RSS Feed

Cerpen: Sahabat Sejati

Nah, readers, sekarang Salsa mau posting salah satu cerpen Salsa. Udah pernah dipublikasikan di multiply sih, tapi yang ini udah Salsa edit lagi. Dinikmati yaa… thanks :)

Syeila menatap nanar kertas ulangannya. Oh, tidak! Pikir Syeila kesal. Ini buruk. Sungguh…. Buruk!

Syeila Azakia namanya. Anak yang cantik, dan selalu memperhatikan mode. Sedikit centil juga. Sebenarnya dia anak yang pintar. Hanya saja, berbagai kesibukannya belanja, menonoton film, dan hal-hal tidak penting lainnya membuat Syeila malas belajar. Dan, seperti yang terjadi sekarang. Syeila kena batunya.

Ugh! Syeila mendengus kesal. Apa kata Mama Papanya nanti? Kalau tahu Syeila mendapat peringkat 16? Pokoknya, semester selanjutnya, aku harus mendapat peringkat lima besar! Apa pun caranya! Tekad Syeila. Eh, bagus, sih, bertekad begitu. Tapi, apa harus dilakukan dengan segala cara?

Minggu selanjutnya, pada semester berikutnya.

Syeila memandangi kelas yang masih sepi. Masih hanya ada tiga bangku yang telah ada tasnya. Ditambah Syeila, jadi emapat. Di pojok kelas, terlihat Fasna sedang membaca buku. Fasna adalah teman sekelas Syeila yang dikenal pintar dan cerdas. Selalu masuk 3 besar!

Syeila tersenyum senang mengetahui keberadaan Fasna. Dia berjalan mendekati Fasna. Hari ini, dia berniat memulai rencananya. Yaitu, rencana mendekati Fasna agar mau jadi sahabatnya. Setelah jadi sahabatnya, Syeila berencana akan memperdaya Fasna supaya mau memberinya bocoran-bocoran jawaban dalam berbagai ujian. Sungguh sebuah rencana licik!

“Hai, Fasna! Baca apaan, sih, kok kayaknya serius banget?” tanya Syeila berusaha terlihat ramah. Fasna yang sedang membaca itu tersentak dan langsung menutup bukunya. Fasna merasa heran. Tidak biasanya Syeila mau beramah-tamah seperti itu.

“Eh, hai juga… ada apa ya?” balas Fasna gugup. Dia benar-benar tidak merasa akrab dengan Syeila. Sekedar se-helo pun jarang.

“Lho? Aku kan, Cuma nyapa aja. Emang nggak boleh?” goda Syeila centil. Sebenarnya Fasna sedikit geli melihat tingkah laku Syeila. Tapi kalau Fasna mengatakannya, bisa jadi masalah besar.

“Oh, hehe… ya nggak apa-apa, sih. Lagi baca buku IPS.” Jawab Fasna sudah normal.

“O iya, aku mau tanya soal sejarahnya… bla, bla, bla…” percakapan mereka pun berlanjut. Sejak saat itu, Syeila seperti ingin ‘nempel’ terus dengan Fasna. Sampai-sampai, sahabat lama Syeila meninggalkannya.

Pada suatu hari, 2 hari sebelum UTS.

“Fasna, kamu benar-benar sahabatku?” tanya Syeila tiba-tiba saat mereka sedang istirahat bersama. Fasna tersentak.

“Y… ya… semua orang yang mau bersahabat denganku, akan aku jadikan sahabat…” jawab Fasna gugup. Syeila tersenyum senang.

“Waw, makasih ya! Kehormatan aku bisa jadi sahabat kamu. Tapi, kalau kamu benar-benar sahabatku, kamu mau bantu aku, kan?” tanya Syeila sambil berusaha membuat ‘face baby’. Fasna tampak berpikir.

“Bantu apa?”

Syeila berbisik sesuatu kepada Fasna. Fasna menggigit bibir. Sebenarnya dia ragu, tapi…

Penerimaan rapor hasil UTS.

“Yeay! Senangnya… akhirnya aku dapat peringkat lima…” ucap Syeila lega. Mall… butik… I’m coming….! Seru Syeila dalam hati. Dari kejauhan, terlihat Fasna datang meghampiri Syeila.

“Dapat peringkat berapa, La?” tanya Fasna kepada Syeila yang masih melonjak-lonjak girang.

“Peringkat 5! Ini semua karena bantuanmu. Makasih, ya, Fasna sayang… mau aku belikan baju baru? Atau, aku traktir bakso Mang Udin? Bilang aja!” seru Syeila masih—sekali lagi—dengan wajah gembira berseri-seri.

Fasna tersenyum kecut. Berpikir dalam hatinya, bahwa Syeila itu aneh! Kalau dia jadi Syeila, dia tak kan bangga mendapat peringkat 1 sekalipun, kalau itu bukan dari hasil usahanya. Ya, memang itu kenyataannya.

Sejak Fasna mengenal Syeila, Fasna merasa Syeila memperdayanya. Tapi anggapan itu berubah setelah Fasna melihat sendiri Syeila sampai rela menjauhi sahabat-sahabat lamanya demi bersahabat dengannya. Fasna juga beberapa kali dicurhati Syeila. Nah, masalahnya, selain memperlakukan Fasna sebagai sahabat, Syeila juga beberapa kali meminta bantuan Fasna dalam mengerjakan soal-soal pelajaran. “membantu” itu, bukan berarti hanya minta diajari caranya atau dasarnya, tapi meminta jawabannya!

Sebenarnya, bisa saja Fasna menolak. Tapi Syeila juga telah baik padanya. Pernah saat ibu Fasna sakit dan tidak punya uang untuk berobat, Syeila rela menyumbang pada Fasna. Fasna tak tahu semua itu ikhlas dilakukan Syeila atau tidak. Yang jelas, Fasna juga kasihan melihat nilai IPS dan Matematika Syeila selalu anjlok.

Suatu hari, setelah pembagian rapor UTS Semester 2.

“Syeila, aku mau ngomong sesuatu.” Ujar Fasna. Syeila yang sedang asyik menyeruput Es Degannya memperhatikan Fasna yang terlihat serius.

“Ya?” Syeila menunggu kelanjutan Fasna.

“Jadi…” Fasna berusaha mengatur nafas. “Aku mau pindah ke Surabaya 2 bulan lagi. Jadi, kita harus berpisah…” lanjut Fasna. Syeila yang tadi melanjutkan menyeruput Es Degannya sampai tersedak.

“Uhuk!” Syeila berusaha mengatur nafas, kemudian berkata—lebih tepatnya berteriak, “WHAT???!!”

Fasna menunduk. Ia sudah bisa menebak reaksi Syeila. Fasna tak berani memandang Syeila yang tampak kebingungan setengah mati.

“Iya… jadi, jadi, maaf ya. Aku nggak bisa ‘bantu’ kamu lagi. Tapi, aku bisa ngajarin kamu selama sisa 2 bulan itu. Dan, tolong, jangan beritahu anak lain dulu ya.” Pinta Fasna. Syeila terlihat masih syok. Dia hanya bisa mengangguk-ngangguk pasrah. Terbanyak nilai 47 pada kertas ulangan IPS-nya dan nilai 60 pada ulangan Matematikanya kalau tak ada Fasna nanti.

Di rumah Fasna, pertaman kali Syeila berusaha belajar pada Fasna.

Uh… Syeila lagi BT sekarang. Ia menekan pensilnya ke kertas soal yang diberikan Fasna. Ups! Tentu saja pensilnya jadi harus diserut dulu karena ujungnya patah. Fasna menghela nafas, berusaha sabar. Ternyata, jadi guru memang tidak mudah.

“Fasna, gini kan kamu repot, mending kamu nggak usah pindah aja yaa… Ya, ya, ya, yaaa?” Syeila terlihat memelas. Fasna menarik nafas sabar. Memang, ini salah satu tak tiknya. Dia mencoba mengajari Syeila cara belajarnya agar kelak, tidak bergantung lagi padanya.

Begitulah yang terus dilakukan Syeila dan Fasna selama dua bulan terakhir, belajar bersama. Fasna dengan sabar mengulang, menjelaskan, dan mencontohkan berbagai materi. Tak lupa, Fasna juga memberikan cara-cara belajarnya pada Syeila. Fasna memang super!

2 bulan berikutnya…

“Fasna, ngomong-ngomong katamu dulu, kamu mau pindah, ya, 2 bulan lagi? Kurasa, sekarang sudah dua bulan sejak pertama kali kamu mengatakan itu, kan?” tanya Syeila tiba-tiba. Fasna tersentak. Kemudian menunduk. Syeila yang heran dengan perubahan sikap Fasna jadi khawatir.

“Kamu enggak apa-apa, kan?” tanya Syeila lagi. Syeila memang sudah ikhlas melepas Fasna. Fasna memang sudah berhasil mengajari Syeila tentang gaya berlajarnya. Juga, mereka berdua telah menuai hari-hari dan pengalaman-pengalaman indah selama 2 bulan belakangan ini. Bisa dibilang, kini Syeila dan Fasna benar-benar tampak seperti sahabat sejati.

Fasna menggigit bibir. Ia memandangi Syeila yang masih terlihat khawatir kepadanya.

“Sebenarnya…” Fasna menenangkan diri. “Aku… aku nggak mau pindah. Aku… aku melakukan semua ini agar kamu mau kuajari belajar secara mandiri. Agar kamu tak bergantung terus kepadaku.” Jelas Fasna. Gantian Syeila yang tersentak. Beberapa detik kemudian, setitik air bening mulai berajatuhan dari ujung matanya.

Fasna terkejut melihat Syeila jadi menangis.

“Ka… kamu kenapa, La? Nggak papa kamu mau marah sama aku. Aku yang salah, aku yang…”

“Sssstt!” Syeila memotong ucapan Fasna di tengah tangisnya. “Enggak Fasna, kamu nggak salah! Aku menangis karena aku menyesal telah memperdayakanmu dulu. Aku menyesal… justru aku berterimakasih karena dengan begini, aku tak bergantung lagi padamu.” Tutur Syeila sambil berusaha meredakan tangisnya.

“Jadi, kamu nggak marah sama aku, kan?” Fasna memastikan lagi.

“Lho? Justru aku malah berterimakasih sama kamu, Na! Seharusnya, kamu yang pantas marah padaku.” Jawab Syeila.

“Tapi aku nggak marah sama kamu,”

“Terus?”

“Emang gitu, kok!”

“Jadi?”

“Kita masih BERSAHABAT!” seru Syeila dan Fasna bersamaan, disusul tawa yang ceria.

Itulah Syeila dan Fasna. Dua sahabat sejati yang saling mendukung. Sahabat sejati… sahabat yang selalu mau menerima kekurangan kita, dan berusaha memperbaikinya!

*****

Yah, itu deh cerpen Salsa ^^ Ditunggu kritik dan sarannya yaa… Salsa memposting ini hanya untuk mengisi waktu luang. See you :D

About these ads

About Salsabiilaa Roihanah

Live this life to discover His signs in the world | Agen Perubahan Muda | Terinspirasi oleh Hasan Al Banna | Pelajar yang mengharap ridho-Nya, dan perangkai kata yang mencoba memberi manfaat untuk sesama.

6 responses »

  1. Salsa, bagus banget, lho, cerita kamu! Setelah itu bermanfaat lagi! Aku seneng sama ceritamu yang ini. ^^

    Reply
  2. fatimah 'vitri' imania

    keren deh! tapi ngomong-ngomong, aku pernah di manfaatin sahabat aku lo, tapi sekarang udah enggak, gak tau tuh ngilang kemana!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: