Olimpiade Sains Nasional SMP 2014 (Part 11: Hari Gado-Gado)

“Kak, kamu kenapa?” tanya Rahma pagi itu. Kami sedang sarapan di ruang makan.

Aku terdiam. Aku tidak kenapa-kenapa. Oh, baiklah …. Aku sangat kenapa-kenapa. Hari ini, aku terbangun dengan hati tidak tenang. Pikiranku terbebani oleh ketakutanku. Ketakutan akan hasil yang akan diumumkan malam ini.

Aku nyengir sejenak. “Kelihatan banget, kah?” aku balik bertanya.

“Kelihatan banget lah! Biasanya kamu makan cepet. Sekarang kok, kayaknya pelaaan banget. Sambil nasinya diliatin segitunya,” jawab Rahma.

Aku nyengir lagi. “Iya. Aku cuma kepikiran yang tadi malam. Terus sekarang aku kepingin aja ngitung butiran nasi di piringku satu-satu.”😀

Hari itu, hari Selasa tanggal 20 Mei, seluruh peserta OSN SMP akan menghadiri upacara Hari Kebangkitan Nasional di lapangan kantor Gubernur Sumatera Barat. Sebelumnya, telah diumumkan bahwa setiap provinsi harus mengirimkan satu siswa dan satu siswi untuk mengenakan pakaian adat provinsi tersebut. Dari Jawa Tengah, dipilih Amel dan Kinantan.

 

Suasanan lapangan Kantor Gubernur Sumbar

Suasana lapangan Kantor Gubernur Sumbar

Sampai di lapangan kantor Gubernur Sumbar, sempat terjadi kehebohan. Ternyata, untuk siswa yang tidak mengenakan pakaian OSIS SMP, alias putih-biru, tidak perlu mengikuti upacara di lapangan. Tentu saja aku gembira. Sekolah PASIAD tidak memiliki seragam OSIS (untuk beberapa pengecualian, ada sekolah PASIAD yang memilikinya karena bekerjasama dengan negri). Akhirnya, aku dan banyak siswa lainnya yang tidak memakai seragam OSIS, duduk di pinggir lapangan. Teman-temanku yang mengenakan seragam OSIS, tentu saja harus mengikuti upacara dengan berdiri di lapangan😀

Upacara selesai pukul sembilan. Setelah itu, kami free! Tidak ada acara apapun sampai penutupan sekaligus pengumuman peraih medali malam nanti. Terdengar banyak siswa beserta pendampingnya yang merencakan pelesir ke sekitar Padang. Aku pasrah saja, tidak ada pendamping dari sekolah yang menemani sampai ke Padang. Tunggu, sebenarnya ada. Tapi tugas utama beliau bukan mendampingiku sehingga… ya sudahlah.

Aku kembali ke kamar, dan memutuskan untuk tiduran sejenak. Kedua temanku sempat datang sebentar, namun mereka berencana jalan-jalan beserta kawan seprovinsi masing-masing. Tinggalah aku di kamar sendiri. Itulah salah satu momen yang paling kusuka. Bisa bermalas-malasan dengan seluruh kamar dibawah kekuasaanku … Hehe.

Dalam kesendirian itu, kegalauanku semakin menjadi. Aku yakin Allah selalu mendengar doa hamba-Nya. Namun, bagaimana jika aku berdoa, namun aku merasa usahaku yang lalu belum cukup keras? Seakan-akan cuma minta pertolongan sama Allah, namun aku sendiri tidak berusaha. Akhirnya, aku menelepon abi dan umi. Mereka selalu bisa memberi ketenangan disaat seperti ini.

“Mi, bi… Aku tuh merasa, ‘Ya Allah, banyak banget yang belum aku pelajari, harusnya dulu-dulu aku lebih bijaksana menggunakan waktu untuk belajar.’ Terus keinget dulu aku begitu nyantai, sehingga merasa kurang berusaha. Bukan, aku bukan merasa kurang ilmu. Yaaa agak ngerasa kayak gitu sih… tapi lebiiih ngerasa lagi, jadi agak ‘nggak pantas’ diberi Allah kenikmatan dapet medali emas, gara-gara kurang usaha itu.”

Hehehe … kalo umi dan abi melihatnya kamu udah ikhtiar maksimal. Perasaan itu emang selalu muncul, saat kita mau menghadapi sesuatu.”

“Iya, sih … Mungkin Allah nggak suka sama orang yang kurang berusaha. Tapi mungkin Allah makin nggak suka kalo orang itu udah kurang usaha terus pake berandai-andai lagi. ‘Seandainya aku dulu…’ Gitu, kan, Mi, Bi?”

Umi Abi setuju banget, Allah sudah menetapkan di lauhmahfud, siapa yang bakal bawa medali pulang ? Kita cuma sebatas ikhtiar. Itulah manfaat memburu ilmu, semakin belajar maka kita merasa semakin kurang, bukankah ilmu Allah sangat luas…

Baiklah, aku sudah berusaha mengikhlaskan semua-Nya. Aku mengucap istighfar berkali-kali. Aku menyesal. Pernah terbersit dipikiranku. Allah pasti kasih yang terbaik untuk kita. Tapi, jika yang terbaik buat kita bukanlah yang kita sukai, darimana kita tahu bahwa itu yang terbaik bagi kita? Mungkin saja memang hal itu akan membawa banyak mudharat. Tapi … kita juga nggak tahu, kan? Misalnya, sekarang. Apa coba nggak bagusnya dapet medali emas? Aku nggak melihat ada keburukan dari sana. Astaghfirullah hal ‘adzim … Aku langsung menyingkirkan pikiran seperti itu. Sudahlah, Sal … Memangnya tahu apa kamu soal yang terbaik bagi diri kamu? Bukankah Allah telah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 216?

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Selama kegalauanku itu, aku menggunakan internet untuk mengumpulkan artikel-artikel yang sekiranya bisa menenangkan diriku. Alhamdulillah, aku menemukan beberapa. Bisa teman-teman buka disini, disini, dan disini. Aku tahu Allah telah menjawab semua keluh kesah hamba-Nya di Al-Qur’an. Ah… tapi, dasar Salsa, aku malah jadi nggak berani berpikir optimis. Mending berpikir sekalian kalah aja, supaya nggak sakit jatuhnya kalau harapanku nggak terwujud.

Aku sempat menelepon umi. “Mi, aku sudah menyiapkan pernyataan ke teman-teman jika nanti aku kalah.”

Loh, kenapa? Kebanyakan orang sukses di dunia itu, saat akan lomba menyiapkan pidato kemenangan. Kok kamu malah bikin pidato kekalahan?

“Loh iya, Mi, nggak apa … Biar siap. Nih, ya, misalnya aku ditanya,, “Salsa kok nggak dapet?” Aku bakal bilang ‘Iya, nih. Belum belajar pertambangan. Jadi nggak bisa dapet emas, perak, atau perunggu.’ Hehehe …”

Adek ini, ada-ada aja. Dek, umi ingatkan ya. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Nggak ada yang nggak bisa Allah wujudkan. Tetap percaya, Nak.

Aku tertegun. Iya juga, ya. Tapi … Aku terlalu takut. Takut berharap. Takut jatuh. Ya Allah, hamba sadar. Masih sedangkal ini rasa berserah diri hamba pada-Mu …

Setelah itu, aku ketiduran. Benar-benar tertidur. Saat aku bangun, jam telah menunjukkan pukul satu siang. Dan aku belum makan siang. Perutku mulai terasa keroncongan. Ketika aku menunggu lift untuk turun ke ground floor, pintu lift terbuka. Betapa terkejutnya aku melihat teman-teman Bio Jateng banyak yang berada di lift itu. David dan Lendra melangkah keluar lift. Mereka mengabari, mereka ingin jalan-jalan keluar hotel, paling nggak ke pantai. Aku memutuskan untuk ikut. Dalam keadaan perut keroncongan. Ya sudahlah.

Kami berjalan tak tahu arah selama beberapa saat. Kemudian, kami bertanya ke seorang bapak di pinggir jalan. Katanya, letak pantai tidak jauh. Kami mengikuti arahan bapak itu. Sampailah kami di pantai tersebut. Oke, ini memang bukan pantai indah yang terkenal sebagai destinasi wisata. Aku malah tidak tahu apakah pantai itu punya nama. Namun, setelah melewati hari yang penuh kegalauan, bersenang-senang bersama teman-teman rasanya cukup menghibur.

Pemandangan dari pesisir

Jump! Suka banget sama foto ini <3

Jump! Suka banget sama foto ini❤

Anak biologi minus Akbar plus Otto (matematika)

Novita memandangi lautan lepas … Hehe

Berpose di atas bebatuan bersama Novita

Tim Biologi Jateng … Kekurangan 2 personel

Setelah puas menyeruput es degan dan menikmati semangkuk mie kuah, aku dan teman-teman memutuskan untuk kembali. Kami mampir ke sebuah toko oleh-oleh yang letaknya bersebelahan dengan hotel kami. Di seberang hotel, terdapat sebuah museum dengan bangunan berarsitektur rumah gadang. Kami memasukinya dan berkeliling sebentar. Setelah puas dan mengambil beberapa foto, kami kembali ke hotel.

Di depan museum

Di depan museum

Aku baru sadar, ternyata aku belum packing! Padahal, besok pagi kami harus sudah berangkat menuju bandara pukul enam. Alhamdulillah, packing bisa selesai dalam waktu kurang dari sejam. Aku membersihkan diri, kemudian bersiap-siap mengenakan batik direktorat untuk pengumuman medali yang … Ya ampun, sebentar lagi! Pukul tujuh malam, acara tersebut dimulai. Diadakan di Hall hotel kami, jadi kami tidak perlu repot menaiki bus dan semacamnya.

Kamarku telah sepi. Kedua teman sekamarku telah pergi lebih dulu. Aku mematut-matut diriku di cermin. Senyum. Akan membuat segalanya lebih baik.

 

 

 

BERSAMBUNG

6 thoughts on “Olimpiade Sains Nasional SMP 2014 (Part 11: Hari Gado-Gado)

  1. Yess!! Namaku disebut \(^-^)/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s