Olimpiade Sains Nasional SMP 2014 (Part 7: Menjejakkan Kaki di Ranah Minang)

Alhamdulillah, sampai juga di Bandara Minangkabau! Perasaanku saat turun dari pesawat, bisa dibilang nggak karuan. Senang sudah sampai tujuan dengan selamat, senang karena untuk pertama kalinya bisa menginjakkan kaki di bumi Sumatra, senang karena bisa mengunjungi tempat yang diceritakan Ahmad Fuadi dalam novelnya, senang menerima kenyataan bahwa Bandara Minangkabau itu sangat bagus (intinya lebih bagus dari Bandara Ahmad Yani, itu sangat melegakan😛 ). Rasa berdebar itu juga mulai muncul. Ya Allah, semakin dekat dengan hari H … batinku. Namun, rasa waswas itu segera terhapus ketika bisa kembali berkumpul bersama teman-teman dan berbagi canda.

Kala itu, ruang pengambilan bagasi penuh dengan makhluk berbatik coklat (kontingen Jateng) dan oranye (kontingen DKI Jakarta). Perwakilan Jateng yang berjumlah 55 orang memang cukup banyak. Kami berfoto terlebih dahulu sebelum akhirnya memasuki bus yang telah disiapkan panitia. Bus itu akan membawa kami ke hotel.

Perjalanan terasa cukup lama karena macet. Akhirnya, sampailah kami ke hotel tempat kami akan menghabiskan seminggu ke depan.

Hotel Grand Inna Muara Padang tampak luar

Hotel berbintang empat itu namanya Hotel Grand Inna Muara. Ketika kami turun dari bus dan membawa barang bawaan kami ke dalam, tampaknya sudah cukup banyak peserta dari seluruh Indonesia yang datang. Aku langsung celingak-celinguk. Aku sudah mempunyai daftar di kepalaku untuk menemui teman-teman dari provinsi lain yang sudah kukenal sejak lama.

Alhamdulillah, aku bertemu Rara dan Nurul, anak Kharisma Bangsa Tangerang. Kami langsung heboh saat mengenali satu sama lain. Ada juga adik kelasku dari Pribadi Bandung, lalu mantan anak PASIAD yang sempat menghilang untuk beberapa waktu … ternyata dia kembali ke kampung halamannya, Jawa Timur.

Yang aku sesali adalah, untuk penentuan kamarnya membutuhkan waktu lamaa sekali. Aku sampai pegel berdesak-desakkan dengan banyak orang. Sekitar pukul enam, aku baru mendapat kamar. Ternyata kamarku di lantai dua, sedangkan kebanyakan anak Jateng di lantai tiga. Untung saja Rahma menempati kamar tepat di seberangku. Sedihnya, teman sekamarku dari Jawa Timur sudah datang lebih dulu dan membawa kuncinya! Tiba-tiba rasa capek itu menumpuk. Pengen banget langsung duduk meluruskan kaki di lorong depan kamar, tapi kan malu … hehe. Akhirnya kamar bisa dibuka dengan bantuan petugas hotel setelah melewati usaha turun kembali ke ground floor. Fiuh …

Rasanya ingin … sekali langsung membersihkan diri dan ambruk di kasur. Sayangnya, malam itu masih ada acara technical meeting dan perkenalan dengan panitia. Dengan cadangan energi yang cuma tersisa 25%, aku mengikuti acara tersebut yang digelar di ballroom.

Baiklah … acara itu cukup penting. Kami diberitahu baju apa yang harus dipakai untuk seminggu ke depan. Selebihnya, adalah perkenalan dengan kakak panitia, yang masih kuingat cuma Ka Ret alias Kak Retno. Lalu panitia juga memaparkan cerita-cerita absurd tentang OSN maupun gelaran lainnya yang dilaksanakan di hotel berbintang. Mulai dari handuk yang diambilin peserta, peserta yang menggunakan kloset duduk dengan jongkok, peserta yang dengan cerobohnya mencuci muka dengan air super panas dari westafel sampai dilarikan ke rumah sakit, sampai kisah seorang peserta yang ketika sedang mens tidak sengaja mengotori sprei hotel dengan darahnya (seriusan ini ngakak😀 . Dan EW banget untuk diceritakan di depan banyak orang seperti itu), kemudian bapak itu berpesan pada kami untuk tidak mengotori sprei seperti yang terjadi di kisah itu. Terus gimana dong kalo nggak sengaja? Oh, pak … if only you know how it feels to become a WOMAN.

Akhirnya, muncullah seorang kakak motivator yang akan menemani kami seminggu ke depan. Kak Agung namanya. Asalnya dari Jogja (diiringi teriakan kontingen DIY saat Kak Agung menyebutkan asalnya). Seru sih, acara bareng kakak ini. Kami disuruh duduk dengan acak, bagaimana agar samping kanan dan kiri kami tidak dari satu provinsi. Aku sangat senang karena dari kegiatan ini aku mendapat cukup banyak teman baru. Intinya, pada acara itu, Kak Agung berpesan. Kita semua pasti bisa, tinggal menanamkan keyakinan itu pada diri kita. Dan -masih kata Kak Agung- satu hal yang perlu diingat. Sukses itu bukan cuma ketika kita mendapat medali, tapi ketika kita berbagi, menyapa teman dari seluruh pelosok negri dan bisa menginspirasi, itulah arti sukses yang sebenarnya. Wohooo setuju sekali aku, kak🙂

Malam itu berakhir dengan sedikit renungan. Aku sudah menduga kakak ini bakal membahas soal orang tua, dan ternyata benar saja. Isak tangis mulai terdengar. Aku tidak meneteskan air mata karena sudah terlalu sering kebal dengan hal-hal semacam ini😛 Akhirnya, kami semua bergandengan tangan. Kami menyanyikan lagu Chrisye, yang berjudul Damai Bersamamu.

Nggak tahu kenapa, saat itu aku merasa magical banget. Berada disana, bersama dengan ratusan temanku dari seluruh Indonesia, Sabang sampai Merauke, dari kota Semarang tempatku bersekolah, dari provinsi asalku Jawa Timur, dari tempat yang hanya pernah kulihat di televisi, dari kota yang hanya pernah kubaca dalam berita, bahkan dari daerah yang tak pernah kudengar sebelumnya. Rasanya hebat, bisa bergandengan tangan disana bersamamu, kawan. Menyaksikan ragam bahasa yang kalian gunakan. Menyaksikan beragam penampilan fisik kalian. Aku tersenyum dalam hati, ketika kenyataannya, kita masih bisa terhubung. Saling berkenalan, berbagi cerita, minta diajari bahasa asal daerah masing-masing, bertukar nomer telepon … Lucu melihat kita yang satu nusa dan satu bangsa ini bisa saling mengerti lewat bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia. Dilengkapi logat khas asal daerah masing-masing saat berbicara. Tuh kan … aku nggak bisa menahan untuk tersenyum lagi.

Sampai di kamar, aku bertemu dua teman baru. Nisa dari Jawa Timur dan Kayla dari Jawa Barat. Senang sekali berkenalan dengan kalian🙂

Indah ya, kawan … hidup di negri Indonesia ini? Bhinneka Tungga Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Semoga tidak hanya jadi semboyan kosong yang tak bermakna, namun menjelma menjadi suatu kenyataan dalam masyarakat kita. Sungguh, satu minggu itu aku yakin belum cukup untuk mengenal kalian semua, kawanku satu nusa satu bangsa. Namun, aku yakin pertemuan kita yang berlangsung singkat itu bisa membawa perubahan dalam diri kita. Hingga ketika kita telah kembali ke asal, kita membawa banyak cerita untuk kawan di kampung halaman. Kisah bahwa dirimu telah bertemu dengan kawan lain dari penjuru lain Indonesia! Kisah bahwa negri ini begitu beragam hingga tiada alasan untuk mengucilkan orang lain yang terlihat berbeda. Kisah bahwa negri ini begitu beragam hingga yang harus kita lakukan adalah saling mengormati dan menyayangi sesama. Bukan malah kebalikannya.

Aku yakin OSN lebih dari sekedar mencari jawara-jawara berotak jenius dari Indonesia. Lebih dari itu.

 

 

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s