si Darrel Rivers bersama teman-temannya di sekolah berasrama Malory Towers. Kenapa aku suka banget sama serial ini?

Pertama, karena aku memang NAKSIR BERAT sama segala hal yang berbau OLD BRITISH. Setting cerita ini adalah Malory Towers yang terletak di pinggir pantai. Bangunannya seperti kastil dengan empat menara menjulang di setiap empat arah mata angin. I imagine Hogwarts directly. Dan oh … British! Aksen mereka! Gaya bicara mereka yang just sooo different from American. Aku dan teman-teman sekelas aja nggak keitung udah berapa kali nonton Pride and Prejudice. Ngulang bagian Darcy yang ngejar-ngejar Lizzie pas lagi hujan itu. It’s a simple romantic. Ngeliat cewek-ceweknya yang pake baju dengan rok bulet-bulet (?) bak Cinderella itu, yang ketika ketemu orang lain mesti pada nunduk-nuduk dikit … hoho I JUST LOVE IT! Eh! Tapi Malory Towers waktunya udah maju jauuuuuh dari setting Pride and Prejudice sih. But still. Tetep aja❤❤❤

https://i0.wp.com/economydecoded.com/wp-content/uploads/2014/01/pride-and-prejudices-movieposter.jpg

Film favorit kelas putri SMP Semesta angkatan 14😀

Kenyataannya, boarding school layaknya Malory Towers itu memang beneran ada di UK, jadi salah satu sistem pendidikan yang bertahan dari jaman duluuuuuu banget sampai sekarang. Royal Highness juga hampir semua pernah menjadi boarding schoolers selama hidup mereka. Jadi, selama aku membaca Malory Towers, aku selalu membayangkan. Paling nggak yang ada di kisah itu pernah benar-benar terjadi, somewhere in Britain.

Eton College, UK. Just imagine ... you're going to go to the same school Prince Harry ever attended. Oh, wait. It is only for boys.

Eton College, UK. Just imagine … you’re going to go to the same school that Prince Harry and many of British Prime Ministers ever attended. Oh, wait. It is only for boys.

Kedua, beberapa kisah memang pernah aku alami sendiri! Aku suka cara Enid Blyton menggambarkan semangatnya setiap anak saat berjumpa kembali dengan sekolah setelah libur panjang. Bagaimana mereka berbicara ‘on top of their voices’ dan nggak henti-hentinya berbagi cerita dan canda dengan kawan. Aku suka melihat stressnya Darrel dan kawan-kawan saat harus menghadapi ujian, apalagi menghadapi pelajaran Bahasa Perancis yang tampaknya tidak begitu mereka sukai (kelasku banget😀 tapi bukan Bahasa Perancis sih … hehe). Ada saja kelakuan mereka, paling suka menjahili guru dengan beragam trik! Aku suka bagaimana sekolah selalu punya cara untuk menertibkan muridnya yang kelewat batas, dan disaat yang sama mencoba mengembangkan potensi siswa dan mendukung mereka untuk berusaha keras dalam hal apapun. Saat Darrel dan kawan-kawan harus berjuang mempersembahkan pertunjukkan dengan kemampuan mereka sendiri. Penuh rintangan dan kerja keras, tapi hasilnya benar-benar sepadan. I feel it like … thousand times.

Yang jelas, setiap tokoh digambarkan memiliki watak yang saaaangaaaat beragam. Masing-masing akan melewati ‘low point’ dalam kehidupan berasrama mereka. Tapi, bagi yang berhasil melewatinya, mereka akan menjadi lebih baik setelah itu. Aku nggak habis pikir, betapa Enid Blyton bisa mengarang banyak sekali masalah beserta penyelesaiannya seperti itu. Darrel yang pemarah, kemudian mulai bisa mengendalikannya dan menjadi pemimpin dalam banyak hal. Mary Lou yang penakut, akhirnya berani menunjukkan dirinya sendiri dan menjadi pemain drama yang memukau. Alicia yang sangat pintar sehingga hampir tidak pernah berusaha keras untuk melakukan apapun, akhirnya menemukan sesuatu yang benar-benar membutuhkan ketekunan.

Di dunia nyata, memang nggak semua hal bakal selesai dengan akhir yang bahagia. Nggak semua orang bisa memperbaiki sikap buruk setelah masuk boarding school. Tapi, setidaknya bagiku, boarding school telah berperan banyak untuk membuatku mengerti cara survive di kehidupan ini.

Bicara tentang boarding school, terutama boarding school yang memisahkan gender seperti sekolahku, tentu banyak kelebihan dan kekurangannya.

Terkait masalah pengelolaan, tentu boarding school notabenenya memiliki murid yang lebih sedikit daripada sekolah biasa. Imbasnya, ragam kegiatan diluar jam belajar nggak se’wah’ sekolah biasa juga. Rasanya kepingin … mendengar cerita kawan-kawan di sekolah lain bisa mengadakan pentas seni dan acara lain yang mengundang banyak orang luar. Sekolahku? Letaknya yang jauh dari pusat kota juga sering menjadi masalah. Belum lagi mendengar geliat organisasi di sekolah-sekolah lain, bagaimana pemilihan Ketua OSIS menjadi ajang besar. Tampaknya kegiatan keorganisasian menjadi lebih mudah dengan banyaknya siswa yang bisa dijadikan target kegiatan ataupun menjadi anggota.

Pemisahan gender juga memuncul beragam pendapat. Dunia kerja yang akan kita hadapi tidak hanya diisi oleh satu gender saja, melainkan wanita dan pria bersama-sama. Jika saat sekolah tidak dibiasakan bekerja sama dengan lawan jenis, bagaimana setelah lulus nanti? Beberapa pendapat yang absurd mengungkapkan, dengan pemisahan gender, dikhawatirkan banyak terjadi ‘penyimpangan seksual’. Yah, simpelnya, suka sesama jenis. Ini sih kurang masuk akal menurutku. Sebenarnya sama saja, dengan lawan jenis kita harus menjaga kedekatan supaya tidak menjurus ke hubungan yang mengundang zina. Tapi… itu juga berlaku dengan sesama jenis, dong. Meski tentu saja, batasannya lebih tipis daripada dengan lawan jenis. Jika ada yang terlibat penyimpangan seksual, kembali harus berkaca ke pribadi masing-masing, bukannya menyalahkan ketiadaan lawan jenis.

Kelebihannya? Aku rasa jawaban yang pernah kuberikan di ask.fm ini telah merangkum sebagian besar.

1) Bertemu teman yang bakal lebih deket dari saudara. Soalnya kita 24 jam bareng.
2) Belajar toleransi banget, karena kita kumpul sama orang yang beda-beda sifat, asal, latar belakang, dan kebiasaan. Harus bisa saling menghargai.
3) Semangat belajar meningkat. Misalnya temen-temen pada belajar kita enggak. Pasti bakal ngerasa ‘Ih, mereka belajar kok aku enggak ya?’. Percaya deh ini dirasain sama semua temen-temenku juga.
4) Nggak tergantung sama gadget. Karena kebanyakan boarding school membatasi penggunaannya. Sekolahku? Hape aja nggak berkamera :))) Ambil laptop harus dengan ijin pembinaa :)))
5) Belajar buat lebih menghargai setiap waktu sama keluarga, karena waktu kita bareng mereka nggak sebanyak dulu lagi.
6) Belajar buat jaga aib saudara sendiri. Ya karena 24 jam bareng itu maka baik buruknya temen keliatan semua. Karena kita keluarga maka harus saling menjaga :’)
7) Selalu ada seseorang buat tempat curhat, cerita, gila-gilaan, nangis bareng, galau bareng, nonton film bareng, belajar, sholat, ngaji, diskusi, dan lain lain dan lain lain.
8) Dapet tutor sebaya yang jago di mata pelajaran tertentu. Atau malah semua! Kakak kelas atau adik kelas juga bisa! Pokoknya orang-orang seperti itu bakal sibuk banget pas mau ujian, dikelilingi orang-orang yang minta diajarin … hehe.
9) Guru jadi kayak temen. Tempat curhat dan main dan berkeluh kesah.
10) Punya keluarga baru dari berbagai daerah. Kalo aku sih pas libur sekalian main main ke rumah temen. Jadi bisa mengenal keluarga mereka, deh! Akhirnya mempererat tali silaturahmi.
11) Bisa packing! Intinya, lebih mandiri. Kalau ini sih mungkin awalnya agak terpaksa, tapi siapa lagi yang mau ngurusin kita ketika semua orang sudah sibuk dengan urusan masing-masing? Pembina asrama pun punya banyak tanggung jawab, nggak bisa ngejagain kita aja.

Menurut aku, boarding school punya siswa yang lebih beragam, sekaligus seragam. Loh? Bingung yaa.. hehe😀 Maksudku, karena boarding school, maka sering siswanya berasal dari beragam daerah. Wawasan pun jadi bertambah luas karena mengenal orang dari keadaan yang sangat berbeda dengan kita. Seragam? Ya karena … coba bayangkan di sekolah biasa. Ketika kita nggak suka sama seseorang, mungkin kita bisa berpikir ‘Ah, bentar lagi juga lulus. Bodo amat.’ Pulang sekolah juga dia sudah terlupakan. Sedang di boarding school, si teman itu akan terus ada di dekat kita. Mau sejauh apapun kita menghindar, you’ll end up STILL at the same building with her/him. Mau nggak mau, everybody has to try to be perfectly fit in. Semua harus mencoba buat menjadi cocok dengan satu sama lain. Well, ini berdampak baik, ketika seseorang menjadi lebih baik agar bisa diterima di komunitas yang baik. Buruknya, ketika seseorang berkelakuan lebih buruk gara-gara ingin diterima di komunitas yang memang kurang baik.

Akhirnya, semua memang kembali ke diri kita sendiri. Masalah pisah gender pun, sebenarnya … bukan masalah sih. Banyak orang sukses yang selama remaja bersekolah tanpa ada lawan jenis di sekitar. Yes, I know, ketika kita bergaul dengan lawan jenis pun, nggak semuanya berujung jadi some sort of ‘relationship’. Tapi … coba berpikir begini, pengurus boarding school mengemban kepercayaan dari orang tua siswa untuk mendidik anak mereka 24/7. It’s such a huge responsibility! Bagaimanapun, lebih mudah mencegah daripada mengobati. Paham ya? Paham ya paham kan? Kan? KAN?😀

Aku percaya, suka atau tidaknya kita pada sesuatu, adalah hasil mindset awal kita pada sesuatu hal itu. Yuk, bayangkan sekolah berasrama kita adalah tempat kita mengukir pertemanan yang nggak akan berakhir! Bayangkan itu adalah tempat kita menuntut ilmu dari guru-guru yang SUPERB! Lagian … siapa sih yang nggak suka sama Asrama Putri barunya Semesta Bilingual Boarding School? :’)

https://scontent-a-sin.xx.fbcdn.net/hphotos-xaf1/t1.0-9/10553567_792819940762822_2403635530138649501_n.jpg

Credit: Kak Astrid Dea

Intinya, aku bersyukur atas kesempatan yang telah Allah beri kepadaku selama ini. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. By the way … diawal tadi, aku menyebutkan ketertarikanku sama Britain, British and those kind of stuff, right? Well, salah satu yang membuatku begitu excited adalah… International Biology Olympiad 2017 akan diadakan di Warwick, United Kingdom! Wooohoooooo~ Hehe what a dream ya. But …

No dream is too big

isn’t it?

 

Hehe, tampaknya tulisan ini lama kelamaan jadi semakin random. Sudah dulu ya. Thank you for reading and happy (some of very last) fasting😉

 

Wassalamu’alaikum🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s