Olimpiade Sains Nasional SMP 2014 (Part 13: Kembali ke Garis Start)

Saat wisata ke Bukittinggi, aku sengaja membeli sebuah buku tulis kosong. Kemudian, teman-temanku kuminta untuk mengisi buku itu dengan biodata, kesan dan pesan mereka untukku. Semua anak Bio Jateng mengisinya, aku pun meminta Kayla dan Nisa untuk turut mengisi. Sekarang, buku itu masih tersimpan rapi. Aku senang membacanya ulang dan memperhatikan tulisan tangan kalian satu persatu … #imcreepy

Hari Rabu tanggal 21 Mei 2014. Pagi hari itu, (lagi-lagi) kami sekamar telat bangun. Kami terbangun saat adzan Subuh berkumandang. Berhubung adzan subuh disini jam lima dan aku serta Nisa harus bersiap siap berangkat ke Bandara pukul enam, jadilah kami serba, istilah orang Jawa sih, gedandapan. Aku memastikan sudah tidak ada barang yang tertinggal. Aku mengucapkan salam perpisahan kepada kedua teman sekamarku, sekaligus meminta maaf jika ada salah selama ini. Kami bersalaman dan saling berjanji untuk tidak melupakan satu sama lain. I’ll miss you, guys❤

Perjalanan menuju bandara kali itu terasa cepaaaat sekali. Aku dan Rahma ngambek karena kami kira perjalanannya selama kemarin sewaktu kami datang. Padahal kami ingin menghabiskan waktu berlama-lama di perjalanan. Ya sudahlah. Ternyata, pesawat kami jam sebelas, dan bahkan kami sudah tiba di bandara jam setengah delapan! Masya Allah … panitia ini ya. Ternyata kami satu pesawat (lagi) dengan kontingen DKI Jakarta, dan mereka baru tiba di bandara pukul sembilan lebih! Tapi nggak apa-apa sih. Justru dengan begitu, aku dan Rahma bisa menyempatkan diri sholat Dhuha di musholla bandara. Wah, itu salah satu sholat paling nyaman yang pernah kulaksanakan. Musholla itu bersih, dingin, sepi, hanya ada kami berdua. Pokoknya pewe😀

Ada kejadian lucu saat aku akan memasuki boarding room. Sebelum mencapai ke dalam, tentu kami harus melewati pemeriksaan yang mengandung metal detector itu. Saat akan berangkat OSN, panitia berulang kali mengingatkan, jangan meletakkan GUNTING atau barang logam apapun di tas yang akan dibawa ke kabin pesawat. Ketika itu, aku mengingatnya. Aku juga pernah mengalami pengalaman pahit. Sewaktu di Bandara Djuanda, guntingku, gunting temanku dan gunting kakak kelasku tersita secara berurutan gara-gara kami yang waktu itu akan terbang ke Semarang menuju sekolah sama-sama kelupaan menaruhnya di tas. Ckck. Anyway, saat pulang, aku benar-benar lupa. Setelah melewati metal detector, aku baru teringat: Guntingku ada di kontak pensil di dalam tas!

“Astaghfirullah!” aku berteriak kecil.

“Kenapa, mbak?”

“Kenapa, dek?”

“Kenapa, kak?”

Dua petugas dan Rahma menanyaiku dengan ekspresi ikut terkejut. Glek, aku menelan ludah.

“Ngg… nggak apa-apa.” Kemudian aku nyengir. Tiba-tiba …

“Ini tas siapa?” salah satu bapak petugas menunjuk tasku.

Duh.

————

Setelah kejadian itu, aku berjanji akan mengingatnya dengan baik : jangan masukkan GUNTING atau barang logam apapun ke tas yang akan dibawa ke kabin pesawat. Reminder buat teman-teman juga ya. Jangan sampai teman-teman kehilangan gunting kesayangan yang telah membantu mengerjakan berbagai macam tugas individu dan kelompok di sekolah …. #kangenguntingkesayangan

Akhirnya, pesawat kami tiba juga. Kami memasukinya dan pesawat pun mulai melayang. Aku menengok ke luar jendela. Terlihat pemandangan yang sama dengan saat aku akan menginjak tanah Minang untuk pertama kalinya. Namun, kali ini keadaannya sudah berbeda. Kemarin, aku melihat pemandangan ini dengan rasa berdebar. Sekarang, aku menikmatinya dengan tenang. Lega. Aku memejamkan mata sejenak. Flashback satu minggu di Padang berkelebat di kepalaku.

Subhanallah … negri Indonesia yang sangat luas ini, terlalu sayang untuk dilewatkan walau secenti. Impianku, semoga bisa menjelajahi khatulistiwa, lalu dari setiap tempat yang kukunjungi, aku akan kembali pulang membawa beragam cerita, yang akhirnya akan kubagi dan menuai inspirasi. Aamiin.

By the way, akhirnya perjalanan pulang ini aku bisa duduk sebelahan sama cewek, tepatnya Listia! H3H3H3

Alhamdulillah, kami sampai di Bandara Ahmad Yani dengan selamat. Kembali lah aku ke bandaraku tersayang tercinta terimut terunyuh itu. Anak OSN langsung membading-bandingkan bandara Padang dan Semarang. Seseorang berkata “Bandara provinsi kita lebih jelek banget dari punya Sumbar.” And I was like “Bandara kalian ya, Djuanda sih bagus.” Hoho😀

Rupanya, kami akan menghadiri Upacara Penyambutan Kontingen OSN SMP Jateng 2014. Memang nggak berharap sesuatu yang meriah sih, berhubung tahun ini kami gagal mempertahankan trophy Juara Umum. Nggak papa kok, meski sampai sekarang berita tentang kontingen OSN Jateng nggak ada di portal berita manapun, bahkan website Dinas Pendidikannya sendiri. Nggak papa kok, kalau tahun lalu aja pas juara umum hebohnya sampai ke koran regional Jateng. Nggak papa kok kalau sebenernya emas Jateng tahun ini lebih banyak (tahun lalu lima, sekarang 6), cuma DKI Jakarta aja yang emasnya meningkat banget jadi delapan. Nggak papa kok, kalau….. nggak papa kok …😥😥😥 *ngambil tisu

Setelah itu, kami mengucapkan hal yang selalu kutakutkan.

“Daah … sampai ketemu lagi!”

“Jangan lupain aku, ya!”

“Kelas 9 ikut lagi loh, janji!”

“Maafin semua kesalahanku ya …”

“Hati-hati di jalan, salam buat keluarga!”

“Eh, facebookku belum kamu add.”

“Cie, cie, selamat ya, semangat IJSO!”

“Kamu ada keinginan IJSO?”

“Makasih, tante, makasih om.” -> ketemu orang tua temen ceritanya.

Akhirnya … Seperti ungkapan klise itu. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Klise. Tapi nyata.

Saat itu hujan deras. Direktur asramaku menjemput dengan sebuah  taksi. Hoho aku merasa tersanjung, dijemput langsung oleh direktur asrama. Sesampainya di asrama, Esma Abla menghampiri dari dalam asrama. Abla memelukku dan mengucapkan selamat. Dari dalam, terdengar teriakan-teriakan yang sudah akrab ditelingaku. Ya ampun, kali ini aku benar-benar merindukan kegaduhan itu.

Benar saja, teman-temanku langsung menyerbu menghampiriku. Mereka membawakan semua barang bawaanku dan mengantar sampai ke dalam kamar. Dari awal bertatap muka, mereka memberondongku dengan ucapan selamat dan menanyakan berbagai pertanyaan. Aku pun mengucapkan beribu terimakasih dan menceritakan berbagai hal sampai mulutku berbusa. Padahal saat itu mereka akan berangkat etut di sekolah, kan sedang minggu Final Exam! Abla sudah menyuruh mereka segera berangkat, namun ada saja yang mengulur waktu. Mereka mengelak, katanya untuk menemaniku. Ngeri loh Sal, di asrama sendirian, tambah mereka. Kakak kelas 9 memang sudah UN, sudah tidak di asrama. Kelas 7 juga etut di sekolah, praktis aku sendirian di asrama. Sebenarnya aku tidak butuh ditemani, jadi aku mengusir mereka kembali ke sekolah. Ada-ada saja :O

Alhamdulillah, aku mendapat keringanan dari sekolah untuk tidak mengikuti Final Exam semester 4! Wuhuuuu~ Padahal awalnya, aku sudah berencana untuk ngebut belajar. Terserah hasilnya mau kayak gimana, yang jelas sebelum OSIS Camp semua ujian sudah harus kuselesaikan. Eh ternyata malah tidak usah mengikuti satu ujian pun. Karena kengangguran itu, aku bisa memulai menulis seri ini. Awalnya aku bingung. Lalu bagaimana dengan nilai rapotku? Alhamdulillah, baik-baik saja. Entah darimana semua nilai itu berasal hehe. Tapi, aku akui aku memang belajar keras sih, untuk triwulan pertama semester ini. Hanya saja untuk triwulan kedua, aku merasa aku tidak benar-benar sekolah. Aaah thanks to my ‘Kepala Bagian Kurikulum’, Mr. Azamat Dzumanazarov!🙂

Tiga hari setelah kepulanganku, aku kembali melakukan perjalanan ke kampung halamanku, Malang. Sudah bisa ditebak, aku packing lagi. Padahal baru saja unpack. Alhamdulillah deh, makin ahli! Seminggu aku habiskan untuk berlibur bersama teman sekelas. Mereka juga sempat mampir ke rumahku dan mendapat pengetahuan soal pembuatan cumcum. Aku paling ingat ketika kami mengunjungi Jatim Park 2 …. Eh, ini masih post tentang OSN ya? Baiklah, dengan berat hati kunyatakan …..

OSN usai! Iya! Sudah berakhir!

8 Maret sampai 21 Mei 2014. Potongan-potongan kenangan even ini akan selalu tersimpan di memoriku. Alhamdulilah, bonus yang Allah berikan adalah medali. Kalaupun kita mengikuti sebuah perlombaan dan belum mendapat penghargaan, tenang saja! Menurutku, itulah juara sebenarnya. Ketika tidak mendapatkan yang kita inginkan, tapi dengan besar hati mengakui keunggulan lawan. Bukan jatuh, justru melangkah sedikit ke belakang, untuk mengambil ancang-ancang, hingga nantinya bisa melesat lebih jauh!

Ayooo, kita jadi Juara Sejati🙂

 

 

HAMPIR TAMAT😀

4 thoughts on “Olimpiade Sains Nasional SMP 2014 (Part 13: Kembali ke Garis Start)

  1. salsa directioners juga yah??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s