Olimpiade Sains Nasional SMP 2014 (Part 5: Ternyata Aku Tak Sendiri)

‘Ya Allah how time went so fast.’

Itu pikiran pertama yang terlintas di kepalaku ketika kami sedang berkumpul di kelas biologi, sekitar jam 4 sore, hari Selasa tanggal 13 Mei 2014. Pak Kris duduk di mejanya. Dengan posisi yang telah akrab kuamati dua minggu belakangan ini: badan agak condong ke depan dan jari kedua tangan disatukan, lalu diletakkan di atas meja.

“Ini hari terakhir. Besok kalian packing, lusa berangkat. Siap ya?” beliau menatap mata kami satu persatu.

Aku makin tidak nyaman saja duduk di kursiku. Rasanya ingin meneriakkan ‘SIAAP!’. Tapi tidak seyakin itu juga. Ya Allah materi yang sudah ke review cuma tumbuhan. Belum yang lain. H- berapa ini YA ALLAH. Bisa kurasakan adrenalinku lamat-lamat meningkat.

Setelah menenangkan diri untuk beberapa saat, akhirnya seulas senyum bisa kuukir di wajahku. Diikuti kalimat yang meluncur tenang; “Siap, pak.”

————

Mari kita berbicara soal konsekuensi bersekolah jauh dari orang tua. Lagi.

Sungguh, nggak aku pungkiri, itu adalah keputusan besar yang sangat tepat dalam hidupku ini. Dunia baru yang kudiami, keluarga baru yang kumiliki, pelajaran baru yang kudapat, benar-benar nggak akan sama jika sekarang aku masih bersekolah di tempat asalku. Aku bukan berandai-andai tapi … Yah, aku bersyukur saja Allah sudah menunjukkan jalan yang terbaik buatku.

Namun, itu membawa konsekuensi. Tanggal 14 Mei menjadi ‘Hari Galauku’. Ada rasa rindu di hati, ketika hari keberangkatan semakin dekat, semakin banyak saja orang tua yang berdatangan. Entah sekedar menjenguk anaknya, membawakan makanan, menyiapkan keperluan untuk ke Padang, atau sekedar mengecup kening anak mereka dan mengucapkan kalimat penyemangat. Tapi .. Aku tahu aku tidak punya alasan untuk berkubang dalam kesedihan.

Teringat suatu pesan singkat yang aku kirim ke Umi. “Mi, temen-temenku ortunya pada dateng looh hehe.” Sekarang aku berkaca. Membayangkan posisi umiku saat itu. Sungguh pasti rasanya … melepas anak mereka satu-satunya untuk belajar di kota nun jauh disana adalah berat, teramat berat sampai terkadang mereka ragu akan keputusan mereka sendiri. Namun, kata mereka, mereka percaya bahwa itu buat kebaikanku juga. Bukan pilihan mereka untuk nggak datang menjengukku. Saatnya aku berpikir rasional, aku tahu. Se-childish itukah aku untuk mengharapkan kedua orangtuaku muncul dan mengucapkan doa kesuksesan buatku? Mengharapkan mereka meninggalkan pekerjaan (yang mereka usahakan untukku juga) dan menempuh perjalanan berjam-jam ke Semarang? Dikala setiap saat mereka selalu mengangkat telepon saat aku meminta. Dikala mereka membalas dengan kecepatan cahaya (?) saat aku curhat lewat email. Dikala Abi langsung mengubungi Pak Mulyoko saat tahu aku belum memiliki informasi soal laundry. Dikala … ah, terlalu banyak waktu mereka memperhatikanku. Bahkan lebih banyak daripada waktuku memperhatikan mereka (mengingat beberapa pesan singkat: ‘adek sibuk? umi telepon ya.’ yang kuabaikan begitu saja).

Lalu, balasan dari umiku tiba. Kurang lebih berisi: “Semoga anak abi dan umi selalu diberi kesabaran. Karena ketahuilah nak, abi umi mungkin jauh tapi kami selalu dekat di hatimu dan doa kami selalu mengiringimu.”

NYEEESS. Sungguh seperti bara api yang mendapat siraman air.

Namun … Galau itu belum hilang sepenuhnya. Kembali lagi hatiku perih. Mulai bertanya-tanya, ‘Mana sekolah? Mana guru-guruku? Tak merasakah mereka ada satu-satunya wakil dari sekolah yang akan berangkat ke OSN tingkat nasional di Padang BESOK?’. Aku terus merasa sendiri. Iri melihat temanku yang gurunya berangkat pukul 1 dini hari cuma untuk bisa bertemu dengannya. Iri dengan temanku yang nggak berhenti mendapat sms ‘Gimana nak, bisa?’ dari gurunya lebih dari 3 kali seminggu. Apa aku cengeng? Caper? Apa salah meminta dukungan dari institusi yang pada dasarnya kubela? Aah… kegalauan itu menuntunku untuk melepaskannya. Di Facebook. hehe. Seriusan. Waktu itu aku mengetik sebuah status yang SUPER GALAU. Nih ada buktinya😛

Image

Ternyata, kedua orangtuaku juga sangat tidak setuju dengan cara sekolah memperlakukan siswanya. Setelah menyampaikan kritik ke wali kelasku, wali kelasku berkata akan segera menjengukku sore itu juga. YEAY! Aku merasa sangaaaaat gembira. Lumayanlah ada hiburan.

Siang hari tanggal 14 Mei itu dijadwalkan ada Pengukuhan Tim Olimpiade Sains Nasional SMP Jawa Tengah oleh Bapak Kepala Dinas Pendidikan. Sebelumnya kami telah menyaksikan acara serupa untuk pengukuhan tim OSN SD. Aku pun segera bersiap-siap setelah memastikan mataku nggak terlihat seperti orang yang habis kena tonjok … hehe (maklum habis nangis). Dengar-dengar, pada saat pengukuhan itu akan diumumkan juga juara seleksi OSN tk Provinsi (Hasil siswa asal Jateng diurutkan, dan 3 besar akan mendapat penghargaan).

Acara berjalan cukup khidmat. Ternyata Bapak Kepala Dinas tidak bisa hadir. Akhirnya digantikan oleh …. entahlah, orang lain. Kami dipakaikan sebuah sampir yang bersematkan pin tim OSN Jateng. Lalu, kami satu persatu mengecup bendera sang saka merah putih. Tibalah saat pengumuman itu. Dari awal kami sudah sibuk menebak-nebak. Apakah urutan dari passing grade nasional adalah sesuai dengan urutan nilai? Jika iya, maka aku …

Alhamdulillah🙂 Aku mendapatkan Juara 1 OSN tk Provinsi se Jawa Tengah. Aku senang sekali, karena ternyata penghargaan yang diberikan Pemprov setara dengan hadiah Medali Perak tingkat nasional … hehe.

Image

Piala yang bisa diputar-putar atasnya😛 (mataku nggak lebam kan?)

Image

Bersama dosen pembimbing, staff provinsi dan tiga besar dari seluruh mapel

Hari yang kelam pun perlahan berubah ceria … hehe. Keceriaan itu bertambah, ketika temanku berkata akan ikut menjengukku juga bersama Ms. Rahma (walikelasku). Terang saja aku langsung gembira! Aku bertanya-tanya, siapa saja yang akan datang, tapi temanku bilang itu rahasia. Lihat saja nanti, katanya. Benar saja. Sekitar pukul lima sore, mereka mengabari telah sampai di lobby. Aku turun dengan perasaan berdebar dan menebak-nebak. Ketika aku muncul dari balik tangga, teriakan khas itu langsung menyambutku.

“SalsaaaaaAAAAAAAA!!!!” Delapan orang berseragam merah itu meriuhkan suasana lobby. Sebenarnya aku agak malu juga dengan tamu yang lain. Tapi biarlah🙂 Bersama mereka hal paling memalukan pun akan berubah jadi kenangan yang berharga😛

Aku menggiring mereka menuju ruang duduk di lantai dua, kebetulan tepat di depan kamarku. Sudah kuduga, mereka (terlalu) bisa meramaikan suasana. Sudah berkali-kali kusuruh diam, mereka malah semakin berulah -_- Namun, jujur, inilah yang kurindukan. Teman-teman gokil yang selalu saja punya cara untuk membuatku tersenyum. Aku membuat video singkat bersama mereka. Video yang sampai sekarang jika kuputar ulang masih menimbulkan tawa. Mereka berteriak-teriak dan mengutarakan doa mereka untukku. Tak ketinggalan lirik kanan-kiri cari ……………….. cowok. Astaga. Hahaha. Yaah intinya kalian benar-benar mencerahkan hariku kawaaan :’) Ternyata mereka juga membawakan kue dan jajanan buatku. Aaahh how sweet of you :*

Status di Facebookku pun langsung berubah😉

Image

Dengan sedikit cuplikan video ucapan semangat mereka buatku

Sekali lagi aku tak bisa menghilangkan kekagumanku atas semua rencana-Nya. Umi dan abi memang jauh. Tapi toh doa mereka juga tetap bisa mencapai-Nya. Disini, aku menemukan keluarga yang dekat. Keluarga yang diikat bukan dengan pertalian darah. But somehow they really make it like a real family.

One which full of love and laugh❤

BERSAMBUNG

2 thoughts on “Olimpiade Sains Nasional SMP 2014 (Part 5: Ternyata Aku Tak Sendiri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s